Mubadalah.id – Pemberdayaan teman tuli di ruang publik sering kali menguji sejauh mana kepekaan sosial. Dalam diskursus sosial dan keagamaan, penyandang disabilitas ditempatkan dalam posisi yang pasif. Masyarakat cenderung melihat mereka sebagai objek santunan atau belas kasihan di lingkungan sekitarnya.
Meskipun berdasarkan niat baik, sudut pandang ini justru kerap kali membatasi ruang gerak. Dengan demikian juga menegaskan terdapat sekat pemisah antara masyarakat dengan penyandang disabilitas.
Jika merefleksikan hak keadilan yang ada dalam diri setiap manusia, pemenuhan hak-hak disabilitas bukanlah bentuk kebaikan hati, namun adalah kewajiban. Keadilan hakiki menuntut adanya jembatan akses yang setara, baik dalam sektor pendidikan, dunia, kerja, hingga pemenuhan fasilitas ibadah.
Keadilan hakiki menegaskan difabel dan non-difabel adalah satu sistem sosial yang sama, di mana keadilan sejati menuntut perhatian khusus bagi kelompok rentan untuk mewujudkan kemaslahatan bersama.
Dengan memandang manusia secara utuh fisik, intelektual, dan spiritual, maka keadilan hakiki memastikan setiap individu, sebagai Khalīfah fi al-Ardl. Dengan demikian penyandang disabilitas dapat memperoleh hak sesuai kapasitasnya demi kehidupan yang bermartabat. Baca tulisan lengkap Siti Roisadul Nisok mengenai pemikiran Dr. Nur Rofiah.
Kebebasan yang bermartabat hanya akan terwujud saat setiap individu memiliki kesempatan untuk berkarya, dan terakui berdasarkan nilai kemanusiaan serta kontribusi nyata sesuai kapasitasnya, bukan ternilai dari keterbatasan fisiknya.
Di lobi Midtown Residence Surabaya yang terletak di kawasan Ngagel, terdapat sebuah cafe bernama “Kopi Tutur Rasa” yang menawarkan lebih dari sekadar minuman berkafein.
Kedai ini beroperasi dengan melibatkan teman tuli sebagai barista, para pengunjung tidak sekadar bertransaksi, melainkan berinteraksi langsung menggunakan bahasa isyarat dan ekspresi wajah untuk memesan secangkir kopi.
Pengalaman inklusif ini secara tidak langsung mengetuk kesadaran masyarakat mengenai arti penting sebuah kesetaraan yang nyata di lingkungan sosial.
Mewujudkan Ruang Sosial yang Inklusif
Esensi dari keberadaan “Kopi Tutur Rasa” bukan sekadar tentang menyajikan kopi, akan tetapi menjadi sebuah contoh nyata bagaimana sebuah ruang kerja inklusif dapat terealisasi secara profesional.
Langkah-langkah sederhana seperti mempelajari bahasa isyarat dasar sebenarnya merupakan bagian dari proses besar untuk meruntuhkan dinding pembatas sosial yang ada di sekitar kita.
Seperti halnya di meja bar Kopi Tutur Rasa menyediakan panduan bahasa isyarat. Pengunjung tidak hanya memesan kopi, namun juga mendapatkan pengalaman baru dengan belajar bahasa isyarat bersama para barista.
Melansir dari superradio.id, bahwa Midtown Indonesia merancang program ini untuk memberikan ruang nyata bagi penyandang disabilitas. Kreativitas, skill, dan rasa percaya diri teman tuli yang memiliki kemampuan dalam dunia barista dapat mengalami peningkatan.
Kehadiran teman tuli di sini bukan hanya sebagai pelengkap, melainkan motor penggerak inovasi kuliner hotel. Midtown Indonesia mempercayai penuh teman tuli untuk meracik menu unggulan yang unik bernama “Latte Butter Kopi”.
Minuman khas ini mengombinasikan kopi berkualitas dengan mentega atau ghee, yang berfungsi membantu menstabilkan gula darah serta meningkatkan metabolisme tubuh.
Melalui racikan kopi yang menyehatkan, teman tuli membuktikan bahwa keterbatasan fisik sama sekali tidak mengurangi kualitas dan nilai profesionalisme yang bisa diberikan kepada masyarakat.
Pengalaman dari sudut kota Surabaya ini menjadi pengingat berharga bagi kita semua. Ruang sosial yang inklusif juga bisa berawal dari kesediaan untuk membuka ruang kesempatan yang sama.
Islam tidak pernah memandang manusia dari bentuk fisik atau keterbatasannya, melainkan dari ketakwaan, etos kerja, dan kemaslahatan yang mereka tebarkan.
Sudah saatnya kita bergerak melampaui batas sekat sosial, dan mulai membangun ekosistem masyarakat yang merayakan setiap potensi manusia. []
*)Artikel ini merupakan hasil dari kegiatan Mubadalah Goes to Campus. Kerjasama Media Mubadalah dengan Pusat Studi Gender dan Anak (PSGA) UIN Sunan Ampel Surabaya, Pada 18-19 Mei 2026 di GreenSA Inn Surabaya












































