Mubadalah.id – Akhir-akhir ini, saya sebagai anak muda sering merasa hidup berjalan dalam kecepatan yang berbeda. Hampir setiap hari, media sosial memperlihatkan berbagai pencapaian. Ada teman yang diterima beasiswa, mendapat pekerjaan baru, membangun bisnis, atau membagikan keberhasilan lainnya. Saya ikut senang melihat kabar-kabar tersebut. Namun, tanpa sadar muncul pertanyaan kecil dalam diri, “Saya sudah sampai sejauh mana, ya?”
Semakin sering melihat pencapaian kehidupan orang lain melalui layar ponsel, semakin mudah pula muncul perasaan tertinggal. Ada kekhawatiran bahwa orang lain bergerak lebih cepat dalam karier, pendidikan, maupun kehidupan pribadi.
Dalam psikologi, perasaan seperti ini dikenal sebagai Fear of Missing Out (FOMO), yaitu kecemasan ketika merasa melewatkan sesuatu yang penting atau tertinggal dari orang lain.
Perasaan tersebut tampaknya tidak bisa dilepaskan dari karakter generasi muda saat ini. Dalam buku Tipologi Anak Muda Indonesia, Hasanuddin Ali menggambarkan anak muda sebagai generasi yang sangat dekat dengan ruang digital, aktif membangun jejaring, sekaligus memiliki dorongan kuat untuk terus berkembang.
Karakter ini membuat media sosial menjadi ruang yang penuh peluang, tetapi juga penuh perbandingan. Ketika linimasa dipenuhi berbagai pencapaian, batas antara inspirasi dan tekanan sosial menjadi semakin tipis.
Kondisi tersebut terasa semakin relate, mengingat media sosial telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan generasi muda.
Pengguna Instagram Aktif
Senada, survei Jakpat membeberkan bahwa lebih dari delapan dari sepuluh Gen Z Indonesia merupakan pengguna Instagram aktif. Artinya, sebagian besar anak muda setiap hari tidak hanya berinteraksi dengan teman dan informasi, tetapi juga dengan berbagai standar keberhasilan yang terus muncul di hadapan mereka.
Dalam situasi seperti ini, saya menyadari bahwa persoalannya mungkin bukan terletak pada banyaknya pencapaian yang dilihat di media sosial. Persoalannya adalah apa yang terjadi di dalam diri ketika melihat semua pencapaian tersebut. Maka muncul pertanyaan, mengapa keberhasilan orang lain terkadang terasa seperti cermin yang memantulkan kekurangan diri sendiri?
Salah satu penjelasannya datang dari Social Comparison Theory yang diperkenalkan Leon Festinger. Teori ini menjelaskan bahwa manusia memiliki kecenderungan untuk membandingkan dirinya dengan orang lain untuk menilai kemampuan maupun pencapaiannya.
Dalam kadar tertentu, hal ini wajar. Namun, media sosial membuat proses perbandingan tersebut berlangsung hampir tanpa henti. Akibatnya, pencapaian orang lain sering kali tidak lagi menjadi sumber inspirasi, melainkan berubah menjadi standar yang ia gunakan untuk mengukur diri sendiri.
Masalahnya, perbandingan sosial tidak selalu berakhir ketika target berhasil ia capai. Dalam beberapa kasus, muncul target baru yang harus ia kejar. Karena itu, kebahagiaan yang lahir dari pencapaian sering kali hanya bersifat sementara. Kita terus bergerak, tetapi tidak selalu merasa sampai dan tidak pernah merasa cukup.
Padahal, menurut Self-Determination Theory yang dikembangkan Edward Deci dan Richard Ryan, kesejahteraan psikologis manusia tidak hanya ditentukan oleh banyaknya pencapaian.
Membutuhkan Otonomi
Manusia juga membutuhkan otonomi untuk menentukan jalan hidupnya sendiri, kesempatan untuk berkembang, dan hubungan yang sehat dengan orang lain. Simpelnya, kebahagiaan tidak selalu berasal dari seberapa banyak yang berhasil kita capai. Tetapi dari sejauh mana kita menjalani hidup sesuai dengan value atau nilai yang kita yakini.
Dari sini, saya menggarisbawahi bahwa persoalan yang generasi muda hadapi saat ini mungkin bukan sekadar FOMO atau sekadar obsesi terhadap produktivitas. Namun, ada sesuatu yang lebih mendasar, yaitu semakin sulitnya merasa cukup. Saya menyebut kondisi ini sebagai krisis kecukupan.
Krisis kecukupan bukan keadaan ketika seseorang tidak memiliki apa-apa. Justru sebaliknya, krisis kecukupan muncul ketika seseorang telah memiliki banyak hal tetapi tetap merasa kurang.
Ukuran keberhasilan bukan soal siapa yang lebih cepat mencapai tujuan. Melainkan seberapa jauh kita berkembang melalui proses yang kita jalani. Akibatnya, rasa puas menjadi sulit kita temukan karena selalu ada standar baru yang harus ia kejar.
Barangkali ini kegelisahan yang banyak anak muda alami hari ini. Kita hidup di era dengan akses pengetahuan, peluang, dan koneksi yang jauh lebih luas daripada generasi sebelumnya.
Namun, pada saat yang sama, kita juga hidup dalam ruang perbandingan yang nyaris tanpa batas. Jika dahulu seseorang membandingkan hidupnya dengan lingkungan terdekat, sekarang ia dapat membandingkan hidupnya dengan ratusan bahkan ribuan orang hanya melalui layar ponsel yang ia genggam.
Meningkatkan Kecemasan
Dampaknya tidak hanya terlihat pada meningkatnya kecemasan atau menurunnya kepuasan hidup. Namun, lebih dari itu, krisis kecukupan juga perlahan dapat mengubah cara kita memandang kesuksesan.
Kesuksesan tidak lagi kita maknai sebagai kemampuan mencapai tujuan yang sesuai dengan value dan pilihan hidup sendiri. Melainkan sebagai kemampuan untuk terus bergerak agar tidak terlihat tertinggal.
Jika ditarik kesimpulan, persoalan terbesar anak muda hari ini bukan kurang bekerja keras, tetapi kurang memiliki ruang untuk merasa cukup. Kita terus didorong untuk bertumbuh, tetapi jarang diajak berhenti sejenak untuk menghargai sejauh mana diri kita telah bertumbuh. []












































