Mubadalah.id – Entah mengapa, belakangan ini saya merasa semakin sulit melepaskan diri dari layar ponsel. Awalnya hanya ingin membaca satu berita. Namun jari terus menggulir, dan dorongan untuk terus scrolling tidak berhenti. Dari satu unggahan ke unggahan lain, dari satu berita ke berita berikutnya.
Begitulah algoritma bekerja. Ada berita kekerasan seksual, kasus perundungan, konflik politik, program makan bergizi gratis, hingga berbagai persoalan sosial yang silih berganti memenuhi linimasa media sosial.
Sebagian besar isu tersebut memang dekat dengan apa yang saya baca dan tulis sehari-hari. Sebagai seseorang yang memiliki ketertarikan pada isu pendidikan, kesehatan reproduksi, dan pemberdayaan perempuan, saya merasa perlu mengikuti perkembangan berbagai persoalan yang terjadi di sekitar. Saya ingin tetap terhubung dengan realita, tetap peduli dan tetap kritis.
Namun, pada satu titik saya mulai menyadari bahwa kepedulian yang tidak diimbangi dengan jeda dapat berubah menjadi kelelahan. Saya membaca terlalu banyak kabar buruk hingga tanpa sadar mulai memandang dunia sebagai tempat yang sepenuhnya suram dan kehilangan harapan.
Baru-baru ini saya mengetahui bahwa kebiasaan tersebut dinamakan doomscrolling. Jika diartikan, doomscrolling adalah kecenderungan mengonsumsi berita-berita negatif secara terus-menerus melalui media digital.
Terdapat sebuah ulasan yang dimuat oleh Harvard Health Publishing yang mengutip tinjauan penelitian dalam jurnal Applied Research in Quality of Life terhadap sekitar 1.200 responden dewasa, ditemukan bahwa doomscrolling berkaitan dengan menurunnya kesejahteraan psikologis (mental well-being) dan kepuasan hidup (life satisfaction).
Temuan ini seolah menegaskan apa yang kerap saya rasakan dalam keseharian, ketika kita terlalu lama terpapar kabar buruk tanpa jeda, cara kita memandang dunia perlahan ikut berubah. Dunia yang semula kompleks, pelan-pelan terasa lebih gelap dari yang sebenarnya.
Buku The Atlas of Happiness: Rahasia Hidup Bahagia dari Beragam Kultur Dunia
Di tengah perasaan overthinking itu, saya kemudian menemukan buku The Atlas of Happiness: Rahasia Hidup Bahagia dari Beragam Kultur Dunia karya Helen Russell.
Jujur saja, awalnya saya mengira buku ini hanya akan berisi kumpulan tips bahagia yang klise—semacam ajakan untuk berpikir positif atau bersyukur atas hidup. Namun, dugaan saya ternyata keliru.
Helen Russell, seorang jurnalis Inggris, melakukan perjalanan ke berbagai negara untuk menjawab satu pertanyaan yang tampak sederhana, yakni mengapa orang-orang di tempat tertentu merasa lebih bahagia dibandingkan yang lain?
Dari penelitiannya, ia merangkum berbagai filosofi hidup yang tumbuh dan berkembang di 33 negara. Hasilnya menunjukkan bahwa manusia memiliki banyak cara untuk memaknai hidup yang baik.
Bagi saya, membaca buku ini terasa seperti membuka jendela setelah terlalu lama berada di ruangan yang pengap.
Di saat media sosial terus menyuguhkan berbagai alasan untuk merasa cemas, marah, dan putus asa, Russell justru mengajak pembaca melihat sisi lain kehidupan, tentang bagaimana manusia di berbagai belahan dunia tetap menemukan cara untuk bertahan, merawat harapan, dan menikmati hidup di tengah segala ketidaksempurnaannya.
Salah satu konsep yang paling membekas bagi saya berasal dari Portugal, yaitu Saudade. Dalam budaya Portugal, Saudade menggambarkan perasaan rindu, kehilangan, atau kerinduan mendalam terhadap sesuatu yang pernah hadir dalam hidup kita.
Menariknya, masyarakat Portugal tidak memandang kesedihan sebagai sesuatu yang harus segera dihilangkan. Mereka menerimanya sebagai bagian alami dari kehidupan.
Sejalan dengan Pengalaman
Konsep ini terasa sangat dekat dengan pengalaman saya akhir-akhir ini. Ada begitu banyak berita yang membuat hati sedih dan hampir membuat frustrasi. Begitu banyak cerita yang menyisakan kemarahan sekaligus rasa tidak berdaya.
Namun, Saudade mengajarkan bahwa kesedihan bukanlah musuh yang harus dilawan. Kesedihan hadir karena kita peduli, dan itu menjadi bukti bahwa kita masih memiliki empati terhadap apa yang terjadi di sekitar kita.
Lalu dari Jepang, dalam buku ini saya menemukan konsep Wabi-Sabi, yaitu filosofi yang mengajarkan keindahan dalam ketidaksempurnaan.
Filosofi ini mengingatkan saya pada seni Kintsugi, yaitu memperbaiki keramik yang pecah menggunakan emas. Sehingga retakannya tidak disembunyikan, melainkan ditonjolkan sebagai bagian dari sejarah benda tersebut.
Hal ini relevan dengan era media sosial saat ini. Kita sering diperlihatkan kehidupan yang tampak sempurna. Pada saat yang sama, kita juga dibanjiri berbagai kabar tentang kegagalan dan krisis yang terjadi di dunia, termasuk di Indonesia.
Akibatnya, kita terjebak di antara dua ekstrem, standar hidup ideal yang sulit tercapai dan kenyataan yang terasa begitu menyakitkan.
Wabi-Sabi seperti dalam buku ini menawarkan jalan yang berbeda. Filosofi ini menjadi pengingat bahwa hidup memang tidak akan pernah sepenuhnya utuh. Akan selalu ada retakan, luka, dan kegagalan. Namun, justru dari sana makna kehidupan dapat kita temukan.
Sementara itu, dari Afrika Selatan saya menemukan konsep Ubuntu, yang secara sederhana dapat kita maknai sebagai “aku ada karena kita ada”. Kalimat ini membuat saya merenung cukup lama.
Sebab, salah satu dampak dari doomscrolling adalah munculnya perasaan seolah-olah kita memikul seluruh beban dunia seorang diri. Kita membaca begitu banyak penderitaan. Tetapi sering kali tidak tahu harus berbuat apa atau kepada siapa harus berbagi kegelisahan.
Rasa Saling Memiliki
Ubuntu mengingatkan bahwa manusia tidak untuk berjalan sendirian. Kebahagiaan adalah tentang hubungan, solidaritas, dan rasa saling memiliki satu sama lain.
Apalagi dalam dunia yang semakin individualistik, filosofi ini terasa seperti pengingat bahwa harapan sering kali tumbuh dari kebersamaan.
Saya juga tertarik pada konsep Lagom dari Swedia yang mengajarkan keseimbangan hidup, tidak terlalu sedikit, tidak terlalu banyak. Filosofi ini terasa relevan di tengah budaya yang menuntut kita untuk selalu sibuk dan produktif tanpa henti.
Sementara itu, dari Italia saya belajar tentang Dolce Far Niente, yaitu seni menikmati hidup dengan tidak melakukan apa-apa. Bagi masyarakat Italia, menikmati secangkir kopi, duduk santai, atau sekadar memandangi sekitar bukanlah bentuk kemalasan, melainkan bagian dari seni menikmati hidup.
Pelajaran-pelajaran tersebut bagi saya terasa menenangkan. Sebab salah satu hal yang sering hilang ketika kita tenggelam dalam doomscrolling adalah kemampuan untuk hadir sepenuhnya dalam kehidupan yang sedang kita jalani. Dari sini, kita menjadi lebih aware terhadap diri sendiri dan cara kita memandang berbagai persoalan.
Di tengah derasnya arus informasi yang sering kali melelahkan, yang kita butuhkan bukan lebih banyak berita, melainkan lebih banyak perspektif.
Sebab pada akhirnya, untuk tetap bertahan dan terus peduli, kita perlu mengingat bahwa dunia tidak berisi alasan untuk cemas, tetapi juga menyimpan banyak alasan untuk tetap berharap. []












































