Mubadalah.id – Saat kita bicara tentang dunia perkuliahan, maka ada satu hal yang seringkali menjadi dambaan setiap mahasiswa. Ya, hal itu adalah keberhasilan meraih predikat cumlaude saat wisuda.
Dalam lembar ijazah, angka indeks prestasi yang tinggi seolah menjadi mahkota emas yang menandakan keberhasilan seseorang dalam menempuh dan menyelesaikan masa studi. Memang tidak ada yang salah dengan itu. Mencapai nilai tinggi adalah hak setiap mahasiswa dan merupakan buah dari kerja keras mereka selama bertahun-tahun.
Namun demikian, di balik euforia wisuda dan selempang kebanggaan yang melingkar di bahu para sarjana baru, ada satu keresahan dalam benak penulis. Keresahan ini bukan tentang sulitnya mencari lapangan kerja atau rendahnya gaji pertama bagi fresh graduate. Tetapi tentang sebuah bias yang menganggap bahwa nilai cumlaude adalah segalanya. Bahkan hingga mengabaikan kompetensi dan skill nyata di dunia kerja.
Kita ketahui bersama bahwasanya di era yang serba kompetitif ini, realita seringkali menghantam keras para sarjana yang notabene punya nilai tinggi dalam ijazah. Penulis mengatakan demikian karena sering menjumpai fenomena di mana nilai cumlaude di atas kertas yang kita iperjuangkan mati-matian justru tak memiliki “taring.” Terutama saat berhadapan dengan masalah nyata dalam life after campus.
Pertanyaannya, “kenapa hal semacam ini dapat terjadi?” Jawabannya sederhana, namun cukup untuk membuat kita termenung lama. Yakni karena nilai tersebut seringkali tidak terimbangi dengan kompetensi yang mumpuni. Dalam arti lain, nilai yang tertulis dalam ijazah tidak merepresentasikan kompetensi pemiliknya.
Pintar di Atas Kertas, Gagap dalam Realitas
Sebelum melanjutkan tulisan ini, penulis ingin memberikan disclaimer terlebih dahulu bahwa tulisan ini saya buat tidak untuk merendahkan mereka yang meraih predikat cumlaude. Sama sekali tidak.
Penulis tahu bahwa nilai tinggi adalah prestasi mulia dan patut kita apresiasi. Tulisan ini dibuat semata-mata untuk menyampaikan keresahan terhadap fenomena “pintar di atas kertas namun gagap dalam realitas”. Tentu saja, tidak semua lulusan cumlaude berperilaku seperti itu. Banyak juga peraih nilai tinggi yang memiliki kompetensi luar biasa yang patut kita teladani.
Namun, dalam perspektif Mubadalah (kesalingan), kita perlu merenung. Pendidikan sejatinya adalah proses membangun relasi kesalingan antara ilmu dan amal. Jika seseorang memiliki nilai tinggi tetapi tidak memanifestasikannya dalam skill yang bermanfaat bagi dirinya, lebih-lebih bagi sesama, maka yang terjadi adalah ketidakadilan.
Ketidakadilan di sini bukan hanya soal gaji yang biasanya kita bicarakan, tapi soal ilmu yang telah kita pelajari dan perlu kita amalkan. Bukankah tidak adil jika gelar tinggi yang kita sandang justru membebani diri karena kita tak mampu membuktikan kepantasan atas nilai tersebut?
Di samping itu, dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat juga ‘menuntut’ adanya kesetaraan. Di dalamnya, semua orang, tanpa memandang berapa IPK-nya, dituntut untuk memberikan kontribusi nyata.
Jika seorang sarjana cumlaude merasa diri lebih tinggi namun tak mampu bekerjasama secara baik dalam tim atau miskin empati, maka ia hakikatnya telah menciderai prinsip kesetaraan tersebut. Sederhananya, pintar saja tidak cukup jika tidak kita barengi dengan etos kerja dan kompetensi yang nyata dalam life after campus.
Fokus pada Pengembangan Diri
Ada satu kisah klasik yang sering diceritakan tentang pentingnya keterampilan praktis di atas sekadar teori. Konon, ada seorang profesor yang sangat cerdas namun tak bisa berenang.
Saat ia menyeberangi sungai dengan perahu, ia bertanya pada si tukang perahu, “Apakah kamu tahu tentang Geografi?” Si tukang perahu menjawab tidak.
Profesor itu berkata, “Kamu kehilangan seperempat nyawamu.”
Ia bertanya lagi tentang Sejarah dan Matematika, dan jawaban si tukang perahu tetap sama.
Sang profesor lantas mengejek bahwa si tukang perahu kehilangan hampir seluruh nyawanya karena tidak berilmu.
Namun, tetiba saat perahu bocor dan akan tenggelam, si tukang perahu bertanya, “Tuan, apakah Tuan bisa berenang?”
Sang profesor menjawab tidak bisa.
Sontak, si tukang perahu pun berkata, “Maka Tuan akan kehilangan seluruh nyawa Tuan.”
Kisah ini memberikan pelajaran bagi kita semua, lebih-lebih para sarjana baru, bahwa ilmu yang tidak kita barengi dengan keterampilan (kompetensi) yang relevan dengan kebutuhan hidup akan menjadi sia-sia saat “badai” realita datang menerpa.
Maka, sudah saatnya kita berhenti terpaku pada angka dan mulai fokus pada pengembangan diri yang utuh. Sudah saatnya kita membuktikan bahwa nilai cumlaude itu bukan sekadar hiasan ijazah, melainkan representasi dari kualitas diri yang benar-benar kompeten.
Kita perlu menjadi sarjana yang tidak hanya “pintar” secara kognitif, tapi juga “cakap” secara praktikal dan “bijak” secara moral. Karena pada akhirnya, kehidupan setelah lulus dari kampus bukan tentang seberapa besar nilai angka yang kita bawa, melainkan seberapa besar manfaat yang bisa kita berikan kepada sesama melalui keahlian yang kita punya.
Sebagai penutup, penulis ingin meminjam nasehat Pepatah Jawa yang mengingatkan kita untuk selalu rendah hati dan mawas diri.“Ojo rumongso biso, nanging biso’o rumungso.” Jangan merasa bisa/paling pintar, tapi jadilah orang yang bisa merasakan alias ‘peka’ dan menyadari keterbatasan diri sehingga berkenan untuk terus belajar.
Dari nasehat tersebut, saat kita sadar bahwasanya diri kita cuma pintar di atas kertas, maka kita akan terus berupaya menjadi seorang sarjana yang cakap secara praktikal dan bijak secara moral. Dengan begitu, kita dapat membuktikan bahwa gelar cumlaude yang kita raih, benar-benar pantas untuk tersematkan dalam pundak kita. Wallahu a’lam. []










































