Mubadalah.id – “Saya tidak ada niatan untuk menyinggung disabilitas. Saya hanya melihat sepeda motor yang unik dan lucu karena roda belakangnya ada dua. Wawasan saya memang kurang tentang kebutuhan disabilitas.” Demikian penggalan klarifikasi Riyan, pembuat konten TikTok tentang motor roda tiga yang viral pada Februari lalu.
Ungkapan Riyan menunjukkan bahwa ideologi kenormalan masih ada di pikiran masyarakat. Konsep ideologi kenormalan diperkenalkan oleh Lennard J. Davis pada 1995. Davis mengkritik cara masyarakat modern membangun standar tentang apa yang disebut “normal” dan “tidak normal”.
Menurut Davis, masyarakat tidak sekadar melihat perbedaan, tapi menetapkan ukuran normal dan tidak. Dari ukuran itu, masyarakat menentukan mana yang dianggap wajar dan mana yang dianggap menyimpang. Standar ini lahir dari kebiasaan mayoritas, kebiasaan umum, dan standarisasi kehidupan.
Dalam konteks lelucon motor roda tiga, Riyan menganggapnya berbeda karena tidak sesuai dengan gambaran umum: motor itu roda dua. Ketika Riyan menyebut motor itu “unik” dan “lucu”, ia sebenarnya sedang membandingkannya dengan standar yang ia anggap biasa. Riyan tidak melihat motor roda tiga sebagai alat bantu mobilitas. Riyan melihatnya sebagai penyimpangan dari bentuk motor yang umum. Di sinilah ideologi kenormalan bekerja secara halus.
Ideologi kenormalan membuat orang menganggap standar mayoritas sebagai ukuran tunggal. Apa pun yang berada di luar ukuran itu terlihat aneh. Keanehan sering memicu tawa, sehingga orang tidak merasa sedang merendahkan. Mereka merasa hanya bereaksi secara spontan terhadap sesuatu yang tidak biasa.
Bagi penyandang disabilitas, khususnya daksa, motor roda tiga bukan benda unik. Motor itu menjadi sarana untuk bergerak, bekerja, dan berpartisipasi di ruang publik. Tanpa alat itu, akses mereka terhadap ruang sosial menjadi terbatas.
Ideologi kenormalan juga membentuk cara kita memandang tubuh. Masyarakat membayangkan tubuh yang normal sebagai tubuh yang utuh, simetris, dan tidak membutuhkan alat bantu. Ketika seseorang menggunakan kursi roda atau motor modifikasi, masyarakat melihat alat tersebut sebagai tambahan yang asing. Padahal, bagi banyak difabel, alat bantu itu menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari.
Permasalahan Lebih Dalam
Klarifikasi Riyan memang menunjukkan penyesalan. Namun, pernyataannya juga memperlihatkan persoalan yang lebih dalam. Riyan mengakui wawasannya tentang disabilitas kurang. Pengakuan ini penting, karena ideologi kenormalan sering bekerja tanpa disadari. Orang tidak merasa sedang melakukan diskriminasi. Mereka hanya mengikuti standar yang sudah lama tertanam dalam pikiran kolektif.
Karena itu, kritik terhadap kasus ini tidak boleh berhenti pada permintaan maaf individu. Kita perlu mengubah cara pandang bersama. Perlu pandangan kritis yang mempertanyakan standar yang selama ini kita anggap normal. Mengapa bentuk tertentu kita anggap wajar? Mengapa bentuk lain kita sebut unik atau lucu?
Pertanyaan-pertanyaan itu membawa kita pada akar persoalan. Siapa yang menentukan standar normal? Mengapa standar mayoritas kita anggap netral dan alamiah? Davis menjelaskan bahwa masyarakat modern membangun kenormalan melalui kebiasaan, statistik, dan institusi. Lama-kelamaan, orang menerima standar itu sebagai kebenaran umum.
Ketika orang melihat motor roda tiga, mereka tidak sekadar melihat benda. Mereka membandingkannya dengan gambaran motor yang sudah tertanam di kepala. Gambaran itu terbentuk dari pengalaman sehari-hari, iklan, industri, dan kebijakan transportasi. Karena motor dua roda lebih banyak, orang menganggapnya sebagai bentuk yang wajar. Kuantitas, mayoritas berubah menjadi strandar normal, bahkan mungkin menjadi norma.
Di titik ini, ideologi kenormalan bekerja tanpa terlihat. Ideologi kenormalan membentuk selera dan reaksi spontan. Orang tertawa karena merasa melihat sesuatu yang keluar dari pola umum. Mereka tidak menyadari bahwa pola umum itu sendiri adalah hasil konstruksi sosial.
Masalahnya menjadi lebih serius ketika tawa itu disebarkan melalui media sosial. Algoritma mendorong hal yang dianggap unik agar cepat viral. Akibatnya, perbedaan tubuh dan alat bantu mudah berubah menjadi tontonan massal. Dalam proses ini, publik tidak hanya menonton, mereka ikut memperkuat standar tentang apa yang disebut normal.
Kita perlu menyadari bahwa motor roda tiga hadir bukan untuk menarik perhatian. Motor itu hadir karena kebutuhan. Pengguna memodifikasinya agar bisa bergerak mandiri. Motor itu memungkinkan seseorang bekerja, berinteraksi, dan menjalani kehidupan sehari-hari. Ketika masyarakat menertawakannya, masyarakat sebenarnya menertawakan cara seseorang bertahan dan beradaptasi.
Hierarki Kenormalan
Ideologi kenormalan juga menciptakan hierarki. Ia menempatkan tubuh tanpa alat bantu di posisi atas. Sedangkan tubuh yang membutuhkan bantuan, modifikasi di posisi bawah. Hierarki ini tidak selalu terlihat kasar. Namun ia muncul dalam komentar, candaan, dan konten ringan. Lama-kelamaan, hierarki itu membentuk sikap publik terhadap difabel.
Karena itu, perubahan tidak cukup dengan menambah pengetahuan teknis tentang disabilitas. Kita perlu membongkar cara berpikir yang menjadikan mayoritas sebagai ukuran tunggal dan standardisasi normal. Masyarakat perlu mengakui bahwa variasi bentuk kendaraan, tubuh, dan alat bantu adalah bagian dari keragaman manusia.
Dengan cara berpikir itu, kritik terhadap video tersebut tidak berhenti pada satu kasus. Kritik itu berubah menjadi ajakan untuk meninjau ulang cara kita memahami kenormalan. Jika masyarakat berani mempertanyakan standar yang sudah mapan, maka ruang publik digital dan fisik dapat menjadi lebih adil dan lebih manusiawi bagi semua. []
*)Artikel ini merupakan hasil dari Mubadalah goes to Community Surakarta, kerjasama Media Mubadalah dengan UPT Perpustakaan UIN Raden Mas Said Surakarta.









































