Untuk putriku tersayang ** Mubadalah.id - Delapan belas tahun lagi mungkin ayahmu akan memberikan surat ini padamu. Dan kemungkinan besar...
Read moreDetails“Bu, bisakah kau menemaniku?” “Maaf nak, ibu sedikit sibuk. Ibu perlu memberi makan Sona lalu memandikannya. Kita mungkin bisa bermain...
Read moreDetailsMubadalah.id - Pertanyaan yang paling aku benci adalah, "apa yang kau kerjakan setiap hari?" Ini sama menyebalkannya seperti ketika kita...
Read moreDetailsMubadalah.id - Secangkir kopi panas mendarat di meja kafe yang ramai pengunjung. Ada yang membawa laptop dengan pandangan penuh tugas,...
Read moreDetailsMubadalah.id - Aku sebenarnya bukan orang yang gugup. Itu hanya anggapan mereka yang belum mengerti tentang kehidupanku. "Apakah kau mau...
Read moreDetailsKekasih Musim Paceklik Mengenangmu seperti kehilangan kekasih di musim paceklik ketika tikus-tikus subur makmur di lumbung padi sarang miras...
Read moreDetailsMubadalah.id - Ini bercerita tentang kecantikan Perempuan di Empat Suku. Kisah Gemintang, Meymey, Rosa, dan Fatimah yang ingin terlihat dan...
Read moreDetailsMubadalah.id - ANAK itu bernama Habibi. Semua kawan di sekolah mengenalnya sebagai anak dengan fobia paling aneh. Sekujur badannya mengalir...
Read moreDetailsMubadalah.id - “Kayanya tahun baru kali ini hujan ya.” Ibu memulai percakapan di tengah perjalanan kami menuju Flower Market, tempat...
Read moreDetailsMubadalah.id- Ini kisah tentang 40 hari terakhir ketika aku telah tiada. Drrrtttt, drrrttt.... Waktu menunjukkan pukul 03.30 WIB. Kudengar alarm...
Read moreDetails Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0
Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0