Mubadalah.id – Banyak orang percaya bahwa perempuan penyandang disabilitas tidak bisa memiliki gairah seksual, atau menganggap bahwa seharusnya perempuan penyandang disabilitas tidak merasakan kebutuhan seksual sama sekali.
Orang lain mengira bahwa, atau mengharapkan agar, perempuan ini tidak menginginkan hubungan percintaan, kedekatan emosional dan ragawi, lebih-lebih menjadi istri atau ibu. Anggapan, atau, lebih buruk lagi, harapan semacam itu muncul antara ketidaktahuan dan prasangka. Tidak ada satu fakta pun yang mendukungnya.
Perempuan penyandang disabilitas — atau semua penyandang disabilitas — memiliki gairah dan perasaan yang sama dengan orang-orang yang tidak menyandang disabilitas.
Namun anggapan serta prasangka orang di sekitar Anda bisa menjadi sumber masalah. Di bawah ini kami berusaha memberikan saran untuk mengatasi berbagai problem yang Anda hadapi sebagai perempuan penyandang disabilitas.
Bila Anda Menyandang Disabilitas Sejak Lahir atau Sejak Kanak-kanak
Sejak kecil tumbuh dalam lingkungan yang seringkali tidak ramah dan melecehkan, bisa jadi sesudah dewasa Anda sulit mempercayai bahwa Anda pun memiliki daya tarik seksual.
Pengaruh sikap dan perlakuan orang-orang lain sejak Anda berusia sangat muda sudah terlanjur tertanam, tidak mudah bagi Anda untuk menghalaunya.
Usahakan bicara dengan sesama perempuan penyandang disabilitas. Mereka pun memiliki kecemasan, ketakutan, ketidakpercayaan, yang kurang lebih sama. Bicaralah juga dengan orang lain yang tidak menyandang disabilitas namun bisa Anda percayai berdasarkan sikapnya selama ini.
Namun kesabaran hanyalah satu-satunya kunci. Keyakinan yang sudah terlanjur mengakar sekian lama sudah mustahil untuk dilenyapkan dengan sekali tebas. Sabarlah terhadap diri Anda sendiri, usirlah rasa rendah diri itu pelan-pelan. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 186.









































