Mubadalah.id – Seksualitas mungkin dianggap tidak patut dibicarakan secara terbuka dalam kehidupan kita. Perempuan memandang seks sebagai cara merasakan kenikmatan, cara mengungkapkan cinta atau hasrat seksual kepada pasangan, atau cara memperoleh keturunan yang diidamkan.
Namun, seks juga dapat menuntun perempuan pada masalah-masalah serius, misalnya kehamilan yang tidak dikehendaki (kecelakaan), kehamilan yang mengancam nyawa ibu, penyakit-penyakit menular, atau kerugian fisik maupun mental akibat paksaan atau perkosaan.
Bila kami mengatakan bahwa Anda harus memegang kendali lebih besar dalam kehidupan seksual Anda sendiri, maksudnya adalah agar Anda bebas dari berbagai persoalan di atas. Untuk itu, Anda harus memiliki kemampuan untuk:
Pertama, memilih pasangan seksual yang Anda sukai, tanpa dipaksa atau diwajibkan.
Kedua, merundingkan kapan dan bagaimana berhubungan seks sesuai kehendak Anda, bukan sekadar mengikuti kemauan pasangan.
Ketiga, menentukan sendiri apakah Anda ingin hamil atau tidak, serta kapan Anda ingin hamil.
Keempat, mencegah penularan penyakit-penyakit yang menyebar melalui hubungan seksual, terutama HIV/AIDS.
Kelima, bebas dari ancaman segala jenis tindak kekerasan seksual, termasuk tekanan atau pemaksaan agar Anda berhubungan seks tanpa kehendak sendiri.
Bila Anda memiliki kendali atas hal-hal tersebut, kami akan menganggap Anda memiliki kesehatan seksual yang baik.
Namun, di banyak masyarakat terdapat keyakinan-keyakinan yang merugikan mengenai apa arti menjadi perempuan. Termasuk jenis-jenis perilaku yang wajib ditampilkan dan perilaku yang dianggap tabu.
Kepercayaan-kepercayaan semacam itu dapat menghalangi terwujudnya kesehatan seksual.
Tubuh Laki-laki dan Perempuan
Pertama-tama, setiap manusia lahir dengan tubuh laki-laki atau perempuan. Perbedaan antara keduanya semata-mata bersifat ragawi, dan hal ini kita sebut jenis kelamin. Jenis kelamin umumnya tidak berubah sepanjang hidup.
Sejak lahir, baik sebagai bayi berjenis kelamin perempuan maupun laki-laki, masyarakat mengajarkan peran gender yang ia anggap sesuai dengan jenis kelamin tersebut. Peran gender adalah segala sesuatu yang menurut masyarakat menggambarkan makna menjadi seorang perempuan atau laki-laki. Masyarakat mengharapkan agar seseorang berpikir, merasa, dan bertindak dengan cara tertentu hanya karena ia perempuan atau laki-laki.
Untuk mempermudah pemahaman, jenis kelamin dapat kita artikan sebagai sifat-sifat fisik yang ia bawa sejak lahir. Sedangkan peran gender merupakan sesuatu yang melalui proses sosialisasi sejak masa kanak-kanak.
Jenis kelamin adalah pemberian Tuhan, sedangkan peran gender merupakan konstruksi masyarakat. Jenis kelamin akan tetap ada hingga akhir hayat, sementara peran gender dapat berubah. []
*)Sumber Tulisan: Buku Bila Perempuan Tidak Ada Dokter karya A. August Bruns dkk hlm 234.







































