Mubadalah.id – Ungkapan, “Ujung-ujungnya juga cuma di dapur, sumur, dan kasur. Jadi, buat apa sekolah tinggi-tinggi?” mungkin terdengar sebagai pandangan yang sudah usang. Namun, dalam kenyataannya, stigma tersebut masih kerap ditemui di berbagai lapisan masyarakat. Tidak sedikit perempuan yang hingga kini masih menghadapi anggapan bahwa pendidikan tinggi bukanlah sesuatu yang penting bagi mereka.
Cara pandang tersebut lahir dari konstruksi budaya yang menempatkan perempuan pada ranah domestik. Perempuan dipandang memiliki tugas utama mengurus rumah tangga, melayani suami, serta mengasuh anak. Sementara laki-laki dianggap sebagai pencari nafkah dan pemegang peran utama di ruang publik.
Akibatnya, kesempatan perempuan untuk memperoleh pendidikan yang lebih tinggi sering kali dipandang sebagai sesuatu yang tidak terlalu mendesak.
Bahkan, dalam beberapa kasus, keluarga memilih memprioritaskan pendidikan anak laki-laki dibanding anak perempuan karena menganggap laki-laki akan menjadi tulang punggung keluarga.
Padahal, pendidikan bukan hanya bertujuan mempersiapkan seseorang memasuki dunia kerja. Pendidikan juga membentuk cara berpikir, meningkatkan kemampuan mengambil keputusan, memperluas wawasan, serta memperkuat kapasitas seseorang dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Ironisnya, di sisi lain perempuan justru dituntut menjadi sosok yang mampu menjaga kehormatan diri dan keluarganya, mendidik anak, membangun keluarga yang harmonis, hingga berperan aktif dalam kehidupan sosial.
Berbagai tanggung jawab tersebut tentu membutuhkan bekal pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan berpikir yang baik, yang salah satunya diperoleh melalui pendidikan.
Era Digital
Di era digital ini, kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang berkualitas semakin meningkat. Perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan informasi menuntut setiap individu untuk terus belajar dan mengembangkan diri, tanpa memandang jenis kelamin.
Baik laki-laki maupun perempuan memiliki kesempatan yang sama untuk berkontribusi dalam pembangunan masyarakat.
Meski demikian, stereotip mengenai perempuan masih terus bertahan. Berbagai pekerjaan domestik, seperti memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan mengasuh anak, masih sering dianggap sebagai tanggung jawab utama perempuan.
Pembagian peran tersebut kemudian melahirkan anggapan bahwa pendidikan tinggi tidak terlalu ia perlukan. Karena pada akhirnya ia akan kembali ke ranah domestik.
Dalam buku Girl (All About Girls) karya Ristiana Yani Puspita menjelaskan bahwa masih terdapat perempuan yang enggan melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Sebagian dari mereka beranggapan bahwa kemampuan memasak, berhias, dan mengurus rumah tangga sudah cukup sebagai bekal utama menjadi perempuan.
Cara pandang tersebut menunjukkan bahwa masih ada pemahaman yang membatasi makna pendidikan bagi perempuan.
Padahal, perempuan memiliki potensi yang sama besarnya dengan laki-laki untuk mengembangkan ilmu pengetahuan, berkarya, memimpin, maupun berkontribusi dalam berbagai bidang kehidupan. Kemampuan perempuan mencakup berbagai profesi dan bidang keahlian yang memberikan manfaat luas bagi masyarakat.
Tokoh Perempuan
Berbagai tokoh perempuan di dunia telah membuktikan bahwa pendidikan mampu membuka jalan bagi lahirnya perubahan sosial. Salah satunya adalah Shirin Ebadi, seorang pengacara dan aktivis hak asasi manusia asal Iran yang menerima Hadiah Nobel Perdamaian pada 10 Desember 2003 di Oslo, Norwegia.
Melalui pendidikan dan keahliannya di bidang hukum, Shirin Ebadi memperjuangkan hak-hak perempuan dan anak, membela korban pelanggaran hak asasi manusia, serta mendorong terwujudnya keadilan di negaranya.
Kiprahnya menunjukkan bahwa perempuan yang memperoleh akses pendidikan dapat memberikan kontribusi besar, tidak hanya bagi hidupnya sendiri. Tetapi juga bagi masyarakat, bangsa, bahkan dunia.
Contoh tersebut menjadi bukti bahwa pendidikan bukan sekadar sarana memperoleh ijazah. Melainkan investasi jangka panjang yang memungkinkan seseorang mengembangkan potensi terbaiknya.
Ketika perempuan memperoleh kesempatan belajar yang setara, manfaatnya juga akan dirasakan oleh keluarga, karena perempuan memiliki peran penting dalam mendidik generasi berikutnya.
Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa peningkatan tingkat pendidikan perempuan berkaitan erat dengan meningkatnya kualitas kesehatan keluarga, kesejahteraan ekonomi rumah tangga, serta kualitas pendidikan anak. Dengan kata lain, pendidikan perempuan memberikan dampak yang luas terhadap pembangunan sosial.
Sudah Tidak Relevan
Karena itu, pandangan yang menganggap perempuan tidak perlu mengenyam pendidikan tinggi sudah tidak lagi relevan dengan perkembangan zaman. Pendidikan merupakan hak setiap warga negara tanpa membedakan jenis kelamin.
Laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki kesempatan untuk belajar, mengembangkan kemampuan, serta memberikan kontribusi terbaik bagi masyarakat.
Mendorong perempuan memperoleh pendidikan setinggi mungkin bukan berarti mengabaikan peran mereka dalam keluarga.
Sebaliknya, pendidikan justru memperkuat kapasitas perempuan dalam menjalankan berbagai peran. Baik sebagai anggota keluarga, warga masyarakat, maupun sebagai bagian dari pembangunan bangsa.
Maka dari itu, kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh tingginya tingkat pendidikan laki-laki. Tetapi juga oleh sejauh mana perempuan memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar, berkarya, dan mengembangkan seluruh potensi yang mereka miliki. []








































