Mubadalah.id – Di balik rangkaian ibadah haji yang dijalankan jutaan umat Islam setiap tahun, terdapat pelajaran kemanusiaan yang sangat mendalam. Salah satu yang menarik untuk direnungkan adalah mengapa Allah memilih sosok seorang perempuan, yakni Siti Hajar, sebagai bagian penting dalam ritual haji yang terus dikenang hingga hari ini.
Siti Hajar dikenal sebagai perempuan dengan identitas sosial yang dipandang rendah pada zamannya. Ia adalah perempuan berkulit hitam, seorang budak belian, serta berasal dari kelas sosial bawah. Dalam tatanan masyarakat ketika itu, identitas semacam ini kerap tidak memiliki kehormatan dan kedudukan penting.
Namun, justru melalui sosok Siti Hajar, Tuhan menunjukkan bahwa kemuliaan manusia tidak Tuhan tentukan oleh status sosial, ras, warna kulit, maupun jenis kelamin. Kemuliaan manusia terletak pada ketulusan hati, perjuangan hidup, serta pengorbanannya untuk orang lain.
Siti Hajar menjadi perempuan yang sabar, tabah, penuh tanggung jawab, dan memiliki kasih sayang besar terhadap kehidupan. Dalam situasi yang sangat sulit di tengah padang tandus, ia tetap berjuang demi keselamatan anaknya, Nabi Ismail.
Pemikir Muslim Ali Syari’ati dalam bukunya Haji menggambarkan sosok Hajar sebagai perempuan yang hidup dalam keterasingan dan penderitaan. Ia menulis:
“Ia seorang ibu yang mencinta, sendirian, mengelana, mencari dan menanggungkan penderitaan dan kekhawatiran, tanpa pembela dan tempat berteduh, terlunta-lunta, terasing dari masyarakatnya, tidak mempunyai kelas, tidak mempunyai ras dan tidak berdaya. Ia seorang yang kesepian, seorang korban, seorang asing yang terbuang dan dibenci.”
Kisah perjuangan Siti Hajar juga sejalan dengan pesan Al-Qur’an tentang kemuliaan manusia. Dalam Surah al-Isra ayat 70, Allah berfirman:
“Dan sungguh, Kami memuliakan anak-anak Adam. Kami bawa mereka di daratan dan lautan. Kami beri mereka rezeki dari hal-hal yang baik dan Kami unggulkan mereka dari banyak ciptaan Kami yang lain.”
Ayat tersebut menegaskan bahwa seluruh manusia Tuhan muliakan tanpa membedakan latar belakang sosial maupun identitas kemanusiaannya.
Pesan Nabi
Pesan serupa juga Nabi Muhammad saw tegaskan dalam sebuah hadis. Nabi menyatakan bahwa Allah tidak menilai manusia dari rupa dan tubuhnya, melainkan dari hati dan amal perbuatannya.
Kisah Siti Hajar menjadi simbol penting tentang perjuangan kemanusiaan. Ia berjuang demi seorang bayi yang lemah dan tidak berdaya, yakni Ismail. Dari perjuangan seorang ibu itulah kemudian lahir mata air Zamzam yang hingga kini terus mengalir dan menjadi bagian penting dalam ibadah haji.
Melalui kisah tersebut, Tuhan mengajarkan nilai-nilai luhur kepada manusia, terutama tentang kepedulian terhadap kelompok lemah dan dilemahkan. Perjuangan Hajar menjadi gambaran tentang kasih sayang, pengorbanan, serta tanggung jawab terhadap kehidupan.
Keajaiban air Zamzam pun menjadi simbol yang terus hidup sepanjang sejarah. Di tengah padang pasir yang tandus dan kering, air Zam-zam tetap mengalir deras tanpa pernah kering. Jutaan orang dari seluruh dunia meminumnya setiap tahun.
Air Zam-zam dikenal bersih dan jernih. Kehadirannya tidak hanya dipahami sebagai mukjizat, tetapi juga simbol sumber kehidupan yang sehat, baik, dan halal. Dari sana, manusia diajak untuk mencari dan menjaga sumber kehidupan yang bersih serta bermartabat.
Nabi Muhammad saw pernah bersabda bahwa Allah Maha Bersih dan menyukai segala sesuatu yang bersih. Karena itu, kisah Siti Hajar dan Zamzam bukan hanya menjadi bagian dari ritual ibadah haji, tetapi juga pelajaran tentang kemanusiaan, kesetaraan, kepedulian sosial, serta pentingnya menjaga kehidupan yang baik dan halal. []












































