Mubadalah.id – Putri (bukan nama sebenarnya) pernah percaya bahwa sekolah bukan lagi tempat yang aman baginya. Hampir setiap hari ia merasa tertinggal dibanding teman-temannya. Keterlambatannya dalam membaca dan berhitung membuatnya menjadi sasaran ejekan.
Lambat laun, ia memilih lebih sering absen, mengurung diri di rumah, bahkan enggan bermain dengan teman-teman sebayanya. Baru kemudian keluarganya mengetahui bahwa Putri merupakan anak dengan tunagrahita atau disabilitas intelektual.
Saya mengenalnya ketika Putri mulai bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) Dharma Wicaksana Pasuruan, Jawa Timur. Sebelum bersekolah di SLB, Putri sempat mengenyam pendidikan di sekolah umum yang letaknya tidak jauh dari rumahnya. Seperti banyak keluarga di desa lainnya, orang tua Putri memiliki keterbatasan dalam mengakses informasi mengenai tumbuh kembang anak.
Jangankan memperoleh layanan psikolog, memahami bahwa keterlambatan perkembangan anak membutuhkan asesmen profesional pun bukan perkara mudah. Jarak layanan yang jauh, biaya yang tidak sedikit, serta minimnya edukasi membuat banyak keluarga terlambat mengetahui kondisi anak mereka.
Belakangan diketahui bahwa Putri merupakan anak dengan tunagrahita atau disabilitas intelektual.
Anak dengan disabilitas intelektual memiliki cara berpikir yang berbeda. Mereka memandang dunia secara lebih konkret. Hal-hal yang bagi kebanyakan orang terasa rumit, sering kali mereka maknai secara apa adanya.
Mereka hidup dalam rutinitas, menghargai perhatian yang tulus, dan lebih mudah memahami kasih sayang dibandingkan penjelasan yang berbelit-belit. Sayangnya, dunia tidak selalu ramah terhadap perbedaan.
Sering Menjadi Bahan Ejekan
Karena mengalami keterlambatan dalam membaca, menulis, dan berhitung, Putri sering tertinggal dibandingkan teman-teman sekelasnya. Keterlambatan itu kemudian menjadi alasan sebagian anak mengejek dan merundungnya.
Perlahan Putri mulai kehilangan semangat bersekolah. Ia sering memilih tidak masuk kelas. Di rumah, ia lebih banyak mengurung diri. Bahkan ketika teman-teman seusianya bermain di sekitar rumah, Putri enggan bergabung. Ia merasa berbeda dan tidak ada teman-teman yang menerimanya.
Yang lebih menyedihkan, perundungan tidak hanya berhenti pada Putri. Ibunya juga ikut merasakan dampaknya. Di lingkungan sekitar, ia kerap menerima cibiran dari sebagian orang tua yang terbiasa membandingkan dan membanggakan prestasi anak-anak mereka. Tanpa disadari, budaya saling membandingkan itu melukai keluarga yang sedang berjuang menerima kondisi anaknya.
Sebagai guru, saya sering bertanya-tanya, seberapa besar luka yang sebenarnya disimpan Putri?
Mungkin ia tidak mampu menceritakan seluruh perasaannya. Ia mungkin kesulitan menyusun kalimat yang utuh tentang pengalaman yang dialaminya. Namun bukan berarti ia tidak merasakan sakit.
Perasaan ditolak, dikucilkan, atau dianggap berbeda tidak selalu membutuhkan kemampuan bahasa untuk dapat dirasakan. Manusia, siapapun dia, memiliki naluri untuk diterima.
Menjadi Guru bagi Putri
Anak dengan disabilitas intelektual pun demikian. Mereka mungkin tidak mampu menjelaskan mengapa mereka sedih. Tetapi mereka dapat merasakan ketika tatapan orang berubah, ketika teman menjauh, atau ketika dirinya tidak lagi diajak bermain.
Pengalaman mengajar Putri memperlihatkan hal itu.
Di dalam kelas, ia hampir selalu terlihat takut melakukan kesalahan. Ketika saya mengajukan pertanyaan, ia lebih sering menundukkan kepala. Kalau pun menjawab, suaranya sangat pelan, seolah khawatir setiap kata yang keluar akan dianggap salah.
Lama-kelamaan saya menyadari bahwa yang sedang saya lihat bukan sekadar anak yang pemalu. Bisa jadi Putri sedang membawa pengalaman panjang tentang bentakan, ejekan, dan rasa takut gagal. Ia tampak berusaha menjadi anak yang selalu benar agar tidak dimarahi, agar diterima, dan agar tetap disayangi.
Dari situlah saya belajar bahwa kebutuhan terbesar Putri bukan sekadar materi pelajaran. Ia membutuhkan rasa aman. Rasa aman untuk mencoba. Rasa aman untuk melakukan kesalahan. Rasa aman bahwa dirinya tetap berharga, meskipun tidak selalu berhasil menjawab soal dengan benar.
Pengalaman tersebut mengajarkan bahwa pendidikan inklusif tidak cukup hanya membuka pintu sekolah bagi anak berkebutuhan khusus. Yang jauh lebih penting adalah membangun budaya sekolah yang menghargai keberagaman.
Sebab tidak sedikit anak berkebutuhan khusus yang akhirnya berhenti belajar karena lelah menghadapi penolakan tersebut. Karena itu, edukasi kepada seluruh orang tua menjadi sangat penting.
Tumbuh Kembang Anak Pasti Berbeda
Masyarakat perlu memahami bahwa setiap anak berkembang dengan kecepatannya masing-masing. Ada anak yang membutuhkan waktu lebih lama untuk membaca, berhitung, atau berbicara. Perbedaan tersebut bukan alasan untuk merendahkan mereka.
Sebaliknya, mereka membutuhkan dukungan yang lebih besar agar mampu menemukan potensi terbaiknya.
Pengalaman di berbagai negara menunjukkan bahwa banyak penyandang tunagrahita mampu menorehkan prestasi luar biasa ketika pendidikan tidak hanya berorientasi pada kemampuan akademik.
Sebagian dari mereka berkembang melalui olahraga, seni, keterampilan vokasional, maupun pekerjaan yang sesuai dengan karakter dan kemampuan masing-masing.
Mereka memiliki kelebihan dalam ketekunan. Ketika menemukan bidang yang disukai, mereka mampu mengulang latihan dengan disiplin dan konsisten hingga menghasilkan kemampuan yang mengagumkan.
Hal itu mengingatkan kita bahwa kecerdasan manusia tidak hanya kita ukur melalui nilai rapor. Sebab, setiap anak memiliki cara berbeda untuk menunjukkan potensinya.
Karena itu, tugas orang tua bukan memaksa anak menjadi seperti kebanyakan orang. Melainkan membantu menemukan apa yang membuatnya bertumbuh.
Minat dan bakat anak berkebutuhan khusus perlu kita kenalkan sejak dini. Mereka perlu kita beri kesempatan mencoba berbagai aktivitas, mulai dari olahraga, seni, kerajinan, hingga keterampilan hidup sehari-hari. Bisa jadi kemampuan terbaik mereka justru muncul dari sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.
Namun, kesempatan tersebut tidak selalu setiap keluarga miliki. Masih banyak orang tua yang terbatas secara ekonomi sehingga sulit mengakses terapi, pelatihan, maupun fasilitas pengembangan bakat.
Di sinilah negara dan para pemangku kebijakan memiliki tanggung jawab besar. Pemerintah perlu memastikan layanan pendidikan, terapi, dan pelatihan keterampilan dapat mengaksesnya secara merata, termasuk oleh keluarga di daerah pedesaan.
Masyarakat yang memiliki kemampuan finansial pun dapat mengambil peran melalui berbagai bentuk dukungan sosial, mulai dari beasiswa, pelatihan, hingga penyediaan ruang belajar yang inklusif.
Minimnya Empati
Menjadi guru bagi Putri membuat saya memahami bahwa disabilitas bukanlah persoalan utama. Yang sering kali menjadi penghalang justru stigma, kurangnya pengetahuan, dan minimnya empati.
Kita terlalu sering mengukur anak berdasarkan apa yang belum mampu mereka lakukan, tetapi lupa melihat kemampuan yang sedang tumbuh di dalam diri mereka.
Padahal setiap anak lahir dengan potensi yang berbeda. Tugas kita bukan membandingkan, melainkan menyediakan ruang agar potensi itu dapat berkembang.
Sebab ukuran masyarakat yang beradab bukan dari bagaimana mereka memperlakukan orang-orang yang kuat. Melainkan bagaimana mereka menghormati mereka yang paling rentan.
Dan bagi Putri, seperti juga jutaan anak berkebutuhan khusus lainnya, kasih sayang, penerimaan, dan kesempatan mungkin adalah hadiah terbesar yang mereka rasakan. []











































