Rabu, 24 Juni 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

    Aliansi Perempuan Indonesia

    Aliansi Perempuan Indonesia Turun ke Jalan Tolak Kenaikan Harga

    In This Economy

    In This Economy, Perempuan dengan Satu Penghasilan Adalah Kemewahan

    Warga NU

    Di Mubes NU Cirebon Raya, Maria Ulfah Anshor: Abad Kedua NU Harus Berpihak pada Kelompok Rentan

    Mubes Warga NU

    Mubes Warga NU Cirebon Raya: Dorong NU Kembali Menjadi Kekuatan Masyarakat Sipil

    Muharram

    Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Sampah di Laci Kelas

    Sampah di Laci Kelas dan Pelajaran yang Kita Tinggalkan

    Tubuh Ibu

    Berguru pada Tubuh Ibu

    Popok Bayi

    Popok Bayi, Sampah, dan Beban Ibu

    Fikih Disabilitas

    Buku Fikih Disabilitas Resmi Diluncurkan di Munas Konbes NU 2026

    Pesantren

    Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Ikhtiar Membangun Ruang Aman di Pesantren

    Hukum

    Eksploitasi Ekonomi, Kesalingan Hukum, dan Ilusi Norma Kewajiban Suami

    Korban Kekerasan di Bandung

    Korban Kekerasan di Bandung; Islam Menolak Relasi yang Menindas

    Belajar Mubadalah

    Ayah Saya Tak Belajar Mubadalah, Tapi Ia Seorang Qawwam Sejati

    Melihat Sakit

    Melihat Sakit sebagai Bentuk Kasih Sayang Allah

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Sterilisasi

    Cara Kerja Sterilisasi dalam Mencegah Kehamilan secara Permanen

    Masa Subur

    Cara Menentukan Masa Subur dengan Metode Irama dan Pengecekan Lendir

    KB ALami

    Mengenal Metode KB Alami: Cara Memahami Masa Subur untuk Mencegah Kehamilan

    Menyusui

    Menyusui sebagai Metode Pencegahan Kehamilan

    KB Spiral

    Cara Menggunakan KB Spiral

    KB Spiral

    KB Spiral Progestin: Manfaat, Efek Samping, dan Kondisi yang Perlu Diwaspadai

    KB

    Mengenal KB Spiral (IUD), Alat Kontrasepsi yang Bisa Mencegah Kehamilan hingga 10 Tahun

    Suntik KB

    Mengenal Suntik KB Kombinasi, Kontrasepsi Hormonal yang Membantu Menjaga Siklus Haid Tetap Teratur

    Suntikan KB

    Suntik KB sebagai Pilihan Kontrasepsi, Apa Saja Kelebihan dan Risikonya?

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

    Aliansi Perempuan Indonesia

    Aliansi Perempuan Indonesia Turun ke Jalan Tolak Kenaikan Harga

    In This Economy

    In This Economy, Perempuan dengan Satu Penghasilan Adalah Kemewahan

    Warga NU

    Di Mubes NU Cirebon Raya, Maria Ulfah Anshor: Abad Kedua NU Harus Berpihak pada Kelompok Rentan

    Mubes Warga NU

    Mubes Warga NU Cirebon Raya: Dorong NU Kembali Menjadi Kekuatan Masyarakat Sipil

    Muharram

    Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Sampah di Laci Kelas

    Sampah di Laci Kelas dan Pelajaran yang Kita Tinggalkan

    Tubuh Ibu

    Berguru pada Tubuh Ibu

    Popok Bayi

    Popok Bayi, Sampah, dan Beban Ibu

    Fikih Disabilitas

    Buku Fikih Disabilitas Resmi Diluncurkan di Munas Konbes NU 2026

    Pesantren

    Pendidikan Kesehatan Reproduksi dan Ikhtiar Membangun Ruang Aman di Pesantren

    Hukum

    Eksploitasi Ekonomi, Kesalingan Hukum, dan Ilusi Norma Kewajiban Suami

    Korban Kekerasan di Bandung

    Korban Kekerasan di Bandung; Islam Menolak Relasi yang Menindas

    Belajar Mubadalah

    Ayah Saya Tak Belajar Mubadalah, Tapi Ia Seorang Qawwam Sejati

    Melihat Sakit

    Melihat Sakit sebagai Bentuk Kasih Sayang Allah

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Sterilisasi

    Cara Kerja Sterilisasi dalam Mencegah Kehamilan secara Permanen

    Masa Subur

    Cara Menentukan Masa Subur dengan Metode Irama dan Pengecekan Lendir

    KB ALami

    Mengenal Metode KB Alami: Cara Memahami Masa Subur untuk Mencegah Kehamilan

    Menyusui

    Menyusui sebagai Metode Pencegahan Kehamilan

    KB Spiral

    Cara Menggunakan KB Spiral

    KB Spiral

    KB Spiral Progestin: Manfaat, Efek Samping, dan Kondisi yang Perlu Diwaspadai

    KB

    Mengenal KB Spiral (IUD), Alat Kontrasepsi yang Bisa Mencegah Kehamilan hingga 10 Tahun

    Suntik KB

    Mengenal Suntik KB Kombinasi, Kontrasepsi Hormonal yang Membantu Menjaga Siklus Haid Tetap Teratur

    Suntikan KB

    Suntik KB sebagai Pilihan Kontrasepsi, Apa Saja Kelebihan dan Risikonya?

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

Berguru pada Tubuh Ibu

Di hadapan tubuh perempuan yang sedang hamil sambil tetap menjalani peran-peran sosialnya, kelelahan semacam itu acap kali tidak lebih dari catatan pinggir.

Habibus Salam by Habibus Salam
24 Juni 2026
in Personal
A A
0
Tubuh Ibu

Tubuh Ibu

1
SHARES
42
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Saya ini santri ecek-ecek. Hafalan nadzam saya lebih sering kabur daripada menetap. Tetapi ada satu bait yang, entah bagaimana, terus tinggal di kepala saya. Bait itu milik Hafiz Ibrahim: Al-ummu madrasatul ula, idza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq. Ibu adalah madrasah pertama. Jika engkau mempersiapkannya, engkau sedang menyiapkan generasi terbaik.

Masalahnya, kalimat itu terlalu sering terucapkan. Ia beredar dari seminar parenting ke pengajian keluarga, dari status Facebook ke grup WhatsApp, dari spanduk acara sampai poster berlatar bunga. Semua orang setuju. Semua orang mengangguk. Dan justru karena terlalu mudah kita setujui, kalimat itu kehilangan bobotnya. Ia berubah menjadi slogan moral: terdengar benar, tetapi jarang kita pikirkan sungguh-sungguh.

Saya pun lama memperlakukannya begitu. Saya tumbuh bersama kalimat-kalimat sejenis: perempuan adalah tiang negara, ibu adalah sekolah pertama, kualitas bangsa ditentukan oleh kualitas ibunya. Semua terdengar mulia. Semua tampak masuk akal. Tetapi justru karena terlalu sering terdengar, ia berhenti bekerja sebagai pengetahuan. Ia hanya tinggal sebagai bunyi. Saya mengutipnya, saya menyetujuinya, lalu hidup berjalan tanpa perubahan berarti dalam cara saya memandang perempuan, ibu, dan kerja hidup yang mereka tanggung.

Pengalamanlah yang kemudian memaksa saya membaca ulang kalimat itu. Setelah menikah, menjadi ayah, dan tinggal serumah dengan seorang perempuan yang setiap hari menunjukkan bentuk lain dari ketahanan, saya mulai paham bahwa kata “madrasah” di situ tidak boleh kita persempit menjadi urusan nasihat, dongeng sebelum tidur, atau tangan yang menuntun anak memegang pensil.

Madrasah itu juga bernama tubuh ibu. Tubuh yang bekerja tanpa pidato. Ia menanggung tanpa seremoni. Tubuh yang mengajarkan daya tahan, penyesuaian, dan cinta bukan lewat teori, melainkan lewat fungsi hariannya sendiri.

Ketika istri saya hamil, tubuhnya berubah. Mual, lelah, dan berbagai ketidaknyamanan datang silih berganti. Sebagai laki-laki, saya hanya bisa menyaksikan dari luar. Saya tidak punya akses langsung ke pengalaman itu.

Madrasah itu Bernama Tubuh

Belakangan saya tahu bahwa pregnancy sickness bukan semata gangguan, melainkan bagian dari mekanisme adaptif tubuh untuk melindungi janin yang sedang tumbuh. Di sana ada kecerdasan biologis yang bekerja diam-diam. Tubuh itu tahu apa yang harus dilakukan bahkan ketika orang yang menjalaninya hanya sempat mengeluh pelan sambil tetap menyelesaikan urusan sehari-hari.

Di titik itu saya mulai curiga bahwa selama ini laki-laki sering terlalu murah hati kepada diri sendiri. Lelah setelah delapan jam bekerja dianggap sudah cukup heroik.

Padahal, di hadapan tubuh perempuan yang sedang hamil sambil tetap menjalani peran-peran sosialnya, kelelahan semacam itu acap kali tidak lebih dari catatan pinggir. Sebab perempuan hamil bukan hanya sedang mengandung. Ia tetap menjadi pasangan, pekerja, kolega, peneliti, anak, kawan, dan pusat koordinasi banyak urusan domestik yang sering tidak tercatat sebagai kerja.

Di situlah saya memahami bahwa salah satu kekeliruan paling umum dalam relasi laki-laki terhadap perempuan adalah mengira perempuan yang ia cintai selalu tetap sama. Kita merasa mengenalnya, lalu berhenti membaca.

Padahal perempuan terus berubah, dan sebagian perubahan itu bersifat struktural, bukan kosmetik. Kehamilan, persalinan, menyusui, kurang tidur, beban pengasuhan, tekanan sosial: semua itu bukan peristiwa kecil yang lewat tanpa jejak. Semuanya ikut menyusun ulang tubuh, psikis, dan cara seseorang berhubungan dengan dunia. Ia tetap orang yang sama, tetapi jelas bukan lagi orang yang persis sama.

Lalu anak kami lahir. Sejak itu saya melihat dengan lebih telanjang apa artinya menjadi ibu. Siang hari ia menjadi ibu. Malam hari ia tetap menjadi ibu. Yang berubah hanya tingkat kesunyian rumah. Anak kami menyusu sampai tertidur di pelukannya.

Saya, dengan seluruh keterbatasan biologis dan kebiasaan lelaki yang gampang tumbang oleh lelah, sering tidur lebih dulu. Tetapi pekerjaannya sering belum selesai. Setelah anak tidur dan rumah tenang, ia membuka laptop. Ia kembali ke jurnal, ke tulisan akademik, ke disertasi, ke kerja intelektual yang menuntut kejernihan justru pada jam-jam ketika tubuhnya paling berhak memperoleh istirahat.

Kesadaran Moral

Yang penting kita catat: ini bukan pengecualian. Ini bukan adegan langka yang sengaja saya ceritakan untuk memancing iba. Ini rutinitas. Dan di situlah masalahnya. Banyak bentuk pengorbanan perempuan justru luput kita kenali bukan karena kecil, melainkan karena terlalu sering terjadi. Yang berulang cenderung dianggap wajar. Berhenti kita persoalkan. Yang tak lagi dipersoalkan akhirnya gagal terbaca sebagai beban.

Belakangan saya tahu bahwa kurang tidur dapat merusak banyak hal dalam tubuh. Tetapi sebelum data medis sampai, yang lebih dulu menghantam saya adalah kesadaran moral: selama ini saya menyaksikan seseorang terus-menerus bernegosiasi dengan batas tubuhnya sendiri, dan saya nyaris menganggap itu normal. Yang saya lihat setiap hari bukan sekadar perempuan sibuk. Yang saya lihat adalah seseorang yang dipaksa terus hadir bagi banyak hal tanpa cukup ruang untuk pulih.

Dulu saya mengira kekuatan selalu tampil dalam bentuk yang keras dan demonstratif: mengangkat beban besar, berdiri paling depan, tampak kokoh dalam situasi genting. Kini definisi itu terasa naif. Kekuatan sering justru hadir dalam bentuk yang tidak fotogenik. Ia tampak pada seseorang yang tetap lembut kepada anaknya setelah malam yang nyaris tanpa tidur. Lalu tampak pada seseorang yang masih bisa berpikir jernih setelah berjam-jam menyusui. Ia tampak pada seseorang yang tetap menopang orang lain ketika tubuhnya sendiri sudah meminta jeda.

Karena itu, saya pelan-pelan sampai pada kesimpulan yang sederhana tetapi mengubah banyak hal. Kekuatan bukan terutama soal ledakan tenaga, melainkan kesinambungan daya tahan. Bukan soal momen dramatis, namun kesediaan untuk tetap berjalan ketika tubuh belum sepenuhnya pulih. Bukan soal penampilan gagah, tetapi kemampuan untuk terus memberi bahkan ketika diri sendiri nyaris tak sempat diisi ulang.

Membaca Ulang “Ibu adalah Madrasah Pertama”

Dari sana saya mulai membaca ulang kalimat “ibu adalah madrasah pertama” dengan lebih serius. Kalimat itu bukan hanya berbicara tentang ibu sebagai pengajar anak dalam pengertian pedagogis. Ia juga berbicara tentang tubuh sebagai tempat berlangsungnya pelajaran itu sendiri. Tentang waktu yang terkikis sedikit demi sedikit. Energi yang habis dalam bentuk-bentuk kecil yang tidak pernah masuk pidato penghargaan. Tentang pengorbanan yang justru tidak disebut pengorbanan karena terlalu rutin untuk dianggap luar biasa.

Belakangan saya menemukan istilah matrescence, yaitu proses perubahan besar yang dialami perempuan ketika menjadi ibu. Istilah ini membantu karena ia memberi nama pada sesuatu yang sering dibiarkan mengambang: bahwa menjadi ibu bukan sekadar memperoleh status sosial baru, tetapi memasuki fase transformasi yang biologis, psikologis, dan eksistensial sekaligus. Ketika membaca istilah itu, saya tidak merasa sedang menemukan pengetahuan baru. Saya hanya merasa akhirnya memiliki kosakata yang lebih tepat untuk menyebut sesuatu yang sudah lama ada di depan mata.

Saya melihat seorang perempuan yang harus hadir sebagai ibu, peneliti, mahasiswa doktoral, pasangan, dan dirinya sendiri pada saat yang hampir bersamaan. Tidak ada batas tegas di antara semua peran itu. Tidak ada bel yang berbunyi untuk menandai perpindahan jam pelajaran. Semua bertumpuk. Semua menuntut kesiapan, meminta kehadiran utuh. Dan masyarakat sering menikmati hasil dari kerja semacam itu tanpa merasa perlu memahami ongkosnya.

Kesadaran itu menjadi lebih keras ketika penyakit masuk ke rumah kami. Saat istri saya didiagnosis kanker, banyak hal yang sebelumnya saya anggap biasa mendadak menampakkan bobotnya. Malam-malam panjang itu. Kelelahan yang tak pernah benar-benar lunas. Tubuh yang terus dipakai bekerja tanpa cukup ruang untuk berhenti. Di situ saya dipaksa bertanya, selama ini saya sungguh memahami apa yang saya lihat, atau saya hanya terlalu terbiasa melihatnya sehingga gagal menyadari beratnya?

Mengeja Kembali, Tubuh, Waktu dan Cinta

Pertanyaan itu penting, terutama bagi laki-laki. Sebab sering kali masalahnya bukan kita sama sekali tidak melihat, tetapi kita melihat tanpa sungguh membaca. Kita menyaksikan, tetapi tidak memahami. Menerima banyak kerja perempuan sebagai latar belakang kehidupan, padahal justru di situlah berdiri infrastruktur emosional, biologis, dan sosial yang menopang keluarga. Kita menikmati hasilnya, tetapi terlalu jarang memikirkan ongkos tubuh yang dibayarkan untuk menghadirkan semua itu.

Karena itu, bagi saya, kalimat “ibu adalah madrasah pertama” sekarang tidak lagi terdengar sebagai slogan yang rapi. Ia terdengar sebagai kenyataan yang berat. Ia menunjuk pada laku hidup yang terus-menerus, bukan pada petuah yang manis. Ia berbicara tentang bagaimana memberi, bertahan, dan mencintai sering kali tidak hadir sebagai pelajaran yang terucapkan, melainkan sebagai kerja tubuh yang senyap, berulang, dan nyaris selalu kurang dihitung.

Dan saya datang ke madrasah itu bukan sebagai orang yang sudah paham, tetapi sebagai murid yang telat sadar. Saya kira selama ini saya sudah mengerti. Ternyata belum. Saya masih berdiri di halaman awal sekali, masih belajar mengeja ulang tubuh, waktu, dan cinta – dengan lebih jujur, dan mudah-mudahan, dengan lebih rendah hati. []

Tags: al-ummu madrasah ulakeluargaparentingPengalaman BiologisRelasiTubuh Ibu
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Cara Menentukan Masa Subur dengan Metode Irama dan Pengecekan Lendir

Next Post

Mengenal Metode KB Tradisional: Mana yang Efektif dan Mana yang Berbahaya?

Habibus Salam

Habibus Salam

Suami, Ayah, dan Laki-laki yang sedang belajar

Related Posts

Belajar Mubadalah
Keluarga

Ayah Saya Tak Belajar Mubadalah, Tapi Ia Seorang Qawwam Sejati

22 Juni 2026
Wahnan 'ala Wahnin
Buku

Wahnan ‘ala Wahnin: Ketika Pengalaman Biologis Khas Perempuan Dibahas oleh Santri Perempuan

22 Juni 2026
Gender Equality
Publik

Gender Equality dan Gender Equity: Mencari Titik Temu antara Hak dan Keadilan

19 Juni 2026
Dawuh Nyai Noor Chodijah
Personal

Membaca Dawuh Mbah Nyai Noor Chodijah tentang Laku Batin Perempuan

19 Juni 2026
Tanggung Jawab Moral
Keluarga

Menakar Batas Tanggung Jawab Moral dalam Pengasuhan Kesalingan

18 Juni 2026
Sebelum Harimu Bersamanya
Buku

Buku “Sebelum Harimu Bersamanya”: Sebuah Panduan Sebelum Menikah

17 Juni 2026
Next Post
Metode KB Mana

Mengenal Metode KB Tradisional: Mana yang Efektif dan Mana yang Berbahaya?

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Cara Kerja Sterilisasi dalam Mencegah Kehamilan secara Permanen
  • Sampah di Laci Kelas dan Pelajaran yang Kita Tinggalkan
  • Mengenal Metode KB Tradisional: Mana yang Efektif dan Mana yang Berbahaya?
  • Berguru pada Tubuh Ibu
  • Cara Menentukan Masa Subur dengan Metode Irama dan Pengecekan Lendir

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0