Kamis, 2 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

    Aliansi Perempuan Indonesia

    Aliansi Perempuan Indonesia Turun ke Jalan Tolak Kenaikan Harga

    In This Economy

    In This Economy, Perempuan dengan Satu Penghasilan Adalah Kemewahan

    Warga NU

    Di Mubes NU Cirebon Raya, Maria Ulfah Anshor: Abad Kedua NU Harus Berpihak pada Kelompok Rentan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Budaya FOMO

    Bahaya Budaya FOMO dalam Meningkatkan Sampah

    Quiet Quitting

    Quiet Quitting dalam Pernikahan: Ketika Pasangan Masih Serumah, tetapi Berhenti Saling Mengusahakan

    Ensiklik Magnifica Humanitas

    AI dan Martabat: Refleksi atas Ensiklik Magnifica Humanitas

    Hukum Transaksi Finansial bagi Disabilitas

    Bagaimana Hukum Transaksi Finansial bagi Disabilitas dalam Islam

    Kehamilan yang Terencana

    Kehamilan yang Terencana Dimulai dari Kerja Sama Suami-Istri Bersama Aplikasi Flo

    Normalitas dan Disabilitas

    Normalitas dan Disabilitas: Privilege yang Sementara

    Kursi Roda

    Kursi Roda: Tanda Pengenal untuk Sebagian Penyandang Disabilitas

    Fikih Penguatan Disabilitas

    Hening yang Berbicara: Ketika Fikih Penguatan Disabilitas Melupakan Perempuan

    Penganiayaan Yuvita

    Kasus Penganiayaan Yuvita: Alarm Bahaya Jebakan Relasi Kuasa

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Aborsi legal

    Sulitnya Akses Aborsi Legal dan Bahaya Praktik Aborsi Ilegal

    Aborsi

    Kapan Aborsi Diperbolehkan? Memahami Ketentuan di Berbagai Negara

    Aborsi

    Aborsi Tidak Aman Mengancam Nyawa: Hindari Cara-cara Berbahaya Ini

    Aborsi Aman

    Aborsi Aman dan Tidak Aman: Memahami Perbedaannya Demi Keselamatan Perempuan

    Aborsi

    Aborsi Bukan Keputusan yang Mudah: Memahami Alasan dan Risikonya

    Keguguran ini

    Mengalami Keguguran? Ini Langkah-langkah yang Perlu Dilakukan Sebelum Program Hamil Lagi

    Rumah Tangga yang

    Membangun Relasi Ekonomi Rumah Tangga yang Adil dan Setara

    Keguguran

    Mengapa Terjadi Keguguran? Kenali Penyebab, Gejala, dan Penanganannya

    Sehat

    Belum Juga Hamil? Perbaiki Pola Hidup Sehat dan Lakukan Pemeriksaan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

    Aliansi Perempuan Indonesia

    Aliansi Perempuan Indonesia Turun ke Jalan Tolak Kenaikan Harga

    In This Economy

    In This Economy, Perempuan dengan Satu Penghasilan Adalah Kemewahan

    Warga NU

    Di Mubes NU Cirebon Raya, Maria Ulfah Anshor: Abad Kedua NU Harus Berpihak pada Kelompok Rentan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Budaya FOMO

    Bahaya Budaya FOMO dalam Meningkatkan Sampah

    Quiet Quitting

    Quiet Quitting dalam Pernikahan: Ketika Pasangan Masih Serumah, tetapi Berhenti Saling Mengusahakan

    Ensiklik Magnifica Humanitas

    AI dan Martabat: Refleksi atas Ensiklik Magnifica Humanitas

    Hukum Transaksi Finansial bagi Disabilitas

    Bagaimana Hukum Transaksi Finansial bagi Disabilitas dalam Islam

    Kehamilan yang Terencana

    Kehamilan yang Terencana Dimulai dari Kerja Sama Suami-Istri Bersama Aplikasi Flo

    Normalitas dan Disabilitas

    Normalitas dan Disabilitas: Privilege yang Sementara

    Kursi Roda

    Kursi Roda: Tanda Pengenal untuk Sebagian Penyandang Disabilitas

    Fikih Penguatan Disabilitas

    Hening yang Berbicara: Ketika Fikih Penguatan Disabilitas Melupakan Perempuan

    Penganiayaan Yuvita

    Kasus Penganiayaan Yuvita: Alarm Bahaya Jebakan Relasi Kuasa

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Aborsi legal

    Sulitnya Akses Aborsi Legal dan Bahaya Praktik Aborsi Ilegal

    Aborsi

    Kapan Aborsi Diperbolehkan? Memahami Ketentuan di Berbagai Negara

    Aborsi

    Aborsi Tidak Aman Mengancam Nyawa: Hindari Cara-cara Berbahaya Ini

    Aborsi Aman

    Aborsi Aman dan Tidak Aman: Memahami Perbedaannya Demi Keselamatan Perempuan

    Aborsi

    Aborsi Bukan Keputusan yang Mudah: Memahami Alasan dan Risikonya

    Keguguran ini

    Mengalami Keguguran? Ini Langkah-langkah yang Perlu Dilakukan Sebelum Program Hamil Lagi

    Rumah Tangga yang

    Membangun Relasi Ekonomi Rumah Tangga yang Adil dan Setara

    Keguguran

    Mengapa Terjadi Keguguran? Kenali Penyebab, Gejala, dan Penanganannya

    Sehat

    Belum Juga Hamil? Perbaiki Pola Hidup Sehat dan Lakukan Pemeriksaan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

Refleksi Menulis: Upaya Pembebasan Diri, dan Menciptakan Keabadian

Menulis menjadi salah satu refleksi kita untuk meneladani keberanian pahlawan Emansipasi perempuan Indonesia, yaitu R.A Kartini

Indi Ardila by Indi Ardila
30 Januari 2023
in Personal
A A
0
Refleksi Menulis

Refleksi Menulis

13
SHARES
645
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Menulis menjadi upaya awal dalam bentuk pembebasan diri. Dengan menulis kita bisa memiliki keleluasaan dalam mengembangkan pola pikir, mengekspresikan diri, dan meluapkan isi hati. Karena tulisan adalah ungkapan dari pikiran dan perasaan yang menghasilkan makna tersendiri. Tulisan yang kita hasilkan juga tentu dapat mewakili ragam hal yang bermanfaat untuk kita sampaikan atau sekedar satu tafsir atau perasaan yang sama dengan dan kepada orang lain.

Refleksi menulis juga merupakan kegiatan yang paling penting dalam kehidupan, guna menyalurkan pengetahuan yang ada dalam pikiran seseorang menjadi sebuah karya. Di mana hal ini tentu dapat mengabadikan diri kita di dalam tulisan yang kita buat. Seperti kata Bapak penyair Indonesia Pramoedya Ananta Toer “Menulis adalah bekerja untuk keabadian”. Dan kalau kita mencoba menengok kembali sejarah peradaban umat manusia, terbukti melalui tulis menulis, kita dapat menikmati puncak peradaban sekelompok manusia. Pendeknya, menulis memegang peranan yang sangat penting dalam proses pemindahan pengetahuan juga peradaban.

Meneladani keberanian R.A Kartini lewat menulis

Menulis menjadi salah satu refleksi kita untuk meneladani keberanian pahlawan Emansipasi perempuan Indonesia, yaitu R.A Kartini. Karena ia bukan sekadar simbol dan memorial apa yang kita tahu dan sebut sebagai “Emansipasi Perempuan”. Yakni dalam menuntut hak dan porsi yang sama terhadap laki-laki, R.A Kartini juga bukan sekadar perwujudan menentang praktik-praktik patriarki yang kuat mengakar dalam tradisi bangsa kita. Lebih dari itu, dan lebih luas lagi R.A Kartini adalah penanda sebuah jaman, yang keras dan berani melawan arus untuk sebuah tujuan “Pembebasan Dari Perbudakan” yang tidak saja mewakili suara kaum perempuan, tetapi ia juga mewakili suara kaum laki-laki.

Jika kita melihat perjalanan Sejarah Kesusastraan Indonesia, dapatlah kita katakan R.A Kartini adalah inang atau (Induk) yaitu ibu dari Sastra Indonesia. Yang sama hebatnya dengan Pramoedya Ananta Toer yang menandai satu fase baru lagi dalam dunia kesusastraan Indonesia. Yakni dengan sihirnya Humanisme sebagai bentuk penyadaran untuk laki-laki maupun perempuan akan haknya yang sama sebagai makhluk universal. Cara Kartini melawan tidak lain, dengan tulisannya, itu yang membuat ia abadi dan tetap dikenang, seperti karyanya yang sampai sekarang masih terkenal dan tak lekang oleh jaman yaitu bukunya yang berjudul Habis Gelap Terbitlah Terang.

Buat R.A Kartini menulis merupakan bentuk identitas diri. Seperti melalui suratnya yang ia buat, ia meluapkan semua pemikirannya yang bebas terkait kondisi perempuan Jawa pada masa itu. Terutama tentang kondisi kedudukan, hak pendidikan perempuan yang tidak terpenuhi dan bahkan tentang marginalisasi perempuan. Tulisan Kartini berisi keluhan dan gugatan khususnya budaya Jawa yang dipandang sebagai penghambat atas kemajuan perempuan. Ia ingin perempuan memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar, ia menuliskan ide-idenya di surat-suratnya itu.

Tulisan Kartini Menjadi Inspirasi

Tulisan-tulisan R.A Kartini menjadi modal utama bagi perempuan saat ini untuk berkonstribusi di bidang ekonomi, sosial, politik dan hak untuk menentukan keputusan serta berbagi peran dalam berpasangan. Tentu ini menjadi PR penting bagi kita perempuan masa kini, akankah melanjutkan perjuangan Kartini? Memang tidak semua perempuan memiliki kebebasan untuk memilih atas nasibnya sendiri, tidak mempunyai kebebasan terhadap pilihannya sendiri.

Dan R.A Kartini merupakan seorang yang beruntung lahir sebagai bangsawan dan memiliki suami seorang bupati, sehingga memungkinkan bertemu dengan perempuan-perempuan Belanda masa itu. Tetapi dari pemikiran Kartini kita bisa belajar bahwa, kesadaran diri akan keberhargaan, dan kemerdekaan terhadap diri kita di mulai dari diri sendiri bagaimana sadarnya diri kita akan semua itu, juga dari keberaniannya untuk menyuarakannya.

Dari pertemuan dengan orang Belanda itu yang kemudian membuat R.A Kartini melihat ke perempuan-perempuan Jawa di sekelilingnya, R.A Kartini mengerti bahwa pendidikan adalah hak semua orang termasuk perempuan. Dan tidak hanya akses pendidikan yang sulit untuk perempuan saat itu. Akses bekerja di luar rumah, merasa nyaman di ruang publik, tidak takut menjadi korban pelecehan, keikutsertaan dalam diskusi, dan penyampaian pendapat serta pemberian penghargaan yang sama dengan laki-laki menjadi faktor penting yang harus kita suarakan.

Jika melihat realitas saat ini, tentu perjuangan Kartini tak sia-sia. Hukum yang mengatur tentang hak warga negara mulai memberi kewajiban bagi warga negara untuk memperoleh pendidikan termasuk perempuan. Meskipun belum sepenuhnya terealisasikan tetapi berkat tulisannya yang mampu membuka sisi gelapnya akan kenyataan terhadap perempuan pada masa itu, sehingga banyak perempuan yang akhirnya sadar dan menyadari pentingnya mempunyai keberanian untuk memperjuangkan hak dan kewajiban yang setara dan adil dengan laki-laki.

Menulis dan membaca dan Islam

Tak hanya menulis, membaca adalah refleksi dari adanya tulisan, membaca dan menulis adalah satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan. Meskipun dengan kita membaca belum tentu menulis. Tetapi dengan menulis tentu kita akan membaca. Di dalam agama Islam menulis dan membaca mempunyai nilai ibadah, terutama menulis dan membaca hal-hal yang lebih mendekatkan diri kita kepada sang maha kuasa. Atau tulisan dan bacaan yang dapat membangun pengetahuan dalam diri, sehingga kita mampu merealisasikan Hablumminannas dengan menjadi manusia yang Khairunnas Anfauhum Linnas lewat pengetahuan kita.

Seperti dalam sejarah turunnya wahyu pertama kepada Baginda Nabi Muhammad SAW yaitu Al-Qur’an. Umat Islam umumnya memahami bahwa wahyu pertama yang di turunkan kepada Nabi Muhammad SAW adalah Surah Al-Alaq ayat 1-5, yang mana dalam surah tersebut mengandung perintah untuk membaca juga menulis.

Perintah membaca disebutkan dua kali dalam wahyu pertama ini , yang bunyi artinya; Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia. Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya (QS. Al-Alaq 1-5). Ini menunjukkan bahwa membaca dan menulis merupakan seruan dalam Al-Quran

Pandangan Cendikiawan Muslim Terhadap Membaca dan Menulis Dalam Surat Al-Alaq

Ziauddin Sardar, seorang cendekia muslim mengemukakan bahwa wahyu Surah Al-Alaq ayat 1 sampai dengan 5 adalah bukti kebudayaan pengetahuan ilmiah yang menjadi dasar dari masyarakat muslim. Menurut Sardar, wahyu pertama yang datang kepada Nabi Muhammad SAW di dalamnya membahas mengenai tindakan komunikasi yang membantu umat muslim dalam memproduksi pengetahuan, yakni membaca dan penggunaan alat komunikasi yang digambarkan dengan Qolam atau pena.

Kata ‘Iqra’ yang artinya bacalah mengimplikasikan ide dari kesadaran berkomunikasi, karena setiap membaca mengandaikan adanya pemahaman mengenai kata, juga sebagai wujud agar adanya kesalingan berinteraksi sesama manusia, seperti diskusi atau silaturahmi. Pena atau Qolam juga merepresentasikan ide komunikasi, yang mana pena adalah simbol bagi teknologi komunikasi yang digunakan untuk persebaran pengetahuan. Juga simbol instrumen untuk menjawab seruan Al-Quran yaitu membaca.

Maka dari itu semua, kita dapat menggarisbawahi beberapa poin. Pertama bahwa agama Islam yang melihat membaca dan menulis sebagai ibadah, sebagai instrumen diri untuk mendekatkan pada pengetahuan dan kemudian pada Tuhan. Kedua, meskipun keterampilan baca-tulis kala itu hanya sedikit dan dikuasai oleh segelintir orang, tetapi masyarakat Islam mampu tumbuh dan menggerakkan peradaban, meninggikan kemanusiaan.

Menulis Untuk Kepuasan Diri Sendiri

Dan mungkin sampai sekarang, membaca dan menulis belum menjadi kebisaan yang tumbuh dalam kebiasaan masyarakat kita. Terlebih membaca dan menulis terkesan membosankan dan terkadang tidak dapat menghasilkan nilai material. Tetapi, membaca dapat memelihara waktu dari kesia-siaan. Dan menulis dapat menciptakan keabadian.

Yang mana mendapatkan pengetahuan dan menciptakan karya dapat memberikan nilai yang lebih kepada diri.

Untuk itu, sebagai refleksi pembebasan diri dari segala isi hati, mulai menulislah tanpa memikirkan apakah orang-orang menyukainya ataukah tidak, menulislah tanpa memikirkan apakah tulisan kita tidak rancu pula tumpang tindih maknanya. Menulislah, ‘menulis saja’. Sebab menulis, yang harus pertama puas adalah diri kita sendiri, bukan orang lain. []

Tags: al-quranmenulisperempuanRA KartiniRefleksi
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Pemaksaan Perkawinan Tidak Sejalan Dengan Ajaran Islam

Next Post

Pernikahan yang Kokoh Itu Tanpa Ada Paksaan

Indi Ardila

Indi Ardila

Bukan apa dan siapa tidak sekedar apalagi sebagai. Satu yang nyata, aku cuma seseorang yang suka melahap.

Related Posts

Aborsi Aman
Pernak-pernik

Aborsi Aman dan Tidak Aman: Memahami Perbedaannya Demi Keselamatan Perempuan

30 Juni 2026
Kesuburan
Pernak-pernik

4 Faktor yang Dapat Menurunkan Kesuburan Laki-Laki dan Perempuan

28 Juni 2026
Ketidaksuburan Perempuan
Pernak-pernik

4 Penyebab Ketidaksuburan pada Perempuan

27 Juni 2026
Memiliki Anak
Pernak-pernik

Mengapa Perempuan Selalu Disalahkan saat Pasangan Sulit Memiliki Anak?

26 Juni 2026
program KB
Pernak-pernik

Mengapa sebagian Perempuan Masih Sulit Mengakses Program KB?

26 Juni 2026
KB
Pernak-pernik

Pil KB Mini, Mifepristone, dan IUD: Alternatif Kontrasepsi Darurat bagi Perempuan

25 Juni 2026
Next Post
Pernikahan Kokoh

Pernikahan yang Kokoh Itu Tanpa Ada Paksaan

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Bahaya Budaya FOMO dalam Meningkatkan Sampah
  • Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan
  • Quiet Quitting dalam Pernikahan: Ketika Pasangan Masih Serumah, tetapi Berhenti Saling Mengusahakan
  • Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan
  • Sulitnya Akses Aborsi Legal dan Bahaya Praktik Aborsi Ilegal

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0