Mubadalah.id – Serial ke-6 Diskusi Biografi Ulama Perempuan yang terselenggara pada 7 Mei 2026 menghadirkan kisah hidup Ibu Nyai Hj. Hindun Munawwir. Pembacaan biografi oleh Bu Nyai Hj. Tho’atillah Ja’far, atau yang akrab kita sapa Bunda Tho’ah. Dalam penuturannya, Bunda Tho’ah tidak hanya mengenalkan sosok Nyai Hindun sebagai ulama perempuan, tetapi juga mengajak peserta melihat kembali bagaimana peran perempuan pesantren sering kali luput dari ingatan sejarah.
Ketika Nama Ibu Nyai Jarang Disebut
Di awal diskusi, Bunda Tho’ah membuka pembicaraan dengan pertanyaan sederhana namun menggugah, “Kalau menyebut kata pesantren, sosok siapa yang pertama kali terbayang?”
Kebanyakan orang, menurut beliau, langsung teringat pada sosok kiai. Jarang sekali yang spontan menyebut nama ibu nyai. Pengalaman itu kerap beliau temui saat menerima tamu atau wali santri yang hendak memasukkan anaknya ke pesantren. Ketika ditanya, “Dulu mondok di bunyai siapa?” banyak yang tidak bisa menjawab. Namun saat pertanyaannya berubah menjadi, “Siapa kiainya?” hampir semua langsung ingat.
Pengalaman itu terasa dekat dengan kehidupan banyak perempuan pesantren. Selama ini, seseorang lebih sering mendapat pertanyaan mondok di pesantren mana, bukan belajar kepada ibu nyai siapa. Bahkan ketika nama ibu nyai kita sebut lebih dulu, orang lain biasanya akan kembali bertanya tentang nama kiai yang mengasuh pesantren tersebut.
Bagi Bunda Tho’ah, kenyataan ini menyedihkan. Sebab pesantren tidak pernah terbangun oleh satu pihak saja. Ada tangan-tangan perempuan yang bekerja dalam diam, merawat santri, menjaga tradisi ilmu, dan menghidupkan pendidikan sehari-hari, meski namanya tidak selalu tercatat dalam sejarah besar pesantren.
Dari situlah nama Nyai Hindun atau Nyi Indun dikenalkan kembali. Di Kempek sendiri tidak mengenal sebutan “bu nyai”. Masyarakat lebih akrab memanggil ibu nyai dengan nama panggilan keluarga. Karena itu, Nyai Hindun lebih terkenal dengan sebutan Yu Ndun.
Tumbuh dari Tradisi Ilmu Al-Qur’an Krapyak
Nyai Hindun merupakan putri dari KH. Muhammad Munawwir, pendiri Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, seorang ulama besar yang terkenal luas sebagai mahaguru Al-Qur’an di Nusantara. Beliau lahir dari pasangan KH. Muhammad Munawwir dan Nyai Salimah Wonokromo.
KH. Muhammad Munawwir terkenal sebagai ulama ahli qira’at yang menempuh perjalanan panjang dalam mendalami ilmu Al-Qur’an. Pada usia 18 tahun, beliau berangkat ke Makkah dan menetap selama 16 tahun untuk memperdalam qira’at sab’ah di bawah bimbingan Syekh Yusuf Hajar. Dalam sejarah pesantren Nusantara, KH. Munawwir tercatat sebagai salah satu ulama Jawa pertama yang memperoleh otoritas penuh dalam disiplin ilmu qira’at.
Di lingkungan keilmuan yang ketat itulah Nyai Hindun tumbuh. Beliau lahir pada 19 Oktober 1921 dan sejak kecil hidup dalam tradisi pendidikan Al-Qur’an yang kuat.
Kemudian beliau menikah dengan KH. Yusuf Harun, putra pertama KH. Harun Abdul Jalil, pendiri Pondok Pesantren Kempek, Cirebon. Setelah menikah, Nyai Hindun menetap di Kempek dan mulai mengajarkan Al-Qur’an kepada santri putri dengan metode yang terwariskan langsung dari ayah sekaligus gurunya, KH. Munawwir.
Ujian Kehidupan dan Keputusan Kembali ke Kempek
Perjalanan hidup Nyai Hindun tidak berjalan mudah. KH. Yusuf Harun wafat di usia muda akibat sakit cacar. Saat itu Nyai Hindun masih sangat muda dan harus menghadapi kehilangan besar dalam hidupnya.
Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai tiga anak. Namun dua anaknya meninggal saat masih bayi. Hanya satu putri yang kemudian tumbuh dewasa dan menjadi penerus perjuangan beliau, yakni Nyai Hj. Jazilah Yusuf.
Setelah wafatnya sang suami, Nyai Hindun sempat kembali ke Krapyak. Namun putrinya, Ning Jazilah, merasa tidak betah dan ingin kembali ke Cirebon karena masih ada keluarga di Kempek. Dalam kebingungan itu, Nyai Hindun meminta nasihat kepada kakaknya, KH. Abdul Qodir. Sang kakak akhirnya menyarankan agar beliau kembali ke Kempek karena di sana sudah ada rumah, santri, dan jamaah yang membutuhkan bimbingannya.
Nyai Hindun pun kembali ke Kempek dan melanjutkan perjuangannya di pesantren.
Membangun Ruang Belajar bagi Santri Putri
Atas saran keluarga pula, Nyai Hindun kemudian menikah dengan KH. Umar Sholeh, putra kedua KH. Harun Abdul Jalil dari Nyai Mutimmah. KH. Umar Sholeh merupakan adik dari suami pertama beliau, meski berbeda ibu.
Setelah menikah kembali, Nyai Hindun memutuskan tetap tinggal di Kempek dan fokus mengembangkan ruang belajar khusus bagi santri perempuan. Pengajian beliau mulai secara sederhana melalui rutinan Rabu pagi. Santri putri mempelajari kitab Bidayatul Hidayah dan Ta’lim Muta’allim, dua kitab yang terpilih sebagai dasar pembentukan adab dan pembinaan diri.
Lambat laun jamaah pengajian semakin luas. Tidak hanya santri mukim, tetapi juga remaja perempuan dan masyarakat sekitar turut hadir. Pengajian Nyai Hindun diikuti ratusan jamaah dari berbagai latar belakang sosial.
Beliau terkenal sebagai sosok yang rendah hati dan dekat dengan masyarakat. Nyai Hindun sering bersilaturahmi ke desa-desa dan menjalin hubungan hangat dengan para santri.
Tradisi Qur’an Kempekan
Salah satu warisan terbesar Nyai Hindun adalah penguatan tradisi pembelajaran Al-Qur’an yang kemudian kita kenal sebagai tradisi Qur’an Kempekan. Dari tangan beliau pula lahir Pondok Pesantren Putri Al-Munawwiroh yang kini berkembang menjadi Pondok Pesantren Putri Al-Munawwir Kempek.
Di masa itu, pembelajaran Al-Qur’an mulai disusun lebih sistematis. Ada kurikulum, metode, dan standar bacaan yang dijaga dengan serius. Santri tidak hanya diajarkan mampu membaca Al-Qur’an, tetapi juga membaca dengan benar, tepat, dan disiplin.
Selain mengaji Al-Qur’an, santri putri juga mulai mempelajari kitab kuning, nahwu, sharaf, dan fikih. Bidang-bidang ilmu yang sebelumnya lebih banyak diasosiasikan dengan santri laki-laki mulai terbuka bagi perempuan.
Nyai Hindun tidak menjaga jarak dengan santri-santrinya. Beliau hadir bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga pengasuh yang ikut memikul tanggung jawab moral terhadap kehidupan para santri.
Wirid, Keteladanan, dan Warisan yang Terus Hidup
Bagi para santri, Nyai Hindun terkenal sebagai sosok yang tekun dan istiqamah. Salah satu tradisi yang terus beliau hidupkan adalah pembacaan wirid Asmaul Husna bersama santri setiap selesai salat Subuh dan Ashar. Tradisi ini diyakini dibawa langsung dari Krapyak dan terwariskan dengan teks serta nada khusus yang masih dipraktikkan hingga hari ini di kalangan santri putri Kempek.
Keteladanan Nyai Hindun menunjukkan bahwa kewibawaan tidak selalu lahir dari jabatan atau popularitas, tetapi dari kesungguhan dalam merawat ilmu dan manusia.
Pada tahun 1974, Nyai Hindun berangkat menunaikan ibadah haji bersama adiknya, Kiai Dalhar. Namun saat menjalankan wukuf di Arafah pada 8 Dzulhijjah, beliau wafat dan dimakamkan di tanah suci.
Ilmu yang Terus Mengalir
Meski telah wafat, jejak perjuangan Nyai Hindun tetap hidup hingga sekarang. Tradisi Qur’an Kempekan masih terjaga, pengajian perempuan terus berlangsung, dan para murid beliau telah menjadi pengajar di berbagai daerah.
Nama beliau mungkin tidak selalu muncul dalam seminar besar atau buku sejarah populer, tetapi warisan ilmunya terus mengalir melalui para santri yang pernah belajar dan diasuh olehnya.
Cara paling sederhana mengenang Nyai Hindun adalah dengan memahami bahwa perubahan besar sering lahir dari langkah-langkah kecil yang beliau jalani secara konsisten. Apa yang beliau tanam dahulu tidak langsung tampak besar, tetapi memiliki daya hidup panjang dan terus terwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. []












































