Selasa, 30 Juni 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

    Aliansi Perempuan Indonesia

    Aliansi Perempuan Indonesia Turun ke Jalan Tolak Kenaikan Harga

    In This Economy

    In This Economy, Perempuan dengan Satu Penghasilan Adalah Kemewahan

    Warga NU

    Di Mubes NU Cirebon Raya, Maria Ulfah Anshor: Abad Kedua NU Harus Berpihak pada Kelompok Rentan

    Mubes Warga NU

    Mubes Warga NU Cirebon Raya: Dorong NU Kembali Menjadi Kekuatan Masyarakat Sipil

    Muharram

    Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Kursi Roda

    Kursi Roda: Tanda Pengenal untuk Sebagian Penyandang Disabilitas

    Fikih Penguatan Disabilitas

    Hening yang Berbicara: Ketika Fikih Penguatan Disabilitas Melupakan Perempuan

    Penganiayaan Yuvita

    Kasus Penganiayaan Yuvita: Alarm Bahaya Jebakan Relasi Kuasa

    Anak Autis

    Menjadi Guru bagi Anak Autis, Belajar Menjadi Manusia yang Lebih Peka

    Trotoar Disabilitas

    Ketika Trotoar Disabilitas Beralih Fungsi Menjadi Lahan Parkir dan Area Perdagangan

    Film Taare Zameen Par

    Film Taare Zameen Par: Apakah Ishaan Masih Ada di Sekolah Kita?

    Sakinah

    Mengupayakan Sakinah, Mawaddah dan Warahmah dalam Hubungan Pernikahan

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 Memasuki Era Baru: Perempuan tak Lagi Sekadar Penonton

    limbah kayu

    Mengubah Limbah Kayu Menjadi Peluang Usaha Berkelanjutan di Desa Warukawung

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Rumah Tangga yang

    Membangun Relasi Ekonomi Rumah Tangga yang Adil dan Setara

    Keguguran

    Mengapa Terjadi Keguguran? Kenali Penyebab, Gejala, dan Penanganannya

    Sehat

    Belum Juga Hamil? Perbaiki Pola Hidup Sehat dan Lakukan Pemeriksaan

    peluang hamil

    6 Cara Meningkatkan Peluang Hamil bagi Pasangan Suami Istri

    Masa Subur

    Cara Mengetahui Masa Subur melalui Perubahan Lendir Vagina

    Kesuburan

    4 Faktor yang Dapat Menurunkan Kesuburan Laki-Laki dan Perempuan

    Ketidaksuburan Perempuan

    4 Penyebab Ketidaksuburan pada Perempuan

    Ketidaksuburan

    Mengapa Kehamilan Tak Kunjung Datang? Memahami Penyebab Ketidaksuburan pada Laki-laki

    Ketidaksuburan

    Belum Dikaruniai Anak Setelah Menikah? Kenali Berbagai Penyebab Ketidaksuburan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

    Aliansi Perempuan Indonesia

    Aliansi Perempuan Indonesia Turun ke Jalan Tolak Kenaikan Harga

    In This Economy

    In This Economy, Perempuan dengan Satu Penghasilan Adalah Kemewahan

    Warga NU

    Di Mubes NU Cirebon Raya, Maria Ulfah Anshor: Abad Kedua NU Harus Berpihak pada Kelompok Rentan

    Mubes Warga NU

    Mubes Warga NU Cirebon Raya: Dorong NU Kembali Menjadi Kekuatan Masyarakat Sipil

    Muharram

    Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Kursi Roda

    Kursi Roda: Tanda Pengenal untuk Sebagian Penyandang Disabilitas

    Fikih Penguatan Disabilitas

    Hening yang Berbicara: Ketika Fikih Penguatan Disabilitas Melupakan Perempuan

    Penganiayaan Yuvita

    Kasus Penganiayaan Yuvita: Alarm Bahaya Jebakan Relasi Kuasa

    Anak Autis

    Menjadi Guru bagi Anak Autis, Belajar Menjadi Manusia yang Lebih Peka

    Trotoar Disabilitas

    Ketika Trotoar Disabilitas Beralih Fungsi Menjadi Lahan Parkir dan Area Perdagangan

    Film Taare Zameen Par

    Film Taare Zameen Par: Apakah Ishaan Masih Ada di Sekolah Kita?

    Sakinah

    Mengupayakan Sakinah, Mawaddah dan Warahmah dalam Hubungan Pernikahan

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 Memasuki Era Baru: Perempuan tak Lagi Sekadar Penonton

    limbah kayu

    Mengubah Limbah Kayu Menjadi Peluang Usaha Berkelanjutan di Desa Warukawung

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Rumah Tangga yang

    Membangun Relasi Ekonomi Rumah Tangga yang Adil dan Setara

    Keguguran

    Mengapa Terjadi Keguguran? Kenali Penyebab, Gejala, dan Penanganannya

    Sehat

    Belum Juga Hamil? Perbaiki Pola Hidup Sehat dan Lakukan Pemeriksaan

    peluang hamil

    6 Cara Meningkatkan Peluang Hamil bagi Pasangan Suami Istri

    Masa Subur

    Cara Mengetahui Masa Subur melalui Perubahan Lendir Vagina

    Kesuburan

    4 Faktor yang Dapat Menurunkan Kesuburan Laki-Laki dan Perempuan

    Ketidaksuburan Perempuan

    4 Penyebab Ketidaksuburan pada Perempuan

    Ketidaksuburan

    Mengapa Kehamilan Tak Kunjung Datang? Memahami Penyebab Ketidaksuburan pada Laki-laki

    Ketidaksuburan

    Belum Dikaruniai Anak Setelah Menikah? Kenali Berbagai Penyebab Ketidaksuburan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Figur

Nyai Fatimah Al Banjary: Warisan Intelektual Ulama Perempuan Banjar

Kisah perjalanan Nyai Fatimah Al Banjary menjadi teladan bahwa menulis adalah bagian dari mengabadikan diri dalam peradaban, juga penguatan otoritas keulamaan.

Vevi Alfi Maghfiroh by Vevi Alfi Maghfiroh
14 Mei 2026
in Figur, Rekomendasi
A A
0
Nyai Fatimah Al Banjary

Nyai Fatimah Al Banjary

67
SHARES
3.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Sejak dulu saat kita membaca dan mempelajari sejarah, jarang sekali tertulis kiprah perempuan-perempuan, baik sebagai pahlawan, penulis kitab, dan peran-peran lainnya sebagaimana para pahlawan dan pejuang ‘laki-laki.’

Dulu mungkin kita mengira bahwa sejarah adalah sebuah fakta mutlak. Tapi ternyata setelah melatih diri berpikir kritis, maka timbul pertanyaan, ‘Benarkah tidak ada ulama perempuan hebat di zaman dulu? Lalu muncul pernyataan kritis ‘… sejarah itu tergantung siapa yang menuliskan dan bagaimana framingnya.’

Beruntungnya di masa ini, Jaringan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), telah menginisiasi dan mendeklarasikan bulan Mei sebagai Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia (BKUPI). Sehingga kita mulai mengenal dan menyadari bahwa banyak sekali ulama, tokoh, pahlawan, penulis kitab yang berjenis kelamin perempuan, melalui pembacaan serial biografi di setiap hari sejak 1 s/d 22 Mei 2026 ini.

Menelusuri Jejak Nyai Fatimah Al Banjary dalam Diskusi Serial Biografi

Nama Fatimah Al Banjary tak asing di telinga saya, tetapi baru di sesi diskusi serial biografi ulama perempuan Indonesia #5 pada hari Rabu 6 Mei 2026. Melalui kegiatan ini saya jadi lebih mengenal sosoknya.

Dimulai dengan pernyataan moderator, “Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah bahwa nama beliau seakan disembunyikan dan tidak dipublikasikan sebagai pengarang kitab.” Nyai Farida Ulvi membuka diskusi dengan pernyataan kritis terkait otoritas keulamaan perempuan.

Setelah itu Nyai Fatrawati Kumari membacakan kisah demi kisah jejak sejarah Fatimah Al Banjary. Ia adalah seorang akademisi, peneliti, dan dosen di Universitas Islam Negeri (UIN) Antasari Banjarmasin, Kalimantan Selatan.

Sebagai pembuka pemaparan, ia menyatakan bahwa sosok Fatimah Al Banjary sendiri pernah menjadi bagian dari penelitian timnya pada tahun 2020 tentang ulama perempuan Kalimantan Selatan.

Nyai Fatrawati juga menegaskan penemuannya bahwa ada kesenjangan sejarah antara ulama perempuan dan laki-laki di Indonesia. Tak terkecuali di wilayah Banjar atau Kalimantan Selatan. Hal ini terlihat dari informasi sosok Fatimah Al Banjary itu terbatas. Meskipun ia adalah cucu dari ulama besar Banjar, Syekh Arsyad al Banjari.

Bahkan untuk foto Fatimah Al Banjary sendiri, mereka tidak pernah menemukan dokumentasi asli. Para peneliti khazanah intelektual Islam Banjar juga mengaku belum pernah menemukannya. Karena itu, foto yang beredar di internet hari ini adalah hanyalah ilustrasi visual dan bukan representasi asli.

Menyibak Selubung Sejarah Nyai Fatimah Al Banjary

Fatimah Al Banjary atau Fatimah binti Syekh Abdul Wahab Bugis hidup sekitar tahun 1775–1828. Ia lahir di Martapura, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Beliau wafat sekitar usia 53 tahun. Ia merupakan cucu dari Syekh Muhammad Arsyad bin ‘Abdullah bin ‘Abdurrahman Al Banjari atau Datu Kalampayan (1122-1710 M). Seorang ulama besar di Banjar. Dalam tradisi Banjar, istilah ‘Datuk’ bukan hanya bermakna kakek, tetapi juga sosok yang memiliki kekuatan spiritual, intelektual, dan sosial.

Adapun ibu Fatimah Al Banjary bernama Syarifah dan ayahnya bernama Syeikh Abdul Wahab Bugis. Ia adalah seorang keturunan bangsawan dengan gelar Sadenreng Daeng Bunga Wardiyah. Ayahnya menuntut ilmu agama selama 20 tahun di Mesir, lima tahun di Madinah al-Munawwarah, dan beberapa tahun di Tanah Suci Makkah.

Fatimah mula-mula belajar dari ayahnya sendiri. Namun setelah wafat, Fatimah kemudian lebih banyak belajar dari sang kakek dan kakak tirinya yang menjadi mufti pertama Kesultanan Banjar, Muhammad As’ad. Lingkungan kehidupannya yang dekat dengan pusat kekuasaan Kerajaan Banjar, juga turut membentuk kapasitas intelektualnya.

Beliau menikah dengan H. Muhammad Sa’id Bugis dan memiliki dua orang anak, yaitu Abdul Gani dan Halimah. Fatimah wafat pada tahun 1828 dan makamnya ada di Martapura komplek Alqah Desa Karang Tengah. Berdekatan dengan makam kedua orang tuanya.

Nyai Fatimah Al Banjary dan Warisan Intelektual Perempuan Banjar

Sebagai ulama, Fatimah aktif mengajarkan ilmu agama dan berdakwah, terutama kepada perempuan-perempuan Banjar di kawasan pesantren Dalam Pagar, Martapura. Selain membimbing spiritual masyarakat, beliau juga menulis kitab Parukunan. Kitab ini berisi ajaran tauhid dan fikih dari hasil pengajian dan pemahaman Fatimah terhadap pelajaran sang kakek, yang menulis kitab Sabil al-Muhtadin.

Sayangnya, kitab tersebut tidak mencantumkan nama Fatimah sebagai penulis asli, tetapi menggunakan nama pamannya, Jamaluddin, seorang mufti Kerajaan, (Putera Syekh Arsyad al Banjari dengan Putri Aminah binti Sultan Thaha). Sehingga banyak orang mengenalnya sebagai Parukunan Jamaluddin.

Alasan penyembunyian identitas Fatimah terjadi karena kultur Banjar saat itu belum sepenuhnya menerima perempuan sebagai ulama yang memiliki otoritas keagamaan. Otoritas keilmuan lebih kepada laki-laki, apalagi jika memiliki posisi formal seperti mufti kerajaan. Strategi tersebut agar kitabnya diterima luas oleh masyarakat Banjar, dan menjadi rujukan penting dalam praktik ibadah sehari-hari.

Dari isi kitabnya terlihat bahwa Fatimah memiliki perhatian besar pada persoalan fikih perempuan, terutama terkait thaharah, haid, nifas, dan ibadah sehari-hari. Ia juga memiliki pemahaman perspektif perempuan yang baik.

Misalnya dalam pembahasan haid, ia tidak menyebutkan ‘mandi sehabis haid sebagai bersuci’, karena seolah-olah perempuan itu ‘kotor.’ Akan tetapi ia menulisnya dengan istilah mandi wajib, artinya perempuan dengan laki-laki itu suci dan bersih.

Kitab Parukunan sangat populer di masyarakat Banjar, dan bahkan hampir kitab tersebut selalu ada di rumah-rumah Muslim Banjar generasi terdahulu.

Jejak Keilmuan Perempuan di Kalimantan Selatan

Fatimah Al Banjary adalah sosok perempuan yang taat beragama, gemar menuntut ilmu, memiliki kecerdasan spiritual dan sosial, serta sangat produktif dalam kegiatan intelektual seperti membaca dan menulis.

Sebagai ulama perempuan Banjar, ia mampu menghasilkan kitab yang digunakan masyarakat Islam Banjar hingga saat ini. Kitab tersebut menjadi salah satu khazanah literatur Melayu yang berpengaruh di kawasan Asia Tenggara, mencakup Birma, Kamboja, Vietnam, Mindanao Filipina, Pattani Thailand, Brunei Darussalam, dan Malaysia.

Namun sayangnya, kajian mengenai ulama perempuan Banjar masih menghadapi banyak tantangan, seperti minimnya dokumentasi sejarah, masih kuatnya tradisi patriarki dalam dunia keilmuan, serta kurangnya pengakuan formal terhadap kontribusi perempuan.

Meski demikian, ada hal menarik yang saya ingat dari kesimpulan Nyai Farida Ulvi, yaitu terkait dengan pemikiran Syekh Muhammad Arsyad Al Banjary yang mengintegrasikan syariat Islam dengan kearifan lokal Banjar, termasuk dalam konsep harta bersama atau ‘perpantangan’ dalam pembagian waris. Tradisi ini menunjukkan bahwa hukum Islam di Banjar memiliki karakter yang kontekstual dan mempertimbangkan realitas sosial perempuan yang juga aktif di ruang publik.

Menghidupkan Kembali Warisan Nyai Fatimah Al Banjary

Kisah perjalanan Nyai Fatimah Al Banjary menjadi teladan bahwa menulis adalah bagian dari mengabadikan diri dalam peradaban, juga penguatan otoritas keulamaan. Kisahnya mengingatkan kita bahwa jejak keulamaan perempuan telah lama hidup dan memberi warna penting dalam tradisi Islam Nusantara, meski kerap tersembunyi di balik kuatnya budaya patriarki.

Namun melalui ilmu, pengajaran, dan karya yang terus diwariskan, Nyai Fatimah Al Banjary menunjukkan bahwa perempuan juga memiliki peran besar dalam membangun peradaban dan menjaga keberlangsungan pengetahuan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Dalam momentum Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan, sosok Nyai Fatimah Al Banjary menjadi pengingat bahwa kebangkitan ulama perempuan adalah upaya menghadirkan kembali ingatan, pengakuan, dan penghormatan atas kontribusi perempuan dalam sejarah keilmuan Islam.

Dari Banjar, beliau meninggalkan teladan tentang ketekunan menuntut ilmu, keberanian berkarya, dan strategi perjuangan agar pengetahuan tetap sampai kepada masyarakat. Jejak itulah yang hari ini perlu terus dirawat, disuarakan, dan dilanjutkan oleh generasi masa kini. []

Tags: Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan IndonesiaKalimantan SelatanNyai Fatimah Al BanjarySyeikh Arsyad Al Banjaryulama perempuan
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Makanan Pendamping ASI: Kapan dan Bagaimana Memberikannya?

Next Post

Perempuan Menguatkan Tradisi Keilmuan: Lebih Dekat dengan Hj. Ida Fatimah Krapyak

Vevi Alfi Maghfiroh

Vevi Alfi Maghfiroh

Admin Media Sosial Mubadalah.id

Related Posts

Sitti Rohmi Djalilah
Figur

Sitti Rohmi Djalilah: Ulama Perempuan dalam Gerak Muslimat dan Pendidikan

5 Juni 2026
Cut Nyak Dien
Aktual

Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

26 Mei 2026
Nyai Luluk Farida
Aktual

Di BuKUPI, Nyai Luluk Farida Ajak Masyarakat Dukung Perjuangan Ulama Perempuan

26 Mei 2026
Bulan KUPI
Personal

Bulan KUPI, Momen Bersejarah Gerakan Keulamaan Perempuan

26 Mei 2026
BuKUPI
Aktual

Pera Sopariyati: BuKUPI 2026 Perkuat Independensi Gerakan Ulama Perempuan

25 Mei 2026
Buku Manaqib Ulama Perempuan
Aktual

Diluncurkan di BuKUPI: Buku Manaqib Ulama Perempuan Indonesia Jadi Ikhtiar Awal Dokumentasi Sejarah Ulama Perempuan

25 Mei 2026
Next Post
Hj. Ida Fatimah

Perempuan Menguatkan Tradisi Keilmuan: Lebih Dekat dengan Hj. Ida Fatimah Krapyak

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Membangun Relasi Ekonomi Rumah Tangga yang Adil dan Setara
  • Kursi Roda: Tanda Pengenal untuk Sebagian Penyandang Disabilitas
  • Mengapa Terjadi Keguguran? Kenali Penyebab, Gejala, dan Penanganannya
  • Film Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah: Apakah Ibu Harus Selalu Menjadi Paling Kuat dalam Keluarga?
  • Belum Juga Hamil? Perbaiki Pola Hidup Sehat dan Lakukan Pemeriksaan

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0