Selasa, 16 Juni 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Muharram

    Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Iduladha

    Semesta Raya Iduladha: Semarang, Pasuruan, Aceh, hingga Bangladesh

    Lukman

    Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Poskolonialisme: Kala Sepakbola Turut Mendekonstruksi Tatanan Hegemonik

    Perempuan Bekerja

    Bolehkah Perempuan Bekerja di Ruang Publik?

    Disabilitas bukan lelucon

    Disabilitas Bukan Lelucon: Menimbang Etika Konten Kreator di Media Sosial

    mahasiswa difabel

    Siapa yang Harus Beradaptasi: Mahasiswa Difabel atau Kampus?

    Relasi Mubadalah

    Gelas Kosong dan Sayap yang Sinkron: Paradoks Kekuatan dalam Relasi Mubadalah

    Rahim

    Yang Tak Kita Pahami dari Rahim Copot, Puting Putus, dan Payudara Meledak

    Hak Untuk Bosan

    Hak untuk Bosan: Mengapa Difabel Tidak Harus Selalu Menginspirasi?

    Qana'ah

    Qana’ah, Kelas Menengah dan Fantasi Menjadi Orang Kaya

    Kesetaraan Anak laki-laki dan Perempuan

    Mengajarkan Kesetaraan Pada Anak Laki-laki dan Perempuan Sejak Dini

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Diafragma

    Cara Kerja Diafragma dalam Mencegah Kehamilan

    Mengenal Kondom

    Mengenal Kondom Perempuan

    Kondom

    Tips Menggunakan Kondom agar Tidak Mudah Sobek dan Bocor

    Metode Kondom

    Kondom: Metode KB yang Efektif Cegah Kehamilan dan HIV/AIDS

    KB

    Hak Perempuan Memilih KB: Kenali 5 Metode dan 9 Pertimbangannya

    Ber-KB

    Cara Meyakinkan Suami tentang Pentingnya Ber-KB

    Menuju Muharram

    Menuju Muharram dan Panggilan untuk Introspeksi Jejak Spiritual

    KB

    Keluarga Berencana (KB) dan Hak Perempuan atas Tubuh

    Kehamilan dan

    Mengapa Menunda Kehamilan Dapat Meningkatkan Kualitas Hidup Keluarga?

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Muharram

    Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Iduladha

    Semesta Raya Iduladha: Semarang, Pasuruan, Aceh, hingga Bangladesh

    Lukman

    Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Poskolonialisme: Kala Sepakbola Turut Mendekonstruksi Tatanan Hegemonik

    Perempuan Bekerja

    Bolehkah Perempuan Bekerja di Ruang Publik?

    Disabilitas bukan lelucon

    Disabilitas Bukan Lelucon: Menimbang Etika Konten Kreator di Media Sosial

    mahasiswa difabel

    Siapa yang Harus Beradaptasi: Mahasiswa Difabel atau Kampus?

    Relasi Mubadalah

    Gelas Kosong dan Sayap yang Sinkron: Paradoks Kekuatan dalam Relasi Mubadalah

    Rahim

    Yang Tak Kita Pahami dari Rahim Copot, Puting Putus, dan Payudara Meledak

    Hak Untuk Bosan

    Hak untuk Bosan: Mengapa Difabel Tidak Harus Selalu Menginspirasi?

    Qana'ah

    Qana’ah, Kelas Menengah dan Fantasi Menjadi Orang Kaya

    Kesetaraan Anak laki-laki dan Perempuan

    Mengajarkan Kesetaraan Pada Anak Laki-laki dan Perempuan Sejak Dini

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Diafragma

    Cara Kerja Diafragma dalam Mencegah Kehamilan

    Mengenal Kondom

    Mengenal Kondom Perempuan

    Kondom

    Tips Menggunakan Kondom agar Tidak Mudah Sobek dan Bocor

    Metode Kondom

    Kondom: Metode KB yang Efektif Cegah Kehamilan dan HIV/AIDS

    KB

    Hak Perempuan Memilih KB: Kenali 5 Metode dan 9 Pertimbangannya

    Ber-KB

    Cara Meyakinkan Suami tentang Pentingnya Ber-KB

    Menuju Muharram

    Menuju Muharram dan Panggilan untuk Introspeksi Jejak Spiritual

    KB

    Keluarga Berencana (KB) dan Hak Perempuan atas Tubuh

    Kehamilan dan

    Mengapa Menunda Kehamilan Dapat Meningkatkan Kualitas Hidup Keluarga?

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

Kisah Alvin Faiz, dan Kesadaran Tentang tidak Menikah Muda

Kisah Alvin Faiz -salah satu dari sekian ribu orang yang dulu pernah mengkampanyekan nikah muda- mengajarkan satu hal penting:  nyatanya menjalani sebuah ikatan pernikahan tak pernah semudah mempromosikannya.

Rezha Rizqy Novitasary by Rezha Rizqy Novitasary
21 Juni 2021
in Personal
A A
0
Menikah

Menikah

8
SHARES
423
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Bagi saya, menikah di usia berapapun, entah di usia muda, di usia matang, atau bahkan memilih untuk hidup sendiri adalah kebebasan setiap individu. Orang tak bisa disebut berprestasi hanya karena menikah duluan dibanding kawan seangkatannya. Pun juga orang tak bisa disebut paling gagal hanya karena namanya masuk dalam deretan nama-nama single yang tersisa dari sebuah komunitas. Semua punya pilihan hidup masing-masing yang tak pernah lepas dari latar belakang dirinya, keluarga, maupun keadaan lain yang tak pernah benar-benar dipahami orang lain.

Selepas kuliah, saya memutuskan untuk bekerja menjadi pendidik di daerah tertinggal. Saya menikmati peran, keadaan, dan kesempatan mengenal dunia luar yang saya hadapi. Hal itu adalah pengalaman terbaik yang pernah saya miliki.

Saya melongo ketika salah seorang rekan saya yang sudah bertunangan dan hendak menikah tiba-tiba mewanti-wanti saya tanpa diminta. Dia bilang nikah harus ditarget biar nggak kebablasan. Ia terus menyerang saya dengan sederet nasihat basi yang sayangnya tak bisa saya bantah demi menjaga hubungan pertemanan. Nasihat itu hanya masuk telinga kiri saya, mampir sebentar untuk menambah sesak di dada, hingga akhirnya saya putuskan untuk membuangnya melalui telinga kanan.

Bertahun setelah kejadian itu, saat saya kembali mengajar di sekolah lain. Saya merasakan hal serupa. Kali itu pelakunya bukan lagi rekan saya. Ia sudah sibuk dengan keluarga baru dan anak balitanya. Suara itu kembali terdengar dari murid saya. Ya, murid saya. Duh, murid saya yang usia SMA itu loh, menasihati saya agar segera punya suami. Mereka bilang saya harus segera menikah sebelum keduluan mereka.

Nah, ya untung saya sudah jadi guru yang amat menyayangi mereka. Kalau tidak tentu saya sudah emosi duluan. Usia saya dengan mereka terlampau jauh, sekitar sepuluh tahun. Adanya rentang usia sejauh itu membuat saya bisa menepis kalimat tersebut dengan mudah. Dengan amat yakin saya menegaskan bahwa saya pasti lebih duluan menikah daripada mereka.

Cerita ini masih terus berlanjut. Kali itu mereka sudah naik ke kelas dua belas. Dan ndilalah saya juga masih single. Tapi, jujur sejujurnya, di usia itu saya belum pernah punya pikiran untuk menikah. Saya masih menikmati masa untuk mengeksplorasi diri. Selain itu, saya belum benar-benar siap dengan ikatan pernikahan.

Seperti biasa, mengajar di kelas dua belas selalu membuat saya tiba-tiba menjadi motivator setenar Mario Teguh, meskipun hanya di mata murid-murid saya. Saya dan tim selalu berupaya mendorong anak untuk lebih rajin belajar agar kelak bisa lolos seleksi di kampus impian. Suatu waktu, kami para tim pengajar kelas dua belas meminta anak-anak menuliskan kampus impian mereka di papan tulis.

Satu persatu mereka maju dan menuliskan kampus impiannya. Saya tersenyum semakin lebar melihat nama-nama kampus keren yang tertulis di papan tulis. Sayangnya senyum saya yang lebar itu tiba-tiba redup, berganti dengan mata yang melongo dan alis yang bertaut manakala saya menemukan ada tulisan KUA di sana. Ya, ada tulisan KUA.

Sontak tangan saya bersedekap, mata saya melirik ke deretan bangku murid perempuan. Saya bertanya siapa gerangan yang berani-beraninya menuliskan tiga huruf itu di papan tulis. Saya sedikit lega saat mendapati wajah-wajah murid perempuan saya menggeleng cepat. Dengan cepat mereka menunjuk deretan bangku murid laki-laki sebagai jawabannya. Kerlingan mata saya ganti menatap kepada barisan para murid laki-laki. Sebelum saya sempat bertanya mereka sudah tertawa terbahak-bahak. Salah satu bahkan sempat menjawab dengan suara keras.

“Nikah muda juga cita-cita mulia, Bu.”

Saya hanya menatap mereka dengan wajah datar dan kembali duduk di kursi. Saya tak tahu secara spesifik mereka termotivasi dari siapa hingga tiba pada simpulan itu. Entah dari Alvin Faiz, tokoh publik lain, atau dari kawan-kawannya sendiri. Yang saya tahu, mereka telah mendengar glorifikasi tentang nikah muda, entah dari ustad-ustadnya, seminar, atau kampanye di media sosial. Sekali lagi saya perlu menegaskan, saya tak masalah memilih menikah di usia muda atau di usia matang. Namun, hal itu tak membuat saya lantas berpikir bahwa nikah muda adalah sebuah prestasi.

Berhubung hari itu saya duduk di depan murid saya –bukan di hadapan rekan saya seperti kejadian sebelumnya- maka saya bisa menyematkan sedikit nasihat. Bahwa tak selamanya nikah muda itu menjadi prestasi. Menikah di usia berapa pun asal telah benar-benar siap dan memiliki bekal yang cukup tetaplah hal baik. Di usia mereka yang baru lulus SMA tentu adalah momen terbaik untuk mengembangkan diri dengan belajar lebih banyak. Bahkan hingga lulus kuliah pun mereka masih punya kesempatan untuk mengeksplor diri. Tak perlu buru-buru menikah hanya karena dikejar status.

Hasilnya, sebagian dari mereka manggut-manggut. Sebagian mungkin karena menerima dan menyetujuinya, sebagian lain berpikir biar cepat istirahat. Entah lagi kalau di luar sana mereka menjumpai kampanye nikah muda lagi. Tentu saja perjuangan untuk menyuarakan bahwa nikah muda itu bukan prestasi selalu digaungkan oleh sebagian besar orang yang sadar.

Saat saya mengajar di pelosok, kebetulan saya menghadiri acara pernikahan adat salah seorang warga. Dalam acara tersebut ada agenda untuk memotong kue pengantin bagi sepasang muda mudi yang telah menjalin asmara. Si laki-laki memotong kue dan menyuapkannya kepada teman perempuannya. Hal itu dilakukan sebagai harapan pasangan muda mudi itu bisa segera menyusul. Kebetulan salah satu pasangannya adalah murid SMK.

Seusia agenda itu, beberapa tokoh masyarakat dapat kesempatan menyampaikan sepatah dua patah kata. Salah satunya Kepala SMK. Beliau dengan tegasnya menyatakan keberatan jika murid SMK ikut dalam acara potong kue, meskipun mereka berdua sebentar lagi akan menempuh ujian. “Saya mendidik kalian itu biar bisa jadi orang. Selepas SMK pergilah belajar, merantau, atau bekerja. Jangan langsung menikah,” begitu tutur beliau waktu itu.

Sayangnya, masih banyak juga orang yang jangankan turut mendukung anak untuk tetap belajar dan berkarya di usia muda, mereka justru memotivasi para murid dengan jiwa yang masih polos untuk segera nikah di usia muda hanya dengan dalih menghindari zina. Padahal ada banyak cara untuk menghindari zina, bukan?

Anak muda tetaplah anak muda. Selepas mereka lulus dari sekolah, mereka akan kembali menelan berbagai informasi tentang pandangan tersebut. Entah yang menguatkannya atau membantahnya. Demikian juga dengan para murid saya selepas lulus dari SMA.

Suatu kali, salah satu murid saya yang sudah menjadi mahasiswa memutuskan menikah. Ada yang masih duduk di tahun pertama, kedua, atau ketiga. Intinya mereka masih berstatus mahasiswa dan belum lulus. Seperti pasangan muda mudi lain, mereka akan mengupload foto-fotonya di instagram. Serentak kolom komentarnya ramai ucapan selamat. Saya mengenal sebagian akun yang meninggalkan komentarnya di sana.

Tentu saja, mereka adalah murid-murid saya juga. Dari ucapan selamat yang mereka berikan, keinginan untuk segera menyusul serta kalimat baper yang ditinggalkan, tahulah saya bahwa sebagian dari mereka masih berpikiran bahwa nikah muda adalah sebuah prestasi.

Hari-hari terakhir, media ramai dengan kisah Alvin Faiz yang ‘berhasil’ menikah di usia belia. Saya turut menyayangkan akan berakhirnya pernikahannya serta aibnya yang diketahui publik. Terlepas dari itu semua, setidaknya kisah Alvin Faiz -salah satu dari sekian ribu orang yang dulu pernah mengkampanyekan nikah muda- mengajarkan satu hal penting:  nyatanya menjalani sebuah ikatan pernikahan tak pernah semudah mempromosikannya. Dan semoga murid-murid saya jadi lebih banyak berpikir setelah mendengar berita tersebut. []

Tags: Cegah Kawin AnakHijrahislamLajangmenikahPendewasaan Usia Perkawinanperempuan
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Ikuti Ngobrol Asik Soal Toleransi, Perdamaian, dan Keadilan Gender

Next Post

Perempuan dalam Feminisme Islam Zainab Al-Ghazali Part II

Rezha Rizqy Novitasary

Rezha Rizqy Novitasary

Guru, Anggota Komunitas Puan Menulis, tertarik dengan isu pendidikan, Islam ramah perempuan dan kesetaraan gender.

Related Posts

Muharram
Aktual

Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

16 Juni 2026
Perempuan Bekerja
Keluarga

Bolehkah Perempuan Bekerja di Ruang Publik?

15 Juni 2026
Mengenal Kondom
Pernak-pernik

Mengenal Kondom Perempuan

15 Juni 2026
KB
Pernak-pernik

Hak Perempuan Memilih KB: Kenali 5 Metode dan 9 Pertimbangannya

14 Juni 2026
KB
Pernak-pernik

Keluarga Berencana (KB) dan Hak Perempuan atas Tubuh

13 Juni 2026
Hasrat Seksual
Pernak-pernik

Mengakui Hasrat Seksual Perempuan sebagai Bagian dari Kesehatan Reproduksi

10 Juni 2026
Next Post
Islam

Perempuan dalam Feminisme Islam Zainab Al-Ghazali Part II

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Poskolonialisme: Kala Sepakbola Turut Mendekonstruksi Tatanan Hegemonik
  • Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala
  • Bolehkah Perempuan Bekerja di Ruang Publik?
  • Disabilitas Bukan Lelucon: Menimbang Etika Konten Kreator di Media Sosial
  • Cara Kerja Diafragma dalam Mencegah Kehamilan

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0