Mubadalah.id – Peneliti dan akademisi asal Jerman, Katrin Bandel, Ph.D, menyoroti hubungan antara konstruksi maskulinitas dengan berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan. Menurutnya, banyak laki-laki hidup dalam tekanan yang membuat mereka merasa harus terus-menerus membuktikan diri sebagai laki-laki yang berhasil, kuat, dan maskulin.
Pandangan tersebut ia sampaikan dalam forum Konsolidasi Nasional Kerja-kerja Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) bertajuk “Strengthening Gender Justice, Inclusion, and Violence-Free Campuses within the Islamic Higher Education Ecosystem” yang berlangsung di UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon (UIN SSC), Rabu (1/7/2026).
Dalam paparannya, Katrin menjelaskan bahwa maskulinitas sesungguhnya bukan konsep yang tunggal. Setiap masyarakat memiliki beragam cara dalam mendefinisikan laki-laki dan sifat-sifat yang dianggap melekat pada dirinya.
Namun di tengah keragaman tersebut, selalu muncul satu bentuk maskulinitas yang dianggap paling ideal dan paling bernilai sehingga menjadi ukuran bagi laki-laki lainnya.
“Maskulinitas itu tidak tunggal. Ada banyak cara menjadi laki-laki. Tetapi dalam setiap masyarakat biasanya ada bentuk maskulinitas tertentu yang dianggap paling ideal dan menjadi rujukan bagi banyak orang,” ujar Katrin.
Ia merujuk pada pemikiran sosiolog Australia, Raewyn Connell, yang memperkenalkan konsep maskulinitas hegemonik, yaitu bentuk maskulinitas yang memperoleh legitimasi sosial paling kuat dan menjadi standar yang harus dicapai laki-laki.
Menurut Katrin, persoalan muncul karena hanya sebagian kecil laki-laki yang memiliki akses untuk mencapai standar ideal tersebut. Sementara sebagian besar laki-laki berada dalam posisi terus-menerus merasa kurang maskulin dan harus membuktikan diri sepanjang hidup mereka.
Akibatnya, berbagai bentuk pencapaian sosial kemudian menjadi arena pembuktian maskulinitas. Mulai dari jabatan, pekerjaan, kekayaan, status sosial, hingga kekuasaan atas perempuan sering dipandang sebagai indikator keberhasilan seorang laki-laki.
“Mayoritas laki-laki berada dalam situasi merasa dirinya belum cukup maskulin. Karena itu mereka terus berusaha membuktikan diri melalui berbagai cara,” katanya.
Transnational Business Masculinity
Katrin menjelaskan bahwa dalam perkembangan masyarakat modern, bentuk maskulinitas yang dominan saat ini adalah apa yang oleh Connell disebut sebagai transnational business masculinity atau maskulinitas bisnis transnasional. Bentuk maskulinitas ini berkembang seiring menguatnya budaya kapitalisme global yang mengagungkan kesuksesan ekonomi, kompetisi, dan pencapaian individu.
Menurutnya, maskulinitas tersebut ditandai oleh orientasi yang sangat kuat pada karier, kompetisi yang ketat, serta dorongan untuk terus meningkatkan posisi sosial dan ekonomi. Loyalitas terhadap komunitas, lingkungan sosial, bahkan tempat kerja menjadi relatif lemah karena ukuran utama keberhasilan adalah pencapaian pribadi.
“Orang didorong untuk selalu mengejar peluang yang lebih menguntungkan. Yang menjadi pusat perhatian adalah kesuksesan diri sendiri. Akibatnya, rasa tanggung jawab terhadap orang-orang di sekitar bisa berkurang,” ujarnya.
Ia menambahkan, maskulinitas yang berpusat pada kompetisi tersebut juga menciptakan tekanan psikologis yang besar. Banyak laki-laki hidup dalam kondisi stres karena merasa harus terus bersaing dengan laki-laki lain.
Dalam lingkungan profesional dan manajerial, misalnya, terdapat kecenderungan saling mengawasi satu sama lain. Laki-laki merasa harus terus mengelola tubuh, emosi, penampilan, hingga kondisi finansial mereka demi mempertahankan citra sukses yang diharapkan masyarakat.
“Maskulinitas dominan hari ini sangat terkait dengan persaingan. Laki-laki didorong untuk terus menunjukkan keberhasilan dan pencapaian,” kata Katrin.
Kecemasan yang Berkepanjangan
Menurutnya, kondisi tersebut membuat laki-laki rentan mengalami kecemasan yang berkepanjangan. Mereka harus terus membuktikan keberhasilan tersebut kepada laki-laki lain.
Katrin menilai situasi ini berbeda dengan pengalaman perempuan. Jika perempuan menghadapi berbagai bentuk tekanan sosial lainnya, laki-laki cenderung merasa terbebani oleh tuntutan yang sangat kuat untuk menjadi pencari nafkah, mencapai kesuksesan ekonomi, dan menunjukkan kemampuan bersaing.
“Sulit menemukan laki-laki yang tidak merasakan tuntutan untuk berhasil dan mencari nafkah. Ketika tuntutan itu tidak dapat ia penuhi, maka tekanannya bisa sangat besar,” ujarnya.
Dalam kesempatan itu, Katrin juga memaparkan hasil penelitian dari seorang mahasiswinya di Flores mengenai hubungan antara maskulinitas dan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Penelitian tersebut menemukan bahwa KDRT di sejumlah komunitas tidak dapat dilepaskan dari tekanan ekonomi dan tuntutan sosial yang dibebankan kepada laki-laki. Selain bertanggung jawab terhadap keluarga inti, laki-laki juga dituntut memenuhi berbagai kebutuhan keluarga besar sesuai dengan adat yang berlaku.
Di tengah keterbatasan lapangan pekerjaan dan sulitnya memperoleh penghasilan yang memadai, tuntutan tersebut sering kali menimbulkan tekanan psikologis yang berat.
“Ketika laki-laki menghadapi tekanan ekonomi yang besar dan tidak memiliki ruang untuk mengelolanya, dalam banyak kasus frustrasi itu kemudian ia lampiaskan kepada anggota keluarga yang lebih rentan, terutama perempuan,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa penjelasan tersebut bukan untuk membenarkan tindakan kekerasan. Melainkan untuk memahami faktor-faktor sosial yang mendorong terjadinya kekerasan sehingga dapat kita cari solusi yang lebih efektif.
Relasi Cinta dan Seksual
Menurut Katrin, relasi cinta dan relasi seksual juga kerap menjadi ruang bagi laki-laki untuk mengekspresikan maskulinitasnya. Ekspresi tersebut dapat muncul dalam bentuk yang positif maupun negatif.
Dalam bentuk positif, maskulinitas dapat kita wujudkan melalui tanggung jawab sebagai pasangan, ayah, atau pencari nafkah yang baik. Namun dalam bentuk negatif, maskulinitas dapat ia ekspresikan melalui dominasi, kontrol, hingga kekerasan seksual dan kekerasan dalam rumah tangga.
“Hubungan seksual dan hubungan cinta sering menjadi arena untuk menunjukkan maskulinitas. Persoalannya adalah apakah maskulinitas itu kita wujudkan dalam bentuk tanggung jawab atau justru dalam bentuk kekerasan,” katanya.
Karena itu, ia menilai penelitian mengenai maskulinitas perlu terus kita perluas. Terutama untuk memahami hubungan antara konstruksi maskulinitas dominan dengan berbagai bentuk kekerasan berbasis gender.
Katrin juga menyinggung konteks Indonesia yang menurutnya sedang menghadapi berbagai perdebatan mengenai identitas gender dan seksualitas. Dalam situasi tersebut, masyarakat sering kali menekankan bahwa laki-laki harus tampil maskulin dan tidak boleh menyerupai perempuan.
Namun, menurutnya, masyarakat jarang mempertanyakan apa yang sebenarnya maskulinitas itu sendiri.
“Ketika kita mengatakan laki-laki harus maskulin, pertanyaannya adalah maskulin yang seperti apa? Siapa yang mendefinisikannya? Dari mana konsep itu berasal?” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa pemahaman mengenai maskulinitas dapat dibentuk oleh berbagai sumber, mulai dari tradisi keagamaan, budaya lokal, hingga budaya populer global seperti film dan media massa.
Karena itu, ia mengajak akademisi dan peneliti di Indonesia untuk lebih banyak mengkaji konsep maskulinitas secara kritis. Menurutnya, kajian tersebut penting untuk memahami bagaimana berbagai bentuk maskulin ini dapat berkontribusi terhadap terciptanya atau justru mencegah terjadinya kekerasan seksual.
Model Maskulinitas yang Berkeadilan
Selain memperkuat penelitian, Katrin juga mendorong lahirnya model-model maskulinitas yang lebih sehat dan berkeadilan. Ia menilai maskulinitas tidak harus kita bangun di atas kompetisi, dominasi, dan keharusan untuk selalu unggul dari orang lain.
Sebaliknya, maskulinitas dapat kita bangun melalui nilai-nilai solidaritas, kepedulian, dan hubungan yang setara.
Ia mencontohkan ajaran Islam yang menempatkan sesama mukmin sebagai saudara. Nilai tersebut, menurutnya, dapat menjadi dasar bagi pembentukan relasi antarlaki-laki yang lebih suportif dan tidak selalu berdasarkan pada persaingan.
“Laki-laki seharusnya melihat laki-laki lain sebagai saudara, bukan sebagai pesaing. Dengan cara itu kita bisa membangun maskulinitas yang lebih sehat, yang mendorong laki-laki saling mendukung dan saling menguatkan,” ujarnya.
Katrin berharap kampus-kampus, termasuk perguruan tinggi keagamaan Islam, dapat menjadi ruang penting untuk mengembangkan pemahaman baru tentang maskulinitas yang bebas dari kekerasan dan lebih berorientasi pada nilai-nilai kemanusiaan.
Menurutnya, upaya membangun kampus yang berkeadilan gender dan bebas kekerasan tidak hanya membutuhkan perlindungan bagi perempuan. Tetapi juga memerlukan refleksi kritis terhadap berbagai bentuk maskulinitas yang selama ini menjadi normal dalam kehidupan sosial. []











































