Mubadalah.id – Selama mengikuti pelatihan kesehatan mental melalui Program MERAWAT (Mental Health, Equity and Relational Wellbeing Transformation) Pesantren yang diselenggarakan Pondok Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina pada 5–6 Juni 2026, ada satu istilah yang terus berulang saya dengar, yaitu collective care atau perawatan kolektif. Collective care merupakan cara pandang yang menempatkan kesehatan mental sebagai tanggung jawab bersama, bukan lagi beban yang harus dipikul oleh setiap individu.
Melansir tulisan Syifa Maulida di Magdalene.co, collective care memuat prinsip kesalingan. menjadi manifestasi dari hubungan yang dibangun berdasarkan dukungan, kasih sayang, dan pengertian, bukan semata-mata ikatan darah. Sementara itu, laman Act Build Change menjelaskan bahwa collective care merupakan praktik tanggung jawab komunal terhadap kesehatan dan kesejahteraan emosional setiap individu dalam sebuah kelompok.
Di lingkungan pesantren, praktik ini sangat penting dan mereka butuhkan. Pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar agama, tetapi juga ruang hidup bersama yang mempertemukan beragam latar belakang, pengalaman, dan persoalan setiap orang. Karena itu, menjaga kesehatan mental tidak cukup membebankan kepada mereka. Sebab, seluruh ekosistem pesantren harus saling menguatkan dan menghadirkan dukungan.
Hal yang sama seperti Nyai Nurul Bahrul Ulum, Pengasuh Pondok Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina sampaikan. Menurutnya, banyak pengasuh maupun pendamping santri merasa tidak perlu menunjukkan sisi rapuh mereka di hadapan santri. Sebagian khawatir akan memandang sebagai orang dewasa yang lemah atau bahkan terlalu berlebihan.
Keterbukaan Pengasuh
Padahal, menurutnya, keterbukaan pengasuh dan pendamping terhadap kerentanan diri justru memudahkan terbangunnya bonding dengan santri. Ketika orang dewasa berani mengakui bahwa mereka juga pernah merasa lelah, cemas, atau rapuh, santri akan lebih mudah merasa menerima. Mereka menyadari bahwa setiap orang memiliki kerentanannya masing-masing. Kesadaran inilah yang kemudian menumbuhkan rasa sepenanggungan, sehingga tidak ada yang merasa berjuang sendirian.
Pandangan tersebut sejalan dengan pendapat Mellin, aktivis perempuan yang Syifa Maulida kutip dari Magdalene.co. Menurutnya, collective care menghadirkan perasaan included atau menjadi bagian dari suatu kelompok. Perasaan mudah menerima menjadi bagian dari komunitas memiliki dampak psikologis yang penting. Santri menjadi lebih percaya diri, lebih berani mencari dukungan, sekaligus terdorong untuk saling menjaga satu sama lain.
Praktik saling menguatkan ini juga selaras dengan pemikiran Catherine Fennell dalam bukunya Last Project Standing: Civics and Sympathy in Post-Welfare Chicago. Ia menjelaskan bahwa praktik merawat satu sama lain lahir dari relasi yang ia bangun atas kemampuan untuk bersimpati, berempati, dan merasakan apa yang sedang orang lain alami.
Dengan kata lain, collective care bukan hanya tentang memberi bantuan, tetapi juga tentang keberanian menyampaikan apa yang ia rasakan serta kesediaan mendengarkan pengalaman orang lain dengan penuh empati.
Gagasan tersebut juga dapat kita lihat dalam tagline Program MERAWAT yang Nani Munayah tulis di Mubadalah.id: “Berbicara untuk kita pahami, mendengarkan untuk memahami.”
Mendengarkan secara Aktif
Dalam kegiatan MERAWAT Pesantren, prinsip collective care ini mereka kuatkan melalui berbagai materi, salah satunya latihan mendengarkan secara aktif atau kita kenal dengan istilah (active listening).
Active listening bukan sekadar memberi kesempatan orang lain berbicara. Ia menuntut seseorang hadir sepenuhnya untuk memahami apa yang sedang lawan bicara rasakan tanpa menghakimi. Dalam sesi ini, santri akan mereka latih untuk mempraktikkan mindfulness ketika mendengarkan cerita orang lain. Sekaligus belajar berempati terhadap pengalaman yang mereka alami.
Keterampilan ini penting untuk seluruh ekosistem pesantren miliki, mulai dari pengasuh, musyrif, musyrifah, hingga santri. Sebab, hubungan yang sehat harus mereka bangun dengan kesediaan untuk mendengarkan tanpa menghakimi.
Sebagai bagian dari komunikasi yang setara, active listening menjadi fondasi penting dalam praktik collective care. Ketika setiap orang merasa ada yang mendengar dan menerima, maka rasa percaya akan tumbuh. Dari situlah seluruh setiap orang di pesantren saling bekerja sama untuk mengupayakan kesejahteraan mental, baik bagi hidupnya sendiri maupun orang lain.
Jadi Dasar dari Proses Pendampingan
Melansir dari Grand Rising Behavioral Health, active listening merupakan salah satu dasar dalam proses pendampingan kesehatan mental. Ketika seseorang dapat menyampaikan pengalaman dan perasaannya tanpa takut dihakimi, ia akan merasa dipahami dan dihargai. Perasaan tersebut membuat seseorang lebih berani mengungkapkan kecemasan, kesedihan, maupun persoalan yang selama ini dipendam sendirian.
Dalam konteks collective care di pesantren, active listening menjadi pintu masuk untuk membangun budaya saling merawat. Ketika pengasuh, musyrif, musyrifah, dan santri saling mendengarkan dengan penuh empati tanpa menghakimi. Sehingga setiap orang akan merasa diterima dan tidak menghadapi persoalannya sendirian.
Perasaan dan pengalaman yang mendapatkan validasi juga dapat mengurangi rasa terasing, menumbuhkan rasa aman. Serta mendorong seseorang untuk berani mencari pertolongan ketika menghadapi kesulitan.
Dengan demikian, ruang deep talk bukan hanya menjadi ruang berbagi cerita, tetapi juga ruang untuk belajar saling mendengarkan dengan aktif dan penuh empati. Dari proses ini lah, diharapkan setiap orang di pesantren dapat merasa diterima, saling merawat dan menjaga kesehatan mental diri sendiri dan orang lain. []










































