• Login
  • Register
Senin, 21 Juli 2025
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
  • Khazanah
  • Rujukan
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Kolom Buya Husein
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
  • Khazanah
  • Rujukan
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Kolom Buya Husein
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Keluarga

Fenomena Fatherless di Indonesia, Bukti Patriarki Masih Dijunjung Tinggi

Dengan atau tanpa kita sadari, faktor lain yang turut menjadi penyebab tingginya fenomena fatherless di Indonesia ini adalah budaya patriarki

Belva Rosidea Belva Rosidea
04/06/2023
in Keluarga
0
Fenomena Fatherless

Fenomena Fatherless

1.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Belakangan ini ramai pembicaraan mengenai fenomena fatherless di Indonesia. Dalam kehidupan sehari-hari, sadar atau tidak sadar memang masih banyak kita jumpai anak-anak yang menjadi korban fenomena fatherless ini, atau barangkali kita sendiri menjadi salah satu yang pernah atau sedang mengalaminya.

Meski demikian, masih banyak pula masyarakat yang belum mengetahui apa itu fatherless dan kemungkinan dampaknya dalam kehidupan seorang anak.

Istilah fatherless berasal dari bahasa Inggris, yang menunjukkan adanya tekanan emosional akibat dari kehilangan sosok ayah, baik secara fisik maupun psikis. Istilah ini bisa kita katakan mirip dengan istilah father absence, father hunger, atau father deficit. Fatherless yang ditekankan di sini adalah tentang bagaimana peran ayah dalam keluarga. Khususnya dalam mendampingi tumbuh kembang anak yang dinilai masih sangat minim.

Di Indonesia sendiri, angka fatherless terbilang cukup tinggi. Bahkan Indonesia disebut-sebut sebagai negara dengan fatherless tertinggi ketiga di dunia. Hal ini menunjukkan bahwa masih sangat kurangnya peran ayah dalam membersamai pertumbuhan anak-anaknya.

Psikolog asal Amerika, Edward Elmer Smith mengatakan bahwa fatherless country merupakan negara yang masyarakatnya memiliki kecenderungan tidak merasakan keberadaan dan keterlibatan figur ayah dalam kehidupan anak, baik secara fisik maupun psikologis.

Baca Juga:

Mengapa Istri Paling Rentan secara Ekonomi dalam Keluarga?

Low Maintenance Friendship: Seni Bersahabat dengan Sehat, Bahagia, dan Setara

Nikah atau Mapan Dulu? Menimbang Realita, Harapan, dan Tekanan Sosial

Fenomena Eldest Daughter Syndrome dalam Drakor When Life Gives You Tangerines, Mungkinkah Kamu Salah Satunya?

LDR dan Perceraian Pemicu Fatherless

Berdasarkan pengertian di atas, maka fenomena fatherless tidak hanya dialami oleh anak-anak yatim yang ditinggal ayahnya karena kematian. Namun juga dialami oleh anak-anak yang masih memiliki sosok ayah secara fisik namun tidak diikuti oleh kehadiran psikologis.

Kondisi demikian penyebabnya bisa oleh berbagai faktor, seperti pernikahan jarak jauh atau long distance marriage (LDM), orang tua bercerai, orang tua yang terlalu sibuk dengan pekerjaan. Bahkan karena budaya patriarki yang masih dijunjung tinggi. Hubungan LDM atau perceraian seringkali menyebabkan anak tumbuh tanpa kedua orang tua yang lengkap di sampingnya.

Angka perceraian di Indonesia juga bisa kita bilang masih cukup tinggi. Menurut laporan Badan Statistik Indonesia, kasus perceraian di Indonesia tahun 2022 meningkat dari tahun sebelumnya, yakni mencapai 516.344 kasus. Kesibukan seorang ayah dengan pekerjaan seringkali menjadi alasan kurangnya waktu yang ia habiskan untuk anak.

Padahal jika anak tetap kita jadikan prioritas maka akan ada jalan untuk membangun hubungan yang baik. Karena hubungan yang baik tidak hanya terhitung oleh kuantitas, melainkan kualitas.

Bukti Adanya Bukti Patriarki

Dengan atau tanpa kita sadari, faktor lain yang turut menjadi penyebab tingginya fenomena fatherless di Indonesia ini adalah budaya patriarki. Budaya patriarki meyakini bahwa laki-laki hanya bertanggung jawab pada urusan nafkah. Sedangkan perempuan memiliki tanggung jawab terhadap segala urusan domestik dan pengasuhan anak.

Budaya patriarki ini tampaknya banyak keluarga Indonesia masih menjunjung tinggi. Seorang laki-laki yang menganut budaya ini merasa perannya telah terlaksana dengan baik ketika dia mampu mencukupi nafkah istri dan anak-anaknya. Ia tak peduli tentang bagaimana kesibukan istrinya dalam membagi waktu antara pekerjaan rumah dan mengurus anak.

Mereka yang berbudaya patriarki menganggap, bahwa semua yang berhubungan dengan anak adalah tanggung jawab istri. Sementara laki-laki sebagai seorang suami dan seorang ayah tak perlu tahu bagaimana cara mengganti popok, dan cara menyuapi anak. Atau tak perlu repot-repot menemani anak belajar menghitung dan membaca.

Program-program parenting juga kebanyakan hanya para perempuan yang mengikuti. Entah yang sudah menjadi ibu ataupun yang masih mempersiapkan diri. Padahal, seorang anak merupakan tanggung jawab bersama. Mereka membutuhkan pendampingan secara fisik dan psikis dari kedua orang tuanya, baik dari sisi ibu maupun sisi ayah.

Pengasuhan Anak Menjadi Tanggung Jawab Bersama Ayah dan Ibu

Menurut psikolog klinis anak dan remaja Monica Sulistiawati, MPsi, Psikolog, pengasuhan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab ibu, melainkan juga ayah. Mengacu pada sebuah penelitian, terdapat dampak positif apabila anak memiliki kedekatan emosional dengan ayahnya.

Di antaranya yaitu, akan memiliki kemampuan komunikasi yang baik, memiliki tingkat resiliensi ketika menghadapi masalah, memiliki kemampuan problem solving. Yakni dapat menyelesaikan masalah dengan baik, sehingga seorang anak yang memiliki kedekatan hubungan dengan ayahnya cenderung lebih mampu beradaptasi.

Meskipun berhadapan pada situasi-situasi yang kurang menyenangkan. Anak yang kita besarkan dengan perhatian yang seimbang dari ayah dan ibunya cenderung memiliki tingkat depresi yang lebih rendah.

Seorang anak perlu mengetahui bahwasanya ada dua figur berbeda dalam kehidupannya. Yaitu perempuan dan laki-laki.  Jika ibu mengajarkan tentang pendewasaan emosi, empati, dan nilai-nilai kasih sayang, maka seorang ayah  harapannya dapat memberi pelajaran tentang logika, keberanian, dan kemandirian.

Sisi feminin dan maskulin ini dapat membentuk anak menjadi pribadi yang ‘utuh’. Jangan sampai budaya patriarki menjadi pengahalang dalam membentuk kualitas diri anak-anak Indonesia yang lebih baik. []

Tags: Fatherlesskeluargaparentingpola asuhRelasi
Belva Rosidea

Belva Rosidea

General Dentist

Terkait Posts

Cita-cita Tinggi

Yuk Dukung Anak Miliki Cita-cita Tinggi!

19 Juli 2025
Mengantar Anak Sekolah

Mengantar Anak Sekolah: Selembar Aturan atau Kesadaran?

18 Juli 2025
Menikah

Yang Terjadi Jika Miskin, Tapi Ngotot Menikah

15 Juli 2025
Praktik Kesalingan

Praktik Kesalingan sebagai Jalan Tengah: Menemukan Harmoni dalam Rumah Tangga

12 Juli 2025
Relasi Imam-Makmum

Relasi Imam-Makmum Keluarga dalam Mubadalah

9 Juli 2025
Jiwa Inklusif

Menanamkan Jiwa Inklusif Pada Anak-anak

8 Juli 2025
Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Fiqh al-Usrah

    Dr. Faqih: Ma’had Aly Kebon Jambu akan Menjadi Pusat Fiqh Al-Usrah Dunia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Low Maintenance Friendship: Seni Bersahabat dengan Sehat, Bahagia, dan Setara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nyai Awanillah Amva: Wisuda Bukan Akhir, Tapi Awal Kiprah Mahasantri di Tengah Masyarakat

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nikah atau Mapan Dulu? Menimbang Realita, Harapan, dan Tekanan Sosial

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • S.Fu: Gelar Baru, Tanggung Jawab Baru Bagi Lulusan Ma’had Aly Kebon Jambu

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • Mazmur dan Suara Alam: Ketika Bumi Menjadi Mitra dalam Memuji Tuhan
  • Mengapa Istri Paling Rentan secara Ekonomi dalam Keluarga?
  • Dari Erika Carlina Kita Belajar Mendengarkan Tanpa Menghakimi
  • S.Fu: Gelar Baru, Tanggung Jawab Baru Bagi Lulusan Ma’had Aly Kebon Jambu
  • Tren S-Line: Ketika Aib Bukan Lagi Aib

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

© 2023 MUBADALAH.ID

Selamat Datang!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
  • Khazanah
  • Rujukan
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Kolom Buya Husein
  • Login
  • Sign Up

© 2023 MUBADALAH.ID