Mubadalah.id – Film Esok Tanpa Ibu (Mothernet) membangun kisahnya di atas luka kehilangan dan kebutuhan untuk pulih. Rama, seorang remaja laki-laki, kehilangan arah setelah ibunya (Dian Sastrowardoyo) mengalami kecelakaan dan jatuh koma. Ia juga tidak menemukan ruang aman di rumah karena hubungannya dengan papanya (Ringgo Agus Rahman) semakin renggang.
Di tengah kebingungan emosionalnya, Rama mengadu kepada Zyla, temannya. Dari percakapan itu, Zyla memperkenalkan aplikasi Ai-BU, sebuah kecerdasan buatan yang merekonstruksi wajah, suara, dan kepribadian ibunya dalam bentuk digital.
Sejak mengenal aplikasi tersebut, Rama mulai berinteraksi dengan Ai-BU seolah ia sedang berbicara langsung dengan ibunya. Ia menumpahkan kerinduan, mengulang kembali potongan-potongan memori, dan mencari ketenangan melalui percakapan virtual itu.
Namun, semakin jauh cerita berjalan, film tidak hanya menampilkan Ai-BU sebagai alat bantu. Film justru menjadikan Ai- BU sebagai ruang utama bagi Rama untuk mengelola duka.
Ai-BU sebagai “Jembatan” yang Menggeser Arah Penyembuhan
Film ini menempatkan Ai-BU sebagai jembatan emosional yang menghubungkan Rama dengan kehilangan yang ia alami. Rama tidak hanya mengenang ibunya, tetapi juga berinteraksi secara aktif dengan representasi digital tersebut. Ia lebih mudah membuka diri kepada Ai-BU daripada kepada ayahnya yang hadir secara fisik, yang ia anggap tidak mampu menjangkau dunia emosionalnya.
Pilihan naratif ini mengarahkan alur penyembuhan Rama secara tegas pada rekonstruksi sosok ibu, bukan pada proses rekonsiliasi dalam keluarga. Film mendorong penonton mengikuti perjalanan emosional yang bertumpu pada kehadiran kembali ibu dalam bentuk digital, alih-alih membangun ulang relasi yang retak di dalam keluarga. Persoalannya tidak terletak pada penggunaan teknologi, tetapi pada arah imajinasi dalam membaca kehilangan dan penyembuhan luka keluarga.
Dalam perspektif nilai ma’ruf dalam Trilogi KUPI, relasi keluarga seharusnya berjalan di atas prinsip kebaikan bersama yang dibangun secara aktif oleh seluruh anggota keluarga. Keluarga tidak bertumpu pada satu figur tunggal, melainkan pada kesediaan untuk saling mengambil peran ketika kondisi berubah.
Kehilangan salah satu anggota keluarga semestinya memunculkan proses kolektif untuk saling menguatkan, bukan pencarian figur pengganti.
Dari sudut pandang ini, Ai-BU menunjukkan adanya bias naratif yang perlu dikritisi. Perkembangan teknologi mendorong cara pandang yang semakin memusatkan respons emosional keluarga pada teknologi itu sendiri. Bahkan ketika sosok ibu sudah direkonstruksi melalui kecanggihan sistem digital, sebagai ruang utama pengelolaan emosi dan kehilangan.
Teknologi sebagai Ruang Kontrol
Ai-BU tidak hanya hadir sebagai medium penghiburan, tetapi juga secara aktif mengarahkan cara Rama mengakses dan mengulang kembali ingatannya terhadap ibunya. Dalam situasi ini, teknologi tidak berjalan secara netral, melainkan ikut membentuk cara Rama memaknai kehilangan sebagai sesuatu yang bisa ia panggil kembali kapan saja tanpa batas waktu.
Rama kemudian menunda proses penerimaan terhadap finalitas kehilangan karena Ai-BU terus menghadirkan ilusi kehadiran yang dapat ia akses secara instan. Ia tidak lagi menghadapi ketidakhadiran yang sunyi secara langsung, melainkan berhadapan dengan versi digital yang selalu merespons kerinduannya.
Kondisi ini secara halus menggeser pengalaman duka dari ruang relasi manusia yang kompleks menuju ruang simulasi yang lebih terkendali, sehingga Rama tidak sepenuhnya terdorong untuk melakukan konfrontasi emosional yang utuh.
Ketika Ai-BU Menjadi Jawaban yang Terlalu Mudah
Esok Tanpa Ibu sebenarnya tidak hanya bercerita tentang kecanggihan teknologi, tetapi tentang cara manusia merespons kehilangan. Namun, pilihan menjadikan Ai-BU sebagai pusat narasi membuka ruang kritik yang lebih tajam.
Di sinilah kritiknya menjadi penting. Film ini tidak gagal karena menghadirkan Ai-BU, tetapi karena terlalu cepat menjadikan rekonstruksi ibu sebagai solusi utama. Film tidak cukup jauh menampilkan kemungkinan lain, bahwa keluarga dapat pulih melalui kerja bersama anak dan ayah, walau melalui relasi yang tidak sempurna, ataupun melalui keberanian untuk menghadapi luka secara langsung tanpa selalu mencari pengganti.
Pertanyaan paling penting bukanlah apakah Ai-BU berhasil “menghidupkan kembali” ibu. Pertanyaan yang lebih tajam adalah: mengapa banyak yang menjadikan cara untuk menyembuhkan luka keluarga adalah dengan menghadirkan kembali sosok yang hilang melalui teknologi, bahkan ketika relasi di dalam keluarga itu sendiri masih bisa diperbaiki?
Rama akhirnya berdamai dengan ayahnya setelah mereka bersama-sama melewati jembatan yang sejak awal menjadi simbol harapan yang ibunya pernah tunjukkan. Momen ini menjadi titik balik ketika Rama tidak lagi sepenuhnya menggantungkan diri pada kehadiran digital Ai-BU, melainkan mulai menyadari bahwa ia masih bisa memperbaiki relasi nyata dengan ayahnya.
Pertemuan kembali Rama dan ayahnya menandai proses rekonsiliasi yang tidak terjadi secara instan, tetapi perlahan membuka ruang bagi keduanya untuk saling memahami keterbatasan masing-masing. Film kemudian menutup kisahnya dengan kemungkinan pemulihan yang sederhana namun bermakna, ketika Rama dan ayahnya berani merawat kembali hubungan yang sempat retak di tengah duka yang mereka alami. []






































