Mubadalah.id – Prosesi sa’i dalam ibadah haji tidak sekadar menjadi ritual berjalan kaki antara Bukit Shafa dan Marwah. Di baliknya, terdapat nilai tentang perjuangan hidup, kerja keras, dan keteguhan seorang perempuan bernama Siti Hajar dalam mempertahankan kehidupan anaknya di tengah lembah tandus Makkah.
Secara literal, sa’i berarti berusaha dan bekerja keras. Dalam rangkaian ibadah haji dan umrah, sa’i dilakukan dengan berjalan kaki dan berlari kecil sebanyak tujuh kali dari Bukit Shafa menuju Bukit Marwah.
Prosesi tersebut dipahami sebagai simbol perjuangan manusia untuk bertahan hidup dan terus berikhtiar menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Kisah sa’i berawal dari perjalanan hidup Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim AS, yang berlari bolak-balik antara Bukit Shafa dan Marwah demi mencari air untuk putranya, Nabi Ismail AS, yang masih bayi.
Saat itu, Nabi Ibrahim AS meninggalkan Hajar dan Ismail di sebuah lembah tandus di dekat Baitullah atas perintah Allah SWT. Lembah tersebut sebagai wilayah kering tanpa tumbuhan dan sumber kehidupan.
Di tempat yang sepi dan keras itulah Hajar harus berjuang mempertahankan hidup dirinya dan anaknya seorang diri. Air yang dicari Hajar dipandang sebagai sumber utama kehidupan.
Dalam Al-Qur’an, Allah SWT berfirman:
وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاۤءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّۗ
“Dan Kami jadikan dari air segala sesuatu yang hidup.” (QS Al-Anbiya: 30).
Zamzam
Dari perjuangan Hajar tersebut, Allah SWT kemudian menghadirkan mata air Zamzam yang hingga kini terus mengalir. Bahkan menjadi sumber kehidupan bagi jutaan jamaah haji dan umrah dari seluruh dunia.
Refleksi mengenai sa’i juga menyoroti alasan mengapa Allah SWT memilih sosok Siti Hajar sebagai simbol penting dalam ibadah haji.
Menurut penjelasan tersebut, Hajar merupakan perempuan yang dalam struktur sosial masyarakat saat itu berada pada posisi rentan. Ia kita kenal sebagai perempuan berkulit hitam, seorang budak, dan berasal dari kelompok sosial rendah.
Namun justru melalui sosok Hajar, Islam menghadirkan pesan besar tentang kemuliaan perjuangan manusia yang tidak kita tentukan oleh status sosial, ras, maupun jenis kelamin.
“Seluruh identitasnya dipandang rendah dalam masyarakat ketika itu. Tetapi Allah justru mengabadikan perjuangannya dalam ritual suci umat Islam,” ujarnya.
Siti Hajar juga menjadi sosok perempuan yang sabar, tangguh, bertanggung jawab, dan memiliki cinta besar terhadap kehidupan.
Pemikir Muslim Ali Syari’ati menggambarkan Hajar sebagai perempuan yang hidup dalam kesendirian dan keterasingan. Tetapi tetap memiliki kekuatan untuk bertahan.
“Ia seorang ibu yang mencinta, sendirian, mengelana, mencari dan menanggung penderitaan bahkan kekhawatiran,” tulis Ali Syari’ati dalam bukunya Haji.
Melalui sa’i, umat Islam bisa memahami bahwa perjuangan hidup, kerja keras, dan kasih sayang seorang ibu memiliki nilai yang sangat mulia di hadapan Allah SWT.
Oleh karena itu, sa’i bukan hanya ritual fisik dalam ibadah haji, tetapi juga simbol penghormatan terhadap perjuangan perempuan, ketekunan dalam berikhtiar, dan keyakinan bahwa pertolongan Allah akan hadir bagi mereka yang tidak berhenti berusaha. [}












































