Mubadalah.id-Karya seni wayang selama ini sering kita maknai sebagai sebuah warisan budaya. Ia dipentaskan untuk menjaga sebuah tradisi, lalu kita peringati setiap kali muncul kekhawatiran bahwa generasi muda mulai meninggalkannya. Kita sering bertanya bagaimana cara menyelamatkan wayang, namun jarang untuk bertanya : “Kepada siapa sebenarnya wayang tersebut tertuju?”
Pertanyaan tersebut menjadi penting karena kebudayaan selalu hidup di tengah-tengah kehidupan manusia beserta segala persoalannya. Seni yang hanya sibuk merawat masa lalu, namun tetap diam terhadap ketidakadilan hari ini, lambat laun akan kehilangan daya hidupnya. Ia mungkin masih tetap indah untuk kita tonton, namun telah mati menjadi bahasa yang mampu menyentuh realitas.
Kisah Kus Sri Antoro menawarkan cara pandang yang cukup berbeda menanggapi hal tersebut. Bersama komunitas Wayang Limbah Ki Samidjan yang dirintis ayahnya, ia tidak sekadar membuat wayang dari plastik bekas maupun limbah rumah tangga.
Yang jauh lebih penting saat ini adalah bagaimana wayang yang terbuat dari limbah plastik tersebut dapat digunakan untuk menyampaikan cerita-cerita yang selama ini nyaris tak mendapatkan tempat di panggung kebudayaan. Penyandang disabilitas, kelompok rentan dan minoritas, hingga mereka yang tersisih oleh sistem sosial.
Ketika Wayang Berhenti Menjadi Nostalgia
Sering kali pelestarian budaya kita maknai hanya sebatas untuk menjaga bentuk. Wayang harus tetap seperti dahulu, cerita harus tetap sama, tokohnya tidak boleh berubah. Seolah-olah perubahan merupakan ancaman bagi sebuah tradisi. Padahal sejarah menunjukkan realitas yang berbeda.
Wayang sendiri lahir melalui proses yang sangat panjang terhadap dialog budaya. Ia terus beradaptasi mengikuti zamannya. Para dalang sejak dahulu juga menggunakan pertunjukan budaya wayang untuk menyampaikan kritik sosial, sindiran, politik, hingga persoalan kehidupan sehari-hari. Dengan kata lain, perubahan justru merupakan bagian dari tradisi itu sendiri.
Karena itu Kus menghadirkan kisah seorang anak difabel melalui dongeng Jelungan, ia sebenarnya sedang mengembalikan wayang kepada fungsinya dahulu, yaitu menjadi media yang dapat berbicara tentang hakikat manusia. Yang ia ubah bukan ruhnya, namun objek kepeduliannya.
Membawa Mereka yang Selama Ini Berada di Pinggir
Ada satu kecenderungan yang patut untuk kita kritisi dalam banyak karya seni maupun narasi keagamaan. Kelompok rentan sering hadir hanya sebagai objek belas kasihan. Mereka diceritakan agar orang lain merasa iba, bukan agar masyarakat mempertanyakan mengapa ketidakadilan itu terus langgeng berkuasa.
Padahal persoalan penyandang disabilitas bukan semata tentang keterbatasan fisik. Hambatan terbesar mereka justru lahir dari lingkungan yang tidak menyediakan akses yang setara, seperti trotoar yang tidak ramah, bangunan publik yang sulit mereka akses, kesempatan bekerja yang terbatas, hingga cara pandang masyarakat yang masih menganggap mereka “Berbeda”. Sebagaimana Kus sampaikan, masalahnya bukan karena mereka tidak mampu, melainkan karena kesempatan yang kita berikan belum benar-benar setara.
Dalam pandangan Islam, kemuliaan manusia tidak pernah ditentukan oleh kesempurnaan fisik maupun kemampuan yang dimilikinya. Al-Qur’an menegaskan bahwa setiap manusia mulia sebagai ciptaan Allah (Q.S. Al-Isra’:70), sementara perbedaan kondisi tubuh merupakan bagian dari keragaman penciptaan, bukan alasan untuk mengurangi martabat seseorang.
Karena itu, persoalan disabilitas tidak semestinya kita pandang sebagai kekurangan yang harus kita kasihani, melainkan sebagai pengingat bahwa masyarakatlah yang berkewajiban menciptakan ruang hidup yang adil bagi semua orang.
Mubadalah Sebagai Kacamata Kajian
Melihat hal itu, Mubadalah hadir sebagai salah satu kacamata perspektif. ia mengajarkan bahwa relasi antar manusia terbangun atas prinsip kesalingan, yakni saling memuliakan, saling menguatkan, dan saling memastikan tidak ada satu pihak pun yang tertinggal.
Cara pandang ini menggeser fokus dari memberi belas kasihan kepada penyandang disabilitas menuju tanggung jawab bersama untuk menghapus berbagai hambatan yang menghalangi mereka menjalankan hak-haknya sebagai warga negara maupun sebagai sesama hamba Allah. Dengan demikian, inklusi bukan lagi kita pahami sebagai kemurahan hati kelompok mayoritas, melainkan sebagai bentuk nyata dari keadilan yang menjadi tujuan ajaran Islam.
Perspektif inilah yang terasa dekat dengan semangat Mubadalah. Ketidakadilan tidak lahir dari identitas seseorang, namun dari relasi sosial yang membuat sebagian orang lebih mudah memperoleh hak daripada yang lain. Karena itulah, membela kelompok marjinal bukan tindakan belas kasihan. Ia adalah ikhtiar menghadirkan keadilan.
Seni yang Memilih Berdiri Bersama yang Rentan
Keberanian Kus tidak berhenti pada isu disabilitas. Pada tahun 2020, ia bersama Samidjan juga pernah memainkan wayang di Pondok Pesantren Waria Al-Fatah, Yogyakarta. Lakonnya mengangkat kesulitan seorang kelompok rentan dalam memperoleh dokumen kependudukan yang kemudian berdampak pada akses pekerjaan, layanan kesehatan, hingga hak politik. Tentu tidak semua orang akan sepakat dengan pemilihan tema tersebut. Namun, justru hal tersebutlah fungsi seni dapat teruji.
Seni bukan hanya untuk hiburan mereka yang sudah sepakat dengan kita. Seni juga mengundang masyarakat untuk melihat manusia yang selama ini sengaja kita abaikan. Ia menggeser fokus dari label menuju ke pengalaman hidup manusia. Dalam banyak kesempatan, kita terlalu cepat untuk mendebat identitas seseorang sebelum sempat mendengar penderitaan mereka.
Kebudayaan Yang Berpihak
Ada falsafah Jawa yang menjadi napas Wayang Limbah Ki Samidjan. Memayu Hayuning Bawana, Memperindah sekaligus merawat kehidupan dunia. Falsafah tersebut diterjemahkan bukan hanya melalui penggunaan limbah sebagai bahan wayang, namun juga melalui keberpihakan terhadap manusia dan lingkungan secara bersamaan. Barangkali hal tersebutlah pelajaran dapat kita petik. Bahwa kebudayaan itu tidak cukup hanya sekadar kita lestarikan.
Ia harus terus kita pertanyakan, Apakah masih menghadirkan kemaslahatan?, Apakah masih membuka ruang bagi mereka yang selama ini tidak terdengar?, Ataukah justru ikut membuka ruang bagi mereka yang selama ini tidak terdengar?, Ataukah justru ikut mempertahankan batas-batas yang membuat sebagian orang tetap berada di pinggiran?.
Tradisi yang sehat bukan tradisi yang membeku. Ia adalah tradisi yang terus bertumbuh bersama persoalan zaman, tanpa kehilangan nilai-nilai kemanusiaannya.
Mungkin, cara terbaik menjaga wayang bukan dengan menyimpannya di museum atau sekadar merayakannya sebagai warisan budaya. Melainkan dengan membiarkannya terus berbicara tentang manusia, tentang keadilan, dan tentang mereka yang selama ini belum pernah kita beri kesempatan menjadi tokoh utama dalam cerita kita. []












































