Mubadalah.id – Ketika kita berbicara tentang sampah, seringkali yang muncul dalam bayangan kita adalah tumpukan kantong plastik, truk pengangkut, bau semerbak dan tanah yang becek akibat endapan sampah, dan truk pengangkut sampah.
Sampah seolah menjadi sesuatu yang ketika kita buang keluar dari rumah dan berpindah tangan ke petugas kebersihan itu akan menyelesaikan masalah. Namun, sesungguhnya sampah tersebut tidak benar-benar hilang, ia hanya berpindah ruang. Bahkan seringkali berpindah pula kepada kelompok yang tidak memiliki kuasa.
Di Kabupaten Jember, keberadaan TPA Pakusari menjadi gambaran nyata bagaimana peliknya persoalan lingkungan yang menjelma menjadi masalah sosial yang lebih kompleks. Sampah-sampah yang terus di tumpuk di TPA Pakusari tanpa pengelolaan lebih lanjut menjadi tamparan bagi kita mengenai persoalan yang lebih teknis.
Bahkan, karena keterbatasan lahan dan buruknya sistem pengelolaan sampah. Serta rendahnya kapasitas pengolahan limbah yang menyebabkan ketimpangan dengan sampah yang terus berdatangan.
Di tengah pusaran polemik sampah yang terus menghantui terdapat angin segar yang masih menjadi secercah harapan yang hadir di sekitar lingkungan tersebut. Pemulung dan perempuan menjadi aktor yang sentral ketika absennya pengelolaan yang tepat bagi TPA Pakusari. Mereka menjadi pelaku yang mempertahankan kehidupan bagi alam sekitar.
Mereka memilah, mengumpulkan, menjual, dan pada saat yang bersamaan mereka menjalankan peran yang ada di rumah.
Perempuan hadir di sekitar TPA Pakusari seringkali datang dengan keputusan yang tidak sepenuhnya berada di tangan mereka. Sebagian datang karena keterbatasan ekonomi, sempitnya akses kerja yang lebih layak, dan kebutuhan untuk menghidupi kehidupan rumah tangga. Mereka memilah sampah bukan karena tidak memiliki cita-cita, tetapi karena struktur sosial yang mengharuskan mereka pada pilihan yang sempit.
Di titik inilah kita merenungkan kembali, siapakah yang lebih banyak menanggung beban sampah ini? Apakah ini adil?
Pandangan Vandana Shiva terhadap Ekofeminisme
Persoalan ini menjadi kompleks ketika kita menelisik melalui perspektif ekofeminisme yang dicetuskan oleh Vandana Shiva, ia merupakan seorang aktivis lingkungan yang memandang bahwa kerusakan lingkungan disebabkan oleh sistem yang patriarki. Vandana Shiva menolak cara berpikir pembangunan yang hanya berasaskan pada pertumbuhan ekonomi dan efisiensi produksi.
Menurutnya, paradigma tersebut melahirkan suatu reduksi kehidupan. Ketika yang dikejar hanyalah surplus dan keuntungan ekonomi, sedangkan dampak, keberlanjutan, dan reproduksi kehidupan menjadi faktor yang dikesampingkan.
Bagi Shiva, krisis lingkungan bukan muncul karena kurangnya teknologi yang memadai atau kurangnya kemampuan dalam mengelola sumber daya. Sebaliknya, krisis pada lingkungan muncul karena manusia memandang alam dengan cara yang salah.
TPA Pakusari menjadi salah satu ruang yang memperlihatkan realita tersebut. Di sana, sampah bukan sekadar benda sisa yang tak bernilai, tetapi berubah menjadi lanskap kehidupan.
Gunungan limbah yang kian terus bertambah memperlihatkan bagaimana relasi masyarakat membangun hubungan dengan alamnya. Mereka, mengambil, menggunakan, lalu memindahkan sisa-sisanya ke ruang yang jauh dari pandangan mata.
Dalam logika ini, sampah menjadi barang tidak bernilai yang harus menjauh dari pandangan. Dan manusia mulai menilai segala sesuatu berdasarkan seberapa nilai dan keuntungan yang bisa didapatkan. Namun kritik Shiva tidak berhenti di situ saja.
Pengalaman Biologis Perempuan Dekat dengan Alam
Shiva mengaminkan bahwa perempuan memiliki pengalaman historis yang lebih dekat dengan praktik menjaga kehidupan, bukan karena perempuan secara biologis lebih dekat dengan alam. Tetapi karena struktur sosial selama ini menempatkan perempuan pada kerja-kerja pengasihan seperti, merawat, menjaga, dan mempertahankan keberlangsungan hidup.
Perempuan yang bekerja di sekitar TPA menjalankan fungsi yang sangat ekologis, mereka memperpanjang siklus hidup barang, mengurangi residu, dan secara tidak langsung menghambat laju penumpukan sampah. Tetapi terkadang pekerjaan tersebut jarang dimaknai sebagai kerja lingkungan.
Sebaliknya, ia dipandang sebagai pekerjaan informal yang lahir dari keterbatasan ekonomi. Ironinya, selain memikul tanggung jawab dan amanah penyambung keberlangsungan kehidupan.
Dalam hal inilah Shiva mengkritisi, kondisi ini muncul karena sistem yang patriarki dan pembangunan yang memiliki cara kerja yang serupa. Keduanya mengaggap kerja perawatan sebagai sesuatu yang alami dan tidak perlu dihitung karena tidak memiliki nilai maupun ekonomi.
Gunungan sampah di Pakusari memperlihatkan kepada kita tentang bagaimana masyarakat membangun relasi dengan alam dan sesama manusia tanpa berlandaskan moralitas. Sebab, selama ini kita terlalu sering melihat sampah sebagai benda yang sudah tak bernilai dan harus selesai dari hidup kita.
Gunungan sampah yang terus menumpuk sesungguhnya sedang menunjukkan sesuatu yang lebih dalam, bahwa masyarakat masih terbiasa memisahkan antara kenyamanan dan konsekuensi di kemudian hari.
Karena itu, berbicara keadilan lingkungan berarti juga berbicara tentang keberanian dalam berkomitmen membenahi cara kita memandang kerja lingkungan, alam, dan perempuan. []










































