Kamis, 18 Juni 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    In This Economy

    In This Economy, Perempuan dengan Satu Penghasilan Adalah Kemewahan

    Warga NU

    Di Mubes NU Cirebon Raya, Maria Ulfah Anshor: Abad Kedua NU Harus Berpihak pada Kelompok Rentan

    Mubes Warga NU

    Mubes Warga NU Cirebon Raya: Dorong NU Kembali Menjadi Kekuatan Masyarakat Sipil

    Muharram

    Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Logika Dimaafkan

    Menolak Logika “Dimaafkan” bagi Najis Difabel: Seri Kritis Fikih Disabilitas – Bagian 1

    SUPI

    Merawat Jiwa, Menjaga Amanah: Catatan Mahasantri SUPI Belajar Kesehatan Mental dengan Perspektif KUPI

    Anak-anak Tuli

    Dari Anak-Anak Tuli, Saya Belajar Melihat Dunia dengan Cara Berbeda

    Disabilitas Autisme

    Terasing di Lingkungannya: Dilema yang Dihadapi Penyandang Disabilitas Autisme Tingkat I

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Poskolonialisme: Kala Sepakbola Turut Mendekonstruksi Tatanan Hegemonik

    Perempuan Bekerja

    Bolehkah Perempuan Bekerja di Ruang Publik?

    Disabilitas bukan lelucon

    Disabilitas Bukan Lelucon: Menimbang Etika Konten Kreator di Media Sosial

    mahasiswa difabel

    Siapa yang Harus Beradaptasi: Mahasiswa Difabel atau Kampus?

    Relasi Mubadalah

    Gelas Kosong dan Sayap yang Sinkron: Paradoks Kekuatan dalam Relasi Mubadalah

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    KB Hormonal

    Hal-hal yang Perlu Diketahui Sebelum Menggunakan KB Hormonal

    Spermisida

    Cara Menggunakan Spermisida

    Mengusap Kepala Anak Yatim

    Memaknai Mengusap Kepala Anak Yatim Secara Mubadalah

    Spermisida untuk

    Apa itu Spermisida? Ketahui Fungsi dan Cara Pakainya

    Diafragma

    Cara Kerja Diafragma dalam Mencegah Kehamilan

    Mengenal Kondom

    Mengenal Kondom Perempuan

    Kondom

    Tips Menggunakan Kondom agar Tidak Mudah Sobek dan Bocor

    Metode Kondom

    Kondom: Metode KB yang Efektif Cegah Kehamilan dan HIV/AIDS

    KB

    Hak Perempuan Memilih KB: Kenali 5 Metode dan 9 Pertimbangannya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    In This Economy

    In This Economy, Perempuan dengan Satu Penghasilan Adalah Kemewahan

    Warga NU

    Di Mubes NU Cirebon Raya, Maria Ulfah Anshor: Abad Kedua NU Harus Berpihak pada Kelompok Rentan

    Mubes Warga NU

    Mubes Warga NU Cirebon Raya: Dorong NU Kembali Menjadi Kekuatan Masyarakat Sipil

    Muharram

    Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Logika Dimaafkan

    Menolak Logika “Dimaafkan” bagi Najis Difabel: Seri Kritis Fikih Disabilitas – Bagian 1

    SUPI

    Merawat Jiwa, Menjaga Amanah: Catatan Mahasantri SUPI Belajar Kesehatan Mental dengan Perspektif KUPI

    Anak-anak Tuli

    Dari Anak-Anak Tuli, Saya Belajar Melihat Dunia dengan Cara Berbeda

    Disabilitas Autisme

    Terasing di Lingkungannya: Dilema yang Dihadapi Penyandang Disabilitas Autisme Tingkat I

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Poskolonialisme: Kala Sepakbola Turut Mendekonstruksi Tatanan Hegemonik

    Perempuan Bekerja

    Bolehkah Perempuan Bekerja di Ruang Publik?

    Disabilitas bukan lelucon

    Disabilitas Bukan Lelucon: Menimbang Etika Konten Kreator di Media Sosial

    mahasiswa difabel

    Siapa yang Harus Beradaptasi: Mahasiswa Difabel atau Kampus?

    Relasi Mubadalah

    Gelas Kosong dan Sayap yang Sinkron: Paradoks Kekuatan dalam Relasi Mubadalah

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    KB Hormonal

    Hal-hal yang Perlu Diketahui Sebelum Menggunakan KB Hormonal

    Spermisida

    Cara Menggunakan Spermisida

    Mengusap Kepala Anak Yatim

    Memaknai Mengusap Kepala Anak Yatim Secara Mubadalah

    Spermisida untuk

    Apa itu Spermisida? Ketahui Fungsi dan Cara Pakainya

    Diafragma

    Cara Kerja Diafragma dalam Mencegah Kehamilan

    Mengenal Kondom

    Mengenal Kondom Perempuan

    Kondom

    Tips Menggunakan Kondom agar Tidak Mudah Sobek dan Bocor

    Metode Kondom

    Kondom: Metode KB yang Efektif Cegah Kehamilan dan HIV/AIDS

    KB

    Hak Perempuan Memilih KB: Kenali 5 Metode dan 9 Pertimbangannya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Menilik Makna Relasi Antar Umat, Makhluk, Alam, dan Keluarga dalam Nyadran Perdamaian 2026

Di balik dapur nyadran, perempuan juga berperan sebagai penjaga tradisi dan transmisi nilai multi generasi.

Vevi Alfi Maghfiroh by Vevi Alfi Maghfiroh
22 Januari 2026
in Publik
A A
0
Nyadran Perdamaian 2026

Nyadran Perdamaian 2026

25
SHARES
1.3k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Tepat hampir seminggu berlalu kegiatan ‘Nyadran Perdamaian 2026’ berlangsung di Dusun Krecek dan Gletuk, Desa Getas, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung Jawa Tengah. Perjumpaan telah berakhir, namun pesan kesan tentang relasi antar umat beragama dan hidup selaras dengan alam terpatri dalam ingatan.

Datang dan tinggal empat hari di dusun, bukan hanya untuk memanjakan mata dengan pemandangan hijau dan gunung yang menjulang gagah. Tetapi juga melihat bagaimana masyarakatnya menjalani kehidupan. Khususnya saat mempersiapkan ritual nyadran makam. Tempat ini menjadi titik temu masyarakat dari dua dusun penganut agama yang beragam (Islam, Budha, dan Kristen).

Sebuah momentum berharga untuk melihat secara langsung laboratorium kehidupan antar umat beragama. Bukan dari buku dan teori, tetapi dari laku kehidupan sehari-hari yang mengakar sejak zaman leluhur. Itu lah mengapa masyarakat di sana menghormati dan berkirim do’a kepada para sesepuhnya melalui nyadran makam. Hingga kemudian termaknai lebih dalam dengan pemberian istilah ‘Nyadran Perdamaian’ di Dusun Krecek dan Gletuk.

Merasakan ‘Damai’ Relasi Antar Umat Beragama

Di balik meriahnya Nyadran Perdamaian 2026 yang terlaksana setiap tahunnya, saya bertanya pada induk semang alias tuan rumah tempat para peserta menetap selama kegiatan. “Apa yang membuat masyarakat secara sukarela untuk menyambut para tamu dan dengan suka cita mempersiapkan ritual nyadran dengan baik?” tanya saya.

Lalu ia menjawab,  “Karena ini adalah tradisi yang sudah ada dan kami lestarikan sejak dulu, mbak. Dan kami senang menyambut tamu untuk menambah persaudaraan.’”Jawabnya dalam bahasa Jawa Krama Inggil. Induk semang yang saya tempati adalah keluarga yang menganut agama Budha di Dusun Gletuk.

Umat Buddha atau Buddhists di sana meyakini bahwa ‘surga’ adalah imanen (kini). Letaknya tidak jauh di akhirat. Tetapi hadir dalam keseharian lewat kebaikan dan keseimbangan hidup. Gagasan reinkarnasi yang mereka anut juga menegaskan pentingnya memperlakukan sesama makhluk dengan hormat, karena semua memiliki siklus kehidupan dan karma.

Pun juga dengan umat Muslim di sana. Mereka meyakini bahwa kebaikan sosial adalah kunci untuk bisa membawa kebahagiaan pasca kematian. Lalu terimbangi dengan kebaikan ritual dan spiritual, sebagaimana yang telah para leluhur ajarkan.

Nilai-nilai sosial-spiritual ini ternyata yang menyelaraskan kehidupan antar umat beragama di sana, untuk saling menjaga keamanan holistik, menciptakan kedamaian, dengan tanpa meninggalkan tradisi menghormati leluhur.

Tak heran mengapa di satu keluarga, anggotanya menganut keyakinan dan agama yang berbeda-beda, tetapi mereka hidup damai, serta tetap guyub dalam melestarikan budaya dan tradisi yang ada.

Menilik Nilai ‘Eco-Spiritualitas’ Relasi Makhluk dan Alam

Suatu hari saya bertanya pada induk semang, “Apakah di sini pernah banjir atau longsor, Pak?” Jawab beliau, “Hampir tidak pernah, Mbak.” Hal ini terafirmasi dengan rimbunnya pepohonan di dusun ini, dan jarang terlihat ada aktivitas penebangan. Diperkuat juga dengan pernyataan menantu induk semang di rumah yang saya tempati, ‘… di sini kalau ada orang yang mau membangun wisata, kafe, dan lain-lain kadang masyarakat tolak Mbak. Belum ada sih investor yang datang.”

Saya tidak banyak mengkonfirmasi tentang ini, tetapi saya menangkap pesan bahwa masyarakat masih mempertahankan kelestarian lingkungan sekitarnya. Selain itu, mereka juga masih meyakini bahwa setiap sumber-sumber kehidupan, seperti pepohonan, sumber mata air, dan lainnya itu terdapat sosok Danyang. Leluhur penjaga spiritual yang menjaganya.

Sosok Danyang laki-laki yang diyakini di Getas bernama mbah Kuncung dan mbah Truno. Sedangkan Danyang perempuan ada Nyai Natyono, Mbah Srinah, Surati, Ponirah, Nyai Suki, dan lainnya. Itu lah alasan mengapa masyarakat dusun masih rutin memberikan sesajen, sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur penjaga alam kehidupan.

Sesajen di sini termaknai sebagai wujud hubungan eco-spiritual, untuk merawat ekosistem relasi antara makhluk dan alam, untuk meminta maaf pada makhluk kecil dan tak kasat mata. Selain itu juga menjadi sarana ‘kulo nuwun’ atau meminta izin dan restu pada siapapun yang sejatinya ada di sekeling kehidupan kita.

Agensi Perempuan dari Bilik Dapur Tradisi Nyadran

Sepanjang tinggal bersama masyarakat di sana, saya lebih banyak mengorbrol dengan induk semang kami di dapur. Setiap keluarga mempersiapkan beragam olahan makanan dan sesajen yang akan mereka bawa di perayaan nyadran.

Di balik stigma dapur yang melekat sebagai simbol domestikasi perempuan hari ini. Namun dari bilik dapur sebetulnya kita bisa membaca ulang realitas sesuai konteks masyakarat tinggal. Sesuai dengan teori geneologinya Michael Foucault, yang bisa kita gunakan sebagai metode untuk penelusuran terhadap asal-usul pengetahuan, wacana, dan praktik sosial secara historis.

Sebagaimana yang sudah saya sampaikan, bahwa masyarakat dusun sangat menghormati tradisi dan leluruh, yang salah satunya melalui praktek sesajen dan ritual tradisi lainnya. Maka dari bilik dapur kita bisa melihat bahwa perempuan sangat berperan penting sebagai penjaga kehidupan.

Para perempuan memiliki agensi sebagai penghubung antara relasi makhluk dengan leluhur melalui sesajen khusus yang mereka siapkan. Di buku I Panduan Nyadran Perdamaian ‘Belajar Pengetahuan Lokal Tentang Damai, Selaras, dan Setara’ yang Yuniyanti Chuzaifah tulisan, ada penjelasan bahwa perempuan banyak berperan sebagai penjaga spiritual keluarga.

Misalnya dalam tradisi umat Islam di Glethuk, kalau kita amati kepemimpinan di ruang domestik, perempuan memimpin pilihan spiritual keluarganya, baik suami yang ikut agama isteri, maupun anak-anaknya. Hal yang sama berlaku juga di umat Budha dan Kristen, di mana dalam ruang domestik, perempuan mengambil banyak peran sebagai leadership spiritual.

Bahkan, masyarakat di sana juga meyakini adanya sosok Dewi sebagai penjaga sumber kehidupan. Di balik dapur nyadran, perempuan juga berperan sebagai penjaga tradisi dan transmisi nilai multi generasi. Di dapur sang ibu mengajari anak-anaknya tentang potensi pangan lokal, memasak, serta menyiapkan sesajen sebagai simbol keterhubungan yang selaras antara makhluk, alam, dan leluhur.

Memaknai Relasi Perempuan dan Laki-laki di Rumah Induk Semang

Sepanjang proses persiapan nyadran berlangsung, anggota keluarga perempuan di induk semang kami mungkin yang lebih banyak berada di dapur. Namun ini tidak lantas dimaknai sebagai domestikasi. Kala itu saya bertanya, “Kalau bapak sehari-hari ngapain, bu?’ Lantas ia menjawab ‘Bapak cari rumput di ladang dan hutan, mbak, kami memelihara 8 ekor kembing di samping rumah’.

Dari relasi sehari-hari selama empat hari itu, saya kembali menyederhanakan ulang makna relasi antar pasangan dan pembagian kerja yang dilakukan masyarakat dusun. Di mana segala sumber pangan kehidupan ada, tumbuh, dan dirawat di sekeliling rumah. Peran dan kerja relasi itu sangat fleksibel, karena mereka lebih banyak memaknai hidup dengan beyond material.

Peran kerja dalam relasi rumah tangga bukan lagi tentang siapa di dapur dan siapa di publik, tetapi lebih pada siapa yang mampu melakukan, itulah yang dia kerjakan. Jika menilik kerangka qiraah mubadalah dalam Surat An-Nisa’ Ayat 34 sebagai ayat qiwamah, sebetulnya kita bisa menarik premis bahwa ayat ini bukan sedang berbicara siapa yang paling mampu, antara laki-laki dan perempuan, lalu dia yang paling utama.

Tetapi meyakini dengan sadar bahwa setiap orang itu memiliki tanggung jawab, dan setiap orang memiliki batas kemampuannya. Sehingga pembagian tugas dan relasi antar anggota keluarga, tidak menentukan siapa yang paling utama. Bukan pada berdasarkan gender, tetapi pada kemampuan dan kemauan dari setiap individunya yang memilih secara sadar.

Dan itu lah yang saya pahami dari relasi yang terbangun di Dusun Gletuk. Bahwa sebagai manusia, yang paling utama adalah menjalin relasi yang baik selaras antar umat beragama, makhluk dengan alam semesta, maupun antar anggota keluarga. []

 

Tags: Antar Umat BeragamakeberagamanNyadran Perdamaian 2026Relasitoleransi
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Mengapa Seksualitas Sulit Dibicarakan?

Next Post

Ketika Seksualitas Dinilai dari Tubuh Perempuan

Vevi Alfi Maghfiroh

Vevi Alfi Maghfiroh

Admin Media Sosial Mubadalah.id

Related Posts

Sebelum Harimu Bersamanya
Buku

Buku “Sebelum Harimu Bersamanya”: Sebuah Panduan Sebelum Menikah

17 Juni 2026
Relasi Mubadalah
Publik

Gelas Kosong dan Sayap yang Sinkron: Paradoks Kekuatan dalam Relasi Mubadalah

15 Juni 2026
Kesetaraan Anak laki-laki dan Perempuan
Keluarga

Mengajarkan Kesetaraan Pada Anak Laki-laki dan Perempuan Sejak Dini

13 Juni 2026
Nafkah Anak
Keluarga

Membicarakan Kelalaian Nafkah Anak Setelah Perceraian

10 Juni 2026
Keadilan kepada Anak
Keluarga

Pelajaran dari Rasulullah tentang Keadilan kepada Anak

9 Juni 2026
Apa yang Membedakan
Personal

Apa yang Membedakan Saya dengan Mereka?

6 Juni 2026
Next Post
Seksualitas

Ketika Seksualitas Dinilai dari Tubuh Perempuan

No Result
View All Result

TERBARU

  • Hal-hal yang Perlu Diketahui Sebelum Menggunakan KB Hormonal
  • Menolak Logika “Dimaafkan” bagi Najis Difabel: Seri Kritis Fikih Disabilitas – Bagian 1
  • Cara Menggunakan Spermisida
  • Buku “Sebelum Harimu Bersamanya”: Sebuah Panduan Sebelum Menikah
  • Merawat Jiwa, Menjaga Amanah: Catatan Mahasantri SUPI Belajar Kesehatan Mental dengan Perspektif KUPI

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0