Selasa, 14 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    The Personal is Political

    Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!

    Tadarus Subuh

    Tadarus Subuh ke-197: Ketika Gugatan Cerai Menjadi Exit Option

    Makna Tahrīr

    Dari Pembebasan ke Pembebasan Lain: Evolusi Makna Tahrīr

    Normal

    Ketika Normal Menjadi Diskriminasi

    Perempuan dalam Perkawinan

    Otoritas dan Kerelaan Menjadi Titik Keberdayaan Perempuan dalam Perkawinan

    Pesantren yang Aman

    Dari Epistemic Injustice Menuju Epistemic Partnership: Jalan Membangun Pesantren yang Aman

    Kreator Disabilitas

    Belajar Ketangguhan dari Kreator Disabilitas Tanpa Meromantisasi Penderitaan

    Merawat Kesehatan Mental

    Merawat Kesehatan Mental Dimulai dari Rumah

    Poskolonialisme

    Poskolonialisme dan Rekolonialisme: Europe’s Dance dalam Piala Dunia 2026

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Alat Kelamin

    Jangan Anggap Sepele, Kenali Penyebab Gatal dan Kutil di Alat Kelamin

    Cairan Vagina

    Apa Saja Penyebab Munculnya Cairan Vagina yang Tidak Normal?

    Cairan Vagina

    Kenali Penyebab Cairan Vagina yang Tidak Normal dan Cara Mewaspadainya

    Penyakit Menular Seksual

    Terlanjur Tertular Penyakit Seksual? Ini 6 Langkah yang Perlu Anda Lakukan

    Penyakit yang menular

    Penyakit Menular Seksual Bisa Menyerang Siapa Saja, Ini Gejala dan Faktor Risikonya

    Penyakit yang Menular

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Terkena Penyakit Menular Seksual?

    Kitab Al-Ajurumiyah

    Keikhlasan yang Menembus Zaman: Refleksi Keberkahan Kitab Al-Ajurumiyah

    Penyakit yang Menular

    6 Dampak Serius Penyakit Menular Seksual Jika Terlambat Diobati

    Tetanus

    Kenali Tanda Bahaya Setelah Aborsi, dari Tetanus hingga Luka Dalam

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    The Personal is Political

    Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!

    Tadarus Subuh

    Tadarus Subuh ke-197: Ketika Gugatan Cerai Menjadi Exit Option

    Makna Tahrīr

    Dari Pembebasan ke Pembebasan Lain: Evolusi Makna Tahrīr

    Normal

    Ketika Normal Menjadi Diskriminasi

    Perempuan dalam Perkawinan

    Otoritas dan Kerelaan Menjadi Titik Keberdayaan Perempuan dalam Perkawinan

    Pesantren yang Aman

    Dari Epistemic Injustice Menuju Epistemic Partnership: Jalan Membangun Pesantren yang Aman

    Kreator Disabilitas

    Belajar Ketangguhan dari Kreator Disabilitas Tanpa Meromantisasi Penderitaan

    Merawat Kesehatan Mental

    Merawat Kesehatan Mental Dimulai dari Rumah

    Poskolonialisme

    Poskolonialisme dan Rekolonialisme: Europe’s Dance dalam Piala Dunia 2026

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Alat Kelamin

    Jangan Anggap Sepele, Kenali Penyebab Gatal dan Kutil di Alat Kelamin

    Cairan Vagina

    Apa Saja Penyebab Munculnya Cairan Vagina yang Tidak Normal?

    Cairan Vagina

    Kenali Penyebab Cairan Vagina yang Tidak Normal dan Cara Mewaspadainya

    Penyakit Menular Seksual

    Terlanjur Tertular Penyakit Seksual? Ini 6 Langkah yang Perlu Anda Lakukan

    Penyakit yang menular

    Penyakit Menular Seksual Bisa Menyerang Siapa Saja, Ini Gejala dan Faktor Risikonya

    Penyakit yang Menular

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Terkena Penyakit Menular Seksual?

    Kitab Al-Ajurumiyah

    Keikhlasan yang Menembus Zaman: Refleksi Keberkahan Kitab Al-Ajurumiyah

    Penyakit yang Menular

    6 Dampak Serius Penyakit Menular Seksual Jika Terlambat Diobati

    Tetanus

    Kenali Tanda Bahaya Setelah Aborsi, dari Tetanus hingga Luka Dalam

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Tidak Ada Kurban Iduladha di Australia

Pembatasan penyembelihan hewan kurban merupakan kebijakan pemerintah terkait dengan jaminan kesejahteraan hewan (animal welfare)

Hijroatul Maghfiroh by Hijroatul Maghfiroh
27 Mei 2026
in Publik, Rekomendasi
A A
0
Kurban Iduladha

Kurban Iduladha

35
SHARES
1.7k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Apa yang paling menarik dari perayaan Iduladha? Tentu jawabannya ialah penyembelihan dan pembagian daging hewan kurban. Seusai salat Id, anak-anak biasanya akan meramaikan masjid untuk menyaksikan hewan-hewan yang akan dikurbankan. Sementara itu, panitia kurban yang biasanya dibentuk dadakan mulai sibuk mempersiapkan lokasi penyembelihan, menghubungi juru jagal, dan membagikan daging kurban kepada masyarakat.

Di hari-hari spesial itu, asap dari dapur-dapur warga mengepul menyebarkan aroma yang sama. Orang-orang, terutama di desa, bersukacita menikmati menu-menu daging istimewa yang bagi sebagian besar mereka hanya bisa dinikmati pada Iduladha.

Hiruk pikuk kurban  Iduladha tersebut sepertinya hanya terjadi di Indonesia, atau negara-negara lain yang berpenduduk mayoritas muslim. Di Australia, Idul Adha tidak diramaikan dengan anak-anak yang bersukacita menyaksikan hewan kurban digiring ke masjid-masjid. Tidak kita temui pula kesibukan panitia kurban mengolah dan membagikan daging kepada warga.

Muslim Australia biasanya hanya sibuk membincang kapan pelaksanaan salat Iduladha. Tidak ada perbincangan siapa saja yang berkurban, berapa jumlah kurbannya, dan hewan apa saja yang dikurbankan. Seusai salat Id, mereka akan kembali ke aktivitas masing-masing, apalagi jika Iduladha jatuh di hari kerja.

Sebagai salah satu negara tujuan imigran, Australia ialah rumah kedua bagi komunitas muslim dari negara-negara berpenduduk mayoritas Islam seperti Libanon, Turki, Afghanistan, Pakistan, Bosnia, Iran, Somalia, dan tentu saja, Indonesia. Para imigran itu datang dari negara-negara yang sedang berjuang, baik untuk keamanan maupun kesejahteraan.

Di Australia, komunitas muslim umumnya mendapatkan kehidupan yang layak. Setidaknya jika kita bandingkan dengan saat mereka masih tinggal di negara asal masing-masing. Dengan kondisi hidup yang lebih baik itu, muslim di Australia sudah terbiasa mengonsumsi daging setiap hari; dan bukanlah hal yang istimewa lagi. Daging sudah menjadi menu keseharian biasa, lauknya tahu-tempe bagi masyarakat Indonesia. Situasi itu memengaruhi cara muslim Australia melaksanakan kurban.

Mekanisme kurban dan penyalurannya

Skema donasi untuk kurban cukup beragam, misalnya yang Islamic Relief tawarkan melalui website mereka Islamicrelief.org.au. Lembaga itu membuat empat grup kurban dari A sampai D yang masing-masingnya memiliki daftar negara-negara tujuan alokasi daging kurban dengan harga yang berbeda. Harga termurah di grup A, yaitu A$99 dengan tujuan penyaluran ke Mali, Nigeria, dan Malawi. Banderol harga termahal ada di grup D, yakni sebesar A$500 yang akan mereka berikan kepada masyarakat muslim di Irak, Yordania, dan Turki.

Konon, perbedaan harga tersebut terpengaruhi harga hewan ternak di negara tempat penyembelihan dan biaya distribusinya. Lembaga sosial yang sudah terdaftar di pemerintahan Australia itu juga mengembangkan sendiri daftar kategori penerima hewan kurban. Mereka ialah keluarga dengan penghasilan di bawah standar, perempuan kepala keluarga atau single mother.

Lalu keluarga yang memiliki orang lansia dan/atau anggota penyandang disabilitas, hingga keluarga dengan balita, ibu hamil, serta keluarga yang memiliki keterbatasan akses ke pasar atau tempat umum. Dari skema dan informasi yang tersajikan tersebut, Islamic Relief pada 2022 mampu menyalurkan daging kurban kepada 4 juta orang dengan kerentanan di 30 negara.

Praktik kurban dengan berdonasi tersebut juga dilakukan di negara-negara Eropa seperti Belanda. Sebagai organisasi sosial internasional, Islamic Relief juga beroperasi di Belanda. Seperti halnya di Australia, di Belanda, organisasi kemanusiaan bermarkas di Inggris itu juga menawarkan donasi kurban melalui website resmi mereka yang berbahasa Belanda.

Donasi Kurban secara Online

Berbeda dengan tawaran di Australia, di ‘Negeri Kincir Angin’ yang Islam sebagai agama terbesar kedua penduduknya, Islamic Relief menawarkan lima grup dari A sampai E, dengan negara-negara tujuan yang berbeda dari yang ditawarkan di Australia. Salah satu grup yang mereka tawarkan ialah beberapa negara dengan kerentanan seperti pengungsi Suriah dan Gaza. Grup itu terbanderol dengan harga termahal di antara empat grup lainnya, yaitu 300 euro.

Di kedua negara, Australia dan Belanda, tidak hanya Islamic Relief yang menawarkan donasi kurban secara online. Masih banyak organisasi kemanusiaan berbasis Islam yang memiliki program donasi kurban serupa. Lembaga-lembaga sosial tersebut menyajikan paket kurban lengkap dengan harga dan negara-negara tujuan penyaluran yang satu sama lain berbeda, tetapi semuanya tersalurkan ke negara-negara yang penduduknya benar-benar membutuhkan.

Beberapa muslim Australia ada yang memilih kurban di Australia, tetapi mereka tidak bisa melakukan penyembelihan kurban di sembarang tempat dengan sembarang orang. Kurban biasanya dilakukan ahli potong hewan (butcher) muslim yang tesertifikasi di tempat tertutup. Praktik semacam itu juga terjadi di Belanda.

Secara individu, sebagian kecil muslim Belanda memilih melaksanakan kurban di kota tempat tinggal mereka di Belanda. Mereka berkurban dengan hanya menitipkan uang di toko-toko daging halal yang dimiliki muslim. Kemudian mereka belikan hewan kurban dan sekaligus penyembelihannya. Mereka yang berkurban bahkan tidak menyaksikan langsung hewan kurban. Mereka hanya menerimanya setelah berbentuk daging yang siap terdistribusikan.

Kesejahteraan hewan

Kenapa di Australia melakukan praktik kurban tidak di masjid atau tempat umum terbuka lainnya? Apakah pemerintah Australia membatasi praktik beribadah komunitas muslim? Tentu tidak. Berbeda dengan negara-negara sekuler yang membatasi ekspresi keberagamaan di tempat publik, Australia sebenarnya cukup fleksibel dengan memberikan kelonggaran bagi penduduk mereka dalam beragama, termasuk dalam pelaksanaan ritual keagamaan.

Pembatasan penyembelihan hewan kurban merupakan kebijakan pemerintah terkait dengan jaminan kesejahteraan hewan (animal welfare), yang mereka atur secara ketat di bawah Departemen Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Australia. Peraturan tersebut tidak hanya berlaku bagi penyembelihan hewan kurban, tetapi juga praktik penyembelihan hewan lainnya.

Sebagai salah satu negara eksportir daging dan hewan sembelihan terbesar kedua di dunia, Australia sangat serius memastikan dan menjamin hewan-hewan ternaknya mendapatkan perlakuan yang layak. Sejak dalam proses peternakan, pengiriman, hingga perlakuan ketika akan disembelih dan kebersihan daging hasil sembelihan.

Animal Welfare Task Group (AWTG)

Saking seriusnya, pemerintah Australia membentuk satuan tugas khusus yang menangani kesejahteraan hewan yang disebut Animal Welfare Task Group (AWTG). Institusi itu bertugas menjamin hewan-hewan ternak mendapat perlakuan sesuai dengan standar dalam panduan kesejahteraan hewan.

Terkait dengan hewan kurban, sebagai negara pengirim hewan sembelihan ke negara-negara muslim seperti Arab Saudi, Kuwait, Mesir, dan negara berpenduduk muslim lainnya, pemerintah Australia pernah mendapati peningkatan pengiriman hewan ke negara-negara muslim setiap Iduladha, yang pengirimannya tidak terdaftar secara resmi.

Kasus itu sempat menjadi perhatian serius mengingat pengiriman hewan yang tidak sesuai dengan prosedur akan mengganggu kondisi hewan dalam perjalanan. Hewan-hewan yang terkirim secara ilegal biasanya tidak mendapatkan perlakuan yang standar. Mereka tidak mendapat makanan dan minuman yang memadai, hewan-hewan tidak mendapat oksigen yang cukup, untuk meminimalkan stres selama di perjalanan.

Dalam proses penyembelihan, pemerintah Australia sangat menghindari penyiksaan hewan. Untuk itu, pemerintah menganjurkan agar melakukan proses penyembelihan semudah mungkin, dengan rasa sakit seminimal mungkin. Itulah alasan mengapa melakukan penyembelihan hewan harus seorang ahli yang tesertifikasi.

Belajar pelaksanaan kurban ala Australia

Sejak selesainya pelaksanaan salat Id, gambar-gambar euforia kurban hilir mudik di lini masa sosial media kita. Gambar-gambar proses penyembelihan yang tidak ramah anak, prosesi pemotongan terpamerkan sedemikian rupa hingga mengesankan selebrasi pada kekerasan. Selain itu, kita temukan jumlah daging menumpuk pada satu kelompok sementara minim pada jemaah yang lain.

Sebagian orang, termasuk saya, melihat hal-hal demikian sebagai sesuatu yang wajar. Jika sedikit saja kita bisa mengambil jarak, merenung dan berpikir lebih kritis, niscaya akan tersadar bahwa ada persoalan besar di balik perayaan yang demikian. Ada potensi trauma pada anak-anak di balik darah yang berceceran dan potongan-potongan daging yang berserakan.

Tanpa kita sadari, ada mudarat potensi yang membahayakan kesehatan pada pengelolaan daging yang tidak higienis. Ketika beberapa orang, atau kelompok mendapat bagian daging melimpah, tanpa kita sadari ada saudara sesama muslim yang tidak berkesempatan menikmati gurihnya daging kurban.

Mekanisme berkurban di Australia mengajarkan kepada kita setidaknya tiga hal. Pertama, tata kelola yang terorganisasi dengan rapi, penghargaan pada kesejahteraan hewan, dan terakhir penjangkauan kepada penerima manfaat yang lebih luas. Tiga hal itu sekaligus dapat menjadi jawaban atas beberapa tantangan tata kelola kurban di Indonesia. Tata kelola kurban yang profesional akan memberikan kepuasan bagi yang si empunya hajat.

Kurban, momentum menjangkau umat lebih luas

Itu juga dapat menghindarkan dari prasangka dan fitnah pada seluruh proses kurban. Potensi timbulnya penyakit bawaan binatang kurban atau akibat buruknya pengelolaan daging bisa kita minimalkan dengan aturan jaminan kesejahteraan hewan. Kemudian terakhir, pembagian daging yang tidak merata dan tidak proporsional dapat terhindari dengan pembagian daging kurban yang berorientasi pada asas pemerataan, dan prioritas berbasis kebutuhan seperti yang telah lembaga-lembaga penyalur kurban lakukan di Australia.

Aturan penyembelihan dan tata kelola daging yang pemerintah Australia buat sebenarnya bukan sesuatu yang baru dan telah diatur dalam syariat Islam. Begitu juga tata kelola pengadministrasian kurban yang dilakukan lembaga-lembaga profesional atau nirlaba di Australia. Nilai-nilai dari semua itu telah lengkap dalam tradisi Islam. Syara’ telah memosisikan binatang sembelihan begitu mulia dengan syarat dan rukunnya. Tanpa memperhatikan aturan syariat, niscaya daging menjadi bangkai yang haram terkonsumsi.

Demikian juga, dengan profesionalisme pengelola kurban di Australia. Dari mereka kita belajar bahwa kurban bukan hanya perkara menyembelih binatang dan membagi daging. Lebih jauh dari itu, kurban ialah momentum menjangkau umat yang lebih luas. Kurban juga tempat muslim yang lebih sejahtera dapat berbagi bahagia dengan sebenar-benarnya. Juga tempat orang-orang yang telah lama terasing kembali pada komunitas mereka. []

*)Artikel yang sama pernah dimuat di Laman Media Indonesia, dengan judul yang sama.

 

 

Tags: AustraliaHari Raya Iduladha 1447 HIbadah KurbanKurban Iduladhamuslim
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

Next Post

Takbir, Kurban dan Kebaikan untuk Semua: Meneladani Ibrahim, Ismail dan Hajar

Hijroatul Maghfiroh

Hijroatul Maghfiroh

Saat ini sedang menempuh studi di bidang Sustainability and Environmental Studies di Macquarie University, Australia. Ia adalah pendiri Eco-Peace Indonesia, sebuah inisiatif lintas iman untuk pendidikan lingkungan bagi generasi muda. Sebelumnya, ia menjabat sebagai Program Manager Lingkungan dan Perubahan Iklim di LPBI-PBNU (2010–2022). Selain itu, ia juga penulis buku Dakwah Ekologi: Panduan Penceramah Agama tentang Akhlak pada Lingkungan

Related Posts

Idul Kurban
Publik

Di Mana Ismail Hari Ini? Menafsir Ulang Esensi Idul Kurban

30 Mei 2026
Hajar
Personal

Hajar Tidak Mewariskan Luka

30 Mei 2026
Iduladha
Aktual

Semesta Raya Iduladha: Semarang, Pasuruan, Aceh, hingga Bangladesh

29 Mei 2026
Ibrahim
Hikmah

Pisau Ibrahim dan Rahasia Kerelaan Hati: Refleksi Hari Kurban

29 Mei 2026
Ibadah Kurban
Keluarga

Ibadah Kurban dan Gaya Parenting ala Nabi Ibrahim

28 Mei 2026
Iduladha
Personal

Mencatat Luka-luka Gen Z di Balik Perayaan Iduladha di Negeri Kapitalis

28 Mei 2026
Next Post
Takbir

Takbir, Kurban dan Kebaikan untuk Semua: Meneladani Ibrahim, Ismail dan Hajar

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Jangan Anggap Sepele, Kenali Penyebab Gatal dan Kutil di Alat Kelamin
  • Tadarus Subuh ke-197: Ketika Gugatan Cerai Menjadi Exit Option
  • Apa Saja Penyebab Munculnya Cairan Vagina yang Tidak Normal?
  • Dari Pembebasan ke Pembebasan Lain: Evolusi Makna Tahrīr

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0