Minggu, 31 Agustus 2025
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Luka Rakyat

    Luka Infrastruktur, Luka Rakyat

    Affan Kurniawan

    Nyai Sinta Istri Gus Dur Bersama 1.500 Gusdurian Doakan Affan Kurniawan, Ojol yang Dilindas Polisi

    Gus Dur yang

    Saat Para Pemikir dan Tokoh Agama Bicara Warisan Besar Gus Dur, Membumikan Nilai Kemanusiaan

    Media Alternatif

    Publik Diminta Terus Bersuara sebagai Media Alternatif, Jadi Kekuatan Rakyat Ketika Pemerintah kian Represif

    Keamanan Digital

    TUNAS Learning Space: Asia Centre Tekankan Urgensi Keamanan Digital dalam Penyalahgunaan Data

    Kekerasan

    Orba Jilid II: Kekerasan, Intimidasi, dan Pembungkaman

    DPR

    Alissa Wahid: Rakyat Kerap Dikecewakan oleh DPR dan Pemerintah

    Jaringan Gusdurian

    Jaringan GUSDURian Ingatkan DPR dan Pemerintah, Jatuhnya Korban saat Aksi Demonstrasi Peringatan Serius bagi Demokrasi

    Pendidikan Inklusi

    Pendidikan Inklusi Indonesia Masih Jauh dari Harapan: Mari Belajar dari Finlandia hingga Jepang

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Pendidikan Inklusi di Indonesia

    Menghidupkan Kembali Gagasan Piaget dan Vygotsky dalam Pendidikan Inklusi di Indonesia

    Ketimpangan Gaji Guru

    Ketimpangan Gaji Guru dan Tunjangan DPR, Realitas Negara Penguasa

    Affan Kurniawan

    Hannah Arendt: Antara Affan Kurniawan, Negara, dan Kekerasan

    Anak di Luar Perkawinan

    Benarkah Anak di Luar Perkawinan Berhak Mendapat Nafkah?

    Srikandi Lintas Iman

    Satu Dekade Srikandi Lintas Iman: Peran dan Perjuangan Perempuan Dalam Menjaga Perdamaian

    Berani Gagal

    Berani Gagal: Kunci Awal Meraih Mimpi Besarmu

    Pratama Arhan dan Azizah Salsha

    Perceraian Artis Terjadi Lagi, Kini Pratama Arhan dan Azizah Salsha

    AI

    Pentingnya Etika Digital di Era AI: Kasus Foto Asusila di Cirebon Jadi Peringatan

    Menjadi Perempuan Adalah Cobaan

    “Menjadi Perempuan Adalah Cobaan” Ini Jelas Sesat Logika!

  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Janin dari

    Tahapan Pertumbuhan Janin: Dari Mudghah hingga Khalqan Akhar

    Pertumbuhan

    Memahami Proses Pertumbuhan Janin dalam Al-Qur’an

    Perubahan Ibu hamil

    4 Perubahan Fisik dan Psikis yang Dialami Ibu Hamil

    Maulid Nabi

    Maulid Nabi dan Solidaritas Perempuan Lintas Dimensi

    Kekurangan Gizi

    6 Risiko Kekurangan Gizi Pada Masa Kehamilan

    Gizi bayi

    Ketika Kekurangan Gizi pada Ibu Hamil dapat Mengancam Kehidupan Ibu dan Bayi

    gizi

    Empat Sehat Lima Sempurna: Kunci Asupan Gizi Ibu Hamil

    Gizi

    Menjaga Kesehatan Ibu dan Janin melalui Asupan Gizi yang Tepat

    Istri Hamil

    Pentingnya Menjaga Kesehatan Istri Hamil

  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Kolom Buya Husein
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Luka Rakyat

    Luka Infrastruktur, Luka Rakyat

    Affan Kurniawan

    Nyai Sinta Istri Gus Dur Bersama 1.500 Gusdurian Doakan Affan Kurniawan, Ojol yang Dilindas Polisi

    Gus Dur yang

    Saat Para Pemikir dan Tokoh Agama Bicara Warisan Besar Gus Dur, Membumikan Nilai Kemanusiaan

    Media Alternatif

    Publik Diminta Terus Bersuara sebagai Media Alternatif, Jadi Kekuatan Rakyat Ketika Pemerintah kian Represif

    Keamanan Digital

    TUNAS Learning Space: Asia Centre Tekankan Urgensi Keamanan Digital dalam Penyalahgunaan Data

    Kekerasan

    Orba Jilid II: Kekerasan, Intimidasi, dan Pembungkaman

    DPR

    Alissa Wahid: Rakyat Kerap Dikecewakan oleh DPR dan Pemerintah

    Jaringan Gusdurian

    Jaringan GUSDURian Ingatkan DPR dan Pemerintah, Jatuhnya Korban saat Aksi Demonstrasi Peringatan Serius bagi Demokrasi

    Pendidikan Inklusi

    Pendidikan Inklusi Indonesia Masih Jauh dari Harapan: Mari Belajar dari Finlandia hingga Jepang

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Pendidikan Inklusi di Indonesia

    Menghidupkan Kembali Gagasan Piaget dan Vygotsky dalam Pendidikan Inklusi di Indonesia

    Ketimpangan Gaji Guru

    Ketimpangan Gaji Guru dan Tunjangan DPR, Realitas Negara Penguasa

    Affan Kurniawan

    Hannah Arendt: Antara Affan Kurniawan, Negara, dan Kekerasan

    Anak di Luar Perkawinan

    Benarkah Anak di Luar Perkawinan Berhak Mendapat Nafkah?

    Srikandi Lintas Iman

    Satu Dekade Srikandi Lintas Iman: Peran dan Perjuangan Perempuan Dalam Menjaga Perdamaian

    Berani Gagal

    Berani Gagal: Kunci Awal Meraih Mimpi Besarmu

    Pratama Arhan dan Azizah Salsha

    Perceraian Artis Terjadi Lagi, Kini Pratama Arhan dan Azizah Salsha

    AI

    Pentingnya Etika Digital di Era AI: Kasus Foto Asusila di Cirebon Jadi Peringatan

    Menjadi Perempuan Adalah Cobaan

    “Menjadi Perempuan Adalah Cobaan” Ini Jelas Sesat Logika!

  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Janin dari

    Tahapan Pertumbuhan Janin: Dari Mudghah hingga Khalqan Akhar

    Pertumbuhan

    Memahami Proses Pertumbuhan Janin dalam Al-Qur’an

    Perubahan Ibu hamil

    4 Perubahan Fisik dan Psikis yang Dialami Ibu Hamil

    Maulid Nabi

    Maulid Nabi dan Solidaritas Perempuan Lintas Dimensi

    Kekurangan Gizi

    6 Risiko Kekurangan Gizi Pada Masa Kehamilan

    Gizi bayi

    Ketika Kekurangan Gizi pada Ibu Hamil dapat Mengancam Kehidupan Ibu dan Bayi

    gizi

    Empat Sehat Lima Sempurna: Kunci Asupan Gizi Ibu Hamil

    Gizi

    Menjaga Kesehatan Ibu dan Janin melalui Asupan Gizi yang Tepat

    Istri Hamil

    Pentingnya Menjaga Kesehatan Istri Hamil

  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Kolom Buya Husein
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Tokoh Profil

Enam Perempuan yang Berpengaruh dalam Filsafat

Keterlibatan Perempuan dalam Sejarah Wacana Filsafat

Fadlan Fadlan
15 September 2020
in Pernak-pernik, Rekomendasi
0
Film Cinta Suci Zahra seolah menanamkan stigma kalau Perempuan Berpendidikan Tinggi Sulit Menemukan Jodoh

Film Cinta Suci Zahra seolah menanamkan stigma kalau Perempuan Berpendidikan Tinggi Sulit Menemukan Jodoh

438
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Sebelummya, saya memiliki—beberapa teman perempuan di kelas filsafat, dan selama saya duduk di kelas tersebut, saya merasa bahwa mereka nampaknya kurang menikmati diskursus—yang mendalam seperti filsafat. Ini ditunjukkan dengan keaktifan mereka dalam kelas filsafat itu tak seaktif ketika mereka mengikuti kelas-kelas lain, seperti kelas fiqih atau sejarah.

Ini membuat saya berpikir, bahwa mungkin perempuan memang—kurang menaruh perhatian pada persoalan-persoalan filosofis. Perempuan mungkin cenderung tertarik—pada masalah-masalah yang lebih praktis dan mudah dipahami dengan cara yang (seharusnya) jua lebih sederhana.

Seperti apa yang pernah dikatakan oleh penulis eksistensialis, Mary Warnock bahwa “perempuan memang cenderung lebih mudah bosan dengan persoalan filosofis dibanding laki-laki, karena filsafat tampaknya kurang menarik di mata perempuan ketika ia mulai menjadi serius.”

Menurut saya, kurangnya filsuf perempuan hari ini sebenarnya bukan karena ketidakadaan bakat mereka tetapi karena kerapuhan semangat filsafat itu sendiri. Berbeda dari masa-masa awal, filsafat kini pada praktiknya mungkin hanya sekadar menjadi bacaan kering di dalam kelas.

Hal ini juga tak terlepas dari fakta bahwa buku teks filsafat kita memiliki kesadaran relasi gender yang buruk; dari semua penulis-penulis filsafat, hanya sedikit saja dari kalangan perempuan yang menjadi penulis atau kritikus filsafat seperti Sachiko Murata atau Nawal El-Saadawi. Inilah jawaban mengapa kita lebih banyak mengenal filsuf laki-laki daripada perempuan.

Apakah perbedaan tersebut mencerminkan fakta yang tidak dapat diubah tentang sejarah filsafat kita? Saya kira tidak. Itu bisa diperbaiki apabila kesadaran dan pengetahuan kita akan kesetaraan kualitas setiap orang (terlepas dari gender) bertumbuh.

Namun begitu, ini bukan berarti bahwa perempuan secara inheren tidak memiliki kualitas dalam berpikir filosofis. Saya kira ini hanya sekadar persoalan minat—antara suka atau tidak suka sahaja, laiknya kurangnya minat laki-laki pada urusan dapur—karena saya percaya bahwa setiap orang memiliki kualitas kognitif yang sama meskipun dengan minat yang berbeda. Bahkan mungkin saya lebih banyak memiliki teman laki-laki yang tidak menyukai filsafat, daripada teman perempuan yang tidak menyukai filsafat.

Terlepas dari itu, meskipun tampak bahwa hanya laki-laki saja yang getol membicarakan persoalan filosofis (olehnya dunia memiliki sejarah patriarki yang pantas untuk disalahkan).

Namun dalam sejarah, ada beberapa perempuan pemberani, brilian, dan menginspirasi yang pernah melakukan dobrakan masif dan berpengaruh pada wacana filsafat kita bahkan sampai terasa hingga hari ini, meskipun perempuan-perempuan ini jarang terabadikan dalam buku standar filsafat pada umumnya. Kita boleh menyebut mereka sebagai “filsuf perempuan yang terlupakan” atau apapun itu. Berikut adalah enam filsuf perempuan yang saya kira perlu untuk diketahui.

1. Hypatia (350-370 M)

Ia merupakan pengikut mazhab Neo-Platonisme yang banyak mengembangkan ide Plotinus di Alexandria. Olehnya dia begitu terkenal di masanya.

Selain filsuf, ia juga adalah seorang matematikawan dan ahli astronomi. Dia—telah mengajarkan beragam ide yang berkaitan dengan realitas dan bagaimana cara manusia dalam memahami realitas. Sebagaimana para pengikut Neo-Platonis lain, dia juga percaya bahwa segala sesuatu—berasal dari “yang satu”—dan bahwa manusia tidak akan dapat memahami segala realitas dunia secara lengkap.

Pada Maret 415, Hypatia dibunuh oleh sekelompok Kristen yang dipimpin oleh seorang lektor yang bernama Petros. Pembunuhan Hypatia tersebut mengguncang kekaisaran dan menjadikannya sebagai seorang “martir filsafat” yang digadang-gadang setara dengan leluhur filsafat, Socrates. Kematian Hypatia tersebut, tentu saja, menyebabkan tokoh-tokoh Neo-Platonis sesudahnya, termasuk Damaskios, marah dan berubah masif dalam mengkritik agama Kristen.

2. Tullia d’Aragona (1510-1556 M)

Tullia d’Aragona, ia merupakan putri tidak sah dari seorang kardinal dan pelacur. Ia dikenal di seluruh Italia karena kecantikannya dan keahlian retorikanya, mulai dari sastra hingga filsafat.

Teks filsafat terkenalnya adalah ‘Dialogues on the Infinity of Love’ (1547), sebuah karya yang berbau Neo-Platonis yang membahas tentang perlunya kebebasan seksual dan juga emosional perempuan dalam cinta romantis.

Dalam buku tersebut ia berpendapat bahwa semua dorongan seksual itu tidak terkendali dan juga bukan sebuah kecacatan. Ia menilai bahwa dorongan seksual merupakan kombinasi dari spiritualitas yang dapat menciptakan—moral cinta.

Olehnya, satu-satunya cara agar cinta menjadi mulia, menurutnya, adalah jika pria dan wanita saling menerima dan mengakui hasrat seksual dan spiritual mereka (tubuh dan jiwa mereka).

3. Anne Conway (1631-1679 M)

Terlahir sebagai Anne Finch, dia belajar filsafat secara langsung—bersama saudara tirinya John Finch—di bawah bimbingan Henry More di Cambridge. Selain saudaranya, suaminya pun juga tertarik pada filsafat. Namun demikian, Conway tetap jauh melampaui suaminya dalam hal filsafat, baik dalam hal kedalaman pemikiran maupun keragaman minatnya.

Karena kecerdasannya tersebutlah, More pernah mengatakan bahwa ia “jarang bertemu dengan seseorang, pria atau wanita—yang lebih baik daripada Lady Conway.” Tak heran, ide filsafatnya kemudian banyak mempengaruhi gagasan-gagasan filsafat setelahnya, salah satunya berpengaruh pada tokoh penting mazhab Rasionalisme: Gottfried Leibniz (1646-1716).

4. Marry Wollstonecraft (1759-1797 M)

Ia lahir dari keluarga yang boleh dikata amburadul; ayah dengan sifat kasar yang suka memukul saat mabuk, dan seorang ibu yang tidak bisa apa-apa. Hal itu membuatnya kabur dari rumah, dan mulai bergelut di dunia kepenulisan sembari menjadi seorang guru.

Karyanya yang paling terkenal ialah ‘A Vindivcation of the Rights of Woman’ (1792). Pada buku ini, sangat jelas terlihat kebenciannya terhadap pemikiran orang-orang yang menilai perempuan sebagai perhiasaan rumah tangga yang tidak berdaya. Ia juga menulis bahwa wanita secara alamiah setara dan tidak lebih rendah dari laki-laki.

Menurutnya, perempuan terlihat lebih rendah karena mereka tidak memperoleh pendidikan yang layak. Maka, tak jarang ia menegaskan agar laki-laki dan perempuan musti dianggap setara, dan untuk menyukseskan kesetaraan tersebut—adalah penting untuk mengubah sistem pendidikan yang ada dan memberikan kesempatan bagi perempuan untuk mendapatkan pendidikan yang sama dengan laki-laki.

5. Simone de Beauvoir (1908-1986 M)

Jika kita membuka buku-buku sejarah pemikiran eksistensialisme pada umumnya, adalah lazim terjadi apabila filsuf yang satu ini jarang kita temukan. Padahal dia merupakan satu dari sekian banyak tokoh yang paling berpengaruh dalam mazhab ini, yang bahkan tak kalah hebat dari sang kekasih Jean Paul Sartre, atau tokoh-tokoh eksistensialis lain seperti Søren Kierkegaard, Friedrich Nietzsche, Albert Camus, dan Martin Heidegger.

Mengapa ini bisa terjadi? Apa sebenarnya perbedaan antara Beauvoir dan para filsuf laki-laki tersebut yang karyanya diidentifikasikan sebagai pemikiran eksistensialisme? Jawabannya dapat Anda temukan dengan membaca secara kritis sejarah filsafat kita.

Namun demikian, meskipun ia kurang kesohor sebagai filsuf eksistensialisme, Simone sangat masyhur dalam barisan feminisme melalui bukunya ‘The Second Sex’ (1949) yang menguraikan dasar teori eksistensialisme feminis.

Dalam buku tersebut, ia percaya bahwa pria menjadikan wanita sebagai sesuatu ‘yang lain’ atau the second sex, agar supaya mereka menjadikan diri mereka seolah lebih tinggi dan mulia dari perempuan—menempatkan perempuan di sudut sejarah—dan di balik bayang-bayang laki-laki.

Bagi Beauvoir, pemahaman laki-laki yang menindas itulah yang menyebabkan perempuan rentan mengalami perbudakan, penganiayaan, intimidasi dan bahkan kekerasan dalam masyarakat atau bahkan rumah tangga. Ide yang cukup menohok dan indah, namun tidak untuk pembela nilai-nilai patriarkal yang dogmatik. Tak heran kemudian, gereja Vatikan saat itu memasukkan buku ini ke dalam daftar buku terlarang mereka.

6. Iris Murdoch (1919-1999 M)

Iris Murdoch mungkin lebih dikenal sebagai seorang novelis dan penulis drama. Namun, tak dapat dinafikkan bahwa ia juga merupakan seorang filsuf. Ia memiliki banyak karya yang berkenaan dengan filsafat. Ia banyak dipengaruhi oleh ide Plato dan gagasan filsuf Prancis Simone Weil. Ide filsafatnya banyak berkutat pada persoalan etika.

Seperti Plato, dia sangat fokus pada moralitas dan kebaikan. Ia pernah menyatakan bahwa mengenali diri sendiri dan kehidupan orang lain merupakan hal penting untuk hidup secara bermoral.

***

Itulah beberapa “filsuf perempuan” yang dapat saya rangkum pada tulisan singkat ini. Tentu, masih banyak filsuf perempuan lain yang (terus terang) tidak dapat saya terangkan di sini satu per satu, karena berbagai alasan.

Terlepas dari itu, apa yang terpenting untuk saat ini adalah kita musti menjauhkan diri dari perfeksionisme atas nama gender. Karena laki-laki ataupun perempuan memiliki kelebihan yang sama, baik secara kualitas maupun kuantitas.

Menurut saya, apa yang membuat filsuf perempuan ini kurang terkenal dan membuat semangat mereka tak tersampaikan kepada perempuan-perempuan saat ini adalah dominasi budaya maskulinis dan kurangnya kesadaran kita akan relasi gender—yang cenderung mengklaim bahwa perempuan tidak memiliki kemampuan berpikir yang sama seperti laki-laki.

Saya kira, dengan membaca sejarah pemikiran dan perjuangan perempuan secara adil dan kritis, kita dapat mematahkan klaim perfeksionisme maskulinis, bias, dan sepihak tersebut.

Tentu saja, pengalaman saya dan teman-teman saya dalam kelas-kelas filsafat hanyalah satu bagian kecil dari cerita yang jauh lebih besar—karena selain pendidikan, berbagai macam kekuatan seperti sosial dan budaya juga memengaruhi keputusan, nilai, dan bahkan karir perempuan di semua aspek kehidupan. Tujuan akhir tulisan ini ialah, membiarkan setiap orang untuk memilih apa yang mereka sukai atau minati.

Tags: filsafatperempuansejarah
Fadlan

Fadlan

Penulis lepas dan tutor Bahasa Inggris-Bahasa Spanyol

Terkait Posts

Menjadi Perempuan Adalah Cobaan
Personal

“Menjadi Perempuan Adalah Cobaan” Ini Jelas Sesat Logika!

28 Agustus 2025
Maulid Nabi
Hikmah

Maulid Nabi dan Solidaritas Perempuan Lintas Dimensi

28 Agustus 2025
Film The Substance
Film

Film The Substance: Saat Tubuh Perempuan Bukan Lagi Komoditas Visual

27 Agustus 2025
Nyai Hindun Anisah
Figur

Nyai Hindun Anisah Torehkan Prestasi Lewat Disertasi tentang Gerakan Ulama Perempuan Indonesia

24 Agustus 2025
Lomba Agustusan
Personal

Lomba Agustusan Fahmina dan Refleksi Indonesia Merdeka

26 Agustus 2025
Nyai Siti Walidah
Figur

Nyai Siti Walidah: Ulama Perempuan Dibalik Perintis Muhammadiyah dalam Bayang Kolonialisme

21 Agustus 2025
Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Affan Kurniawan

    Hannah Arendt: Antara Affan Kurniawan, Negara, dan Kekerasan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Orba Jilid II: Kekerasan, Intimidasi, dan Pembungkaman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Ketimpangan Gaji Guru dan Tunjangan DPR, Realitas Negara Penguasa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menghidupkan Kembali Gagasan Piaget dan Vygotsky dalam Pendidikan Inklusi di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • TUNAS Learning Space: Asia Centre Tekankan Urgensi Keamanan Digital dalam Penyalahgunaan Data

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • Luka Infrastruktur, Luka Rakyat
  • Nyai Sinta Istri Gus Dur Bersama 1.500 Gusdurian Doakan Affan Kurniawan, Ojol yang Dilindas Polisi
  • Menghidupkan Kembali Gagasan Piaget dan Vygotsky dalam Pendidikan Inklusi di Indonesia
  • Saat Para Pemikir dan Tokoh Agama Bicara Warisan Besar Gus Dur, Membumikan Nilai Kemanusiaan
  • Ketimpangan Gaji Guru dan Tunjangan DPR, Realitas Negara Penguasa

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

© 2025 MUBADALAH.ID

Selamat Datang!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
  • Khazanah
  • Rujukan
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Kolom Buya Husein
  • Login
  • Sign Up

© 2025 MUBADALAH.ID