Mubadalah.id – Setiap persalinan berlangsung melalui tiga tahap berikut:
Pertama, berawal dari kontraksi-kontraksi yang membuka mulut rahim, dan berakhir ketika mulut rahim sudah terbuka sepenuhnya.
Bila Anda baru sekali ini melahirkan, tahap ini bisa berlangsung 10 sampai 20 jam, atau bahkan lebih. Bila Anda sudah pernah melahirkan, tahap ini berlangsung antara 7 sampai 10 jam. Tapi bisa bervariasi, artinya, tidak selalu seperti itu.
Kedua, berawal dari terbukanya mulut rahim hingga kelahiran bayi. Tahap ini biasanya lebih mudah ia lalui ketimbang Tahap 1, dan waktunya tidak lebih dari 2 jam. Ketiga, berawal dari kelahiran bayi dan berakhir ketika plasenta keluar dari rahim.
3 Proses Persalinan
Untuk memastikan bahwa proses persalinan akan berjalan baik, periksalah:
Pertama, sudah berapa lama pasien mengalami kontraksi dan seberapa sering kontraksinya?. Mula-mula tiap kontraksi berlangsung sekitar 1 menit atau kurang, dengan jarak 10 sampai 20 menit. Sesudah itu kontraksi jadi makin sering dan makin lama — sekitar satu setengah menit, tiap 2–5 menit sekali — sampai bayi lahir.
Bila pasien mengalami kontraksi tiap 10 menit sekali atau lebih cepat lagi, selama lebih dari 24 jam (sehari-semalam), dan bayinya belum siap lahir.
Kedua, apakah ketubannya sudah pecah?. Kalau sudah, tanyakan kapan terjadinya. Bila ternyata sudah lebih dari 12 jam. Bila air ketuban yang keluar berwarna hijau atau coklat.
Ketiga, apakah posisi bayi sudah benar, yakni kepala di bawah?. Rabalah perut pasien. Jika bayinya sungsang atau melintang, cepat bawa ke puskesmas atau rumah sakit terdekat.
Anda bisa membantu pasien dengan cara meyakinkannya bahwa ia telah melakukan hal yang benar dan doronglah ia untuk:
– Tetap aktif
– Makan makanan ringan, bukan yang “berat” atau berminyak
– Minum cairan bergula atau teh manis hangat sebanyak yang ia mau
– Sering buang air kecil
– Kalau sedang kontraksi, tarik napas dalam-dalam perlahan-lahan
– Jangan mendorong bayi keluar sebelum merasakan bahwa ia perlu mendorong. Biasanya secara otomatis dan alamiah ia akan tahu kapan harus mendorong.
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 108.












































