Rabu, 1 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

    Aliansi Perempuan Indonesia

    Aliansi Perempuan Indonesia Turun ke Jalan Tolak Kenaikan Harga

    In This Economy

    In This Economy, Perempuan dengan Satu Penghasilan Adalah Kemewahan

    Warga NU

    Di Mubes NU Cirebon Raya, Maria Ulfah Anshor: Abad Kedua NU Harus Berpihak pada Kelompok Rentan

    Mubes Warga NU

    Mubes Warga NU Cirebon Raya: Dorong NU Kembali Menjadi Kekuatan Masyarakat Sipil

    Muharram

    Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Hukum Transaksi Finansial bagi Disabilitas

    Bagaimana Hukum Transaksi Finansial bagi Disabilitas dalam Islam

    Kehamilan yang Terencana

    Kehamilan yang Terencana Dimulai dari Kerja Sama Suami-Istri Bersama Aplikasi Flo

    Normalitas dan Disabilitas

    Normalitas dan Disabilitas: Privilege yang Sementara

    Kursi Roda

    Kursi Roda: Tanda Pengenal untuk Sebagian Penyandang Disabilitas

    Fikih Penguatan Disabilitas

    Hening yang Berbicara: Ketika Fikih Penguatan Disabilitas Melupakan Perempuan

    Penganiayaan Yuvita

    Kasus Penganiayaan Yuvita: Alarm Bahaya Jebakan Relasi Kuasa

    Anak Autis

    Menjadi Guru bagi Anak Autis, Belajar Menjadi Manusia yang Lebih Peka

    Trotoar Disabilitas

    Ketika Trotoar Disabilitas Beralih Fungsi Menjadi Lahan Parkir dan Area Perdagangan

    Film Taare Zameen Par

    Film Taare Zameen Par: Apakah Ishaan Masih Ada di Sekolah Kita?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Aborsi

    Kapan Aborsi Diperbolehkan? Memahami Ketentuan di Berbagai Negara

    Aborsi

    Aborsi Tidak Aman Mengancam Nyawa: Hindari Cara-cara Berbahaya Ini

    Aborsi Aman

    Aborsi Aman dan Tidak Aman: Memahami Perbedaannya Demi Keselamatan Perempuan

    Aborsi

    Aborsi Bukan Keputusan yang Mudah: Memahami Alasan dan Risikonya

    Keguguran ini

    Mengalami Keguguran? Ini Langkah-langkah yang Perlu Dilakukan Sebelum Program Hamil Lagi

    Rumah Tangga yang

    Membangun Relasi Ekonomi Rumah Tangga yang Adil dan Setara

    Keguguran

    Mengapa Terjadi Keguguran? Kenali Penyebab, Gejala, dan Penanganannya

    Sehat

    Belum Juga Hamil? Perbaiki Pola Hidup Sehat dan Lakukan Pemeriksaan

    peluang hamil

    6 Cara Meningkatkan Peluang Hamil bagi Pasangan Suami Istri

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

    Aliansi Perempuan Indonesia

    Aliansi Perempuan Indonesia Turun ke Jalan Tolak Kenaikan Harga

    In This Economy

    In This Economy, Perempuan dengan Satu Penghasilan Adalah Kemewahan

    Warga NU

    Di Mubes NU Cirebon Raya, Maria Ulfah Anshor: Abad Kedua NU Harus Berpihak pada Kelompok Rentan

    Mubes Warga NU

    Mubes Warga NU Cirebon Raya: Dorong NU Kembali Menjadi Kekuatan Masyarakat Sipil

    Muharram

    Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Hukum Transaksi Finansial bagi Disabilitas

    Bagaimana Hukum Transaksi Finansial bagi Disabilitas dalam Islam

    Kehamilan yang Terencana

    Kehamilan yang Terencana Dimulai dari Kerja Sama Suami-Istri Bersama Aplikasi Flo

    Normalitas dan Disabilitas

    Normalitas dan Disabilitas: Privilege yang Sementara

    Kursi Roda

    Kursi Roda: Tanda Pengenal untuk Sebagian Penyandang Disabilitas

    Fikih Penguatan Disabilitas

    Hening yang Berbicara: Ketika Fikih Penguatan Disabilitas Melupakan Perempuan

    Penganiayaan Yuvita

    Kasus Penganiayaan Yuvita: Alarm Bahaya Jebakan Relasi Kuasa

    Anak Autis

    Menjadi Guru bagi Anak Autis, Belajar Menjadi Manusia yang Lebih Peka

    Trotoar Disabilitas

    Ketika Trotoar Disabilitas Beralih Fungsi Menjadi Lahan Parkir dan Area Perdagangan

    Film Taare Zameen Par

    Film Taare Zameen Par: Apakah Ishaan Masih Ada di Sekolah Kita?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Aborsi

    Kapan Aborsi Diperbolehkan? Memahami Ketentuan di Berbagai Negara

    Aborsi

    Aborsi Tidak Aman Mengancam Nyawa: Hindari Cara-cara Berbahaya Ini

    Aborsi Aman

    Aborsi Aman dan Tidak Aman: Memahami Perbedaannya Demi Keselamatan Perempuan

    Aborsi

    Aborsi Bukan Keputusan yang Mudah: Memahami Alasan dan Risikonya

    Keguguran ini

    Mengalami Keguguran? Ini Langkah-langkah yang Perlu Dilakukan Sebelum Program Hamil Lagi

    Rumah Tangga yang

    Membangun Relasi Ekonomi Rumah Tangga yang Adil dan Setara

    Keguguran

    Mengapa Terjadi Keguguran? Kenali Penyebab, Gejala, dan Penanganannya

    Sehat

    Belum Juga Hamil? Perbaiki Pola Hidup Sehat dan Lakukan Pemeriksaan

    peluang hamil

    6 Cara Meningkatkan Peluang Hamil bagi Pasangan Suami Istri

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Figur

Nyai Hindun Munawwir: Ulama Perempuan Penjaga Tradisi Al-Qur’an di Kempek Cirebon

Salah satu warisan terbesar Nyai Hindun adalah penguatan tradisi pembelajaran Al-Qur’an yang kemudian kita kenal sebagai tradisi Qur’an Kempekan

Sarifah Mudaim by Sarifah Mudaim
15 Mei 2026
in Figur
A A
0
Nyai Hindun Munawwir

Nyai Hindun Munawwir

32
SHARES
1.6k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Serial ke-6 Diskusi Biografi Ulama Perempuan yang terselenggara pada 7 Mei 2026 menghadirkan kisah hidup Ibu Nyai Hj. Hindun Munawwir. Pembacaan biografi oleh Bu Nyai Hj. Tho’atillah Ja’far, atau yang akrab kita sapa Bunda Tho’ah. Dalam penuturannya, Bunda Tho’ah tidak hanya mengenalkan sosok Nyai Hindun sebagai ulama perempuan, tetapi juga mengajak peserta melihat kembali bagaimana peran perempuan pesantren sering kali luput dari ingatan sejarah.

Ketika Nama Ibu Nyai Jarang Disebut

Di awal diskusi, Bunda Tho’ah membuka pembicaraan dengan pertanyaan sederhana namun menggugah, “Kalau menyebut kata pesantren, sosok siapa yang pertama kali terbayang?”

Kebanyakan orang, menurut beliau, langsung teringat pada sosok kiai. Jarang sekali yang spontan menyebut nama ibu nyai. Pengalaman itu kerap beliau temui saat menerima tamu atau wali santri yang hendak memasukkan anaknya ke pesantren. Ketika ditanya, “Dulu mondok di bunyai siapa?” banyak yang tidak bisa menjawab. Namun saat pertanyaannya berubah menjadi, “Siapa kiainya?” hampir semua langsung ingat.

Pengalaman itu terasa dekat dengan kehidupan banyak perempuan pesantren. Selama ini, seseorang lebih sering mendapat pertanyaan mondok di pesantren mana, bukan belajar kepada ibu nyai siapa. Bahkan ketika nama ibu nyai kita sebut lebih dulu, orang lain biasanya akan kembali bertanya tentang nama kiai yang mengasuh pesantren tersebut.

Bagi Bunda Tho’ah, kenyataan ini menyedihkan. Sebab pesantren tidak pernah terbangun oleh satu pihak saja. Ada tangan-tangan perempuan yang bekerja dalam diam, merawat santri, menjaga tradisi ilmu, dan menghidupkan pendidikan sehari-hari, meski namanya tidak selalu tercatat dalam sejarah besar pesantren.

Dari situlah nama Nyai Hindun atau Nyi Indun dikenalkan kembali. Di Kempek sendiri tidak mengenal sebutan “bu nyai”. Masyarakat lebih akrab memanggil ibu nyai dengan nama panggilan keluarga. Karena itu, Nyai Hindun lebih terkenal dengan sebutan Yu Ndun.

Tumbuh dari Tradisi Ilmu Al-Qur’an Krapyak

Nyai Hindun merupakan putri dari KH. Muhammad Munawwir, pendiri Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, seorang ulama besar yang terkenal luas sebagai mahaguru Al-Qur’an di Nusantara. Beliau lahir dari pasangan KH. Muhammad Munawwir dan Nyai Salimah Wonokromo.

KH. Muhammad Munawwir terkenal sebagai ulama ahli qira’at yang menempuh perjalanan panjang dalam mendalami ilmu Al-Qur’an. Pada usia 18 tahun, beliau berangkat ke Makkah dan menetap selama 16 tahun untuk memperdalam qira’at sab’ah di bawah bimbingan Syekh Yusuf Hajar. Dalam sejarah pesantren Nusantara, KH. Munawwir tercatat sebagai salah satu ulama Jawa pertama yang memperoleh otoritas penuh dalam disiplin ilmu qira’at.

Di lingkungan keilmuan yang ketat itulah Nyai Hindun tumbuh. Beliau lahir pada 19 Oktober 1921 dan sejak kecil hidup dalam tradisi pendidikan Al-Qur’an yang kuat.

Kemudian beliau menikah dengan KH. Yusuf Harun, putra pertama KH. Harun Abdul Jalil, pendiri Pondok Pesantren Kempek, Cirebon. Setelah menikah, Nyai Hindun menetap di Kempek dan mulai mengajarkan Al-Qur’an kepada santri putri dengan metode yang terwariskan langsung dari ayah sekaligus gurunya, KH. Munawwir.

Ujian Kehidupan dan Keputusan Kembali ke Kempek

Perjalanan hidup Nyai Hindun tidak berjalan mudah. KH. Yusuf Harun wafat di usia muda akibat sakit cacar. Saat itu Nyai Hindun masih sangat muda dan harus menghadapi kehilangan besar dalam hidupnya.

Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai tiga anak. Namun dua anaknya meninggal saat masih bayi. Hanya satu putri yang kemudian tumbuh dewasa dan menjadi penerus perjuangan beliau, yakni Nyai Hj. Jazilah Yusuf.

Setelah wafatnya sang suami, Nyai Hindun sempat kembali ke Krapyak. Namun putrinya, Ning Jazilah, merasa tidak betah dan ingin kembali ke Cirebon karena masih ada keluarga di Kempek. Dalam kebingungan itu, Nyai Hindun meminta nasihat kepada kakaknya, KH. Abdul Qodir. Sang kakak akhirnya menyarankan agar beliau kembali ke Kempek karena di sana sudah ada rumah, santri, dan jamaah yang membutuhkan bimbingannya.

Nyai Hindun pun kembali ke Kempek dan melanjutkan perjuangannya di pesantren.

Membangun Ruang Belajar bagi Santri Putri

Atas saran keluarga pula, Nyai Hindun kemudian menikah dengan KH. Umar Sholeh, putra kedua KH. Harun Abdul Jalil dari Nyai Mutimmah. KH. Umar Sholeh merupakan adik dari suami pertama beliau, meski berbeda ibu.

Setelah menikah kembali, Nyai Hindun memutuskan tetap tinggal di Kempek dan fokus mengembangkan ruang belajar khusus bagi santri perempuan. Pengajian beliau mulai secara sederhana melalui rutinan Rabu pagi. Santri putri mempelajari kitab Bidayatul Hidayah dan Ta’lim Muta’allim, dua kitab yang terpilih sebagai dasar pembentukan adab dan pembinaan diri.

Lambat laun jamaah pengajian semakin luas. Tidak hanya santri mukim, tetapi juga remaja perempuan dan masyarakat sekitar turut hadir. Pengajian Nyai Hindun diikuti ratusan jamaah dari berbagai latar belakang sosial.

Beliau terkenal sebagai sosok yang rendah hati dan dekat dengan masyarakat. Nyai Hindun sering bersilaturahmi ke desa-desa dan menjalin hubungan hangat dengan para santri.

Tradisi Qur’an Kempekan

Salah satu warisan terbesar Nyai Hindun adalah penguatan tradisi pembelajaran Al-Qur’an yang kemudian kita kenal sebagai tradisi Qur’an Kempekan. Dari tangan beliau pula lahir Pondok Pesantren Putri Al-Munawwiroh yang kini berkembang menjadi Pondok Pesantren Putri Al-Munawwir Kempek.

Di masa itu, pembelajaran Al-Qur’an mulai disusun lebih sistematis. Ada kurikulum, metode, dan standar bacaan yang dijaga dengan serius. Santri tidak hanya diajarkan mampu membaca Al-Qur’an, tetapi juga membaca dengan benar, tepat, dan disiplin.

Selain mengaji Al-Qur’an, santri putri juga mulai mempelajari kitab kuning, nahwu, sharaf, dan fikih. Bidang-bidang ilmu yang sebelumnya lebih banyak diasosiasikan dengan santri laki-laki mulai terbuka bagi perempuan.

Nyai Hindun tidak menjaga jarak dengan santri-santrinya. Beliau hadir bukan hanya sebagai pengajar, tetapi juga pengasuh yang ikut memikul tanggung jawab moral terhadap kehidupan para santri.

Wirid, Keteladanan, dan Warisan yang Terus Hidup

Bagi para santri, Nyai Hindun terkenal sebagai sosok yang tekun dan istiqamah. Salah satu tradisi yang terus beliau hidupkan adalah pembacaan wirid Asmaul Husna bersama santri setiap selesai salat Subuh dan Ashar. Tradisi ini diyakini dibawa langsung dari Krapyak dan terwariskan dengan teks serta nada khusus yang masih dipraktikkan hingga hari ini di kalangan santri putri Kempek.

Keteladanan Nyai Hindun menunjukkan bahwa kewibawaan tidak selalu lahir dari jabatan atau popularitas, tetapi dari kesungguhan dalam merawat ilmu dan manusia.

Pada tahun 1974, Nyai Hindun berangkat menunaikan ibadah haji bersama adiknya, Kiai Dalhar. Namun saat menjalankan wukuf di Arafah pada 8 Dzulhijjah, beliau wafat dan dimakamkan di tanah suci.

Ilmu yang Terus Mengalir

Meski telah wafat, jejak perjuangan Nyai Hindun tetap hidup hingga sekarang. Tradisi Qur’an Kempekan masih terjaga, pengajian perempuan terus berlangsung, dan para murid beliau telah menjadi pengajar di berbagai daerah.

Nama beliau mungkin tidak selalu muncul dalam seminar besar atau buku sejarah populer, tetapi warisan ilmunya terus mengalir melalui para santri yang pernah belajar dan diasuh olehnya.

Cara paling sederhana mengenang Nyai Hindun adalah dengan memahami bahwa perubahan besar sering lahir dari langkah-langkah kecil yang beliau jalani secara konsisten. Apa yang beliau tanam dahulu tidak langsung tampak besar, tetapi memiliki daya hidup panjang dan terus terwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. []

Tags: Biografi Ulama PerempuanBulan Kebangkitan Ulama Perempuan IndonesiaNyai Hindun MunawwirPonpes Kempek Cirebonulama perempuan
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Tak Perlu Takut, Tubuh Ibu Mampu Menghasilkan ASI yang Cukup

Next Post

Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

Sarifah Mudaim

Sarifah Mudaim

Sarifah Mudaim perempuan yang lahir di kota Indramayu penikmat kopi, tanpa senja dan puisi apalagi filosofi. Saat ini tercatat sebagai mahasiswa STKIP Pangeran Dharma Kusuma, segeran, Juntinyuat, Indramayu juga sebagai salah satu anggota dari Perempuan Membaca, Puan Menulis dan Waderlis (wadon dermayu menulis). Bisa disapa-sapa melalui akun instagram @sarifah104 atau email [email protected]

Related Posts

Sitti Rohmi Djalilah
Figur

Sitti Rohmi Djalilah: Ulama Perempuan dalam Gerak Muslimat dan Pendidikan

5 Juni 2026
Cut Nyak Dien
Aktual

Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

26 Mei 2026
Nyai Luluk Farida
Aktual

Di BuKUPI, Nyai Luluk Farida Ajak Masyarakat Dukung Perjuangan Ulama Perempuan

26 Mei 2026
Bulan KUPI
Personal

Bulan KUPI, Momen Bersejarah Gerakan Keulamaan Perempuan

26 Mei 2026
BuKUPI
Aktual

Pera Sopariyati: BuKUPI 2026 Perkuat Independensi Gerakan Ulama Perempuan

25 Mei 2026
Buku Manaqib Ulama Perempuan
Aktual

Diluncurkan di BuKUPI: Buku Manaqib Ulama Perempuan Indonesia Jadi Ikhtiar Awal Dokumentasi Sejarah Ulama Perempuan

25 Mei 2026
Next Post
Ustazah Mumpuni

Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Kapan Aborsi Diperbolehkan? Memahami Ketentuan di Berbagai Negara
  • Bagaimana Hukum Transaksi Finansial bagi Disabilitas dalam Islam
  • Aborsi Tidak Aman Mengancam Nyawa: Hindari Cara-cara Berbahaya Ini
  • Kehamilan yang Terencana Dimulai dari Kerja Sama Suami-Istri Bersama Aplikasi Flo
  • Aborsi Aman dan Tidak Aman: Memahami Perbedaannya Demi Keselamatan Perempuan

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0