Rabu, 8 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Mengelola Stres

    Cara Gen Z Mengelola Stres

    Kepemimpinan Perempuan

    Membongkar Mitos Kepemimpinan Perempuan dalam Islam

    Konselor Sebaya

    Menguatkan Diri Sebelum Menguatkan Sesama: Refleksi dari Kegiatan Konselor Sebaya

    Budaya Patriarki

    Budaya Patriarki yang Terwariskan dari Generasi ke Generasi

    Lirik Lagu

    Kekuatan Lirik Lagu: Dari Betharia Sonata, Didi Kempot, Melly Goeslaw hingga Billie Holiday

    Disabilitas Kekurangan Fisik

    Benarkah Disabilitas Sama dengan Kekurangan Fisik?

    Mencegah Kekerasan Seksual

    Kenapa Sanksi Saja Tidak Cukup Untuk Mencegah Kekerasan Seksual di Pesantren?

    Gajah Sumatera

    Rusaknya Habitat Gajah Sumatera Akibat Deforestasi dan Alih Fungsi Lahan

    TPA Pakusari

    Perempuan di Tengah Gundukan Sampah: Tinjauan Kritis Ekofeminisme di TPA Pakusari

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasca Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi yang Mengancam Nyawa, Ini 5 Langkah Penanganan Lanjutannya

    Pasca Aborsi

    7 Langkah Darurat Menangani Pendarahan Pasca Aborsi sebelum Dirujuk ke Rumah Sakit

    Pendarahan pasca aborsi

    Cara Menghentikan Pendarahan yang Berlebihan Pasca Aborsi

    Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Langkah Pertolongan Pertama

    KB Setelah Aborsi

    Keluarga Berencana (KB) Setelah Aborsi

    Bahaya Aborsi

    Tanda-tanda Bahaya Setelah Aborsi

    Setelah Aborsi

    Perawatan Setelah Aborsi: Kenali Tanda Normal dan Gejala yang Harus Diwaspadai

    Aborsi

    Begini Ciri-ciri Layanan Aborsi yang Aman Menurut Standar Kesehatan

    Layanan Aborsi

    Bagaimana Mengetahui Layanan Aborsi Aman atau Tidak? Ini 9 Tandanya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Mengelola Stres

    Cara Gen Z Mengelola Stres

    Kepemimpinan Perempuan

    Membongkar Mitos Kepemimpinan Perempuan dalam Islam

    Konselor Sebaya

    Menguatkan Diri Sebelum Menguatkan Sesama: Refleksi dari Kegiatan Konselor Sebaya

    Budaya Patriarki

    Budaya Patriarki yang Terwariskan dari Generasi ke Generasi

    Lirik Lagu

    Kekuatan Lirik Lagu: Dari Betharia Sonata, Didi Kempot, Melly Goeslaw hingga Billie Holiday

    Disabilitas Kekurangan Fisik

    Benarkah Disabilitas Sama dengan Kekurangan Fisik?

    Mencegah Kekerasan Seksual

    Kenapa Sanksi Saja Tidak Cukup Untuk Mencegah Kekerasan Seksual di Pesantren?

    Gajah Sumatera

    Rusaknya Habitat Gajah Sumatera Akibat Deforestasi dan Alih Fungsi Lahan

    TPA Pakusari

    Perempuan di Tengah Gundukan Sampah: Tinjauan Kritis Ekofeminisme di TPA Pakusari

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasca Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi yang Mengancam Nyawa, Ini 5 Langkah Penanganan Lanjutannya

    Pasca Aborsi

    7 Langkah Darurat Menangani Pendarahan Pasca Aborsi sebelum Dirujuk ke Rumah Sakit

    Pendarahan pasca aborsi

    Cara Menghentikan Pendarahan yang Berlebihan Pasca Aborsi

    Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Langkah Pertolongan Pertama

    KB Setelah Aborsi

    Keluarga Berencana (KB) Setelah Aborsi

    Bahaya Aborsi

    Tanda-tanda Bahaya Setelah Aborsi

    Setelah Aborsi

    Perawatan Setelah Aborsi: Kenali Tanda Normal dan Gejala yang Harus Diwaspadai

    Aborsi

    Begini Ciri-ciri Layanan Aborsi yang Aman Menurut Standar Kesehatan

    Layanan Aborsi

    Bagaimana Mengetahui Layanan Aborsi Aman atau Tidak? Ini 9 Tandanya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Figur

Saparinah Sadli, Pelopor Kajian Wanita dan Kemitrasejajaran Gender

Saya jadi ingat satu kalimat dari Ninuk, “tidak ada yang bisa menyetop air bah dari seorang Saparinah.”

Suci Wulandari by Suci Wulandari
21 Mei 2026
in Figur
A A
0
Saparinah Sadli

Saparinah Sadli

54
SHARES
2.7k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – “Ulama perempuan adalah mereka yang memiliki ilmu mendalam serta keberpihakan pada perempuan untuk mewujudkan keadilan relasi dengan laki-laki, baik dalam kehidupan keluarga maupun sosial.”

Penegasan itu disampaikan Iklilah Muzayyanah Dini Fajriyah ketika memaparkan sosok Saparinah Sadli dalam Diskusi Serial Biografi Ulama Perempuan Indonesia #18 yang diselenggarakan jaringan Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI) pada 19 Mei 2026 dalam rangka memperingati Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan.

Dalam forum tersebut, Iklilah menjelaskan perjalanan hidup Saparinah Sadli sebagai akademisi, psikolog, aktivis perempuan, dan tokoh kemanusiaan yang banyak berkontribusi dalam isu perempuan di Indonesia. Karena itu, Saparinah layak masuk dalam kategori ulama perempuan melalui pemikiran dan perjuangannya di bidang perempuan dan kemanusiaan.

Mengenal Saparinah dari Diskusi KUPI

Sebelum mengikuti diskusi tersebut, saya sebenarnya belum banyak mengenal nama Saparinah Sadli. Ketika tim Mubadalah menginformasikan nama-nama ulama perempuan yang akan dibacakan biografinya dalam serial diskusi ini, barulah saya mulai mencari rekam jejak Saparinah. Dari situ, saya mulai melihat luasnya kiprah beliau, mulai dari dunia akademik, gerakan perempuan, hingga keterlibatannya dalam Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) tragedi Mei 1998 yang mengungkap kasus kekerasan terhadap perempuan.

Karena itu, ketika mendengar pemaparan Iklilah, saya mulai memahami mengapa Saparinah menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah gerakan perempuan dan dunia akademik Indonesia. Meski beberapa kali pemaparan terputus karena Iklilah sedang berada di Halmahera dengan jaringan yang kurang stabil, semangatnya dalam menjelaskan sosok Saparinah tetap terasa kuat.

Di tengah pemaparannya, Iklilah membacakan salah satu kutipan tulisan Saparinah dalam buku ‘Berbeda tetapi Setara’,

“Di lingkungan budaya kita, sifat lembut, sabar, berpenampilan rapi, dan senang melayani kebutuhan orang lain dianggap sebagai karakteristik positif dari feminitas. Perilaku tersebut diperkuat dengan cara anak perempuan didandani dan mainan yang dibelikan. Itu masih ditambah peringatan bila si anak perempuan berperilaku yang oleh lingkungannya dianggap tidak feminin. Artinya, sebagai anak perempuan, ia belajar sifat-sifat yang dianggap pantas sebagai perempuan.”

Kutipan tersebut menunjukkan bagaimana Saparinah memandang perempuan bukan sekadar melalui peran biologis, tetapi juga melalui konstruksi sosial yang membentuk mereka sejak kecil.

Perempuan dan Dunia Pengetahuan

Saparinah Sadli yang akrab dengan panggilan Bu Sap, lahir di Tegalsari, Jawa Tengah, 24 Agustus 1926. Ia berasal dari keluarga terdidik. Ibunya, R.A. Mintami dan ayahnya, R.M. Soebali merupakan bupati Kudus pada tahun 1946-1949.

Di tengah-tengah sesi diskusi, Ninuk Widyantoro, salah seorang murid sekaligus teman Bu Sap, bercerita bahwa sejak kecil Bu Sap memperoleh ruang kebebasan untuk menjadi dirinya sendiri. Ia bahkan senang membaca buku di atas pohon, sesuatu yang mungkin tidak biasa bagi anak perempuan pada masa itu.

Bu Sap menempuh pendidikan Psikologi di Universitas Indonesia dan meraih gelar Guru Besar Psikologi UI pada tahun 1985. Ia menjadi salah satu akademisi yang berperan penting dalam perkembangan psikologi dan studi perempuan di Indonesia.

Bagi saya, salah satu hal paling menarik dari Bu Sap adalah caranya memandang pengalaman perempuan sebagai pengetahuan. Pada masa ketika lingkungan kampus belum banyak memberi perhatian pada isu perempuan, ia justru melihat bahwa kehidupan perempuan sehari-hari menyimpan persoalan sosial yang perlu mendapat perhatian serius dalam dunia akademik.

Baginya, kajian perempuan harus berangkat dari pengalaman personal perempuan untuk menemukenali permasalahan struktural dan relasi kuasa. Ia menekankan pentingnya pendekatan interdisipliner dalam membahas perempuan karena satu disiplin keilmuan saja tidak cukup untuk melihat kompleksitas pengalaman mereka.

Pandangan tersebut membuat saya memahami bahwa perjuangan perempuan di dunia akademik bukan hanya tentang menghadirkan perempuan di ruang kampus, tetapi juga menghadirkan pengalaman perempuan sebagai bagian penting dari ilmu pengetahuan.

Pelopor Pusat Kajian Wanita

Pemikiran itu kemudian Bu Sap wujudkan melalui kiprahnya di dunia akademik. Ia adalah salah satu tokoh di balik berdirinya Pusat Kajian Wanita di Universitas Indonesia dan perguruan tinggi Indonesia lainnya. Ia menjadi kepala Program Studi Kajian Wanita, Program Pascasarjana Universitas Indonesia pada tahun 1990 sampai 2004.

Hari ini, pusat studi gender atau kajian perempuan mungkin terdengar biasa di lingkungan kampus. Namun, pada masa Bu Sap mulai memperjuangkannya, banyak orang memandang isu perempuan sebatas urusan domestik dan belum menaruh perhatian pada bidang kajian ilmiah tersebut. Banyak pihak juga memberi stigma negatif pada istilah gender, feminisme, dan feminis karena menganggapnya sebagai pengaruh Barat yang tidak sesuai dengan masyarakat Indonesia.

Saat itu, menghadirkan Kajian Wanita ke dunia akademik Indonesia bukanlah proses yang sederhana. Ketika sejumlah akademisi perempuan dari UGM, Universitas Airlangga, dan IAIN Sultan Hasanuddin mengusulkan Kajian Wanita di tingkat Pascasarjana kampus masing-masing, respons yang muncul tidak selalu terbuka. Para pemimpin perguruan tinggi yang sebagian besar laki-laki meragukan gagasan tentang perempuan sebagai subjek ilmu pengetahuan dan memandangnya sebagai sesuatu yang asing.

Di tengah situasi itu, Bu Sap justru meyakinkan bahwa pengalaman perempuan layak menjadi objek kajian ilmiah. Baginya, persoalan perempuan tidak hanya menjadi urusan pribadi atau keluarga saja, tetapi berkaitan dengan struktur sosial, budaya, hukum, hingga pendidikan.

Kemitrasejajaran Perempuan dan Laki-laki

Dalam kiprahnya sebagai akademisi, Saparniah Sadli juga memiliki gagasan tentang kemitrasejajaran perempuan dan laki-laki. Menurutnya, hubungan keduanya harus berdasarkan prinsip kesetaraan tanpa ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah satu sama lain. Untuk mewujudkan kesetaraan yang substantif, perempuan dan laki-laki perlu bekerja bersama sebagai mitra yang setara, bukan sebagai pesaing.

Saya melihat gagasan tersebut berkaitan erat dengan cara Bu Sap memahami pengalaman perempuan. Selama ini, masyarakat cenderung memposisikan perempuan hanya sebagai pelengkap dalam kehidupan sosial maupun akademik. Selain itu juga menganggap pengalaman perempuan kurang penting. Sementara cara pandang laki-laki lebih sering menjadi ukuran utama dalam melihat dunia.

Melalui konsep kemitrasejajaran, Bu Sap sebenarnya sedang mengkritik cara berpikir yang menempatkan perempuan dan laki-laki dalam hubungan yang timpang. Ia tidak ingin perempuan sekadar diberi ruang. Ia ingin perempuan benar-benar diakui sebagai manusia yang memiliki kemampuan berpikir, pengalaman hidup, dan hak menentukan pilihan.

Bu Sap tidak melihat kesetaraan sebagai upaya menjadikan perempuan sama persis dengan laki-laki. Perempuan tetap dapat memiliki pengalaman, cara pandang, dan perannya sendiri tanpa kehilangan hak untuk dihargai secara setara.

Gagasan tersebut tidak hanya hadir dalam pemikiran akademiknya, tetapi juga tampak dalam kehidupan personalnya.

Dalam diskusi tersebut, Ninuk juga bercerita bahwa ketika suami Bu Sap, Prof. Dr. Mohammad Sadli, menjadi pejabat negara, ia tidak memaksa Bu Sap mengikuti seluruh aktivitas Dharma Wanita karena Bu Sap memiliki tanggung jawab akademik di kampus. Pengalaman itu memperlihatkan bagaimana gagasan kemitrasejajaran juga hadir dalam kehidupan Bu Sap.

Dari Kampus ke Ruang Kemanusiaan

Keberpihakan Bu Sap pada perempuan tidak berhenti di ruang akademik. Ia membawa apa yang selama ini ia perjuangkan melalui Kajian Wanita ke ruang kemanusiaan yang lebih luas, terutama ketika perempuan mengalami kekerasan dan ketidakadilan secara langsung.

Iklilah menjelaskan bahwa Bu Sap bukan tipe akademisi yang berhenti pada teori. Ia terlibat langsung dalam berbagai kerja advokasi dan kemanusiaan, terutama pada masa transisi Reformasi 1998. Saat tragedi Mei 1998 terjadi dan kekerasan seksual terungkap, ia mendorong negara tidak menutup mata terhadap pengalaman para korban.

Ia kemudian terlibat dalam Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) kerusuhan Mei 1998. Tim ini bertugas menyelidiki berbagai bentuk kekerasan, termasuk kekerasan seksual terhadap perempuan Tionghoa. Pada masa itu, pembicaraan mengenai pemerkosaan dan kekerasan seksual masih dianggap tabu.

Banyak pihak bahkan meragukan kesaksian para korban. Karena itu, keberanian Saparinah dan para aktivis perempuan berperan penting memastikan pengalaman korban tetap dicatat sebagai bagian dari fakta sejarah.

Dari proses itulah kemudian lahir gagasan pembentukan Komnas Perempuan. Setelah bertemu dengan Presiden B.J. Habibie bersama sejumlah aktivis perempuan lainnya, Bu Sap mengusulkan perlunya lembaga independen yang secara khusus menangani kekerasan terhadap perempuan. Usulan tersebut akhirnya melahirkan Komnas Perempuan pada tahun 1998, dan ia mendapatkan mandat menjadi ketua pertamanya.

Air Bah Itu Bernama Saparinah

Tulisan ini tentu hanya sekelumit dari kehidupan Saparinah Sadli. Semakin saya mengikuti pemaparan dalam diskusi tersebut, saya merasa bahwa perjalanan hidup dan perjuangan Bu Sap terlalu luas untuk diringkas dalam satu tulisan pendek. Ada begitu banyak hal yang dapat kita pelajari dari sosoknya.

Warisan pemikiran Saparinah tidak hanya hidup melalui tulisan dan gagasannya, tetapi juga melalui berbagai ruang yang terus mengingat kontribusinya. Ia menerima banyak penghargaan atas kerja akademik dan kemanusiaannya.

Salah satu penghormatan terbaru datang dari Universitas Indonesia melalui peresmian Lobby Saparinah Sadli pada 8 April 2026. Ini adalah bentuk penghargaan atas kontribusinya bagi dunia akademik dan studi perempuan di Indonesia. Saya jadi ingat satu kalimat dari Ninuk, “tidak ada yang bisa menyetop air bah dari seorang Saparinah.”

Saya kira, kalimat itu bukan hanya menggambarkan keberanian pribadi Saparinah, tetapi juga pemikirannya yang terus mengalir dan memberi pengaruh hingga hari ini.

Menjelang usianya yang ke-100 tahun, saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Saparinah Sadli yang telah membawa pengalaman perempuan menjadi bagian penting dari pengetahuan, kemanusiaan, dan perjuangan keadilan di Indonesia. []

Tags: Bulan Kebangkitan Ulama PerempuanKomnas PerempuanSaparinah SadliSerial Biografi Ulama Perempuan IndonesiaTim Gabungan Pencari Fakta (TGPF)
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

Next Post

Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

Suci Wulandari

Suci Wulandari

Guru perempuan di Kaki Rinjani, Lombok Timur. Saat ini berkhidmat di Madrasah dan Pesantren NWDI Pangsor Gunung, Sembalun. Bisa dihubungi lewat Ig: suci_wulandari9922

Related Posts

Nyai Khoiriyah Hasyim
Profil

Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

16 Mei 2026
Mbah Nyai Nuri
Figur

Mengenang Mbah Nyai Nuri, Ulama Perempuan dari Lasem

13 Mei 2026
Nyai Ageng Pinatih
Publik

Mengapa Nyai Ageng Pinatih Jarang Dibaca sebagai Tokoh Ekonomi?

3 Mei 2026
80 Tahun Indonesia Merdeka
Publik

80 Tahun Indonesia Merdeka, Tapi Tubuh Perempuan Masih Tersandera

18 Agustus 2025
Ulama perempuan Indonesia
Featured

Bulan Kebangkitan: Menegaskan Realitas Sejarah Ulama Perempuan Indonesia

24 Mei 2025
Puser Bumi
Featured

Ulama Perempuan sebagai Puser Bumi

21 Mei 2025
Next Post
Prof. Siti Baroroh Baried

Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Cara Gen Z Mengelola Stres
  • Agama, Peristiwa Lini Masa, dan Bagaimana Sikap Kita?
  • Membongkar Mitos Kepemimpinan Perempuan dalam Islam
  • Menguatkan Diri Sebelum Menguatkan Sesama: Refleksi dari Kegiatan Konselor Sebaya
  • Budaya Patriarki yang Terwariskan dari Generasi ke Generasi

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0