Mubadalah.id – Tak ada hidangan Imlek di meja makan kami bulan kemarin. “Pengetatan” , “Beli di warung Jawa langganan kita saja”, “Toh semua sama-sama ditelan, tanpa ada selebrasi apa-apa.”
Itu Imlek ala keluarga kami. Saya, suami dan anak-anak, yang sengaja merantau jauh dari kota kelahiran, menyeberangi pulau sana sini, untuk memperkaya pengalaman hidup kami dan anak-anak, serta belajar berjejaring.
Pengalaman merantau ini sendiri memberi atmosfer pertemanan baru, membuka ruang percakapan yang berbeda. Saya baru sadar, kini foto bersama baik saya atau pun keluarga kecil kami, pasti berkelindan relasi lintas iman. Potret-potret yang kami punya tak lagi seragam seperti dulu, yakni, hanya dengan kaum sendiri saja.
“Kamu sudah mualaf ya? Temanmu banyak yang berhijab!”
Atau, “Hati-hati foto sama orang tertentu. Nanti kamu dianggap satu aliran, entah politiknya atau ekstremisnya.”
Ada lagi, “Mbak, jangan ikut-ikut isu negara itu. Isu sosial yang lain saja. Kita ‘kan minoritas.”Suami saya mengingatkan. “Mungkin begini saja, nggak harus debatin semua isu. Nggak sependapat ya skip aja. Hati-hati aja sekarang dengan postinganmu dan segala isi media sosialmu karena bisa saja dipelintir.”
Diingatkan banyak pernyataan serupa, membuka mata saya. Itu realita yang sesungguhnya—saya, si anak perempuan yang kini menjadi ibu dua anak, sekaligus warga keturunan Cina di negara kaya, Indonesia.
Tentang Kaya
“Lah, Ivy juga kaya. Pasti punya usaha, toko, atau jadi dokter, arsitek atau pengacara.”
Saya sangat mengamini kata kaya tersebut. Sebuah kata stereotip umum bagi keturunan Cina, terkait harta yang kami miliki, dan pekerjaan yang kami tekuni. Mengapa saya katakan itu stereotip? Karena semua yang tersebutkan di atas tak pernah saya dapat dari bapak ibu saya dulu, begitu juga sekarang.
Entah oleh siapa atau di tahun berapa, stereotip dan bias kepemilikan harta itu dimulai. Tatapan aneh sering saya dapatkan bila mengambil antrian BPJS Mandiri. “Kok, nggak invest di asuransi swasta aja? Ada premi dan bisa balik dananya.”
Begitu pun tampilan baju yang gonta-ganti hanya karena ketekunan saya mencari produk preloved atau sale, membuat saya terlihat punya banyak isian wardrobe. Namun, bagi sesama keturunan Cina sendiri, saya terlihat tak punya style. Kaos atau kemeja dengan celana saja andalannya. Bahkan saya jarang memakai warna mencolok seperti merah.
Warna identik Imlek ini baru “nyaman” berada di koleksi baju saya selama satu dekade terakhir. Ukuran ketidaksukaan saya akan warna merah, memang sebesar kecemasan saya untuk disalahpahami. Sebab saya keturunan Cina, dan takut disangka kaya.
Tumbuh Sendiri Sebagai Cici
Saya sudah yatim sejak remaja. Tapi sejatinya, saya bukan perempuan yang fatherless. Sebab saya dekat dan punya bonding yang erat dengan Bapak sejak kecil.
Sayangnya, beliau bukan CEO yang menyamar menjadi tukang servis kamera. Dia bahkan terlalu baik hati hingga seringkali di-prank oleh langganannya, dengan berutang. Hal ini salah satu faktor yang menyebabkan Bapak dan Ibu bertengkar. Pikir saya, “Pffiuhhh…, untung juga dia bukan CEO. Kalau iya, mungkin tiap hari ada saja pihak yang datang untuk berutang.”
Singkat cerita, Bapak dijodohkan dengan ibu, dinikahkan, agar Ibu sebagai anak perempuan pertama tidak terlangkahi, supaya tidak berat jodoh dan sial kelak.
Tindak patriarki itu, yang mengatur perjodohan dan pernikahan anak perempuan dalam keluarga Cina di masa lalu, sudah sejak lama saya tentang habis-habisan. Karena saya tak ingin bernasib sama dengan Ibu: berkeluh kesah bahwa beliau tidak bahagia bersuamikan Bapak, baik lahir maupun batin. “Bapak baik, punya rumah, tapi tak kaya. Lalu meninggal di usia 50-an, tanpa meninggalkan harta gono gini.”
Kedekatan saya dengan Bapak dulu, karena sering menemani beliau saat mulai sakit-sakitan. Hal itu memperkenalkan saya pertama kali pada sebuah situasi politik. Sebuah kerusuhan yang pecah di suatu masa kampanye tersaji dengan mencekam di hadapan saya dan Bapak.
Peristiwa 1998
Suasana yang riuh dengan suara senapan dikokang, teriakan orang-orang, dengan kondisi kami berdua disembunyikan orang baik di sebuah kios, adalah memori yang sebenarnya buruk. Tapi ia menjadi kenangan terbaik dan luar biasa, bersama Bapak. Yang saya ingat betul, yang mana sedikit mengherankan, saat itu tak ada teriakan macam kejadian 98. Tak ada satu pun yang meneriaki kami Cina, malah sebaliknya menyuruh kami sembunyi.
Peristiwa 98 kemudian yang kelak meninggalkan bekas luka atas ke-Cina-an saya, walau bukan korban secara langsung. Pengalaman traumatis yang menggeser makna panggilan “Cici” kepada saya. Seolah panggilan Cici mendiskreditkan saya secara langsung sebagai pihak yang boleh dikasari dan dijahati. Saya bisa mengernyit dan menunjukkan ekspresi tak suka saat panggilan tersebut terlontarkan. Perasaan saya sebagai Cina saat itu, “Bahkan berdiam diri saja, seorang Cina tak luput dari prasangka buruk manusia lain.”
Baru satu dekade lalu, ketika merantau di Yogyakarta dan bertemu dengan komunitas Sanggar Anak Alam dan teman-teman dari kelompok Srikandi Lintas Iman, panggilan Cici berangsur bergeser ke arah positif. Saya seperti tersadarkan bahwa masih ada orang-orang baik. Masih ada pihak yang melihat saya hanya sebagai manusia, perempuan, terutama sebagai kakak, terlepas dari ras apa saya berasal, dengan segala asumsi yang menyertainya.
Bapak dan Namanya yang Tak Saya Warisi
Bapak yang tak kaya, memang hanya punya rumah keluarga: sebuah kediaman masa kecil yang sudah bermetamorfosa menjadi toko aneka rupa barang milik orang lain bila kita cek di Google Maps.
Dulu ketika kecil, Bapak dan Ibu sempat membuat kios pecah belah yang akhirnya bangkrut karena tak pintar berniaga. Padahal daerahnya strategis di dekat pasar. Kondisi itu serta merta mematahkan pendapat bahwa keturunan Cina pasti pintar berdagang.
Situasi ekonomi itu membuat tak adanya warisan bagi saya dan kakak, juga diikuti tak ada warisan nama keluarga Bapak. Secara patrilineal, sejatinya family name saya adalah dari pihak Bapak. Akan tetapi, sejak lahir saya dan kakak dicantumkan sebagai anak luar nikah pada akte kelahiran masing-masing.
Ada alasan politis yang kedua orang tua saya ambil di balik situasi ini. Bapak yang masih WNA akan mewariskan kerumitan urusan kewarganegaraan dan administratif, bila namanya tercantum sebagai Bapak kami. Efeknya, saya sempat punya rasa malu, sebab merasa kami anak dari tindak perzinahan dan tidak resmi secara hukum.
Saya dan WNI
Sejujurnya saya bingung bagaimana mengakhiri tulisan ini. Yang jelas, saya mencintai Indonesia, negara yang kaya dengan aset alam dan budayanya. Sudah banyak daerah, desa, laut yang saya kunjungi; beragam tarian dan budaya daerah sudah saya kuasai. Hanya penghujung timur Indonesia saja yang belum saya jelajahi.
Jujur, saya tak berniat mengganti kewarganegaraan, walau belum juga menemukan jawaban tentang mengapa ada saja pertanyaan, “Kamu Cina ya?”. []









































