Selasa, 20 Januari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Dimonopoli

    Air, Tanah, dan Energi Tidak Boleh Dimonopoli

    Nyadran Perdamaian

    Cerita Nyadran Perdamaian 2026 Ekologi Spiritual Buddha-Muslim untuk Perawatan Alam

    Merusak Alam

    Merusak Alam Bertentangan dengan Ajaran Islam

    Ketaatan Istri pada Suami

    Tiga Logika Ketaatan Istri pada Suami

    Kerusakan Lingkungan

    Kerusakan Lingkungan Harus Dihentikan

    Jurnalisme

    Menulis dengan Empati: Wajah Jurnalisme yang Seharusnya

    Lingkungan

    KUPI Tegaskan Menjaga Lingkungan Bagian dari Prinsip Dasar Islam

    Korban Kekerasan Seksual

    Menggugat Argumen Victim Blaming terhadap Korban Kekerasan Seksual

    Kerusakan Alam

    Kerusakan Alam adalah Masalah Kemanusiaan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Isra' Mi'raj

    Isra’ Mi’raj dan Pesan Keadilan Hakiki, Membaca Ulang Dimensi Sosial dalam Salat

    Isra Mikraj

    Isra Mikraj sebagai Narasi Kosmologis dan Tanggung Jawab Lingkungan

    Kitab Ta'limul Muta'allim

    Relevansi Pemikiran Syaikh Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim

    Penciptaan Manusia

    Logika Penciptaan Manusia dari Tanah: Bumi adalah Saudara “Kita” yang Seharusnya Dijaga dan Dirawat

    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    Binatang

    Animal Stories From The Qur’an: Menyelami Bagaimana Al-Qur’an Merayakan Biodiversitas Binatang

    Ujung Sajadah

    Tangis di Ujung Sajadah

    Surga

    Menyingkap Lemahnya Hadis-hadis Seksualitas tentang Kenikmatan Surga

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Dimonopoli

    Air, Tanah, dan Energi Tidak Boleh Dimonopoli

    Nyadran Perdamaian

    Cerita Nyadran Perdamaian 2026 Ekologi Spiritual Buddha-Muslim untuk Perawatan Alam

    Merusak Alam

    Merusak Alam Bertentangan dengan Ajaran Islam

    Ketaatan Istri pada Suami

    Tiga Logika Ketaatan Istri pada Suami

    Kerusakan Lingkungan

    Kerusakan Lingkungan Harus Dihentikan

    Jurnalisme

    Menulis dengan Empati: Wajah Jurnalisme yang Seharusnya

    Lingkungan

    KUPI Tegaskan Menjaga Lingkungan Bagian dari Prinsip Dasar Islam

    Korban Kekerasan Seksual

    Menggugat Argumen Victim Blaming terhadap Korban Kekerasan Seksual

    Kerusakan Alam

    Kerusakan Alam adalah Masalah Kemanusiaan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Isra' Mi'raj

    Isra’ Mi’raj dan Pesan Keadilan Hakiki, Membaca Ulang Dimensi Sosial dalam Salat

    Isra Mikraj

    Isra Mikraj sebagai Narasi Kosmologis dan Tanggung Jawab Lingkungan

    Kitab Ta'limul Muta'allim

    Relevansi Pemikiran Syaikh Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim

    Penciptaan Manusia

    Logika Penciptaan Manusia dari Tanah: Bumi adalah Saudara “Kita” yang Seharusnya Dijaga dan Dirawat

    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    Binatang

    Animal Stories From The Qur’an: Menyelami Bagaimana Al-Qur’an Merayakan Biodiversitas Binatang

    Ujung Sajadah

    Tangis di Ujung Sajadah

    Surga

    Menyingkap Lemahnya Hadis-hadis Seksualitas tentang Kenikmatan Surga

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

Cerita Nyadran Perdamaian 2026 Ekologi Spiritual Buddha-Muslim untuk Perawatan Alam

Nyadran Perdamaian 2026 menjadi sebuah kabar gembira bagi Ibu Bumi di tengah situasi ekologis yang kerap dipenuhi kecemasan.

Layyin Lala Layyin Lala
20 Januari 2026
in Personal
0
Nyadran Perdamaian

Nyadran Perdamaian

910
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Desember tahun lalu, saya menuliskan catatan refleksi ekologi Indonesia. Artikel bertajuk “Catatan Ekologis Akhir Tahun: Menutup Luka Alam yang Belum Pulih” merefleksikan akumulasi kondisi ekologi Indonesia tahun tersebut. Sepanjang tahun 2025, Indonesia mengalami krisis bencana ekologis yang serius dengan total 3.165 kejadian. Penyebabnya ialah bencana hidrometeorologis seperti banjir, tanah longsor, dan cuaca ekstrem. 

Kondisi tersebut berkaitan erat dengan perubahan iklim, degradasi lingkungan, serta tata kelola ruang yang tidak berkelanjutan. Dampak kemanusiaannya sangat besar, mencakup ribuan korban jiwa dan luka-luka, serta lebih dari 10 juta orang terdampak dan mengungsi.

Hal tersebut akibat lemahnya kapasitas mitigasi dan adaptasi bencana, sekaligus memperlihatkan kerentanan kelompok masyarakat. Selain itu, bencana sepanjang 2025 juga menyebabkan kerusakan material, baik pada ratusan ribu rumah maupun ribuan fasilitas publik dan layanan dasar, termasuk sekolah, rumah ibadat, dan fasilitas kesehatan.

Sebagai seorang warga negara, kerap kali saya memikirkan bahwa kehidupan kedepannya mungkin akan semakin sulit dan meresahkan. Apalagi, bencana ekologi benar-benar dapat menghilangkan nyawa, membumihanguskan harta benda, menghilangkan segalanya. Belajar dari bencana Sumatra kemarin, saya rasa jika pemerintah tidak berbenah diri secepatnya akan memberikan dampak yang lebih buruk dari bencana kemarin.

Kabar Baik dari Kaki Gunung Sumbing dan Sindoro!

Tiga minggu setelah menuliskan refleksi catatan akhir tahun, saya berkesempatan mengikuti  Nyadran Perdamaian di daerah kabupaten Temanggung bersama 20 penulis perempuan lainnya.

Nyadran Perdamaian 2026 terselenggara di Dusun Krecek dan Dusun Glethuk. Desa Getas, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah pada 13-16 Januari 2026. Selama rangkaian kegiatan Nyadran Perdamaian, saya merasa menyaksikan bahwa masih ada setidkanya sedikit harapan untuk meminimalisir bencana ekologi berbasis tradisi dan lintas alam.

Di kaki gunung Sindoro dan kaki gunung Sumbing inilah, guyub rukun warga masyarakat terasa sangatlah hangat. Tiga jam lamanya dari Kota Semarang, saya dipertemukan dengan sebuah tempat yang mungkin akan sangat layak saya sebut sebagai “Surga Dunia”. Jika digambarkan dengan pepatah Jawa, alamnya masih ijo royo-royo (subur, hijau, lebat). Buah alpukat sebesar telapak tangan orang dewasa menggantung di sepanjang Dusun Krecek dan Dusun Glethuk.

Tanaman biji kopi menyemai merah dan hijau, pepohonan tinggi sangatlah subur dan lebat, rumput-rumput bergerak beriringan menyambut kami. Burung-burung jugalah begitu, mengisi hari-hari kami di sana. Tampak sebuah tempat yang kami impi-impikan sebagai rumah di masa depan. Saat datang, kami disambut oleh buah salak yang berukuran besar dan sangat manis. Baru masak dan petik langsung dari pohonnya langsung. Bukankah tempat tinggal yang seperti ini yang kita inginkan?

Kolaborasi Komunitas Buddha-Muslim dalam Perawatan Alam

Saat pertama kali turun dari mobil penjemputan, kamitersuguhkan dengan sebuah lapangan berumput dengan sebuah bangunan stupa raksasa serta patung Buddha yang megah menjulang. Setiap rumah-rumah yang kami lewati juga menyuguhkan pemandangan yang unik. Setiap rumah komunitas Buddha, biasanya terdapat sebuah bangunan stupa kecil, sedang, dan besar. Beberapa juga terdapat dupa, buah-buahan, dan persembahan lainnya.

Baru saya tahu, hampir 95% penduduknya mayoritas Buddha dengan selanjutnya komunitas Muslim yang menempati posisi kedua. Yang lebih unik lagi, mayoritas penduduk masih menggunata adat istiadat dalam kegiatan dan kehidupan sehari-hari terutama dalam aspek ekologi. Olehnya, sebutan Buddha Jawa sangat kental pada desa tersebut. Masyarakat menganut Buddha sebagai kepercayaan namun dengan tetap melestarikan kebudayaan dan tradisi Jawa.

Beberapa Vihara berdiri dengan megah, ornamen-ornamen Vihara menggunakan ukiran flora fauna khas Jawa. bahkan, di Vihara utama terdapat patung tokoh Jawa seperti “Semar” sebagai penyambut umat saat memasuki Vihara. 

Semar atau Semar Badranaya dipahami sebagai figur simbolik yang merepresentasikan dimensi spiritual dalam tradisi Jawa. Ia diposisikan sebagai manifestasi Sang Hyang Ismaya, entitas transenden yang menjelma dalam wujud rakyat jelata, sehingga mencerminkan konsep kepemimpinan yang bersifat mengayomi dan melayani.

Menilik Makna Semar

Makna Semar sering dikaitkan dengan gagasan haseming samar-samar, yakni kehadiran kebijaksanaan ilahi yang tidak tampil secara eksplisit, namun termanifestasi melalui kesederhanaan dan laku hidup yang rendah hati. 

Kehidupan sosial dua komunitas masyarakat sangatlah rukun. Pernah saya bertanya kepada induk semang (orang tua tempat saya tinggal) bagaimana komunitas Buddha dan Muslim bersosialisasi? dengan semangat induk semag memberitahukan kami mengenai kolaborasi dan kerjasama dalam kultur masyarakat.

Misalnya, setiap hari raya trisuci Waisak (Vesak) seluruh komunitas Muslim akan mengunjungi rumah-rumah komunitas Buddha untuk mengucapkan selamat. Begitupula komunitas Buddha akan membuka rumah dan menyiapkan banyak kue lebaran untuk teman-teman komunitas Muslim yang akan berkunjung. 

Selain itu, dua komunitas besar tersebut juga bekerja sama dalam perawatan alam. Saya masih ingat hari kedua di desa Getas tersebut, kami menyapu, membersihkan, dan kerja bakti di taman pemakaman bersama-sama.

Seluruh Ibu-Ibu dan anak muda bergiat bersih dengan riang membersihkan area makam yang akan kami gunakan untuk Nyadran pada 16 Januari 2025. Uniknya, makamnya pun minim batu nisan. Sebagai penanda makam, setiap makam punya 2 tanaman tinggi di bagian setiap ujungnya. Alih-alih terlihat sebagai makam, saya rasa lebih tepat sebagai taman karena terlihat asri dan sejuk.

Perawatan Alam berbasis Tradisi, Apa Saja?

Sebagai komunitas yang masih memegang nilai-nilai tradisional Jawa sebagai laku hidup, ternyata peran masyarakat kepada perawatan alam berbasis tradisi juga masih terjunjung tinggi. Salah satunya adalah pembuatan sesaji.

Seringkali sesaji dipandang sebelah mata sebagai suatu hal yang mistis. Namun, menurut masyarakat sekitar, sesaji merupakan bentuk terima kasih kepada makhluk-makhluk kecil (seperti semut, serangga, rayap, dan lainnya) dan juga sebagai permintaan maaf jika manusia tidak sengaja menganggu kehidupan makhluk-makhluk kecil terutama aspek ekologi.

Sesaji biasanya diletakkan di alam atau lingkungan alam sekitar. jadilah sebuah sesaji sebagai bentuk hubungan resiprokal (mubadalah) antara ekologi dan manusia. Masyarakat merawat hewan-hewan kecil dengan sesaji agar mereka dapat hidup berdampingan dengan nyaman.

Dalam agama Buddha, pembuatan sesaji merupakan bentuk Panca Sila (Lima Nilai Buddha) universal sila pertama yang berbunyi “Tidak Membunuh”. Tidak membunuh berarti menghormati kehidupan semua makhluk hidup, termasuk manusia dan hewan, dengan tidak mengambil nyawa atau menyakiti.

Kedua, setiap masyarakat memiliki kegiatan untuk bersih desa dan menyucikan alam agar terhindar dari marabahaya. Seperti yang saya ceritakan sebelumnya, masyarakat bergotong-royong membersihkan area maam, pmukiman, dalam jangka waktu tertentu agar lingkungan dan alam tetap terawat baik, bersih, dan menyehatkan. Tak heran, warga masyarakat yang sudah lanjut usia rata-rata masih aktif bergerak, tidak mengalami kepikunan, dan masih bugar karena faktor alam dan well-being yang terjaga.

Ketiga, setiap tahunnya warga masyarakat selalu mengadakan nyadran. Nyadran merupakan tradisi masyarakat Jawa berupa serangkaian upacara pembersihan makam leluhur, tabur bunga, ziarah, doa bersama, serta kenduri atau selamatan dengan makan bersama. Tradisi tersebut berasal dari kata Sansekerta “Sraddha” (keyakinan) atau “Sadran” (bulan Ruwah/Sya’ban). Kata bapak induk semang, nyadran selalu terjadi pada hari Jumat Pon menurut kalender Jawa. 

AMAN Indonesia sejak tahun 2017 menginisiasi Nyadran Perdamaian yang melibatkan komunitas Buddha-Muslim di desa Getas. Seluruh rangkaian nyadran menggunakan tradisi Buddha dan Islam, termasuk doa lintas iman oleh pemuka agama masing-masing.

Meski demikian, kami melakukan nyadran dengan hikmat tanpa terhalang perbedaan keyakinan. Nyadran kami lakukan dengan penuh hikmat dan hangat bersama masyarakat. Kami membawa anake makanan dan kue-kue tradisional dari rumah untuk kami makan bersama. Nyadran sebagai bentuk syukur kami atas kehidupan yang telah Tuhan anugerahkan, beserta sumber daya alam yang melimpah, pakaian yang hangat, dan kerukunan antar umat beragama.

Refleksi

Nyadran Perdamaian 2026 menjadi sebuah kabar gembira bagi Ibu Bumi pada situasi ekologi yang kerap penuh oleh kecemasan. Rasanya saya masih bisa membuka lembar optimis bahwa Indonesia bisa menjadi lebih baik jika pemerintah mendukung hal-hal seperti ini untuk diadakan pada lingkungan masyarakat.

Sudah saatnya, pemerintah membuat program program serupa untuk bekerja sama dengan masyarakat dalam kehidupan yang berkelanjutan. Sehingga, baik dari masyarakat dan pemerintah memiliki peran dalam mencegah terjadinya bencana ekologi. []   

Tags: Aman IndonesiaBudaya JawaEkologiIbu BumiNyadran PerdamaianTemanggungTradisi
Layyin Lala

Layyin Lala

A Student, Santri, and Servant.

Terkait Posts

Bulan Rajab
Publik

Bulan Rajab antara Tradisi Keagamaan, dan Kesalahpahaman

9 Januari 2026
Bencana
Publik

Tanpa Pembenahan di Hulu, Bencana Ekologi Terus Mengintai Sumatra–Aceh

29 Desember 2025
Bencana Ekologi
Publik

Bencana Ekologi dan Hilangnya Rumah Gajah Sumatera

28 Desember 2025
Tambang Ilegal
Publik

Tambang Ilegal: Kejahatan Ekologi yang Menghancurkan Alam dan Keselamatan Rakyat

26 Desember 2025
Selamat Natal
Publik

Selamat Natal sebagai Perayaan Spiritual dan Kultural: Suara Seorang Muslim

26 Desember 2025
Akal Sehat
Publik

Seni Merawat Alam Dengan Akal Sehat

22 Desember 2025
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Kerusakan Lingkungan

    Kerusakan Lingkungan di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KUPI Tegaskan Menjaga Lingkungan Bagian dari Prinsip Dasar Islam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Menggugat Argumen Victim Blaming terhadap Korban Kekerasan Seksual

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tiga Logika Ketaatan Istri pada Suami

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Cerita Nyadran Perdamaian 2026 Ekologi Spiritual Buddha-Muslim untuk Perawatan Alam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • Air, Tanah, dan Energi Tidak Boleh Dimonopoli
  • Cerita Nyadran Perdamaian 2026 Ekologi Spiritual Buddha-Muslim untuk Perawatan Alam
  • Merusak Alam Bertentangan dengan Ajaran Islam
  • Tiga Logika Ketaatan Istri pada Suami
  • Kerusakan Lingkungan Harus Dihentikan

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

© 2025 MUBADALAH.ID

Selamat Datang!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Account
  • Home
  • Khazanah
  • Kirim Tulisan
  • Kolom Buya Husein
  • Kontributor
  • Monumen
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Rujukan
  • Tentang Mubadalah
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

© 2025 MUBADALAH.ID