Selasa, 30 Juni 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

    Aliansi Perempuan Indonesia

    Aliansi Perempuan Indonesia Turun ke Jalan Tolak Kenaikan Harga

    In This Economy

    In This Economy, Perempuan dengan Satu Penghasilan Adalah Kemewahan

    Warga NU

    Di Mubes NU Cirebon Raya, Maria Ulfah Anshor: Abad Kedua NU Harus Berpihak pada Kelompok Rentan

    Mubes Warga NU

    Mubes Warga NU Cirebon Raya: Dorong NU Kembali Menjadi Kekuatan Masyarakat Sipil

    Muharram

    Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Kursi Roda

    Kursi Roda: Tanda Pengenal untuk Sebagian Penyandang Disabilitas

    Fikih Penguatan Disabilitas

    Hening yang Berbicara: Ketika Fikih Penguatan Disabilitas Melupakan Perempuan

    Penganiayaan Yuvita

    Kasus Penganiayaan Yuvita: Alarm Bahaya Jebakan Relasi Kuasa

    Anak Autis

    Menjadi Guru bagi Anak Autis, Belajar Menjadi Manusia yang Lebih Peka

    Trotoar Disabilitas

    Ketika Trotoar Disabilitas Beralih Fungsi Menjadi Lahan Parkir dan Area Perdagangan

    Film Taare Zameen Par

    Film Taare Zameen Par: Apakah Ishaan Masih Ada di Sekolah Kita?

    Sakinah

    Mengupayakan Sakinah, Mawaddah dan Warahmah dalam Hubungan Pernikahan

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 Memasuki Era Baru: Perempuan tak Lagi Sekadar Penonton

    limbah kayu

    Mengubah Limbah Kayu Menjadi Peluang Usaha Berkelanjutan di Desa Warukawung

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Rumah Tangga yang

    Membangun Relasi Ekonomi Rumah Tangga yang Adil dan Setara

    Keguguran

    Mengapa Terjadi Keguguran? Kenali Penyebab, Gejala, dan Penanganannya

    Sehat

    Belum Juga Hamil? Perbaiki Pola Hidup Sehat dan Lakukan Pemeriksaan

    peluang hamil

    6 Cara Meningkatkan Peluang Hamil bagi Pasangan Suami Istri

    Masa Subur

    Cara Mengetahui Masa Subur melalui Perubahan Lendir Vagina

    Kesuburan

    4 Faktor yang Dapat Menurunkan Kesuburan Laki-Laki dan Perempuan

    Ketidaksuburan Perempuan

    4 Penyebab Ketidaksuburan pada Perempuan

    Ketidaksuburan

    Mengapa Kehamilan Tak Kunjung Datang? Memahami Penyebab Ketidaksuburan pada Laki-laki

    Ketidaksuburan

    Belum Dikaruniai Anak Setelah Menikah? Kenali Berbagai Penyebab Ketidaksuburan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

    Aliansi Perempuan Indonesia

    Aliansi Perempuan Indonesia Turun ke Jalan Tolak Kenaikan Harga

    In This Economy

    In This Economy, Perempuan dengan Satu Penghasilan Adalah Kemewahan

    Warga NU

    Di Mubes NU Cirebon Raya, Maria Ulfah Anshor: Abad Kedua NU Harus Berpihak pada Kelompok Rentan

    Mubes Warga NU

    Mubes Warga NU Cirebon Raya: Dorong NU Kembali Menjadi Kekuatan Masyarakat Sipil

    Muharram

    Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Kursi Roda

    Kursi Roda: Tanda Pengenal untuk Sebagian Penyandang Disabilitas

    Fikih Penguatan Disabilitas

    Hening yang Berbicara: Ketika Fikih Penguatan Disabilitas Melupakan Perempuan

    Penganiayaan Yuvita

    Kasus Penganiayaan Yuvita: Alarm Bahaya Jebakan Relasi Kuasa

    Anak Autis

    Menjadi Guru bagi Anak Autis, Belajar Menjadi Manusia yang Lebih Peka

    Trotoar Disabilitas

    Ketika Trotoar Disabilitas Beralih Fungsi Menjadi Lahan Parkir dan Area Perdagangan

    Film Taare Zameen Par

    Film Taare Zameen Par: Apakah Ishaan Masih Ada di Sekolah Kita?

    Sakinah

    Mengupayakan Sakinah, Mawaddah dan Warahmah dalam Hubungan Pernikahan

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 Memasuki Era Baru: Perempuan tak Lagi Sekadar Penonton

    limbah kayu

    Mengubah Limbah Kayu Menjadi Peluang Usaha Berkelanjutan di Desa Warukawung

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Rumah Tangga yang

    Membangun Relasi Ekonomi Rumah Tangga yang Adil dan Setara

    Keguguran

    Mengapa Terjadi Keguguran? Kenali Penyebab, Gejala, dan Penanganannya

    Sehat

    Belum Juga Hamil? Perbaiki Pola Hidup Sehat dan Lakukan Pemeriksaan

    peluang hamil

    6 Cara Meningkatkan Peluang Hamil bagi Pasangan Suami Istri

    Masa Subur

    Cara Mengetahui Masa Subur melalui Perubahan Lendir Vagina

    Kesuburan

    4 Faktor yang Dapat Menurunkan Kesuburan Laki-Laki dan Perempuan

    Ketidaksuburan Perempuan

    4 Penyebab Ketidaksuburan pada Perempuan

    Ketidaksuburan

    Mengapa Kehamilan Tak Kunjung Datang? Memahami Penyebab Ketidaksuburan pada Laki-laki

    Ketidaksuburan

    Belum Dikaruniai Anak Setelah Menikah? Kenali Berbagai Penyebab Ketidaksuburan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Figur

Perempuan Menguatkan Tradisi Keilmuan: Lebih Dekat dengan Hj. Ida Fatimah Krapyak

Sosok Hj. Ida Fatimah menjadi bukti bahwa perempuan memiliki posisi penting dalam tradisi Islam Nusantara

Muhammad Syihabuddin by Muhammad Syihabuddin
14 Mei 2026
in Figur
A A
0
Hj. Ida Fatimah

Hj. Ida Fatimah

63
SHARES
3.1k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Di tengah perkembangan zaman yang bergerak cepat, pesantren tetap menjadi salah satu benteng penting dalam menjaga tradisi keilmuan Islam di Indonesia. Di balik kuatnya tradisi itu, terdapat banyak sosok perempuan yang selama ini bekerja dalam diam, mengajar tanpa lelah, membimbing santri, dan menjaga nilai-nilai adab agar tetap hidup di tengah masyarakat. Salah satu figur yang memiliki peran besar dalam tradisi tersebut adalah Hj. Ida Fatimah Krapyak.

Nama beliau tidak asing di lingkungan pesantren Krapyak Yogyakarta. Selain terkenal sebagai pengasuh pesantren dan aktivis perempuan NU, beliau juga menjadi bagian dari jajaran A’wan PBNU. Kiprah panjangnya memperlihatkan bagaimana perempuan pesantren mampu menjadi penjaga ilmu sekaligus penggerak sosial di tengah masyarakat.

Hj. Ida Fatimah lahir pada 4 Agustus 1952 dari keluarga religius yang dekat dengan dunia pesantren dan organisasi keagamaan. Ayah beliau, KH. Abdurrohman, dikenal aktif dalam kegiatan keagamaan, sementara ibunya, Hj. Aisyah, aktif di Muslimat NU. Lingkungan keluarga yang religius inilah yang membentuk karakter beliau sejak kecil.

Sejak muda, Hj. Ida terkenal aktif dalam organisasi. Saat masih sekolah, beliau pernah menjadi ketua IPPNU Komisariat Khadijah dan aktif dalam kegiatan OSIS. Jiwa kepemimpinan dan semangat pengabdiannya tumbuh bersamaan dengan tradisi keilmuan pesantren yang beliau jalani.

Tumbuh dari Lingkungan Pesantren dan Tradisi Organisasi

Perjalanan pendidikan beliau kemudian membawanya ke Yogyakarta. Di kota inilah beliau belajar di lingkungan pesantren Krapyak, termasuk di kompleks Nurussalam yang saat itu diasuh Mbah Kyai Dalhar. Setelah itu, beliau juga sempat menimba ilmu di Pesantren Pandanaran. Lingkungan pesantren tidak hanya membentuk kemampuan intelektualnya, tetapi juga memperkuat pandangannya tentang pentingnya pengabdian sosial dan pendidikan umat.

Dalam perjalanan hidupnya, beliau kemudian menikah dengan KH. Zainal Abidin Munawwir, putra ke-9 KH. Munawwir Krapyak. Pernikahan ini semakin menguatkan keterlibatan beliau dalam dunia pesantren dan pendidikan Islam. Dari keluarga besar Al-Munawwir itulah beliau melanjutkan pengabdian dalam membina masyarakat dan mendidik santri.

Yang menarik dari sosok Hj. Ida Fatimah adalah kemampuannya menjaga keseimbangan antara dunia keluarga, pesantren, dan organisasi. Dalam banyak kasus, perempuan sering dipaksa memilih salah satu peran. Namun beliau menunjukkan bahwa perempuan dapat tetap aktif di ruang publik tanpa meninggalkan tanggung jawab keluarga dan pendidikan pesantren.

Keteguhan seperti ini menjadi penting di tengah masyarakat modern yang sering memandang perempuan pesantren hanya berada di belakang layar. Hj. Ida justru memperlihatkan bahwa perempuan bisa menjadi penggerak sosial sekaligus penjaga tradisi keilmuan Islam yang kuat.

Perempuan Pesantren dan Jalan Pengabdian Sosial

Tradisi pesantren selama ini melahirkan banyak tokoh laki-laki yang dikenal publik. Namun sesungguhnya, di balik kehidupan pesantren terdapat sosok-sosok nyai yang menjadi fondasi penting dalam pendidikan dan pembentukan karakter santri. Peran itu pula yang tampak dalam perjalanan hidup Hj. Ida Fatimah.

Beliau terkenal aktif berdakwah, mengisi pengajian masyarakat, mengajar kitab kuning, dan terlibat dalam berbagai organisasi sosial keagamaan. Selain aktif di Muslimat NU, beliau juga pernah menjadi anggota DPRD Bantul selama dua periode.

Keterlibatan beliau di dunia organisasi dan politik bukan sekadar soal jabatan, tetapi bagian dari pengabdian terhadap masyarakat. Dalam banyak kesempatan, beliau menekankan pentingnya perempuan hadir membawa nilai-nilai kebaikan, kerja sama, dan kepedulian sosial. Menurutnya, perempuan dapat menjadi kekuatan positif dalam kepemimpinan selama tetap menjaga akhlak dan pola pikir yang baik.

Pandangan tersebut menunjukkan bahwa perempuan pesantren tidak hanya bicara soal pendidikan agama, tetapi juga memiliki perhatian besar terhadap persoalan sosial masyarakat. Hal inilah yang membuat figur nyai memiliki kedekatan kuat dengan umat.

Di tengah era modern, ketika banyak orang lebih sibuk mengejar popularitas dan pencitraan, sosok seperti Hj. Ida menghadirkan teladan berbeda. Beliau memperlihatkan bahwa pengabdian tidak harus selalu tampil besar di ruang publik. Kadang justru lahir dari kerja-kerja sunyi. Mendidik santri, mengisi pengajian kampung, membimbing masyarakat, dan menjaga tradisi ilmu agar tidak hilang ditelan zaman.

Kehadiran perempuan ulama seperti beliau juga penting dalam memperkuat wajah Islam yang teduh dan membumi. Pesantren tidak hanya menjadi tempat belajar agama, tetapi juga ruang pembentukan moral dan kemanusiaan. Di sinilah perempuan pesantren memainkan peran yang sangat besar.

Menjaga Warisan Keilmuan Perempuan Ulama

Tradisi keilmuan pesantren selama ini bertahan bukan hanya karena kitab-kitab yang diajarkan, tetapi juga karena adanya keteladanan hidup dari para kiai dan nyai. Santri belajar bukan hanya melalui pelajaran formal, tetapi juga melalui sikap sehari-hari para pengasuh pesantren.

Hj. Ida Fatimah menjadi contoh bagaimana perempuan dapat menjadi pusat pendidikan karakter. Kesederhanaan, kedisiplinan, dan konsistensinya dalam mengabdi menjadi pelajaran penting bagi generasi muda hari ini.

Dalam beberapa tahun terakhir, wacana tentang kebangkitan ulama perempuan semakin menguat. Hal ini menunjukkan bahwa kontribusi perempuan dalam sejarah Islam Indonesia mulai mendapatkan perhatian lebih luas. Namun sebenarnya, perempuan pesantren telah lama menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan ilmu dan pendidikan umat.

Sosok Hj. Ida Fatimah menjadi bukti bahwa perempuan memiliki posisi penting dalam tradisi Islam Nusantara. Kiprahnya di pesantren, organisasi, dan masyarakat memperlihatkan bahwa perempuan bukan sekadar pendamping, tetapi juga penggerak perubahan sosial dan pendidikan.

Keberadaan beliau di lingkungan Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak juga memperlihatkan bagaimana pesantren tetap menjadi ruang penting bagi lahirnya perempuan-perempuan berilmu. Dalam tradisi pesantren, ilmu tidak hanya terwariskan melalui buku, tetapi juga melalui keteladanan hidup dan kedekatan emosional antara guru dan murid.

Warisan terbesar seorang nyai bukanlah kekayaan atau popularitas, melainkan generasi yang tumbuh dengan ilmu dan akhlak yang baik. Dari tangan perempuan-perempuan pesantren lahir ribuan santri yang kemudian menyebarkan nilai-nilai Islam moderat dan penuh penghormatan terhadap sesama.

Di tengah tantangan zaman digital yang serba cepat, figur seperti Hj. Ida Fatimah menjadi pengingat bahwa kekuatan pendidikan tidak selalu lahir dari teknologi atau kemegahan institusi. Kadang kekuatan itu justru tumbuh dari ketulusan mengajar, kesabaran membimbing, dan konsistensi menjaga nilai-nilai moral.

Karena itu, mengenal lebih dekat sosok Hj. Ida Fatimah bukan hanya tentang membaca biografi seorang tokoh perempuan pesantren. Lebih dari itu, ini adalah cara memahami bagaimana perempuan selama ini ikut menjaga denyut tradisi keilmuan Islam di Indonesia.

Di tengah arus modernitas, perempuan pesantren tetap berdiri menjaga cahaya ilmu agar terus menyala. Dan sosok Hj. Ida Fatimah Krapyak menjadi salah satu wajah penting dari perjuangan panjang tersebut. Semoga beliau senantiasa dalam lindungan Allah. []

Sumber:

Azizah, Nur. “Biografi Nyai Hj. Ida Fatimah Zaenal, M.Si.” Tokoh Wanita, 13 Februari 2022. Diakses 12 Mei 2026. tokohwanita.com

LADUNI.ID. “Biografi Nyai Hj. Ida Fatimah Zaenal, M.Si.” Diakses 12 Mei 2026. LADUNI.ID

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Pesantren dan Otoritas Perempuan: Studi Pemikiran Nyai Hj. Ida Fatimah Krapyak Yogyakarta. Diakses 12 Mei 2026. Digilib UIN Sunan Kalijaga

Tags: Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan IndonesiaHj. Ida FatimahIslam NusantaraPondok Pesantren Krapyakulama perempuan
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Nyai Fatimah Al Banjary: Warisan Intelektual Ulama Perempuan Banjar

Next Post

Perkuat Komitmen Pelestarian Alam, Jaringan GUSDURian dan UIN Riau Adakan Seminar Nasional Ekoteologi

Muhammad Syihabuddin

Muhammad Syihabuddin

Santri dan Pembelajar Instagram: @syihabzen

Related Posts

Sitti Rohmi Djalilah
Figur

Sitti Rohmi Djalilah: Ulama Perempuan dalam Gerak Muslimat dan Pendidikan

5 Juni 2026
Cut Nyak Dien
Aktual

Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

26 Mei 2026
Nyai Luluk Farida
Aktual

Di BuKUPI, Nyai Luluk Farida Ajak Masyarakat Dukung Perjuangan Ulama Perempuan

26 Mei 2026
Bulan KUPI
Personal

Bulan KUPI, Momen Bersejarah Gerakan Keulamaan Perempuan

26 Mei 2026
BuKUPI
Aktual

Pera Sopariyati: BuKUPI 2026 Perkuat Independensi Gerakan Ulama Perempuan

25 Mei 2026
Buku Manaqib Ulama Perempuan
Aktual

Diluncurkan di BuKUPI: Buku Manaqib Ulama Perempuan Indonesia Jadi Ikhtiar Awal Dokumentasi Sejarah Ulama Perempuan

25 Mei 2026
Next Post
Ekoteologi

Perkuat Komitmen Pelestarian Alam, Jaringan GUSDURian dan UIN Riau Adakan Seminar Nasional Ekoteologi

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Membangun Relasi Ekonomi Rumah Tangga yang Adil dan Setara
  • Kursi Roda: Tanda Pengenal untuk Sebagian Penyandang Disabilitas
  • Mengapa Terjadi Keguguran? Kenali Penyebab, Gejala, dan Penanganannya
  • Film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah: Apakah Ibu Harus Selalu Menjadi Paling Kuat dalam Keluarga?
  • Belum Juga Hamil? Perbaiki Pola Hidup Sehat dan Lakukan Pemeriksaan

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0