Jika kalian diminta membuat kopi dan mengantarnya ke kamar kyai atau guru laki-laki sendirian, apa yang akan kamu lakukan?
Mubadalah.id – Pertanyaan itu diajukan Ning Nabilah Munsyarihah kepada para santri perempuan yang sedang mengikuti sesi Tarbiyah al-Jinsiyah — sebuah pembelajaran tentang hak-hak reproduksi untuk kalangan pesantren. Ia sengaja mengajukannya sebagai pertanyaan reflektif yang menantang, untuk menggugah satu hal yang paling mendasar. Apakah para santri tahu di mana batas diri mereka, dan apakah mereka merasa punya hak untuk menjaganya.
Ning Nabilah bercerita tentang pengalaman ini dalam Tadarus Subuh ke-193, bersama saya, 31 Mei 2026. Banyak santri, katanya, terdiam ketika pertanyaan itu diajukan. Bukan karena tidak punya jawaban, tapi karena mereka tidak tahu apakah mereka boleh menjawab berbeda dari yang lingkungannya harapkan.
Pertanyaan itu sederhana, tapi menyentuh sesuatu yang sangat dalam. Dalam Tadarus Subuh ke-193 itu saya memperkenalkan kerangka nilai “Pesantren Rumah Amanah” — sebuah kerangka yang dibangun dari tiga fondasi paradigmatik: amanah (kepercayaan yang dipertaruhkan), khidmah (pengabdian yang melindungi, bukan menguasai), dan maslahah (kebaikan bersama yang menuntut keberanian, bukan keheningan). Lalu tertopang oleh tujuh nilai relasional: fitrah, karamah, rahmah, mas’uliyah, ukhuwwah, uswah, dan ta’awun, yang semuanya berlaku ke dua arah: ke dalam diri sendiri dan ke luar kepada sesama.
Tulisan Panduan Praktis Mengenali dan Menjaga Batas Diri di Pesantren ini ingin mencoba menjawab pertanyaan Ning Nabilah, sebuah panduan how to yang bertumpu pada kerangka nilai tersebut, agar setiap santri tidak hanya tahu bahwa ia berhak menjaga dirinya, tapi juga tahu bagaimana caranya.
Ketahuilah, bahwa tubuh kita adalah amanah, bukan persembahan
Sebelum membahas apa yang harus kita lakukan, ada satu hal yang perlu kita yakini terlebih dahulu. Bahwa hidup ini adalah amanah, yang Allah percayakan kepada kita, untuk kita jaga, lindungi, dan pertahankan. Tubuh kita, sebagai bagian dari kehidupan, adalah juga amanah dari-Nya. Di sinilah, kita harus memulai cara pandang kita terhadap diri kita masing-masing.
Dalam kerangka nilai fitrah, setiap manusia — siapapun kita — diciptakan dalam keadaan baik, bermartabat, dan utuh. Dengan kerangka fitrah yang amanah, berarti tubuh kita dan keamanan kita adalah amanah yang Allah titipkan kepada kita, sebelum mungkin kepada yang lain. Kita terlebih dahulu.
Hal ini berarti, menjaga diri kita bukan pilihan yang harus terpikirkan sambil menimbang-nimbang apakah kita akan dianggap durhaka atau tidak, ketika berhadapan dengan orang yang lebih berkuasa: orang tua, guru, ustadz, maupun kyai. Menjaga diri adalah kewajiban yang datang sebelum kewajiban apapun yang lain. Dan dalam kerangka nilai karamah, martabat itu melekat pada diri seseorang — ia tidak bisa dicabut oleh posisi, usia, atau otoritas siapapun, di luar diri kita.
Dari sinilah semua langkah harus kita mulai. Dan tentu saja, situasi yang akan kita bahas bisa berbeda-beda, tidak harus sama persis. Bisa berupa permintaan membuat dan mengantar kopi ke kamar seorang senior, ustadz, atau kyai — atau situasi serupa lainnya yang menempatkan kamu sendirian bersama seseorang yang memiliki kuasa atas dirimu.
Kenali Situasi Rawan yang Membuat Kita Tidak Nyaman
Dalam sebuah pergaulan atau pengabdian, kadang muncul situasi yang dirasa kurang nyaman. Pesantren memang mengajarkan nilai-nilai baik, seperti persaudaraan (ukhuwwah) dan tolong-menolong (ta’awun). Praktik dari nilai ini banyak sekali, di antaranya dalam bentuk khidmah (melayani), dan pada dasarnya adalah baik.
Tapi ada situasi yang perlu kita kenali dan waspadai. Bukan untuk menjadi curiga kepada semua orang, tetapi untuk menjaga diri kita secara cermat dan waras. Dan tentu saja, tidak semua permintaan tolong, praktik khidmah dan ukhuwwah adalah situasi rawan dan berbahaya. Tetapi kita tetap harus membiasakan diri dengan kewaspadaan.
Dalam konteks menjaga tubuh sebagai amanah, yang ber-fitrah dan ber-karamah, kita harus waspada terhadap praktik pergaulan, pertemanan, dan praktik khidmah yang mungkin diminta seseorang yang kita muliakan terhadap diri kita. Mengenali situasi seperti ini, yang harus kita waspadai, di antaranya adalah dengan mengenali tiga hal yang bisa terjadi secara bersamaan:
Pertama, ketika kita diminta pergi sendirian ke tempat yang tertutup atau sepi — kamar, ruang pribadi, tempat yang tidak bisa terlihat atau didengar orang lain — hanya bersama seseorang yang memiliki kuasa atas kamu: guru, kyai, senior, atau pengurus.
Kedua, permintaan itu tidak lazim — bukan bagian dari kegiatan bersama, bukan tugas yang biasa banyak orang kerjakan, bukan dalam konteks pembelajaran yang jelas.
Ketiga, ada rasa tidak nyaman di dalam diri kita ketika menerima perintah tersebut. Meski kita sendiri belum bisa menjelaskan alasannya. Rasa itu nyata. Rasa itu valid. Ia adalah sinyal yang perlu kamu dengarkan, bukan diamkan. Kita harus berterima kasih terhadap diri kita, pertanda ia memiliki alarm amanah, fitrah, dan karamah.
Ketiga hal itu hadir dalam suatu situasi, misalnya diminta membuat kopi dan mengantarkannya ke kamar kyai, guru laki-laki, senior, atau seseorang yang memiliki kuasa atas dirimu, dan kamu diminta atau sedang sendirian.
Langkah demi Langkah yang Bisa Kita Lakukan
Kembali ke pertanyaan Ning Nabilah: kita diminta membuat kopi dan mengantarkannya ke kamar kyai atau guru laki-laki, sendirian. Apa yang kita lakukan?
Berikut adalah langkah-langkah praktis yang bisa kita ambil, yang bertumpu pada kerangka nilai amanah, khidmah, dan maslahah serta tujuh nilai relasional yang menyertainya.
Langkah pertama: jangan terburu-buru berangkat sendirian.
Kita tidak harus langsung menolak. Menolak secara tiba-tiba dan eksplisit memang terasa berat — terutama ketika kita dibesarkan dalam budaya yang mengajarkan bahwa tidak mematuhi perintah guru berarti durhaka, atau tidak berkhidmah pada kyai akan terkena sumpah dan tidak berkah. Tapi kita tidak harus menolak. Yang perlu kita lakukan lebih sederhana dari itu. Jangan pergi sendirian. Berhenti sejenak. Ambil napas. Dan pikirkan: siapa yang bisa menemani kita?
Langkah kedua: cari teman untuk menemani kita — sebelum berangkat.
Sebelum kita mengambil gelas atau menyalakan kompor, cari dulu seorang teman untuk menemani. Kalimatnya tidak perlu panjang. Cukup misalnya: “Ayo temenin aku, mau antar ke kamar Pak Kyai.”
Tidak perlu penjelasan. Tidak perlu cerita. Cukup ajak teman. Kalau satu orang tidak bisa, cari yang lain. Ini bukan merepotkan — ini adalah ta’awun yang paling konkret. Saling jaga dalam situasi sehari-hari. Dan ini adalah bagian dari ukhuwwah yang sejati: persaudaraan yang tidak membiarkan sesamanya menghadapi situasi rawan sendirian.
Langkah ketiga: kalau tidak ada yang bisa menemani, sampaikan dengan sopan.
Kalau kita tidak berhasil menemukan teman yang bisa pergi bersama, kita bisa menyampaikannya dengan cara yang tetap hormat. Misalnya “Nggih, saya minta izin mengajak teman, biar rame.”
Ini bukan ketidakpatuhan. Ini adalah adab yang benar, yang justru mencerminkan nilai mas’uliyah — tanggung jawab kita terhadap diri sendiri. Guru atau kyai yang memahami nilai-nilai pesantren yang sehat akan mengerti, bahkan mengapresiasinya. Dan kalau responnya justru membuat kita semakin tidak nyaman — itu sendiri adalah informasi yang penting untuk kita catat dan ceritakan kepada orang yang kita percaya.
Langkah keempat: kalau tidak memungkinkan sama sekali, cari cara lain.
Titipkan kopinya kepada orang lain. Minta bantuan teman untuk mengantarkan. Antarkan ke ruang yang lebih terbuka — ruang tamu, beranda, tempat yang bisa terlihat orang. Ada selalu cara lain untuk menyelesaikan tugas itu tanpa kita harus sendirian. Maslahah — kebaikan yang sesungguhnya — tidak pernah menuntut kita menempatkan diri dalam situasi yang berbahaya.
Langkah kelima: catat dalam hati, dan ceritakan kepada orang yang kita percaya
Setelah situasi itu berlalu, jangan simpan sendiri rasa mengganjal yang mungkin kita rasakan. Ceritakan kepada teman karib, kepada ustazah yang kita percaya, kepada siapapun yang kita yakini bisa menyimpan cerita kita dengan baik. Ini bukan memfitnah. Ini adalah mas’uliyah — tanggung jawab kita terhadap diri sendiri dan terhadap teman-teman yang mungkin akan menghadapi situasi yang sama. Dengan bercerita, kita membantu pola itu kita kenali sebelum ia menjadi lebih besar dan lebih berbahaya. Dan ini juga adalah uswah — keteladanan dalam keberanian — yang nilainya tidak lebih kecil dari keteladanan dalam ilmu.
Yang Perlu Kita Ingat tentang Rasa Tidak Nyaman Itu
Salah satu hal yang paling sering membuat kita diam adalah pertanyaan dalam benak kita sendiri: jangan-jangan aku yang berlebihan, jangan-jangan aku yang salah berpikir, jangan-jangan ini memang tugas biasa dan aku terlalu sensitif. Pertanyaan itu wajar. Tapi ada yang perlu kita ingat: rasa tidak nyaman adalah sinyal, bukan aib. Ia bukan tanda bahwa kita lemah atau terlalu sensitif. Ia adalah tanda bahwa sesuatu dalam situasi itu tidak beres — dan tubuh kita menangkapnya bahkan sebelum pikiran kita bisa menjelaskannya.
Dalam bahasa pesantren, kita bisa menyebutnya sebagai bagian dari fitrah yang bekerja. Sinyal bawaan yang membantu kita mengenali bahaya sebelum bahaya itu terjadi. Alarm amanah dan karamah yang ada dalam diri kita. Dengarkan sinyal itu. Jangan matikan. Dan ketika sinyal itu berbunyi, ingatlah bahwa meresponsnya — dengan mencari teman, menyampaikan ketidaknyamanan, atau mencari cara lain — adalah bentuk rahmah kepada diri sendiri: kasih sayang yang paling mendasar, yang Allah titipkan kepada kita bersama fitrah itu.
Praktik Ta’awun dalam Situasi Seperti Ini
Kalau kita bukan yang diminta mengantar kopi itu, tapi kita melihat situasinya — teman yang diminta sendirian, suasana yang terasa tidak biasa — kita punya peran di sana. Tawarkan diri untuk menemani, meski tidak diminta. Kita bisa bilang: “Tunggu, aku temeni deh.”
Dalam kerangka ta’awun, membiarkan teman kita pergi sendirian dalam situasi yang berpotensi berbahaya bukan sikap netral. Ia adalah celah yang seharusnya bisa kita tutup dengan satu langkah sederhana. Dan dalam kerangka ukhuwwah, persaudaraan yang sejati tidak membiarkan saudaranya menghadapi risiko sendirian — ia bergerak, meski tidak diminta, meski tidak ada yang melihat.
Pesantren, Melalui Pengasuh dan Guru, Juga Harus Khidmah
Tulisan ini bukan hanya untuk santri. Ia juga ditujukan kepada siapapun yang memegang peran dan otoritas di pesantren. Jika kita adalah guru atau kyai yang membutuhkan bantuan — termasuk hal-hal kecil seperti minuman atau keperluan pribadi lainnya — pertimbangkan terlebih dahulu. Apakah permintaan ini bisa kita lakukan dengan cara yang tidak menempatkan santri dalam posisi sendirian di tempat tertutup bersama kita?
Dalam kerangka khidmah yang bernafas mubadalah, pengasuh dan para guru juga harus berkhidmah kepada para santri, tidak hanya dalam bentuk mengajar ilmu. Ia juga tentang menjaga kondisi agar santri tidak perlu berada dalam situasi yang rentan. Bahkan dari situasi yang mungkin sama sekali tidak kita niatkan untuk berbahaya. Pengaturan yang aman bukan pertanda buruk sangka. Ia adalah bentuk rahmah yang paling nyata dan uswah yang paling kuat. Keteladanan dalam melindungi, yang mengajarkan lebih banyak dari kata-kata apapun yang kita ucapkan di dalam kelas.
Menjaga Amanah Diri adalah Juga Menjaga Amanah Pesantren
Pertanyaan tentang kopi itu kecil. Tapi ia membuka sesuatu yang besar. Apakah kita benar-benar telah membekali diri kita, dan sesama santri di sekitar kita, dengan keyakinan bahwa diri kita berharga, bahwa tubuh kita adalah amanah, dan bahwa kita memiliki hak sekaligus tanggung jawab untuk menjaganya?
Pesantren yang sesungguhnya adalah pesantren yang menjawab pertanyaan itu dengan ya. Bukan hanya dalam pengajaran, tapi dalam seluruh cara ia menata relasi, mengatur ruang, dan membentuk budayanya sehari-hari. Dan kita — santri, teman, guru, pengasuh, pengelola — masing-masing memegang bagian dari amanah itu.
Menjaga batas (hudud) bukan berarti tidak patuh. Menjaga batas adalah bagian dari menjaga amanah yang paling mendasar. Amanah atas diri kita sendiri, yang Allah titipkan kepada kita sebelum kita dititipkan kepada siapapun di pesantren ini.
Tubuh kita adalah amanah. Jagalah ia, dan bantu sesama kita untuk bisa saling menjaga agar aman dan terbebas dari segala bentuk kekerasan. []










































