Mubadalah.id – “Ulama perempuan adalah mereka yang memiliki ilmu mendalam serta keberpihakan pada perempuan untuk mewujudkan keadilan relasi dengan laki-laki, baik dalam kehidupan keluarga maupun sosial.”
Penegasan itu disampaikan Iklilah Muzayyanah Dini Fajriyah ketika memaparkan sosok Saparinah Sadli dalam Diskusi Serial Biografi Ulama Perempuan Indonesia #18 yang diselenggarakan jaringan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) pada 19 Mei 2026 dalam rangka memperingati Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan.
Dalam forum tersebut, Iklilah menjelaskan perjalanan hidup Saparinah Sadli sebagai akademisi, psikolog, aktivis perempuan, dan tokoh kemanusiaan yang banyak berkontribusi dalam isu perempuan di Indonesia. Karena itu, Saparinah layak masuk dalam kategori ulama perempuan melalui pemikiran dan perjuangannya di bidang perempuan dan kemanusiaan.
Mengenal Saparinah dari Diskusi KUPI
Sebelum mengikuti diskusi tersebut, saya sebenarnya belum banyak mengenal nama Saparinah Sadli. Ketika tim Mubadalah menginformasikan nama-nama ulama perempuan yang akan dibacakan biografinya dalam serial diskusi ini, barulah saya mulai mencari rekam jejak Saparinah. Dari situ, saya mulai melihat luasnya kiprah beliau, mulai dari dunia akademik, gerakan perempuan, hingga keterlibatannya dalam Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) tragedi Mei 1998 yang mengungkap kasus kekerasan terhadap perempuan.
Karena itu, ketika mendengar pemaparan Iklilah, saya mulai memahami mengapa Saparinah menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah gerakan perempuan dan dunia akademik Indonesia. Meski beberapa kali pemaparan terputus karena Iklilah sedang berada di Halmahera dengan jaringan yang kurang stabil, semangatnya dalam menjelaskan sosok Saparinah tetap terasa kuat.
Di tengah pemaparannya, Iklilah membacakan salah satu kutipan tulisan Saparinah dalam buku ‘Berbeda tetapi Setara’,
“Di lingkungan budaya kita, sifat lembut, sabar, berpenampilan rapi, dan senang melayani kebutuhan orang lain dianggap sebagai karakteristik positif dari feminitas. Perilaku tersebut diperkuat dengan cara anak perempuan didandani dan mainan yang dibelikan. Itu masih ditambah peringatan bila si anak perempuan berperilaku yang oleh lingkungannya dianggap tidak feminin. Artinya, sebagai anak perempuan, ia belajar sifat-sifat yang dianggap pantas sebagai perempuan.”
Kutipan tersebut menunjukkan bagaimana Saparinah memandang perempuan bukan sekadar melalui peran biologis, tetapi juga melalui konstruksi sosial yang membentuk mereka sejak kecil.
Perempuan dan Dunia Pengetahuan
Saparinah Sadli yang akrab dengan panggilan Bu Sap, lahir di Tegalsari, Jawa Tengah, 24 Agustus 1926. Ia berasal dari keluarga terdidik. Ibunya, R.A. Mintami dan ayahnya, R.M. Soebali merupakan bupati Kudus pada tahun 1946-1949.
Di tengah-tengah sesi diskusi, Ninuk Widyantoro, salah seorang murid sekaligus teman Bu Sap, bercerita bahwa sejak kecil Bu Sap memperoleh ruang kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri. Ia bahkan senang membaca buku di atas pohon, sesuatu yang mungkin tidak biasa bagi anak perempuan pada masa itu.
Bu Sap menempuh pendidikan Psikologi di Universitas Indonesia dan meraih gelar Guru Besar Psikologi UI pada tahun 1985. Ia menjadi salah satu akademisi yang berperan penting dalam perkembangan psikologi dan studi perempuan di Indonesia.
Bagi saya, salah satu hal paling menarik dari Bu Sap adalah caranya memandang pengalaman perempuan sebagai pengetahuan. Pada masa ketika lingkungan kampus belum banyak memberi perhatian pada isu perempuan, ia justru melihat bahwa kehidupan perempuan sehari-hari menyimpan persoalan sosial yang perlu mendapat perhatian serius dalam dunia akademik.
Baginya, kajian perempuan harus berangkat dari pengalaman personal perempuan untuk menemukenali permasalahan struktural dan relasi kuasa. Ia menekankan pentingnya pendekatan interdisipliner dalam membahas perempuan karena satu disiplin keilmuan saja tidak cukup untuk melihat kompleksitas pengalaman mereka.
Pandangan tersebut membuat saya memahami bahwa perjuangan perempuan di dunia akademik bukan hanya tentang menghadirkan perempuan di ruang kampus, tetapi juga menghadirkan pengalaman perempuan sebagai bagian penting dari ilmu pengetahuan.
Pelopor Pusat Kajian Wanita
Pemikiran itu kemudian Bu Sap wujudkan melalui kiprahnya di dunia akademik. Ia adalah salah satu tokoh di balik berdirinya Pusat Kajian Wanita di Universitas Indonesia dan perguruan tinggi Indonesia lainnya. Ia menjadi kepala Program Studi Kajian Wanita, Program Pascasarjana Universitas Indonesia pada tahun 1990 sampai 2004.
Hari ini, pusat studi gender atau kajian perempuan mungkin terdengar biasa di lingkungan kampus. Namun, pada masa Bu Sap mulai memperjuangkannya, banyak orang memandang isu perempuan sebatas urusan domestik dan belum menaruh perhatian pada bidang kajian ilmiah tersebut. Banyak pihak juga memberi stigma negatif pada istilah gender, feminisme, dan feminis karena menganggapnya sebagai pengaruh Barat yang tidak sesuai dengan masyarakat Indonesia.
Saat itu, menghadirkan Kajian Wanita ke dunia akademik Indonesia bukanlah proses yang sederhana. Ketika sejumlah akademisi perempuan dari UGM, Universitas Airlangga, dan IAIN Sultan Hasanuddin mengusulkan Kajian Wanita di tingkat Pascasarjana kampus masing-masing, respons yang muncul tidak selalu terbuka. Para pemimpin perguruan tinggi yang sebagian besar laki-laki meragukan gagasan tentang perempuan sebagai subjek ilmu pengetahuan dan memandangnya sebagai sesuatu yang asing.
Di tengah situasi itu, Bu Sap justru meyakinkan bahwa pengalaman perempuan layak menjadi objek kajian ilmiah. Baginya, persoalan perempuan tidak hanya menjadi urusan pribadi atau keluarga saja, tetapi berkaitan dengan struktur sosial, budaya, hukum, hingga pendidikan.
Kemitrasejajaran Perempuan dan Laki-laki
Dalam kiprahnya sebagai akademisi, Saparniah Sadli juga memiliki gagasan tentang kemitrasejajaran perempuan dan laki-laki. Menurutnya, hubungan keduanya harus berdasarkan prinsip kesetaraan tanpa ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah satu sama lain. Untuk mewujudkan kesetaraan yang substantif, perempuan dan laki-laki perlu bekerja bersama sebagai mitra yang setara, bukan sebagai pesaing.
Saya melihat gagasan tersebut berkaitan erat dengan cara Bu Sap memahami pengalaman perempuan. Selama ini, masyarakat cenderung memposisikan perempuan hanya sebagai pelengkap dalam kehidupan sosial maupun akademik. Selain itu juga menganggap pengalaman perempuan kurang penting. Sementara cara pandang laki-laki lebih sering menjadi ukuran utama dalam melihat dunia.
Melalui konsep kemitrasejajaran, Bu Sap sebenarnya sedang mengkritik cara berpikir yang menempatkan perempuan dan laki-laki dalam hubungan yang timpang. Ia tidak ingin perempuan sekadar diberi ruang. Ia ingin perempuan benar-benar diakui sebagai manusia yang memiliki kemampuan berpikir, pengalaman hidup, dan hak menentukan pilihan.
Bu Sap tidak melihat kesetaraan sebagai upaya menjadikan perempuan sama persis dengan laki-laki. Perempuan tetap dapat memiliki pengalaman, cara pandang, dan perannya sendiri tanpa kehilangan hak untuk dihargai secara setara.
Gagasan tersebut tidak hanya hadir dalam pemikiran akademiknya, tetapi juga tampak dalam kehidupan personalnya.
Dalam diskusi tersebut, Ninuk juga bercerita bahwa ketika suami Bu Sap, Prof. Dr. Mohammad Sadli, menjadi pejabat negara, ia tidak memaksa Bu Sap mengikuti seluruh aktivitas Dharma Wanita karena Bu Sap memiliki tanggung jawab akademik di kampus. Pengalaman itu memperlihatkan bagaimana gagasan kemitrasejajaran juga hadir dalam kehidupan Bu Sap.
Dari Kampus ke Ruang Kemanusiaan
Keberpihakan Bu Sap pada perempuan tidak berhenti di ruang akademik. Ia membawa apa yang selama ini ia perjuangkan melalui Kajian Wanita ke ruang kemanusiaan yang lebih luas, terutama ketika perempuan mengalami kekerasan dan ketidakadilan secara langsung.
Iklilah menjelaskan bahwa Bu Sap bukan tipe akademisi yang berhenti pada teori. Ia terlibat langsung dalam berbagai kerja advokasi dan kemanusiaan, terutama pada masa transisi Reformasi 1998. Saat tragedi Mei 1998 terjadi dan kekerasan seksual terungkap, ia mendorong negara tidak menutup mata terhadap pengalaman para korban.
Ia kemudian terlibat dalam Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) kerusuhan Mei 1998. Tim ini bertugas menyelidiki berbagai bentuk kekerasan, termasuk kekerasan seksual terhadap perempuan Tionghoa. Pada masa itu, pembicaraan mengenai pemerkosaan dan kekerasan seksual masih dianggap tabu.
Banyak pihak bahkan meragukan kesaksian para korban. Karena itu, keberanian Saparinah dan para aktivis perempuan berperan penting memastikan pengalaman korban tetap dicatat sebagai bagian dari fakta sejarah.
Dari proses itulah kemudian lahir gagasan pembentukan Komnas Perempuan. Setelah bertemu dengan Presiden B.J. Habibie bersama sejumlah aktivis perempuan lainnya, Bu Sap mengusulkan perlunya lembaga independen yang secara khusus menangani kekerasan terhadap perempuan. Usulan tersebut akhirnya melahirkan Komnas Perempuan pada tahun 1998, dan ia mendapatkan mandat menjadi ketua pertamanya.
Air Bah Itu Bernama Saparinah
Tulisan ini tentu hanya sekelumit dari kehidupan Saparinah Sadli. Semakin saya mengikuti pemaparan dalam diskusi tersebut, saya merasa bahwa perjalanan hidup dan perjuangan Bu Sap terlalu luas untuk diringkas dalam satu tulisan pendek. Ada begitu banyak hal yang dapat kita pelajari dari sosoknya.
Warisan pemikiran Saparinah tidak hanya hidup melalui tulisan dan gagasannya, tetapi juga melalui berbagai ruang yang terus mengingat kontribusinya. Ia menerima banyak penghargaan atas kerja akademik dan kemanusiaannya.
Salah satu penghormatan terbaru datang dari Universitas Indonesia melalui peresmian Lobby Saparinah Sadli pada 8 April 2026. Ini adalah bentuk penghargaan atas kontribusinya bagi dunia akademik dan studi perempuan di Indonesia. Saya jadi ingat satu kalimat dari Ninuk, “tidak ada yang bisa menyetop air bah dari seorang Saparinah.”
Saya kira, kalimat itu bukan hanya menggambarkan keberanian pribadi Saparinah, tetapi juga pemikirannya yang terus mengalir dan memberi pengaruh hingga hari ini.
Menjelang usianya yang ke-100 tahun, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Saparinah Sadli yang telah membawa pengalaman perempuan menjadi bagian penting dari pengetahuan, kemanusiaan, dan perjuangan keadilan di Indonesia. []











































