Mubadalah.id – Untuk segenap pembaca yang berbahagia. Sebelum saya melaju lebih jauh menguliti isi tulisan ini, izinkan saya melakukan sebuah klarifikasi terlebih dahulu, terkait penempatan nama Kalis setelah Agus dalam judul di atas. Hal itu, perlu saya sampaiakan, karena ia murni berdasarkan pada kronologi kognitif pribadi. Hal itu, sama sekali tidak ada intervensi cara pandang patriarki, apalagi niat menomorduakan perempuan.
Sekali lagi, hal itu murni karena takdir sejarah membaca saya. Jauh lebih dulu saya mengenal nama Agus Mulyadi di jagat per-blogger-an, ketimbang mengenal nama Kalis Mardiasih di ranah gerakan feminisme. Jadi, mari kita bersepakat sejak awal agar tidak ada kesalahan persepsi setelah membaca judul esai ini.
Sebagai penggemar garis keras dari dua penulis akrobatik tersebut, saya merasa mendapatkan anugerah yang luar biasa. Karena akhirnya saya bisa menyaksikan visualisasi kisah cinta mereka yang legendaris melalui film Seni Memahami Kekasih secara gratis di platform Netflix.
Jujur saja, film ini merupakan salah satu sinema lokal yang paling lama bertengger dalam daftar tunggu saya agar bisa terakses secara gratis. Jeda waktu antara penayangan perdana di layar lebar hingga mendarat mulus di jagat digital Netflix terasa begitu panjang, seolah menguji seberapa tebal iman kesabaran saya sebagai penikmat film gratisan.
Namun, alhamdulillah, penantian itu berbuah manis. Sinema yang tidak hanya menghibur, melainkan juga sangat inspiratif ini, sekarang bisa kita nikmati secara cuma-cuma.
Romansa Ugal-ugalan dan Runtuhnya Sekat Status Sosial
Kisah cinta dua insan penulis yang dipertemukan oleh takdir ini, bagi saya, layak kita tasbihkan sebagai sebuah romansa yang terjalin secara ugal-ugalan. Istilah “ugal-ugalan” ini, tentunya dapat kita maknai sebagai tindakan keberanian yang berhasil mendobrak sekat-sekat realitas sosial yang sering kali kaku.
Sisi keugal-ugalan pertama terpancar nyata dari keteguhan mental seorang Agus Mulyadi, yang sama sekali tidak mengidap penyakit minder akut ketika harus memperjuangkan cinta seorang Kalis Mardiasih.
Jika kita bedah secara kalkulasi sosial yang kerap masyarakat feodal agungkan, kesenjangan di antara keduanya sangatlah mencolok. Dari latar belakang pendidikan, Kalis adalah seorang perempuan terpelajar bergelar sarjana. Sementara itu, Agus hanyalah seorang pemuda lulusan SMA/sederajat yang modal utamanya adalah kelenturan jemari dalam mengetik esai humor.
Namun, keajaiban sosiologis terjadi di sini. Jurang vertikal bernama tingkat pendidikan formal nampaknya sama sekali tidak laku dan tidak berlaku di hadapan frekuensi batin seorang Agus dan Kalis. Mereka membuktikan bahwa kecocokan intelektual tidak selalu linear dengan selembar ijazah.
Keugal-ugalan selanjutnya yang tidak kalah epik adalah strategi pendekatan yang Agus lakukan demi meyakinkan hati Kalis. Bagian ini, bagi saya, perlu tercatat dan terus kita ingat. Karena proses PDKT seorang Agus Mulyadi—meskipun saat itu posisinya mentereng sebagai redaktur senior di media masa ternama—jauh dari kata glamor.
Karena tidak ada sedikitpun, dalam kisah cinta mereka berdua, adegan menjemput pujaan hati dengan mengendarai motor gede (moge) ala pemuda metropolitan urban, atau mobil fortuner yang Kalis mimpikan. Sebaliknya, Agus meluncur dengan penuh percaya diri hanya bermodalkan motor bebek lawas pada zaman itu.
Strategi Motor Bebek hingga Pinangan Ayam Bangkok
Antara motor Suzuki Smash atau Shogun—saya agak kabur mengingat tipenya—motor berasap tipis itulah yang menjadi saksi bisu perjuangan cintanya. Pendekatan minimalis nan ugal-ugalan ini tidak hanya menjadi tamparan sekaligus motivasi bagi anak-anak muda zaman sekarang yang hobi minder sebelum bertempur. Tetapi fakta ini juga memperlihatkan bahwa ketulusan adakalanya berwujud sebuah motor bebek yang apa adanya.
Puncak dari segala keugal-ugalan Agus Mulyadi itu, mewujud secara terorganisir pada episode krusial: yakni momen lamaran. Pada fase ini, sifat ugal-ugalan ternyata tidak lagi menjadi monopoli Agus sendirian, melainkan sudah menular secara presisi ke dalam urat nadi Kalis.
Mengapa demikian? Karena inisiasi lamaran tersebut justru lahir dari rahim ketegangan hubungan yang sedang berada di titik nadir. Setelah sebuah pertengkaran, Kalis memilih pulang kampung ke Blora tanpa memberikan kabar sepotong pun kepada Agus. Hubungan mereka sempat menggantung di udara dan menciptakan kecemasan yang luar biasa.
Sebagai lelaki yang kadung menaruh seluruh rasa cintanya pada Kalis, Agus tidak memilih opsi pasrah atau membalas dengan ego lelaki. Dia memilih ugal-ugalan secara ksatria dengan menempuh perjalanan darat yang melelahkan dari Magelang/Yogyakarta menuju Blora demi menjemput kejelasan.
Ketika Agus berhasil menemui Kalis dan melontarkan pertanyaan retoris tentang kapan kekasihnya itu akan kembali ke Yogyakarta, jawaban Kalis sungguh sebuah paradoks yang indah. Di satu sisi, kalimat itu bukan jawaban teknis, namun di sisi lain, ia justru membuka pintu gerbang selebar-lebarnya bagi keabadian kisah mereka. Kalis berucap lantang: “Nek kowe ngelamar aku mas!” (Kalau kamu melamar aku mas!).
Hanya berselang seminggu setelah tantangan sakral itu terlemparkan, Agus yang memiliki perpaduan watak humoris sekaligus gentleman langsung mengeksekusinya. Ia datang melamar Kalis dengan segala kesahajaan yang cenderung ala kadarnya. Namun magisnya mampu meruntuhkan pertahanan emosional Kalis hingga menangis bahagia.
Bagian ini, bagi saya, adalah fragmen keugal-ugalan yang paling legendaris dalam sejarah lamaran penulis Indonesia. Bagaimana mungkin seorang Agus Mulyadi datang meminang feminis sekaliber Kalis Mardiasih dengan membawa hantaran berupa seekor ayam Bangkok? Sebuah adegan anti-mainstream yang sukses menjungkirbalikkan seluruh pakem romansa picisan.
Membedah Trauma Sosiologis dan Seni Memahami Kekasih
Bagi saya, film Seni Memahami Kekasih bergerak jauh melampaui batas-batas komedi romantis komersial yang sekadar numpang lewat di industri perfilman. Lebih dalam dari itu, narasi yang terbangun berhasil memotret dinamika psikologis gender secara jeli dalam mengarungi samudra asmara.
Sosok Kalis Mardiasih diposisikan sebagai representasi perempuan desa yang membawa trauma sosiologis lingkungan sekitarnya. Pengalaman pahit saudaranya, Rahayu, yang kehidupan pernikahan masa lalunya karam dan penuh dengan ketidakbahagiaan, secara tidak sadar bertransformasi menjadi referensi utama bagi Kalis. Trauma ini, tentunya, memaksa Kalis membangun benteng pertahanan yang tinggi dan bersikap hati-hati dalam merespons kehadiran laki-laki.
Oleh sebab itu, ketika Agus Mulyadi hadir dengan segala paket lengkap kelucuannya yang cair namun sabar—atau dalam diksi personal Kalis tergambarkan sebagai sosok yang “menyebalkan tapi menenangkan hati”—mekanisme pertahanan diri Kalis otomatis menyala. Tak heran, jika Kalis kerap terhinggapi rasa curiga: jangan-jangan ketulusan Agus hanyalah fatamorgana belaka.
Realitas psikologis inilah yang membuat ritme asmara mereka dalam film terasa sangat dinamis. Maju-mundur, dekat-jauh, ragu-yakin. Sebuah fluktuasi emosi yang sangat manusiawi sebelum akhirnya takdir mengunci mereka dalam ikatan suci pernikahan.
Pelajaran tentang Seni Memahami Kekasih
Sikap Kalis yang terkesan labil dan penuh keraguan tersebut, dalam pandangan saya, adalah manifestasi yang sangat wajar. Urusan membangun kepercayaan, baik bagi laki-laki maupun perempuan yang pernah menyaksikan luka domestik, bukanlah perkara gampang seperti membalik telapak tangan.
Sikap defensif Kalis merupakan buah logis dari proses komparasi dan konsultasinya dengan Rahayu—seorang perempuan yang kepercayaannya telah remuk redam akibat disakiti lelaki dan harus berjuang sendirian menghidupi satu anak.
Di sisi lain, keteguhan sikap Agus yang menghadapi dinamika emosi Kalis dengan kesabaran ekstra, pendekatan yang santai, humor yang mencairkan suasana, namun tetap menjaga komitmen serius, adalah sebuah blueprint sikap yang wajib diadopsi oleh lelaki mana pun yang berada di posisi serupa.
Kombinasi unik antara keraguan yang rasional dari Kalis dan kesabaran yang ugal-ugalan dari Agus inilah yang pada akhirnya berhasil mengantarkan mereka membangun rumah tangga yang kokoh. Sebuah pelajaran berharga tentang bagaimana seni memahami kekasih sejati itu bekerja. []







































