Sabtu, 18 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    Militerisasi

    Menyoal Militerisasi Tata Kelola Koperasi Desa

    Lagu Teh Hijau

    Lagu Teh Hijau Karya Tulus dan Seni Merayakan Kehampaan bagi Perempuan

    Hukum Adat Bali

    Karang Memadu: Bukti Hukum Adat Bali Melindungi Perempuan

    Pemberian

    Ketika Sebuah Pemberian Menjadi Tanda Kepedulian

    Nikah Sirri

    Enam Langkah Cerai Sirri bagi Perempuan yang Terjebak Nikah Sirri

    Milik Suami

    Benarkah Setelah Menikah Perempuan Menjadi Milik Suami?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Jalan Kebahagiaan

    Menggapai As-Sa’adah: Jalan Kebahagiaan Menurut Imam al-Ghazali

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV?

    AIDS

    Jangan Percaya Mitos, Kenali Fakta tentang HIV dan AIDS

    Mencegah Penyakit Menular Seksual

    Membangun Kesadaran Masyarakat untuk Mencegah Penyakit Menular Seksual

    Pengobatan Penyakit Menular

    Tips Menjalani Pengobatan Penyakit Menular Seksual agar Tidak Menulari Pasangan

    Penyakit Menular

    7 Cara Mencegah Penyebaran Penyakit Menular Seksual di Masyarakat

    Zuhud

    Zuhud, sebagai Cara Pandang, Bukan Gaya Berpakaian

    Obat

    Mengapa Obat Antibiotik Harus Dihabiskan? Kenali Bahaya Resistensi Antibiotik

    Infeksi Area Kelamin

    Tips Meredakan Nyeri akibat Infeksi pada Area Kelamin

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Kepemimpinan Beragam Gender

    Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender

    Memahami Islam

    Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

    Poskolonialisme

    Aroma Poskolonialisme di Final Piala Dunia 2026: Albiceleste Kontra La Roja

    Militerisasi

    Menyoal Militerisasi Tata Kelola Koperasi Desa

    Lagu Teh Hijau

    Lagu Teh Hijau Karya Tulus dan Seni Merayakan Kehampaan bagi Perempuan

    Hukum Adat Bali

    Karang Memadu: Bukti Hukum Adat Bali Melindungi Perempuan

    Pemberian

    Ketika Sebuah Pemberian Menjadi Tanda Kepedulian

    Nikah Sirri

    Enam Langkah Cerai Sirri bagi Perempuan yang Terjebak Nikah Sirri

    Milik Suami

    Benarkah Setelah Menikah Perempuan Menjadi Milik Suami?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Jalan Kebahagiaan

    Menggapai As-Sa’adah: Jalan Kebahagiaan Menurut Imam al-Ghazali

    HIV

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV?

    AIDS

    Jangan Percaya Mitos, Kenali Fakta tentang HIV dan AIDS

    Mencegah Penyakit Menular Seksual

    Membangun Kesadaran Masyarakat untuk Mencegah Penyakit Menular Seksual

    Pengobatan Penyakit Menular

    Tips Menjalani Pengobatan Penyakit Menular Seksual agar Tidak Menulari Pasangan

    Penyakit Menular

    7 Cara Mencegah Penyebaran Penyakit Menular Seksual di Masyarakat

    Zuhud

    Zuhud, sebagai Cara Pandang, Bukan Gaya Berpakaian

    Obat

    Mengapa Obat Antibiotik Harus Dihabiskan? Kenali Bahaya Resistensi Antibiotik

    Infeksi Area Kelamin

    Tips Meredakan Nyeri akibat Infeksi pada Area Kelamin

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Panduan Praktis Mengenali dan Menjaga Batas Diri di Pesantren agar Terhindar dari Pencabulan dan Kekerasan Seksual

Menjaga batas adalah bagian dari menjaga amanah paling mendasar. Amanah atas diri kita sendiri, yang Allah titipkan pada kita, sebelum kita dititipkan kepada siapapun di pesantren ini.

Faqih Abdul Kodir by Faqih Abdul Kodir
2 Juni 2026
in Publik, Rekomendasi
A A
0
Panduan Praktis Mengenali dan Menjaga Batas Diri di Pesantren

Panduan Praktis Mengenali dan Menjaga Batas Diri di Pesantren

85
SHARES
4.2k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Jika kalian diminta membuat kopi dan mengantarnya ke kamar kyai atau guru laki-laki sendirian, apa yang akan kamu lakukan?

Mubadalah.id – Pertanyaan itu diajukan Ning Nabilah Munsyarihah kepada para santri perempuan yang sedang mengikuti sesi Tarbiyah al-Jinsiyah — sebuah pembelajaran tentang hak-hak reproduksi untuk kalangan pesantren. Ia sengaja mengajukannya sebagai pertanyaan reflektif yang menantang, untuk menggugah satu hal yang paling mendasar. Apakah para santri tahu di mana batas diri mereka, dan apakah mereka merasa punya hak untuk menjaganya.

Ning Nabilah bercerita tentang pengalaman ini dalam Tadarus Subuh ke-193, bersama saya, 31 Mei 2026. Banyak santri, katanya, terdiam ketika pertanyaan itu diajukan. Bukan karena tidak punya jawaban, tapi karena mereka tidak tahu apakah mereka boleh menjawab berbeda dari yang lingkungannya harapkan.

Pertanyaan itu sederhana, tapi menyentuh sesuatu yang sangat dalam. Dalam Tadarus Subuh ke-193 itu saya memperkenalkan kerangka nilai “Pesantren Rumah Amanah” — sebuah kerangka yang dibangun dari tiga fondasi paradigmatik: amanah (kepercayaan yang dipertaruhkan), khidmah (pengabdian yang melindungi, bukan menguasai), dan maslahah (kebaikan bersama yang menuntut keberanian, bukan keheningan). Lalu tertopang oleh tujuh nilai relasional: fitrah, karamah, rahmah, mas’uliyah, ukhuwwah, uswah, dan ta’awun, yang semuanya berlaku ke dua arah: ke dalam diri sendiri dan ke luar kepada sesama.

Tulisan Panduan Praktis Mengenali dan Menjaga Batas Diri di Pesantren ini ingin mencoba menjawab pertanyaan Ning Nabilah, sebuah panduan how to yang bertumpu pada kerangka nilai tersebut, agar setiap santri tidak hanya tahu bahwa ia berhak menjaga dirinya, tapi juga tahu bagaimana caranya.

Ketahuilah, bahwa tubuh kita adalah amanah, bukan persembahan

Sebelum membahas apa yang harus kita lakukan, ada satu hal yang perlu kita yakini terlebih dahulu. Bahwa hidup ini adalah amanah, yang Allah percayakan  kepada kita, untuk kita jaga, lindungi, dan pertahankan. Tubuh kita, sebagai bagian dari kehidupan, adalah juga amanah dari-Nya. Di sinilah, kita harus memulai cara pandang kita terhadap diri kita masing-masing.

Dalam kerangka nilai fitrah, setiap manusia — siapapun kita — diciptakan dalam keadaan baik, bermartabat, dan utuh. Dengan kerangka fitrah yang amanah, berarti tubuh kita dan keamanan kita adalah amanah yang Allah titipkan kepada kita, sebelum mungkin kepada yang lain. Kita terlebih dahulu.

Hal ini berarti, menjaga diri kita bukan pilihan yang harus terpikirkan sambil menimbang-nimbang apakah kita akan dianggap durhaka atau tidak, ketika berhadapan dengan orang yang lebih berkuasa: orang tua, guru, ustadz, maupun kyai. Menjaga diri adalah kewajiban yang datang sebelum kewajiban apapun yang lain. Dan dalam kerangka nilai karamah, martabat itu melekat pada diri seseorang — ia tidak bisa dicabut oleh posisi, usia, atau otoritas siapapun, di luar diri kita.

Dari sinilah semua langkah harus kita mulai. Dan tentu saja, situasi yang akan kita bahas bisa berbeda-beda, tidak harus sama persis. Bisa berupa permintaan membuat dan mengantar kopi ke kamar seorang senior, ustadz, atau kyai — atau situasi serupa lainnya yang menempatkan kamu sendirian bersama seseorang yang memiliki kuasa atas dirimu.

Kenali Situasi Rawan yang Membuat Kita Tidak Nyaman

Dalam sebuah pergaulan atau pengabdian, kadang muncul situasi yang dirasa kurang nyaman. Pesantren memang mengajarkan nilai-nilai baik, seperti persaudaraan (ukhuwwah) dan tolong-menolong (ta’awun). Praktik dari nilai ini banyak sekali, di antaranya dalam bentuk khidmah (melayani), dan pada dasarnya adalah baik.

Tapi ada situasi yang perlu kita kenali dan waspadai. Bukan untuk menjadi curiga kepada semua orang, tetapi untuk menjaga diri kita secara cermat dan waras. Dan tentu saja, tidak semua permintaan tolong, praktik khidmah dan ukhuwwah adalah situasi rawan dan berbahaya. Tetapi kita tetap harus membiasakan diri dengan kewaspadaan.

Dalam konteks menjaga tubuh sebagai amanah, yang ber-fitrah dan ber-karamah, kita harus waspada terhadap praktik pergaulan, pertemanan, dan praktik khidmah yang mungkin diminta seseorang yang kita muliakan terhadap diri kita. Mengenali situasi seperti ini, yang harus kita waspadai, di antaranya adalah dengan mengenali tiga hal yang bisa terjadi secara bersamaan:

Pertama, ketika kita diminta pergi sendirian ke tempat yang tertutup atau sepi — kamar, ruang pribadi, tempat yang tidak bisa terlihat atau didengar orang lain — hanya bersama seseorang yang memiliki kuasa atas kamu: guru, kyai, senior, atau pengurus.

Kedua, permintaan itu tidak lazim — bukan bagian dari kegiatan bersama, bukan tugas yang biasa banyak orang kerjakan, bukan dalam konteks pembelajaran yang jelas.

Ketiga, ada rasa tidak nyaman di dalam diri kita ketika menerima perintah tersebut. Meski kita sendiri belum bisa menjelaskan alasannya. Rasa itu nyata. Rasa itu valid. Ia adalah sinyal yang perlu kamu dengarkan, bukan diamkan. Kita harus berterima kasih terhadap diri kita, pertanda ia memiliki alarm amanah, fitrah, dan karamah.

Ketiga hal itu hadir dalam suatu situasi, misalnya diminta membuat kopi dan mengantarkannya ke kamar kyai, guru laki-laki, senior, atau seseorang yang memiliki kuasa atas dirimu, dan kamu diminta atau sedang sendirian.

Langkah demi Langkah yang Bisa Kita Lakukan

Kembali ke pertanyaan Ning Nabilah: kita diminta membuat kopi dan mengantarkannya ke kamar kyai atau guru laki-laki, sendirian. Apa yang kita lakukan?

Berikut adalah langkah-langkah praktis yang bisa kita ambil, yang bertumpu pada kerangka nilai amanah, khidmah, dan maslahah serta tujuh nilai relasional yang menyertainya.

Langkah pertama: jangan terburu-buru berangkat sendirian.

Kita tidak harus langsung menolak. Menolak secara tiba-tiba dan eksplisit memang terasa berat — terutama ketika kita dibesarkan dalam budaya yang mengajarkan bahwa tidak mematuhi perintah guru berarti durhaka, atau tidak berkhidmah pada kyai akan terkena sumpah dan tidak berkah. Tapi kita tidak harus menolak. Yang perlu kita lakukan lebih sederhana dari itu. Jangan pergi sendirian. Berhenti sejenak. Ambil napas. Dan pikirkan: siapa yang bisa menemani kita?

Langkah kedua: cari teman untuk menemani kita — sebelum berangkat.

Sebelum kita mengambil gelas atau menyalakan kompor, cari dulu seorang teman untuk menemani. Kalimatnya tidak perlu panjang. Cukup misalnya: “Ayo temenin aku, mau antar ke kamar Pak Kyai.”

Tidak perlu penjelasan. Tidak perlu cerita. Cukup ajak teman. Kalau satu orang tidak bisa, cari yang lain. Ini bukan merepotkan — ini adalah ta’awun yang paling konkret. Saling jaga dalam situasi sehari-hari. Dan ini adalah bagian dari ukhuwwah yang sejati: persaudaraan yang tidak membiarkan sesamanya menghadapi situasi rawan sendirian.

Langkah ketiga: kalau tidak ada yang bisa menemani, sampaikan dengan sopan.

Kalau kita tidak berhasil menemukan teman yang bisa pergi bersama, kita bisa menyampaikannya dengan cara yang tetap hormat. Misalnya “Nggih, saya minta izin mengajak teman, biar rame.”

Ini bukan ketidakpatuhan. Ini adalah adab yang benar, yang justru mencerminkan nilai mas’uliyah — tanggung jawab kita terhadap diri sendiri. Guru atau kyai yang memahami nilai-nilai pesantren yang sehat akan mengerti, bahkan mengapresiasinya. Dan kalau responnya justru membuat kita semakin tidak nyaman — itu sendiri adalah informasi yang penting untuk kita catat dan ceritakan kepada orang yang kita percaya.

Langkah keempat: kalau tidak memungkinkan sama sekali, cari cara lain.

Titipkan kopinya kepada orang lain. Minta bantuan teman untuk mengantarkan. Antarkan ke ruang yang lebih terbuka — ruang tamu, beranda, tempat yang bisa terlihat orang. Ada selalu cara lain untuk menyelesaikan tugas itu tanpa kita harus sendirian. Maslahah — kebaikan yang sesungguhnya — tidak pernah menuntut kita menempatkan diri dalam situasi yang berbahaya.

Langkah kelima: catat dalam hati, dan ceritakan kepada orang yang kita percaya

Setelah situasi itu berlalu, jangan simpan sendiri rasa mengganjal yang mungkin kita rasakan. Ceritakan kepada teman karib, kepada ustazah yang kita percaya, kepada siapapun yang kita yakini bisa menyimpan cerita kita dengan baik. Ini bukan memfitnah. Ini adalah mas’uliyah — tanggung jawab kita terhadap diri sendiri dan terhadap teman-teman yang mungkin akan menghadapi situasi yang sama. Dengan bercerita, kita membantu pola itu kita kenali sebelum ia menjadi lebih besar dan lebih berbahaya. Dan ini juga adalah uswah — keteladanan dalam keberanian — yang nilainya tidak lebih kecil dari keteladanan dalam ilmu.

Yang Perlu Kita Ingat tentang Rasa Tidak Nyaman Itu

Salah satu hal yang paling sering membuat kita diam adalah pertanyaan dalam benak kita sendiri: jangan-jangan aku yang berlebihan, jangan-jangan aku yang salah berpikir, jangan-jangan ini memang tugas biasa dan aku terlalu sensitif. Pertanyaan itu wajar. Tapi ada yang perlu kita ingat: rasa tidak nyaman adalah sinyal, bukan aib. Ia bukan tanda bahwa kita lemah atau terlalu sensitif. Ia adalah tanda bahwa sesuatu dalam situasi itu tidak beres — dan tubuh kita menangkapnya bahkan sebelum pikiran kita bisa menjelaskannya.

Dalam bahasa pesantren, kita bisa menyebutnya sebagai bagian dari fitrah yang bekerja. Sinyal bawaan yang membantu kita mengenali bahaya sebelum bahaya itu terjadi. Alarm amanah dan karamah yang ada dalam diri kita. Dengarkan sinyal itu. Jangan matikan. Dan ketika sinyal itu berbunyi, ingatlah bahwa meresponsnya — dengan mencari teman, menyampaikan ketidaknyamanan, atau mencari cara lain — adalah bentuk rahmah kepada diri sendiri: kasih sayang yang paling mendasar, yang Allah titipkan kepada kita bersama fitrah itu.

Praktik Ta’awun dalam Situasi Seperti Ini

Kalau kita bukan yang diminta mengantar kopi itu, tapi kita melihat situasinya — teman yang diminta sendirian, suasana yang terasa tidak biasa — kita punya peran di sana. Tawarkan diri untuk menemani, meski tidak diminta. Kita bisa bilang: “Tunggu, aku temeni deh.”

Dalam kerangka ta’awun, membiarkan teman kita pergi sendirian dalam situasi yang berpotensi berbahaya bukan sikap netral. Ia adalah celah yang seharusnya bisa kita tutup dengan satu langkah sederhana. Dan dalam kerangka ukhuwwah, persaudaraan yang sejati tidak membiarkan saudaranya menghadapi risiko sendirian — ia bergerak, meski tidak diminta, meski tidak ada yang melihat.

Pesantren, Melalui Pengasuh dan Guru, Juga Harus Khidmah

Tulisan ini bukan hanya untuk santri. Ia juga ditujukan kepada siapapun yang memegang peran dan otoritas di pesantren. Jika kita adalah guru atau kyai yang membutuhkan bantuan — termasuk hal-hal kecil seperti minuman atau keperluan pribadi lainnya — pertimbangkan terlebih dahulu. Apakah permintaan ini bisa kita lakukan dengan cara yang tidak menempatkan santri dalam posisi sendirian di tempat tertutup bersama kita?

Dalam kerangka khidmah yang bernafas mubadalah, pengasuh dan para guru juga harus berkhidmah kepada para santri, tidak hanya dalam bentuk mengajar ilmu. Ia juga tentang menjaga kondisi agar santri tidak perlu berada dalam situasi yang rentan. Bahkan dari situasi yang mungkin sama sekali tidak kita niatkan untuk berbahaya. Pengaturan yang aman bukan pertanda buruk sangka. Ia adalah bentuk rahmah yang paling nyata dan uswah yang paling kuat. Keteladanan dalam melindungi, yang mengajarkan lebih banyak dari kata-kata apapun yang kita ucapkan di dalam kelas.

Menjaga Amanah Diri adalah Juga Menjaga Amanah Pesantren

Pertanyaan tentang kopi itu kecil. Tapi ia membuka sesuatu yang besar. Apakah kita benar-benar telah membekali diri kita, dan sesama santri di sekitar kita, dengan keyakinan bahwa diri kita berharga, bahwa tubuh kita adalah amanah, dan bahwa kita memiliki hak sekaligus tanggung jawab untuk menjaganya?

Pesantren yang sesungguhnya adalah pesantren yang menjawab pertanyaan itu dengan ya. Bukan hanya dalam pengajaran, tapi dalam seluruh cara ia menata relasi, mengatur ruang, dan membentuk budayanya sehari-hari. Dan kita — santri, teman, guru, pengasuh, pengelola — masing-masing memegang bagian dari amanah itu.

Menjaga batas (hudud) bukan berarti tidak patuh. Menjaga batas adalah bagian dari menjaga amanah yang paling mendasar. Amanah atas diri kita sendiri, yang Allah titipkan kepada kita sebelum kita dititipkan kepada siapapun di pesantren ini.

Tubuh kita adalah amanah. Jagalah ia, dan bantu sesama kita untuk bisa saling menjaga agar aman dan terbebas dari segala bentuk kekerasan. []

 

Tags: AmanahKekerasan Seksual di PesantrenPanduan Praktis Mengenali dan Menjaga Batas Diri di PesantrenPondok PesantrenRelasi
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Dari Dalam Pesantren, Nawaning Berjihad Lawan Kekerasan Seksual

Next Post

Perempuan Penyandang Disabilitas Juga Memiliki Hasrat dan Hak untuk Dicintai

Faqih Abdul Kodir

Faqih Abdul Kodir

Founder Mubadalah.id dan Ketua LP2M UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Related Posts

Nikah Sirri
Keluarga

Enam Langkah Cerai Sirri bagi Perempuan yang Terjebak Nikah Sirri

16 Juli 2026
Milik Suami
Keluarga

Benarkah Setelah Menikah Perempuan Menjadi Milik Suami?

16 Juli 2026
Tadarus Subuh
Keluarga

Tadarus Subuh ke-197: Ketika Gugatan Cerai Menjadi Exit Option

13 Juli 2026
Perempuan dalam Perkawinan
Personal

Otoritas dan Kerelaan Menjadi Titik Keberdayaan Perempuan dalam Perkawinan

13 Juli 2026
Percaya Pondok Pesantren
Personal

Kami Masih Percaya Pondok Pesantren

11 Juli 2026
Bertumbuh bersama Pesantren
Personal

Bertumbuh Bersama Pesantren: Menjadi Alim, Saleh, dan Kafi

10 Juli 2026
Next Post
Penyandang

Perempuan Penyandang Disabilitas Juga Memiliki Hasrat dan Hak untuk Dicintai

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Menggapai As-Sa’adah: Jalan Kebahagiaan Menurut Imam al-Ghazali
  • Mengapa Perempuan Lebih Rentan Tertular HIV?
  • Lebih Beragam, Lebih Hijau: Mengubah Dunia Lewat Kepemimpinan Beragam Gender
  • Jangan Percaya Mitos, Kenali Fakta tentang HIV dan AIDS
  • Sudah Saatnya Memahami Islam sebagai Sumber Inspirasi

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0