Mubadalah.id – Aku mendengarkan pembacaan biografi Ibu Nyai Hajjah Nuriyyah Zainuddin Lasem saat kegiatan Pembacaan Biografi Ulama Perempuan sesi ke-8 pada Minggu, 9 Mei 2026. Serial diskusi ini merupakan rangkaian dari kegiatan memperingati Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia (BKUPI).
Dr. Nur Mahmudah saat sesi diskusi berlangsung yang membacakan biografinya dengan perasaan penuh hormat. Ada beberapa tokoh yang mungkin tidak pernah kita temui secara langsung, tetapi kisah hidupnya membuat kita merasa ingin ada di zaman itu.
Mbah Nyai Nuri (Sapaan akrab Nyai Nuriyyah Zainuddin) adalah salah satunya. Dari cerita Bu Mahmudah, aku tidak hanya mendengar tentang seorang pengasuh pesantren, tetapi tentang seorang perempuan yang hidupnya penuh dengan ilmu, kasih sayang, dan perhatian yang sangat besar kepada manusia lain.
Mbah Nyai Nuri lahir di Lasem pada tahun 1895 dari keluarga religius yang kuat tradisi keilmuannya. Namun yang menarik bagiku, beliau justru tidak menempuh pendidikan formal sebagaimana saudara laki-lakinya.
Mbah Nuri adalah Pembelajar Sejati
Beliau belajar langsung kepada kedua orang tuanya, lalu melanjutkan belajar kepada suaminya, KH Ma’shoem, setelah menikah. Dari sini aku merasa bahwa menjadi pembelajar sejati memang tidak selalu soal seberapa jauh seseorang pergi belajar, tetapi oleh kesediaannya untuk terus belajar sepanjang hidup.
Dalam slide Bu Mahmudah, ia mengatakan bahwa Mbah Nyai Nuri belajar sorogan kepada suaminya hingga mengkhatamkan beberapa kitab penting seperti Tafsir Jalalain, (bidang tafsir) Fathul Mu’in (bidang fikih Madzhab Syafi’i) , Riyadhus Salihin (bidang Hadis) dan kitab lainnya. Bagiku, ini menarik sekali. Sebab di banyak cerita, perempuan sering ditempatkan hanya sebagai pendamping ulama laki-laki.
Tetapi pada diri Mbah Nyai Nuri, aku melihat sosok yang tumbuh menjadi ulama karena ketekunan intelektualnya sendiri. Ia belajar, menghafal, memahami, lalu mengajarkan kembali ilmu itu kepada banyak orang.
Guru: Hafidah Tafsir Jalalain
Yang paling membuatku tertegun adalah cerita tentang pengajian tafsir “Al-Qur’an bil Makna” yang pengampunya langsung oleh beliau. Berbeda dengan pengajian tafsir pada umumnya yang menggunakan kitab tafsir tertentu seperti Tafsir Jalalain.
Mbah Nyai Nuri hanya membawa mushaf Al-Qur’an lalu memaknai ayat demi ayat sesuai kemampuan dan pemahamannya. Menurut masyarakat Lasem, pemaknaan beliau bahkan sangat mirip dengan Tafsir Jalalain sehingga beliau dikenal sebagai hafidzah Tafsir Jalalain.
Aku membayangkan suasana pengajian itu. Seorang bu nyai mengajar tafsir kepada santri putra dan putri di tahun 1970-an. Hari ini mungkin terdengar biasa saja, tetapi pada masa itu, situasi tersebut jelas melampaui zamannya.
Biasanya pengajian masyarakat dipimpin oleh kiai laki-laki, sementara bu nyai lebih sering mengajar santri perempuan. Tetapi Mbah Nyai Nuri hadir dengan cara yang berbeda. Beliau mengajar santri laki-laki dan perempuan sekaligus, menurut Bu Mahmudah ini adalah kurikulum yang setara.
Bagiku, ini bukan sekadar soal metode mengajar, tetapi juga cara pandang terhadap ilmu dan perempuan. Bahwa perempuan juga memiliki otoritas ilmu, kapasitas tafsir, dan ruang untuk menjadi rujukan masyarakat.
Kurikulum Pesantren yang Setara
Aku juga tertarik dengan bagaimana beliau mengelola pesantren setelah wafatnya KH Ma’shoem. Bersama putra ketiganya, beliau memimpin Pesantren Al-Hidayah selama sebelas tahun hingga wafat.
Tidak mudah memimpin pesantren besar, apalagi sebagai perempuan pada masa itu. Tetapi dari cerita yang aku dengar, aku justru melihat kepemimpinan beliau berjalan dengan sangat membumi.
Kurikulum pesantrennya bahkan sangat visioner. Santri putra dan putri mendapatkan kesempatan belajar yang sama, baik kitab kuning, Barzanji, maupun kegiatan lain.
Bahkan beliau pernah meminta KH Mustofa Bisri untuk mengadakan kursus bahasa Arab dan bahasa Inggris di pesantrennya yang berbasis salaf. Menurutku ini menarik, karena menunjukkan bahwa tradisi pesantren tidak membuat beliau tertutup terhadap perkembangan zaman.
Kelembutan Mbah Nyai Nuri: Mencintai Anak Kecil dan Kelompok Marginal
Hal lain yang sangat terasa dalam cerita tentang Mbah Nuri adalah cintanya kepada anak-anak. Bu Mahmudah bilang bahwa ibunya menjadi saksi bagaimana Mbah Nuri sangat perhatian kepada santri kecil.
Beliau sering mengajak bermain, memberi jajanan, dan bercengkerama bersama cucu-cucunya. Bagiku, banyak dari kita menganggap perhatian kepada anak kecil ini sederhana, padahal justru di situ terlihat bagaimana seseorang memandang manusia lain bukan karena manusia itu punya kekuatan.
Selain dikenal alim, Mbah Nuri juga sangat lembut dan dermawan. Beliau memiliki kebiasaan berkeliling Lasem naik becak untuk mengunjungi orang-orang dhuafa yang sakit sambil membawa sembako atau barang-barang yang beliau dapat dari tamunya.
Yang membuatku tersentuh, beliau melakukannya sendiri, door to door, bukan meminta orang lain membagikan bantuan. Ada sesuatu yang terasa personal di situ bahwa membantu orang bukan hanya soal memberi barang, tetapi juga menghadirkan diri secara langsung.
Mbah Nyai Nuri Pandai Bergaul
Aku juga menangkap bagaimana inklusifnya Mbah Nyai Nuri dalam bergaul. Beliau menerima tamu siapa saja, termasuk masyarakat Tionghoa. Bahkan jika diundang oleh keluarga Tionghoa, beliau tetap datang.
Saat menerima tamu pun beliau tidak asal menerima, tetapi selalu berpakaian rapi sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang datang. Hal-hal seperti ini mungkin terlihat sepele, tetapi justru memperlihatkan adab dan penghormatan beliau kepada sesama manusia.
Dari cerita itu aku merasa bahwa Mbah Nyai Nuri menjalankan nilai rahmat dan kemanusiaan dengan sangat nyata. Beliau tidak sibuk berbicara besar tentang toleransi atau keberpihakan kepada orang kecil, tetapi langsung menjalankannya dalam kehidupan sehari-hari.
Sikap beliau kepada pengamen dan pengemis juga menarik bagiku. Beliau selalu memberi. Jika ternyata orang itu berbohong, beliau menganggap itu urusan orang tersebut dengan Tuhan. Bahkan pengamen tetap diberi karena menurut beliau, mereka sudah berusaha bernyanyi dan menghibur. Cara pandang seperti ini terasa sederhana tetapi sangat dalam.
Spiritualitas Mbah Nyai Nuri
Aku juga cukup tersentuh ketika mendengar cerita tentang spiritualitas beliau. Mbah Nyai Nuri dikenal gemar melantunkan selawat dan beberapa kali bermimpi bertemu Rasulullah hingga 40 kali.
Beliau juga menerima ijazah Doa Akasyah yang kemudian rutin dibaca saat mengunjungi santri atau menghadiri undangan masyarakat. Menariknya, spiritualitas beliau tidak membuatnya jauh dari manusia lain, justru membuatnya semakin dekat dengan masyarakat kecil.
Bahkan KH Ma’shoem sendiri sering berkata kepada orang-orang yang meminta doa kepanya agar meminta doa kepada “mbah putri” saja karena doanya lebih mustajab (“Njaluk dungo ning mbahmu wedok doaku ijeh manjur mbahmu.”) Bukti penghormatan yang sangat besar dari seorang suami kepada kapasitas spiritual istrinya.
Amalan Mbah Nyai Nuri di “Jalan Sunyi”
Di akhir pembacaan biografi itu, ada satu kalimat yang cukup tertinggal di kepalaku ketika Ibu Nur Mahmudah bilang kalau Mbah Nyai Nuri menjalani ini semua di “jalan sunyi”.
Aku merasa kalimat itu sangat tepat. Di zaman media sosial seperti sekarang, banyak hal mudah menjadi riuh dan dipertontonkan. Sementara Mbah Nyai Nuri menjalani hidup yang penuh pengabdian tanpa banyak sorotan.
Tetapi justru karena itulah, beliau begitu dicintai. Aku yang tidak pernah mengenal beliau secara langsung pun bisa merasakan bagaimana hangatnya hubungan beliau dengan santri, tetangga, anak-anak, tamu, hingga orang-orang kecil yang mungkin sering terabaikan di tengah masyarakat.
Wafat dan Warisan yang Ditinggalkan
Mbah Nyai Nuri wafat pada tahun 1983 dalam usia 88 tahun. Namun dari cerita yang aku dengar, rasanya beliau belum benar-benar pergi. Nilai-nilai yang beliau tinggalkan masih hidup melalui pesantren, keluarga, murid-muridnya, dan orang-orang yang pernah merasakan kasih sayangnya.
Bagiku, itulah bentuk warisan paling besar, ketika seseorang terkenang bukan hanya karena ilmunya, tetapi juga karena kemanusiaannya.
Di akhir pembacaan biografi itu, aku merasa bahwa warisan terbesar Mbah Nyai Nuri bukan hanya pesantrennya, tetapi nilai-nilai hidup yang beliau tinggalkan: ketauhidan, keilmuan, kemanusiaan, kesetaraan, dan pengabdian yang sunyi tanpa mencari pujian.
Sosok seperti beliau membuatku percaya bahwa ulama perempuan memiliki peran besar dalam membangun masyarakat yang lebih adil, penuh rahmat, dan berkeadaban. []












































