Mubadalah.id – Keterbatasan penglihatan tidak menghalangi Dzulfikar untuk menorehkan prestasi di lintasan atletik. Teman netra asal Balikpapan itu telah mengikuti dua kali Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas). Di balik prestasinya, tersimpan kisah perjuangan menghadapi cedera, keterbatasan fasilitas, hingga pencarian guide runner.
Disabilitas netra menjadi atlet lari?
Pertanyaan itu muncul saat saya melihat foto profil WhatsApp teman netra, Muhammad Dzulfikar (26th), yang akrab disapa Zul. Dalam foto tersebut, ia tampak mulai berlari di garis start mengenakan jersey singlet lengkap dengan nomor dada 369. Kedua matanya tertutup kain, sementara jari tangan kanannya terhubung dengan seorang pelari melalui seutas tali.
Bagaimana ia bisa berlari? Bagaimana mengetahui arah lintasan? Pertanyaan-pertanyaan itu terus muncul di kepala saya.
Saya mencoba mengajak Zul untuk ngobrol di kantin asrama, kebetulan kami sama-sama tinggal di asrama kampus. Jadi tidak perlu pergi keluar untuk bertemu.
Jam 7 malam tepat kami janjian. Sebelum jam 7 saya sudah memberi pesan kepada Zul untuk memberi berkabar jika mulai perjalanan menuju kantin. Saya tunggu kok tidak ada pesan. Tiba- tiba ia sudah ada sampai tangga kantin. Segera saya menjemputnya.
Awal Zul mencoba Olahraga Lari
Zul mulai menceritakan awal menjadi atlet lari. Tahun 2018 pasca Zul dinyatakan disabilitas netra ia pindah dari SMK kelas 2 ke Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri Balikpapan. Ia mulai mendapatkan banyak pengetahuan tentang aksesibilitas disabilitas netra, utamanya dalam bidang olahraga
Ia mendapatkan pemaparan tentang lembaga National Paralympic Committee (NPC) yakni organisasi yang membina dan mengurus olahraga untuk atlet penyandang disabilitas. Lembaga NPC ini yang mengadakan pelatihan, seleksi dan mengirim atlet ke berbagai kompetisi paralimpik mulai dari tingkat daerah, nasional hingga internasional. Hal ini diperkuat oleh salah satu guru sekolah tersebut yang menjadi atlet lari.
Sebelum menekuni lari ia sempat mencoba olahraga catur dan tolak peluru. Dua kali lomba catur pada tingkat provinsi dan nasional. membuatnya ingin mencoba olahraga lain yang menggerakkan fisik. Cobalah olahraga tolak peluru, ia merasa tubuhnya terlalu kecil untuk melempar bola besi, tenaganya tidak cukup.
Kemudian berlanjut mencoba olahraga lari. Terlebih sebelum disabilitas netra ia sudah menekuni sepak bola, latihan pagi dan sore rajin ia jalani. Maka, ketika berpindah ke olahraga lari, pelatihnya melihat Zul memiliki potensi pada bidang tersebut. Akhir 2019 ia betul-betul menekuni olahraga lari.
Zul Mengoleksi Berbagai Prestasi
Tahun 2020 Zul mendapatkan informasi dari sekolah bahwa tahun 2021 akan ada event Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) yang merupakan ajang olahraga multicabang untuk atlet penyandang disabilitas tingkat nasional.
“Nah disitu aku benar-benar dilatih, jor-joran keras banget itu latihannya” ujar Zul.
Sejak menekuni olahraga lari, Zul mengoleksi berbagai prestasi. Dua kali mengikuti Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) cabor atletik lari 100 M tahun 2021 di Papua dan tahun 2024 di Solo. Keduanya sama – sama mendapatkan urutan ke 4 dengan limit terbaik dirinya yakni 12 detik dari 19 peserta. Peparnas Solo juga meraih juara tiga pada lari Estafet Universal 1×400 M.
Selanjutnya, pada Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) Kalimantan Timur 2025 cabor atletik mendapatkan juara 1 lari 100 M, juara 1 lari 200 M, juara 1 lari Estafet Universal 1×400 m, juara 1 lari Estafet Universal 4×400 m. Prestasi ini belum termasuk olahraga catur, lompat jauh dan benteng braille.
Zul menceritakan pengalaman yang paling berkesan selama mengikuti event, yaitu Peparnas 2024. April 2024 ia dihubungi pihak NPC untuk mewakili provinsi Kalimantan Timur dalam ajang Peparnas 2024 bidang olahraga lari.
Perjuangan Mengikuti Peparnas 2024
Ia dihadapkan dengan dua hal, satu sisi sedang sibuk-sibuknya mengerjakan skripsi tapi lain sisi ia butuh tambahan pemasukan untuk bertahan hidup di Surabaya. Ia betul – betul mempertimbangkan resiko-resiko yang akan terjadi. Akhirnya ia memilih untuk mengikuti perlombaan.
“Lagi skripsian stres banget, siapa tahu dapet uang dari event itu. Bisa buat bertahan di Surabaya. Aku latihan ternyata dapat gaji,” ujar Zul.
Menuju persiapan Peparnas, Zul mengikuti training centre selama dua Minggu. Waktu yang yang sangat singkat untuk event nasional, hal ini membuat latihannya tidak maksimal. Apalagi melihat pesaing lain dari daerah yang sudah memiliki sistem bagi para atlet disabilitas, sementara Kalimantan Timur masih baru dan membangun struktur.
Pernah saat persiapan lomba pihak NPC tidak menyediakan guide runner, pendampingnya tidak acak. Pendampingnya dari anak disabilitas rungu. Bagaimana cara komunikasinya, ia tidak mendengar ketika start dimulai. Benar-benar harus bareng, misalkan berbeda satu detik aja sudah berbeda.
Saat mengikuti training center Zul mengalami cedera paha depan sebelah kanan. Kakinya sulit untuk ditekuk dan tidak bisa lari cepat. Seperti tidak ada jalan lain selain terus melawan. Ia terus berlatih meskipun harus menahan rasa sakit. Hingga limitnya mulai meningkat dari latihan ke latihan.
“Benar-benar latihan selama dua minggu itu penuh paksaan” ujar Zul.
Latihan mulai habis salat subuh menuju ke tempat Gym untuk melakukan treadmil. Hal ini ia lakukan untuk menjaga stamina.
Maka saat Zul mendapatkan urutan ke 4 dengan limit terbaiknya yakni 100 meter dalam waktu 12 detik ia bersyukur. Saat program tim belum maksimal tambah kakinya yang cedera Ia mampu untuk mencapai limit terbaiknya yakni di urutan ke 4.
“Alhamdulilah, bisa bertahan. Berkesan banget. Walaupun aku cedera masih bisa memberi yang terbaik. Karena itu bener-bener sakit jalan pun aku susah” papar Zul.
Lari adalah Investasi Kesehatan
Akhir tahun 2026 ini ia akan kembali berlomba tetapi pihak NPC Kalimantan Timur belum memberikan keterangan untuk pendamping atau guider runner. Zul tidak bisa latihan tanpa guide runner.
Keberadaan pendamping sangat berpengaruh pada perfoma Zul, semakin konsisten, disiplin dan proporsional akan berdampak. Apalagi guide runner latihan akan menjadi pendamping saat lomba berlangsung.
Zul tidak patah semangat, ia mencoba menghubungi dosen PJOK kampus untuk menghubungkan mahasiswa yang mau jadi pendamping jogging. Untuk latihan push up, sit up, bake up, ia bisa sendiri tapi untuk jogging perlu pendamping.
Namun, hingga sekarang belum mendapatkan informasi lebih lanjut dari dosen yang ia hubungi. Ia tetap berlatih semampunya sambil berharap dapat kembali tampil pada ajang kompetisi berikutnya
Bagi Zul, lari bukan sekadar soal medali atau podium. Setiap Langkah di lintasan adalah bentuk investasinya untuk menjaga kesehatan, disiplin, konsisten dan integritas terhadap profesi. Zul telah membuktikan bahwa keterbatasan penglihatan atau disabilitas netra bukan alasan untuk berhenti melangkah. []











































