Selasa, 21 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nafkah Skincare

    Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri

    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasangan HIV

    Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan

    Mengidap HIV

    Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS

    Tes HIV

    Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

    Tes HIV

    Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?

    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Nafkah Skincare

    Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri

    Anak dengan Down Syndrome

    Memahami Emosi Anak dengan Down Syndrome

    Kehamilan

    Mengapa Kehamilan Perlu Diputuskan Bersama?

    Dimensi Akhlak dalam Talak

    Tadarus Subuh ke 198: Dimensi Akhlak dalam Talak

    Humor Disabilitas

    Ironi Humor Disabilitas di Era Konten Viral

    Zakat

    Bolehkah Zakat Diberikan Kepada Penyintas Kekerasan?

    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasangan HIV

    Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan

    Mengidap HIV

    Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS

    Tes HIV

    Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

    Tes HIV

    Kapan Sebaiknya Menjalani Tes HIV?

    Periode Jendela HIV

    Apa Itu Periode Jendela HIV? Ini Penjelasan dan Contohnya

    Virus HIV

    Mengenal Periode Jendela Virus HIV dan Cara Membaca Hasil Tes

    Perempuan HIV

    HIV pada Perempuan: Risiko Lebih Besar dan Enam Cara Mencegahnya

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan terhadap HIV? Ini Penjelasannya

    HIV Menular

    HIV Menular Melalui Apa Saja? Cek Fakta dan Mitosnya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Tata, Jaringan Gusdurian dan Tes Wawasan Kebangsaan KPK

Ini cerita tentang Tata. Tata yang sangat kuat, sehingga tidak terpengaruh radikalisasi. Juga tidak terpengaruh polarisasi. Begitu kuatnya dia hingga dia menjadi ancaman, karena integritasnya tidak mampu digoyang oleh pemilik kuasa.

Anita Wahid by Anita Wahid
17 Mei 2021
in Publik, Rekomendasi
A A
0
Jaringan Gusdurian

Jaringan Gusdurian

5
SHARES
271
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Saya mau cerita yang agak panjang tentang seseorang bernama Tata. Tapi sebelum bercerita soal Tata, saya awali dulu dengan cerita tentang Jaringan GUSDURian. Jaringan GUSDURian ini dibentuk, dibangun, dan dikelola oleh kakak saya, Alissa Wahid, selepas kepergian Bapak. Jaringan GUSDURian dibangun untuk mengumpulkan para sahabat dan pecinta Gus Dur dalam sebuah ikatan komunitas yang bertujuan untuk menyebarluaskan dan terus menghidupkan ajaran-ajaran dan nilai-nilai utama Gus Dur.

Jaringan GUSDURian tidak berpolitik elektoral, alias gak ikut-ikutan pro sana-sini dalam konteks pemilihan dan atau perebutan jabatan. Tapi Jaringan GUSDURian sangat berpolitik. Politiknya adalah politik kemanusiaan, politik keadilan, politik persaudaraan, politik HAM, politik kesetaraan, dan semua politik-politik lain yang sesuai dengan nilai-nilai yang telah dicontohkan Gus Dur semasa hidupnya.

Hampir semua orang yang tahu Jaringan GUSDURian pasti juga tahu betapa kuatnya komitmen Jaringan GUSDURian dalam membangun dan menjaga toleransi di Indonesia. Nggak hanya teriak-teriak di medsos tentang kasus-kasus intoleransi, tapi secara riil teman-teman GUSDURian melakukan pendampingan dan advokasi bagi para korban intoleransi, dan berusaha mengadvokasi agar ada kebijakan yang lebih manusiawi bagi para korban ini. Termasuk korban-korban yang sering kali banyak orang yang teriak toleransi tutup mata atas ketidakadilan yang menimpa mereka, seperti kelompok Ahmadiyah dan Syiah.

Sebagai pecinta Gus Dur, di Jaringan GUSDURian kami senantiasa belajar mengenai lika-liku pemikiran dan berbagai tindakan Gus Dur saat masih sugeng. Karena spektrum perjuangan Gus Dur sangat luas, maka kami juga belajar untuk memperluas spektrum kami. Mungkin sebagian orang hanya mengenal Gus Dur sebagai pembela kaum minoritas. Bapak Toleransi, kata orang-orang. Tapi lebih jauh dan lebih dalam dari itu, Gus Dur adalah pejuang kemanusiaan, pejuang demokrasi, dan pejuang HAM. Bahkan masih banyak lagi spektrum Gus Dur selain ketiga hal ini; tapi saat ini saya hanya ingin menekankan tiga hal ini saja.

Kuatnya pegangan nilai Gus Dur atas ketiga hal ini mendorong kami menelaah berbagai tindakan Gus Dur, di mana saya berkesimpulan bahwa segala tindakan dan kebijakan yang diambil wajib menghormati ketiga prinsip ini, dan tidak boleh ada pelanggaran terhadapnya. Kalau bicara wawasan kebangsaan, maka Gus Dur menorehkan kerangka berpikir bahwa wawasan kebangsaan adalah memastikan bahwa negara dan bangsa berjalan untuk tujuan kemaslahatan bersama, tidak hanya untuk kelompok tertentu saja; dan dalam usaha mencapai tujuan ini, setiap warga negara wajib diakui, dihormati, dan dijunjung tinggi kemanusiaannya, hak-hak asasinya, kemerdekaannya, dan keterlibatannya dalam proses demokrasi.

Setidaknya ini adalah pemahaman saya yang sengaja saya bikin concise supaya tidak terlalu panjang. Berdasarkan pemahaman ini, tentu kita (paling tidak saya) patut berasumsi bahwa di Jaringan GUSDURian kami saling belajar dan mengajarkan wawasan kebangsaan, sehingga wawasan kebangsaan kami menjadi kuat. Jadi kerja-kerja Jaringan GUSDURian tidak hanya di wilayah intoleransi dan radikalisme saja, tapi juga hal-hal lain yang terkait pelanggaran HAM dan demokrasi, seperti pendampingan masyarakat adat yang digusur paksa, isu lingkungan hidup, isu hukum, isu pendidikan, isu budaya, dan lain sebagainya.

*****

Itu tadi latar belakangnya. Sekarang saya mau mulai cerita tentang Tata. Tata adalah seorang GUSDURian. Dulu ia adalah asisten pribadi mbak Alissa. Dia berasal dari keluarga seorang Kiai. Jadi kalau urusan qunut aja sih (yang kayanya segitu pentingnya sampai harus ditanyain di TWK) gak udah ditanya lagi deh. Sejak muda Tata aktif di NU.

Secara kultural, praktik-praktik ke-NU-an sudah mendarah daging buatnya. Komitmennya terhadap toleransi dan kebebasan beragama sangat kuat, yang akhirnya membawa dia pada Jaringan GUSDURian, di mana dia secara aktif membantu merintis dan membesarkan Jaringan GUSDURian. Didikan langsung mbak Alissa. Jadi kalau soal wawasan kebangsaan udah nggak perlu diragukan lagi.

Tahun 2017 Tata bergabung dengan KPK dan menjadi staf Humas di sana. Saya bangga sekali padanya. Dia sangat berdedikasi sekali dalam tugasnya. Kerap dia harus begadang, karena dia memang harus siap setiap saat, kalau-kalau ada OTT atau hal lainnya yang butuh dia untuk menyiapkan konferensi pers dengan segera. Tahun 2019, di tengah gempuran terhadap KPK yang luar biasa keras, saya minta dia untuk datang ke rumah. Mau saya ajarkan TRE, sebuah teknik pelepasan ketegangan dan stres dari tubuh. Dan dia pun datang bersama dengan Humer, anak GUSDURian juga.

Setelah selesai satu sesi, saya kasih waktu 30 menit untuk istirahat. Ndilalah dalam 5 menit dia sudah tertidur pulas di sofa saya, saking kecapekannya. Saya biarkan dia tertidur di sofa. Begitu bangun, yang dia pikirkan langsung soal kerjaannya di KPK. Padahal itu hari Sabtu. Akhirnya dia bergegas pergi untuk kembali ke kantor untuk standby. Walaupun tugasnya sangat menuntut kerja keras dan melelahkan baik secara fisik maupun mental, dia hampir nggak pernah mengeluh. Aura yang saya dapatkan dari dia adalah aura bakti pada negara, dan rasa bangga telah menjadi bagian dari sebuah perjuangan besar memberantas korupsi.

Beberapa hari lalu saya tanya gimana kondisinya. Dia bilang dia dikabarkan termasuk di antara 75 orang yang akan disingkirkan lewat Tes Wawasan Kebangsaan (TWK). Saya kaget sekali. Kok bisa? Bagaimana mungkin ada anak GUSDURian yang dipertanyakan wawasan kebangsaannya? Dia bilang nggak tahu alasan spesifiknya, tapi dia menduga karena tidak setuju dengan kebijakan pemerintah terhadap revisi UU KPK. Posisi yang sama dengan yang saya ambil. Juga yang diambil oleh Ibu saya, mbak Alissa, dan Nay. Iya, kami semua tidak setuju dengan revisi UU KPK, dan secara terbuka pernah menyatakan itu.

Jadi, sebenarnya ini tes apa? Kalau wawasan kebangsaan diukur dengan setuju atau tidak setuju revisi UU KPK, maka kami ini tidak berwawasan kebangsaan rupanya. Atau jangan-jangan judul “Tes Wawasan Kebangsaan” itu hanya kedok saja untuk sebuah tujuan lain? Saya sih langsung kepikiran tujuannya adalah untuk menyisir dan menyingkirkan pegawai-pegawai yang berpotensi nggak setuju dengan pimpinan KPK yang sekarang, dengan alasan tidak lulus tes. Nggak ada hubungannya dengan wawasan kebangsaan blas. Apalagi kalau lihat soal-soalnya yang “Ya ampun apa-apaan sih ini? Kenapa ada pertanyaan-pertanyaan ambigu, rasis, seksis, melanggar HAM dan melanggar prinsip demokrasi gini?”

Konon katanya pembenaran untuk melakukan TWK ini adalah untuk mengusir kadrun-kadrun yang bercokol di KPK. Paling tidak itulah narasi yang digaungkan para buzzer, dan ditelan serta diamini oleh para pengikutnya di salah satu kelompok terpolarisasi, yang dengan sengaja diajak untuk tidak menelaah substansi.

Sampai di sini pasti banyak yang mulai sebel baca cerita ini. Saya tahu banyak teman-teman saya yang mempertanyakan kenapa saya sampai segitunya amat sama KPK. Mereka nggak berani nanya langsung sih, beraninya cuma numpang nitip tanya ke teman lain. Iya bener, saya emang segitunya banget. Because it’s personal for me. Bapaklah yang dulu menandatangani surat keputusan pembentukan Tim Gabungan Penanggulangan Tindak Pidana Korupsi, yang di jaman mbak Mega kemudian berubah menjadi KPK.

KPK adalah salah satu peninggalan perjuangan Bapak untuk terwujudnya pemerintahan yang bersih dan bangsa yang terbebas dari korupsi. Bapak pun di dalam berbagai kesempatan menyampaikan dukungannya untuk KPK, dan menekankan pentingnya independensi KPK. Saya kuliah S2 fokusnya pun tentang antikorupsi.

Sejarah saya bersama KPK itu panjang, sejak upaya pelemahan KPK yang pertama kali lewat kasus Cicak Buaya 1, lalu lanjut upaya DPR buat revisi UU KPK di tahun 2012, kasus rekening gendut BG tahun 2015, kasus simulator SIM, hingga ke usaha pelemahan KPK lewat pemilihan capim yang sangat nggak layak, dan dilanjutkan dengan revisi UU KPK terakhir. Di tiap fase usaha pelemahan itu, saya selalu ada buat bantu nggalang dukungan publik. Untuk menjaga peninggalan Bapak. Karena saya tidak rela peninggalan Bapak dikoyak-koyak oleh mereka yang rakus dan tamak.

Jadi usaha pelemahan KPK itu sudah sering. Terlalu sering, bahkan. Aktor-aktornya juga itu-itu aja. Paling nggak dari kelompok yang itu-itu lagi. Metodenya aja yang beda. Dulu mereka bergaya seakan-akan dapat dukungan publik lewat demo bayaran. Sekarang, mereka memanfaatkan polarisasi dan ketakutan akan radikalisme yang begitu menghantui.

Ketakutan dipupuk sedemikian rupa hingga subur banget dengan menyusupkan narasi-narasi talibanisme. Ketakutan itu yang kemudian dijadikan justifikasi untuk “bersih-bersih” di KPK. Dibilangnya bersih-bersih kadrun. Padahal sebenernya bukan kadrun yang dibersihin, tapi justru orang-orang penting yang berkomitmen, berintegritas, dan berdedikasi yang selama ini jadi ujung tombak KPK buat pemberantasan korupsi. Salah satunya adalah Tata.

Tata jelas bukan kadrun. Jelas bukan orang yang mudah disusupi ajaran-ajaran radikal. Sampai saat ini komitmennya terhadap toleransi dan kebebasan beragama masih sama kuatnya seperti dulu. Lalu karena apa? Kinerjanya? Jelas nggak tuh. Saya kenal atasannya, dan dia hepi sekali dengan kinerja Tata. Soal wawasan kebangsaannya? Oh, jelas tidak. Alasannya, lihat lagi ke atas soal Jaringan GUSDURian. Yang paling masuk akal adalah karena alasan seperti yang dia kemukakan sendiri, yaitu tidak setuju revisi UU KPK, sehingga dianggap membahayakan. Mungkin karena alasan itu dia dipandang bakal nyusahin usaha-usaha oligarki buat makin menggerogoti dan mreteli KPK.

Yang bikin sedih dari narasi talibanisme yang sebegitu kuatnya itu adalah orang udah nggak lagi bernalar dalam menelaah substansi. Yang mereka lihat cuma “yang penting KPK bersih dari kadrun”, lalu nggak mau lihat kalau banyak orang-orang yang nggak mungkin jadi kadrun ikutan dibersihkan. Karena sejarah saya yang cukup panjang dengan KPK, saya kenal beberapa orang dari 75 orang yang dinonaktifkan itu. Mereka adalah orang-orang terhormat, bukan karena jabatannya atau uangnya, tapi karena komitmen, dedikasi, dan integritasnya.

Ada lho orang-orang yang bahkan bukan Muslim yang disingkirkan juga. Dalam skema kekadrunan, mereka ada di mana? Ah iya, saya lupa, buzzer-buzzer udah nyiapin jawaban buat pertanyaan itu. Paling jawabnya ya mereka nggak lolos TWK. Liat lagi deh ke atas, TWK-nya nggak valid, nggak layak buat ngukur tingkat wawasan kebangsaan seseorang, karena banyak pertanyaannya yang bahkan nggak berwawasan kebangsaan. Kalau mau tahu pertanyaan-pertanyaannya, liat Instagram saya ya? Saya pelan-pelan lagi bikin video bedah pertanyaan-pertanyaan TWK. Dari situ akan kelihatan deh betapa ngawurnya tes ini.

Belum lagi orang-orang dari latar belakang NU yang sangat kuat, seperti Pak Harun Al Rasyid yang kemarin itu memimpin OTT Bupati Nganjuk. Pak Harun ini punya pesantren lho. Beliau bahkan membuat sebuah buku, Fikih Korupsi: Analisis Politik Uang di Indonesia dalam Perspektif Maqashid al-Syari’ah. Beberapa waktu lalu merilis buku baru judulnya Fikih Persaingan Usaha dan Moralitas Antikorupsi.

Bayangin dedikasinya, berusaha menggunakan fikih dan ajaran agama untuk mengajarkan masyarakat atas pentingnya menjalankan prinsip antikorupsi dalam kehidupan sehari-hari. Beliau sempat mendaftar menjadi pimpinan KPK, dan pas nyalon itu beliau mendapat rekomendasi dari PBNU. Terus yang kaya gini nggak lolos TWK? Berarti yang ngaco ya tesnya.

Ada lagi Pak Sujanarko, yang tahun 2015 lalu menerima penghargaan Satyalancana Wira Karya dari Presiden Jokowi sebagai tanda kehormatan karena darma baktinya yang besar kepada nusa bangsa. Lha kalau beliau kadrun, masa bisa lolos screening timnya Pak Jokowi? Mau bilang kecolongan? Yakin kamu mau nuduh timnya Pak Jokowi bisa kecolongan? Yakin mau merendahkan kemampuan intelejensi mereka? Hati-hati lho nanti ninuninu. Lagipula Pak Sujanarko ini sempat mendaftar calon pimpinan KPK juga tahun 2019 lalu, dan beliau sudah menjalani tes pula selama proses pemilihan. Trus ujug-ujug tes yang sekarang nggak lolos? Padahal bedanya antara tahun 2019 sama sekarang itu cuma pimpinan KPK-nya aja lho. Uhuk…

Masih banyak orang-orang lain yang saya kenal seperti Pak Giri, Mas Nanang, Mas Yudi, dan lain-lainnya yang selama ini yang saya tahu hidupnya cuma dipakai buat berbakti sama KPK dan untuk pemberantasan korupsi. Saya sih nggak berharap muluk-muluk orang-orang akan berbondong-bondong memuji mereka. Mereka juga gak butuh dipuji kok. Tapi kalau kepada orang-orang yang seperti itu kita dengan mudahnya menutup mata dari semua kerja keras dan prestasi mereka hanya demi menyematkan label kadrun pada mereka, hanya demi mengijinkan oligarki “bersih-bersihin” orang-orang seperti mereka, ah betapa tidak berterima kasihnya kita pada orang-orang yang sejatinya begitu besar jasanya buat bangsa ini.

Kalau kita memudahkan jalan bagi kelompok rakus untuk memanipulasi emosi dan pikiran kita melalui narasi-narasi jahat, maka sebentar lagi tidak akan ada lagi orang-orang berani seperti 75 orang ini. Orang akan takut, orang akan memilih untuk nurut atasan walaupun atasannya ngawur dan korup, dan terpaksa terjebak dalam sistem yang sangat korup, supaya tidak di TWK-kan dan disingkirkan. Dan perlahan-lahan kita akan kembali seperti masa sebelum 1998, di mana ketakutan adalah mood dominan di negeri ini. Dan untuk mengubahnya dibutuhkan 32 tahun lagi.

Sebelum itu terjadi, kita masih bisa bertindak. Masih bisa melawan. Mulai dari melepaskan diri dari polarisasi. Membebaskan diri dari jeratan manipulasi emosi dan pikiran. Perlahan-lahan melihat substansi, dan tidak lagi tutup mata pada upaya-upaya oligarki merangsek semua lini. Berani mengkonfrontasi diri sendiri. Persenjatai diri dengan nalar berpikir yang terbebas dari bias dan logical fallacy. Biarkan buzzer-buzzer menciptakan narasi-narasi keji, asalkan kita tidak mengijinkan diri kita dipengaruhi.

Pembebasan, salah satu dari 9 nilai utama Gus Dur sungguh mendesak kita adopsi.

Sebentar lagi akan bermunculan narasi yang menegasikan tulisan ini, dengan kembali berusaha memanipulasi emosi dan pikiranmu dengan berbagai narasi-narasi yang membangkitkan ketakutan dan kebencian. Kamu tidak perlu setuju dengan tulisan ini. Tapi kalau kamu peduli dengan kesehatan nalarmu, mulailah membebaskan dirimu dari pengaruh narasi-narasi toxic itu, yang tidak mengijinkanmu menggunakan akal sehat di luar yang mereka sodorkan. Ijinkan dirimu berpikir jernih, terbebas dari pengaruh apa pun selain nilai-nilai yang kamu percayai. Rebut kembali kekuatanmu dari jerat dalang narasi.

Ini cerita tentang Tata. Tata yang sangat kuat, sehingga tidak terpengaruh radikalisasi. Juga tidak terpengaruh polarisasi. Begitu kuatnya dia hingga dia menjadi ancaman, karena integritasnya tidak mampu digoyang oleh pemilik kuasa. Saya sangat bangga dengannya. Sebangga saat dia berhasil lolos menjadi pegawai KPK, dan sama bangganya saat ini melihat dia keluar dari KPK dengan kepala tegak berdiri karena telah memperjuangkan apa yang dia percaya dengan semua yang dia punya. Walau disingkirkan, dia pergi dari sana secara terhormat. Terima kasih Tata, atas inspirasi kekuatannya. []

Via: https://gusdurian.net/tata/
Tags: Anti KorupsiJaringan GusdurianKPKTes Wawasan Kebangsaan
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Mendoakan Perjuangan Berat Muslimah Palestina di Hari Raya

Next Post

Hampers Hari Raya Idul Fitri dari Ayah

Anita Wahid

Anita Wahid

GUSDURian; Anggota Perempuan Anti Korupsi Indonesia dan Presidium Masyarakat Anti Fitnah Indonesia (MAFINDO).

Related Posts

Jaringan Gusdurian
Aktual

Jaringan GUSDURian Ingatkan DPR dan Pemerintah, Jatuhnya Korban saat Aksi Demonstrasi Peringatan Serius bagi Demokrasi

29 Agustus 2025
Makna Toleransi
Publik

Menemukan Makna Toleransi dari Komunitas yang Sering Terlupa

2 Agustus 2025
Lagu Indonesia Raya 3 Stanza
Pernak-pernik

Penting Mempopulerkan Kembali Lagu Indonesia Raya 3 Stanza

18 November 2024
Simposium Beda Setara
Aktual

Simposium Beda Setara Jaringan GUSDURian Resmi Dibuka

14 November 2024
Simposium Best
Aktual

4 Perempuan Hebat ini Akan Hadiri Simposium Best Jaringan GUSDURian

6 November 2024
Gagasan Gus Dur
Figur

Tiga Gagasan Gus Dur dalam Pandangan Buya Husein

8 Oktober 2024
Next Post
Ayah

Hampers Hari Raya Idul Fitri dari Ayah

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Pasangan Positif HIV? Ini yang Perlu Anda Ketahui dan Lakukan
  • Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol
  • Tetap Bahagia Meski Mengidap HIV atau AIDS
  • Nafkah Skincare, Antara Kosmetik Tersier dan Hak Kesehatan Reproduksi Istri
  • Apa yang Harus Dilakukan Setelah Hasil Tes HIV Positif?

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0