Mubadalah.id – Saya ini santri ecek-ecek. Hafalan nadzam saya lebih sering kabur daripada menetap. Tetapi ada satu bait yang, entah bagaimana, terus tinggal di kepala saya. Bait itu milik Hafiz Ibrahim: Al-ummu madrasatul ula, idza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq. Ibu adalah madrasah pertama. Jika engkau mempersiapkannya, engkau sedang menyiapkan generasi terbaik.
Masalahnya, kalimat itu terlalu sering terucapkan. Ia beredar dari seminar parenting ke pengajian keluarga, dari status Facebook ke grup WhatsApp, dari spanduk acara sampai poster berlatar bunga. Semua orang setuju. Semua orang mengangguk. Dan justru karena terlalu mudah kita setujui, kalimat itu kehilangan bobotnya. Ia berubah menjadi slogan moral: terdengar benar, tetapi jarang kita pikirkan sungguh-sungguh.
Saya pun lama memperlakukannya begitu. Saya tumbuh bersama kalimat-kalimat sejenis: perempuan adalah tiang negara, ibu adalah sekolah pertama, kualitas bangsa ditentukan oleh kualitas ibunya. Semua terdengar mulia. Semua tampak masuk akal. Tetapi justru karena terlalu sering terdengar, ia berhenti bekerja sebagai pengetahuan. Ia hanya tinggal sebagai bunyi. Saya mengutipnya, saya menyetujuinya, lalu hidup berjalan tanpa perubahan berarti dalam cara saya memandang perempuan, ibu, dan kerja hidup yang mereka tanggung.
Pengalamanlah yang kemudian memaksa saya membaca ulang kalimat itu. Setelah menikah, menjadi ayah, dan tinggal serumah dengan seorang perempuan yang setiap hari menunjukkan bentuk lain dari ketahanan, saya mulai paham bahwa kata “madrasah” di situ tidak boleh kita persempit menjadi urusan nasihat, dongeng sebelum tidur, atau tangan yang menuntun anak memegang pensil.
Madrasah itu juga bernama tubuh ibu. Tubuh yang bekerja tanpa pidato. Ia menanggung tanpa seremoni. Tubuh yang mengajarkan daya tahan, penyesuaian, dan cinta bukan lewat teori, melainkan lewat fungsi hariannya sendiri.
Ketika istri saya hamil, tubuhnya berubah. Mual, lelah, dan berbagai ketidaknyamanan datang silih berganti. Sebagai laki-laki, saya hanya bisa menyaksikan dari luar. Saya tidak punya akses langsung ke pengalaman itu.
Madrasah itu Bernama Tubuh
Belakangan saya tahu bahwa pregnancy sickness bukan semata gangguan, melainkan bagian dari mekanisme adaptif tubuh untuk melindungi janin yang sedang tumbuh. Di sana ada kecerdasan biologis yang bekerja diam-diam. Tubuh itu tahu apa yang harus dilakukan bahkan ketika orang yang menjalaninya hanya sempat mengeluh pelan sambil tetap menyelesaikan urusan sehari-hari.
Di titik itu saya mulai curiga bahwa selama ini laki-laki sering terlalu murah hati kepada diri sendiri. Lelah setelah delapan jam bekerja dianggap sudah cukup heroik.
Padahal, di hadapan tubuh perempuan yang sedang hamil sambil tetap menjalani peran-peran sosialnya, kelelahan semacam itu acap kali tidak lebih dari catatan pinggir. Sebab perempuan hamil bukan hanya sedang mengandung. Ia tetap menjadi pasangan, pekerja, kolega, peneliti, anak, kawan, dan pusat koordinasi banyak urusan domestik yang sering tidak tercatat sebagai kerja.
Di situlah saya memahami bahwa salah satu kekeliruan paling umum dalam relasi laki-laki terhadap perempuan adalah mengira perempuan yang ia cintai selalu tetap sama. Kita merasa mengenalnya, lalu berhenti membaca.
Padahal perempuan terus berubah, dan sebagian perubahan itu bersifat struktural, bukan kosmetik. Kehamilan, persalinan, menyusui, kurang tidur, beban pengasuhan, tekanan sosial: semua itu bukan peristiwa kecil yang lewat tanpa jejak. Semuanya ikut menyusun ulang tubuh, psikis, dan cara seseorang berhubungan dengan dunia. Ia tetap orang yang sama, tetapi jelas bukan lagi orang yang persis sama.
Lalu anak kami lahir. Sejak itu saya melihat dengan lebih telanjang apa artinya menjadi ibu. Siang hari ia menjadi ibu. Malam hari ia tetap menjadi ibu. Yang berubah hanya tingkat kesunyian rumah. Anak kami menyusu sampai tertidur di pelukannya.
Saya, dengan seluruh keterbatasan biologis dan kebiasaan lelaki yang gampang tumbang oleh lelah, sering tidur lebih dulu. Tetapi pekerjaannya sering belum selesai. Setelah anak tidur dan rumah tenang, ia membuka laptop. Ia kembali ke jurnal, ke tulisan akademik, ke disertasi, ke kerja intelektual yang menuntut kejernihan justru pada jam-jam ketika tubuhnya paling berhak memperoleh istirahat.
Kesadaran Moral
Yang penting kita catat: ini bukan pengecualian. Ini bukan adegan langka yang sengaja saya ceritakan untuk memancing iba. Ini rutinitas. Dan di situlah masalahnya. Banyak bentuk pengorbanan perempuan justru luput kita kenali bukan karena kecil, melainkan karena terlalu sering terjadi. Yang berulang cenderung dianggap wajar. Berhenti kita persoalkan. Yang tak lagi dipersoalkan akhirnya gagal terbaca sebagai beban.
Belakangan saya tahu bahwa kurang tidur dapat merusak banyak hal dalam tubuh. Tetapi sebelum data medis sampai, yang lebih dulu menghantam saya adalah kesadaran moral: selama ini saya menyaksikan seseorang terus-menerus bernegosiasi dengan batas tubuhnya sendiri, dan saya nyaris menganggap itu normal. Yang saya lihat setiap hari bukan sekadar perempuan sibuk. Yang saya lihat adalah seseorang yang dipaksa terus hadir bagi banyak hal tanpa cukup ruang untuk pulih.
Dulu saya mengira kekuatan selalu tampil dalam bentuk yang keras dan demonstratif: mengangkat beban besar, berdiri paling depan, tampak kokoh dalam situasi genting. Kini definisi itu terasa naif. Kekuatan sering justru hadir dalam bentuk yang tidak fotogenik. Ia tampak pada seseorang yang tetap lembut kepada anaknya setelah malam yang nyaris tanpa tidur. Lalu tampak pada seseorang yang masih bisa berpikir jernih setelah berjam-jam menyusui. Ia tampak pada seseorang yang tetap menopang orang lain ketika tubuhnya sendiri sudah meminta jeda.
Karena itu, saya pelan-pelan sampai pada kesimpulan yang sederhana tetapi mengubah banyak hal. Kekuatan bukan terutama soal ledakan tenaga, melainkan kesinambungan daya tahan. Bukan soal momen dramatis, namun kesediaan untuk tetap berjalan ketika tubuh belum sepenuhnya pulih. Bukan soal penampilan gagah, tetapi kemampuan untuk terus memberi bahkan ketika diri sendiri nyaris tak sempat diisi ulang.
Membaca Ulang “Ibu adalah Madrasah Pertama”
Dari sana saya mulai membaca ulang kalimat “ibu adalah madrasah pertama” dengan lebih serius. Kalimat itu bukan hanya berbicara tentang ibu sebagai pengajar anak dalam pengertian pedagogis. Ia juga berbicara tentang tubuh sebagai tempat berlangsungnya pelajaran itu sendiri. Tentang waktu yang terkikis sedikit demi sedikit. Energi yang habis dalam bentuk-bentuk kecil yang tidak pernah masuk pidato penghargaan. Tentang pengorbanan yang justru tidak disebut pengorbanan karena terlalu rutin untuk dianggap luar biasa.
Belakangan saya menemukan istilah matrescence, yaitu proses perubahan besar yang dialami perempuan ketika menjadi ibu. Istilah ini membantu karena ia memberi nama pada sesuatu yang sering dibiarkan mengambang: bahwa menjadi ibu bukan sekadar memperoleh status sosial baru, tetapi memasuki fase transformasi yang biologis, psikologis, dan eksistensial sekaligus. Ketika membaca istilah itu, saya tidak merasa sedang menemukan pengetahuan baru. Saya hanya merasa akhirnya memiliki kosakata yang lebih tepat untuk menyebut sesuatu yang sudah lama ada di depan mata.
Saya melihat seorang perempuan yang harus hadir sebagai ibu, peneliti, mahasiswa doktoral, pasangan, dan dirinya sendiri pada saat yang hampir bersamaan. Tidak ada batas tegas di antara semua peran itu. Tidak ada bel yang berbunyi untuk menandai perpindahan jam pelajaran. Semua bertumpuk. Semua menuntut kesiapan, meminta kehadiran utuh. Dan masyarakat sering menikmati hasil dari kerja semacam itu tanpa merasa perlu memahami ongkosnya.
Kesadaran itu menjadi lebih keras ketika penyakit masuk ke rumah kami. Saat istri saya didiagnosis kanker, banyak hal yang sebelumnya saya anggap biasa mendadak menampakkan bobotnya. Malam-malam panjang itu. Kelelahan yang tak pernah benar-benar lunas. Tubuh yang terus dipakai bekerja tanpa cukup ruang untuk berhenti. Di situ saya dipaksa bertanya, selama ini saya sungguh memahami apa yang saya lihat, atau saya hanya terlalu terbiasa melihatnya sehingga gagal menyadari beratnya?
Mengeja Kembali, Tubuh, Waktu dan Cinta
Pertanyaan itu penting, terutama bagi laki-laki. Sebab sering kali masalahnya bukan kita sama sekali tidak melihat, tetapi kita melihat tanpa sungguh membaca. Kita menyaksikan, tetapi tidak memahami. Menerima banyak kerja perempuan sebagai latar belakang kehidupan, padahal justru di situlah berdiri infrastruktur emosional, biologis, dan sosial yang menopang keluarga. Kita menikmati hasilnya, tetapi terlalu jarang memikirkan ongkos tubuh yang dibayarkan untuk menghadirkan semua itu.
Karena itu, bagi saya, kalimat “ibu adalah madrasah pertama” sekarang tidak lagi terdengar sebagai slogan yang rapi. Ia terdengar sebagai kenyataan yang berat. Ia menunjuk pada laku hidup yang terus-menerus, bukan pada petuah yang manis. Ia berbicara tentang bagaimana memberi, bertahan, dan mencintai sering kali tidak hadir sebagai pelajaran yang terucapkan, melainkan sebagai kerja tubuh yang senyap, berulang, dan nyaris selalu kurang dihitung.
Dan saya datang ke madrasah itu bukan sebagai orang yang sudah paham, tetapi sebagai murid yang telat sadar. Saya kira selama ini saya sudah mengerti. Ternyata belum. Saya masih berdiri di halaman awal sekali, masih belajar mengeja ulang tubuh, waktu, dan cinta – dengan lebih jujur, dan mudah-mudahan, dengan lebih rendah hati. []











































