Mubadalah.id – Suatu malam, seorang khalifah memadamkan lampu. Semacam cempor sederhana. Namun, tindakan kecil itu menyimpan makna yang jauh lebih besar daripada sekadar menghemat minyak tanah.
Khalifah Umar bin Abdul Aziz sedang menyelesaikan urusan pemerintahan ketika seorang kerabat datang untuk membicarakan persoalan keluarga. Saat perbincangan bergeser dari urusan negara ke urusan pribadi, beliau segera memadamkan lampu yang minyaknya ia biayai dari baitulmal (kas negara). Setelah itu, Khalifah Umar menyalakan lampu lain dengan minyak yang ia beli dari uangnya sendiri.
Kerabatnya pun terheran-heran. Akan tetapi, Khalifah Umar menjawab dengan tenang, “Lampu itu milik kaum muslimin. Aku tidak berhak menggunakannya untuk kepentingan pribadi.”
Secara materi, yang Khalifah Umar korbankan memang tampak kecil. Namun, yang sesungguhnya beliau korbankan adalah keinginan untuk memanfaatkan kekuasaan demi kenyamanan diri. Di situlah letak makna berkurban. Seseorang memiliki kesempatan untuk mengambil sesuatu, tetapi memilih menahan diri karena sadar bahwa Allah Swt senantiasa mengawasi.
Setiap tahun, pada hari yang sama, pisau diasah, takbir berkumandang, dan daging terbagikan. Semua itu sah dan benar menurut fikih. Hanya saja, Al-Qur’an mengingatkan sesuatu yang sering terlewatkan.
لَنْ يَّنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاۤؤُهَا وَلٰكِنْ يَّنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْۗ كَذٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰىكُمْ ۗ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ
“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaanmu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Berilah kabar gembira kepada orang-orang yang muhsin.” (QS. Al-Ḥajj: 37)
Allah Swt tidak membutuhkan darah dan daging. Yang bernilai di sisi-Nya adalah ketakwaan yang tumbuh dalam diri manusia.
Makna ini semakin terasa ketika menengok kembali peristiwa yang menjadi asal-usul ibadah kurban. Nabi Ibrahim As tidak diperintahkan menyembelih ternak atau mewakafkan harta. Allah Swt memerintahkannya untuk menyembelih Nabi Ismail As, putra yang sangat ia cintai dan hadir setelah penantian panjang.
Nabi Ismail pun menerima perintah itu dengan keteguhan yang luar biasa.
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
“Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, ‘Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?’ Dia (Ismail) menjawab, ‘Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.'” (QS. Aṣ-Ṣāffāt: 102)
Peristiwa itu sesungguhnya telah selesai sebelum pisau menyentuh leher Nabi Ismail. Yang lebih dahulu dikorbankan adalah keterikatan hati Nabi Ibrahim terhadap putra yang paling ia cintai.
Dari kisah ini, muncul pertanyaan yang patut kita ajukan kepada diri sendiri. Apa yang selama ini tergenggam terlalu erat?
Setiap orang memiliki “Ismail” masing-masing. Ada yang berupa harta yang terus bertumpuk meski sudah lebih dari cukup. Lalu ada yang berupa dendam yang dipelihara bertahun-tahun. Ada pula gengsi yang membuat seseorang enggan meminta maaf kepada pasangan, anak, atau saudara. Sebagian orang sulit menerima koreksi, meski dalam hati mengetahui bahwa pendapatnya keliru.
Semua itu dapat menguasai hati tanpa kita sadari. Mengorbankannya tidak memerlukan panitia atau biaya besar. Yang kita perlukan adalah kejujuran untuk mengakui dan keberanian untuk melepaskan.
Kurban juga mengajarkan bahwa kepedulian yang pilih kasih perlu ditinggalkan.
Daging kurban memang selalu terbagikan. Namun, penyalurannya sering berputar di lingkungan yang sudah akrab, seperti kerabat, tetangga dekat, dan orang-orang yang namanya telah tercatat. Padahal, ada orang-orang yang hidup dalam kekurangan, tetapi tidak pernah meminta dan jarang terlihat.
Sering kali, orang yang paling membutuhkan justru tidak tersentuh. Karena itu, kurban mengajarkan agar kepedulian tidak berhenti pada lingkaran yang terasa nyaman. Hal lain yang juga sering luput adalah cara memperlakukan alam dan hewan dalam pelaksanaan ibadah kurban.
Rasulullah Muhammad Saw memerintahkan agar pisau terasah tajam supaya hewan tidak tersiksa. Nabi Saw juga melarang penyembelihan di hadapan hewan lain serta menekankan agar seluruh proses kita lakukan dengan penuh tanggung jawab.
Ajaran ini menunjukkan bahwa ibadah harus terlaksana dengan kasih sayang dan rasa hormat terhadap makhluk Allah Swt. Jika lingkungan menjadi kotor, limbah kita biarkan berserakan, dan hewan kita perlakukan secara sembarangan, berarti ada yang perlu kita benahi.
Bumi adalah amanah yang harus dijaga.
Rasa memiliki yang berlebihan, kepedulian yang terbatas, dan sikap abai terhadap lingkungan adalah tiga hal yang patut kita korbankan. Untuk melakukannya tidak membutuhkan seekor hewan, tetapi kesediaan untuk berubah.
Nabi Ibrahim kita kenang bukan karena ketajaman pisaunya. Beliau menjadi teladan karena kesediaannya melepaskan sesuatu yang paling ia cintai demi menaati perintah Allah Swt.
Jika pada Iduladha ini ada satu saja sifat buruk yang benar-benar berhasil kita tinggalkan, ibadah kurban tidak berhenti di halaman masjid. Nilainya akan terus hidup dalam sikap dan tindakan sehari-hari hingga Dzulhijjah berikutnya tiba. Wallahu a’lam bis-shawab. []
*Disampaikan pada Safari Dakwah dalam rangka menyambut Iduladha 1447 H, di Yayasan Jam’iyyah Badaruddin Al Bayhaqi, Sri Menanti, Kecamatan Sungailiat, Kabupaten Bangka, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung, Ahad, 17 Mei 2026.











































