Mubadalah.id – Kabuki adalah seni teater tradisional dari Jepang yang memadukan seni tari, drama, dan musik dan biasanya membawakan cerita rakyat atau sejarah. UNESCO telah menetapkan kabuki sebagai salah satu warisan budaya tak benda. Muncul sejak abad ke-17, awalnya pementasan kabuki juga melibatkan perempuan sebagai aktor.
Namun, pemerintah saat itu mengharuskan pemerannya laki-laki dewasa dengan alasan untuk menghindari kemerosotan moral. Tidak terkecuali untuk peran perempuan yang dibawakan laki-laki dengan melakukan cross-dressing atau disebut onnagata. Perjalanan tokoh utamanya, yaitu Kikuo Tachibana menjadi aktor kabuki inilah yang menjadi plot utama dalam film Kokuho (2025).
Tradisi kabuki sangat menjunjung tinggi pewarisan melalui sistem keturunan. Artinya, yang menjadi penerus keluarga kabuki ialah anak laki-laki. Andaikan tidak memiliki anak laki-laki, keluarga tersebut akan mengadopsi anak laki-laki yang berbakat. Latar belakang Kikuo sebagai nonkeluarga kabuki membuatnya menemui banyak hal kontradiktif dalam perjalanan itu.
Antara Pedang dan Kipas
Kikuo Tachibana adalah anak seorang pimpinan yakuza (sindikat kejahatan terorganisasi di Jepang) yang memiliki bakat dalam seni kabuki. Di fase awal hidupnya pun dia telah menjumpai dua hal yang bertolak belakang. Di tengah kehidupan yakuza yang penuh nuansa maskulin, justru jiwa feminin Kikuo berkembang melalui seni kabuki. Bahkan, seorang aktor kabuki terkenal saat itu, yaitu Hanjiro Hanai II memuji penampilannya sebagai perempuan.
Ironisnya, penampilannya di satu malam pada tahun 1964 itu menghadirkan trauma terbesar dalam hidupnya. Malam itu terjadi penyerangan dari kelompok yakuza lain. Kikuo yang masih berusia 14 tahun harus menyaksikan ayahnya terbunuh di tengah hujan salju di Nagasaki. Kikuo sempat ingin membalas dendam, tetapi upayanya gagal.
Merasa sedih dengan kepergian ayahnya, Kikuo memutuskan untuk membuat tato di punggungnya sebagai penanda identitas yakuza. Tato burung hantu elang di punggungnya baginya adalah pengingat untuk selalu membalas budi.
Antara Persaudaraan dan Rivalitas
Setahun setelah kematian ayahnya, Kikuo pindah ke rumah Hanjiro Hanai II di Osaka sesuai wasiat mendiang ibu tirinya. Di rumah kabuki Tanbu-ya, Hanjiro Hanai II mendidik Kikuo menjadi aktor kabuki yang hebat bersama Shunsuke, anak kandungnya. Tentunya kehadiran Kikuo di sebagai orang asing tidak bisa diterima dengan mudah, terlebih dengan latar belakangnya yang kelam.
Meskipun awalnya tidak suka, Shunsuke akhirnya bisa menjalin kedekatan dengan Kikuo. Karena sebaya, mereka menghabiskan banyak waktu bersama dengan bersekolah, latihan kabuki yang keras, dan menjajal berbagai kenakalan remaja. Meskipun demikian, sesekali Shunsuke merasa bahwa ayahnya lebih menyayangi Kikuo, terutama tentang pencapaian mereka dalam kabuki.
Latihan yang diterapkan Hanjiro Hanai II terhadap dua anak itu sangat keras. Mereka pun tumbuh dalam berkesenian dengan corak yang berbeda. Kikuo dengan gaya yang lebih ekspresif dengan bakat alaminya, Shunsuke dengan kemampuan teknis yang lebih mumpuni karena telah terasah sejak dini. Namun, tujuan mereka sama: mendapatkan gelar kokuho (national living treasure) yang menjadi pencapaian tertinggi aktor kabuki.
Antara Jati Diri dan Validasi
Make up dengan warna dasar putih dan garis-garis yang tegas dalam kabuki atau kumadori bukanlah sekadar pelengkap penampilan bagi Kikuo dan Shunsuke. Bagi keduanya, make up tersebut merupakan properti untuk menutupi ketakutan mereka dalam hidup.
Bagi Kikuo, make up adalah cara menutupi jati dirinya sebagai bagian kelompok yakuza. Dengan mengenakan make up, ingin membentuk jati dirinya yang baru, yaitu seniman kabuki. Ia berharap bisa melepaskan bayang-bayang ayahnya yang lekat dengan kriminalitas sehingga orang-orang bisa menerimanya sebagai satu individu yang bebas.
Shunsuke juga berharap bisa melepaskan bayang-bayang nama besar ayahnya dengan mengenakan make up. Ketakutan terbesarnya ialah dianggap tidak cukup layak untuk mewarisi nama Hanjiro Hanai. Dengan make up itu, Shunsuke ingin orang-orang melihat sebagai aktor sejati, bukan sekadar nepo baby yang bisa mendapatkan berbagai kemudahan karena sang ayah.
Antara Diskriminasi dan Ekspektasi
Ketika sedang mempersiapkan pementasan besar, tiba-tiba Hanjiro Hanai II mengalami kecelakaan. Dalam waktu hanya lima hari, ia harus menemukan orang yang bisa memerankan tokoh utama perempuan dalam pementasan itu. Dengan berat hati, Hanjiro Hanai II memilih Kikuo sebagai onnagata.
Keputusan ini tentunya menghadirkan banyak tentangan dari rumah kabuki mereka, terutama istrinya. Istrinya menilai bahwa keputusan ini tidak layak bagi Kikuo yang statusnya adalah outsider dan tidak adil bagi Shunsuke yang merupakan calon penerus rumah kabuki mereka. Namun, Hanjiro Hanai II tetap kukuh pada pendiriannya.
Kondisi ini cukup dilematis bagi Kikuo. Di satu sisi, menjadi onnagata pemeran utama adalah lompatan karier yang cukup baik baginya, mengingat selama ini ia selalu berpasangan dengan Shunsuke. Selama ini ia banyak menerima cemooh dari orang tentang kariernya sebagai aktor kabuki yang dinilai tidak akan sukses karena statusnya sebagai outsider. Namun, di sisi lain ia merasa telah berbuat tidak adil kepada Shunsuke.
Dari sisi Shunsuke, keputusan ayahnya merupakan sebuah pukulan berat. Ia merasa gagal membuktikan kepada dunia, khususnya ayahnya bahwa ia layak menjadi penerus rumah kabuki Tanbu-ya. Setelah memikul beban berat berupa ekspektasi yang tinggi, nyatanya ayahnya tetap memilih orang lain untuk peran yang penting.
Merasa kecewa dengan ayahnya dan gagal sebagai aktor kabuki, Shunsuke memilih untuk pergi dari rumah dan menjauh dari panggung kabuki yang membesarkan namanya. Pada saat yang sama, Harue, kekasih Kikuo juga tengah mengalami kekecewaan karena popularitas Kikuo membuat mereka semakin jauh. Dalam kondisi senasib, mereka memutuskan pergi bersama dan menikah.
Antara Popularitas dan Keterasingan
Delapan tahun kemudian, kondisi kesehatan yang semakin memburuk membuat Hanjiro Hanai II harus membuat keputusan sulit untuk menyelamatkan rumah kabuki Tanbu-ya. Karena Shunsuke tak terdengar lagi kabarnya, ia meminta Kikuo untuk mengambil gelar Hanjiro Hanai III. Meski berat, Kikuo menerimanya karena penobatan ini akan mendekatkannya pada gelar kokuho yang ia mimpikan.
Keputusan ini tentunya kontroversial karena menabrak pakem dalam kabuki yang menjalankan sistem pewarisan dari jalur keturunan. Bukannya mendapat penghormatan, Kikuo justru mendapat hujatan dari orang-orang karena mereka menganggap Kikuo merebut tempat yang seharusnya milik Shunsuke. Jelang kematiannya, Hanjiro Hanai II menyebut-nyebut nama Shunsuke yang menandakan bahwa ia sangat merasa bersalah pada anaknya.
Sepeninggal Hanjiro Hanai II, Kikuo yang sudah bergelar Hanjiro Hanai III justru sulit mendapatkan peran penting dalam kabuki. Alih-alih mendapatkan popularitas karena karyanya, Kikuo justru mendapat sorotan karena kehidupan pribadinya, yaitu masa lalunya sebagai putra pimpinan yakuza dan hubungannya dengan seorang geisha hingga melahirkan anak di luar nikah.
Sebagai penerus rumah kabuki, Kikuo juga harus menanggung utang keluarga. Harga lain yang harus ia bayar demi gelar itu ialah keterasingan dari orang-orang yang ia cintai. Ia harus kehilangan Shunsuke, “saudara laki-lakinya” dan Harue, cinta pertamanya. Ia pun tak bisa mengakui anak perempuannya di depan publik demi menjaga reputasinya. Di atas panggung, orang-orang mengelu-elukannya, tetapi di balik panggung ia merasa kesepian.
Antara Outsider dan Nepo Baby
Film berdurasi hampir tiga jam ini tidak hanya menyuguhkan keindahan gambar lewat keluwesan gerak aktor kabuki dan kemegahan panggung, tapi juga menyuguhkan realitas tentang kerasnya kehidupan. Untuk menjalani karier ataupun mencapai gelar tertentu, baik perintis maupun pewaris harus menempuh jalan yang tidak mudah.
Bagi Kikuo, sebagai outsider dia harus bekerja keras puluhan kali demi mendapatkan validasi. Bakat saja tidak cukup untuk memuluskan jalannya. Dia harus menghadapi diskriminasi dari para seniman kabuki dan berupaya menghapus “dosa warisan” dari ayahnya yang lekat dengan kriminalitas.
Bagi orang seperti Shunsuke yang kerap mendapat label sebagai nepo baby, kerja kerasnya sering dianggap sebagai warisan semata. Sementara itu, ketidakmampuannya memenuhi ekspektasi yang tinggi akan membuatnya orang-orang melabelinya sebagai pecundang. Namun, di era yang semakin terbuka, bukankah tidak menutup kemungkinan untuk memberikan kesempatan kepada keduanya? []










































