Mubadalah.id – Pengasuh Pondok Pesantren Al-Kaysi Buntet, Nyai Fadilah Munawwaroh, menekankan pentingnya pendekatan pengasuhan yang berbeda antara anak usia kecil dan remaja. Hal tersebut ia sampaikan saat menjawab pertanyaan jamaah dalam program Damai Indonesiaku yang tayang langsung di TVOne pada Selasa (5/5).
Dalam sesi dialog, Nyai Fadilah menjelaskan bahwa orang tua perlu memahami perkembangan emosional anak sesuai dengan usianya. Menurutnya, pola pendekatan terhadap anak kecil tidak bisa disamakan dengan pendekatan kepada anak yang sudah memasuki masa remaja.
“Bagaimana tata cara kita bisa mengelola emosional kita sebagai orang tua ketika anak itu masih kecil?” ujarnya membuka jawaban.
Ia kemudian membagikan pengalaman pribadinya saat mengasuh putranya, Abdullah Fahreza. Ketika sang anak sedang menaiki tangga tinggi, salah seorang anggota keluarga spontan berkata, “Awas jatuh.” Namun, anaknya justru menolak ucapan tersebut karena terbiasa mendengar kalimat yang lebih positif dari orang tuanya.
“Anak saya bilang, ‘Jangan ngomong begitu nanti aku jatuh beneran. Bilangnya Reza hati-hati ya,’” tutur Nyai Fadillah sambil disambut senyum jamaah.
Dari pengalaman tersebut, ia menilai bahwa anak-anak memiliki daya ingat yang sangat kuat terhadap ucapan dan perilaku orang tua. Karena itu, keteladanan menjadi hal utama dalam proses pengasuhan anak usia dini.
“Ketika anak masih kecil, teladan itu yang paling penting,” katanya.
Ia mengingatkan agar orang tua menjaga perilaku di depan anak-anak, mulai dari cara berbicara hingga sikap sehari-hari. Menurutnya, anak-anak belajar bukan hanya dari nasihat, tetapi juga dari apa yang mereka lihat secara langsung di rumah.
“Jangan sampai kita melarang anak melakukan sesuatu, tapi kita sendiri melakukannya,” ujarnya.
Nyai Fadilah mencontohkan kebiasaan sederhana seperti membuang sampah atau puntung rokok sembarangan yang tanpa sadar dapat direkam dan ditiru anak. Ia menilai inkonsistensi antara ucapan dan tindakan orang tua justru akan membingungkan anak dalam memahami nilai-nilai yang diajarkan.
“Anak itu merekam semuanya. Jadi jangan hanya mengajari, tapi kita sendiri tidak melakukannya,” tuturnya.
Jangan Bertengkar
Selain keteladanan, ia juga menekankan pentingnya menjaga suasana rumah yang sehat tanpa ada kekerasan. Menurutnya, pertengkaran orang tua di depan anak dapat meninggalkan bekas psikologis yang kuat pada masa pertumbuhan mereka.
Namun, pendekatan tersebut, kata Nyai Fadillah, perlu berubah ketika anak mulai memasuki usia remaja. Pada fase ini, orang tua harus lebih mampu menjadi sahabat yang dekat dengan anak.
“Ketika sudah remaja, pendekatannya berbeda. Kita harus mampu menjadi teman bagi mereka,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa masa remaja merupakan periode pencarian jati diri yang sering kali membuat anak mengalami gejolak emosional. Karena itu, tekanan atau pendekatan yang terlalu keras justru berpotensi membuat anak semakin tertutup.
“Jangan sampai anak remaja merasa tertekan karena belum menemukan dirinya,” ujarnya.
Dalam menghadapi kondisi tersebut, Nyai Fadilah Munawwaroh mengajak para orang tua meneladani cara Rasulullah SAW dalam mengelola emosi. Ia mencontohkan anjuran untuk mengubah posisi tubuh ketika seseorang sedang marah sebagai bagian dari pendekatan emosional yang lembut.
“Kalau sedang marah sambil berdiri, diajak duduk. Kalau masih marah juga, diajak berbaring,” jelasnya.
Menurutnya, pendekatan yang penuh empati dan dialog akan membantu remaja merasa lebih aman dan diterima oleh keluarganya. Meski demikian, ia menegaskan bahwa keteladanan tetap harus menjadi fondasi utama dalam pengasuhan, baik pada anak kecil maupun remaja.
“Kalau anak kecil kita tekankan teladan. Ketika remaja, kita tekankan menjadi teman yang dekat,” pungkasnya. []












































