Mubadalah.id – Di tengah arus sejarah Indonesia yang lama didominasi narasi tokoh laki-laki, nama Prof. Siti Baroroh Baried hadir sebagai penanda penting bahwa perempuan Muslim Indonesia sejak lama telah mengambil peran besar dalam dunia ilmu pengetahuan, pendidikan, dan gerakan sosial.
Sosoknya kembali dihadirkan dalam Diskusi Serial Biografi Ulama Perempuan Indonesia ke-20 yang diselenggarakan oleh Kongres Ulama Perempuan Indonesia (KUPI), Kamis malam, 21 Mei 2026.
Dalam forum yang mengangkat dua tokoh besar perempuan Muslim Indonesia—Nyai Siti Walidah Ahmad Dahlan dan Prof. Siti Baroroh Baried—penutur Fitria Villa Sahara mencoba merangkai kembali jejak panjang kehidupan Prof. Baroroh sebagai bagian dari mata rantai tradisi keulamaan perempuan Muhammadiyah yang terus hidup lintas generasi.
Bagi Fitria, menuturkan biografi ulama perempuan bukan sekadar membaca sejarah masa lalu, melainkan menjaga ingatan kolektif tentang perempuan-perempuan alim yang telah membuka jalan perubahan sosial melalui ilmu dan pengabdian.
“Jejak dan keteladanan mereka hidup secara kolektif di tengah-tengah kita,” tutur Fitria dalam forum tersebut.
Ia mengisahkan bagaimana bahan-bahan tentang Prof. Baroroh disusunnya dari berbagai arsip, tulisan, referensi, hingga sumber-sumber dari keluarga besar Muhammadiyah dan Aisyiyah yang selama ini menjaga ingatan tentang sosok tersebut.
Menurutnya, kisah Prof. Baroroh tumbuh dari tradisi panjang perempuan pembelajar yang telah dirintis sebelumnya oleh Nyai Siti Walidah dan perempuan-perempuan Kauman Yogyakarta.
Di kampung itulah, gagasan pembaruan Islam, pendidikan perempuan, dan gerakan sosial tumbuh menjadi denyut perubahan bangsa.
“Kauman pada masa itu bukan sekadar kampung biasa,” ujar Fitria. “Ia menjadi ruang lahirnya gagasan pembaruan Islam dan pendidikan perempuan yang kemudian memengaruhi perjalanan bangsa Indonesia.”
Riwayat Hidup
Prof. Siti Baroroh Baried lahir pada tahun 1923 dengan nama Siti Baroroh Tamimi dari keluarga Kauman yang kuat dengan tradisi ilmu, dakwah, dan gerakan Muhammadiyah. Ayahnya, Tamim bin Ja’far, masih memiliki hubungan keluarga dengan Nyai Siti Walidah. Garis genealogis itu, menurut Fitria, memperlihatkan bahwa Prof. Baroroh tumbuh dalam lingkungan yang tidak hanya religius, tetapi juga menghargai pendidikan perempuan.
Sejak kecil, Prof. Baroroh dikenal tekun belajar dan dekat dengan dunia buku serta bahasa. Jalan hidupnya kemudian bergerak menuju dunia akademik, tetapi Fitria menegaskan bahwa semua itu tidak hadir secara tiba-tiba. Ada tradisi panjang yang membentuknya: keluarga dan lingkungan yang mendorong pendidikan, dan teladan perempuan-perempuan alim yang telah membuka jalan sebelumnya.
Jika Nyai Siti Walidah memperjuangkan agar perempuan Muslim berani belajar dan keluar dari keterbatasan zamannya. Maka generasi Prof. Baroroh membawa perjuangan itu menuju ruang pendidikan tinggi dan percakapan intelektual global.
Dalam salah satu catatan tentang dirinya, Prof. Baroroh pernah mengatakan, “Hidup saya harus menuntut ilmu.”
Bagi Fitria, kalimat itu menggambarkan seluruh jalan hidup Prof. Baroroh. Ilmu tidak dipandang sekadar sebagai prestasi pribadi, tetapi jalan pengabdian bagi masyarakat.
Perjalanan pendidikannya pun tergolong luar biasa pada zamannya. Setelah belajar di sekolah Muhammadiyah dan menempuh studi sastra serta bahasa, Prof. Baroroh memperdalam bahasa Arab dan filologi. Ia bahkan melanjutkan studi ke Kairo, Mesir—sesuatu yang pada masa itu masih sangat jarang dilakukan perempuan Indonesia.
“Beliau menembus batas zamannya,” kata Fitria.
Filologi
Yang dipelajari Prof. Baroroh tidak terbatas pada agama dalam arti sempit. Ia mendalami bahasa, manuskrip, sastra, dan kebudayaan. Pilihan terhadap bidang filologi menjadi salah satu titik penting yang membuatnya dikenang dalam sejarah akademik Indonesia.
Melalui filologi, manuskrip-manuskrip kuno dibaca kembali, diteliti, dijaga, dan diwariskan agar pengetahuan tidak hilang dimakan zaman.
Karena itu, menurut Fitria, Prof. Baroroh bukan hanya mempelajari bahasa, tetapi juga ikut merawat warisan Islam dan warisan intelektual Nusantara.
“Ini menunjukkan bahwa perempuan juga memiliki otoritas dalam membaca, menjaga, dan mengembangkan tradisi ilmu pengetahuan,” ujarnya.
Jejak besar Prof. Baroroh semakin menonjol ketika ia menjadi guru besar Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada pada tahun 1964, di usia yang baru 39 tahun. Pada masa ketika akses perempuan terhadap pendidikan tinggi masih sangat terbatas, pencapaian itu menjadi tonggak penting sejarah perempuan Indonesia.
Ia dikenang sebagai profesor perempuan pertama di Indonesia.
Dalam pidato pengukuhan guru besarnya yang berjudul Bahasa Arab dan Perkembangan Bahasa Indonesia, Prof. Baroroh memperlihatkan bagaimana Islam, bahasa Arab, ilmu pengetahuan, dan identitas bangsa Indonesia saling berkaitan.
Bagi Fitria, hal itu menunjukkan bahwa Islam dan ilmu pengetahuan bukan dua hal yang bertentangan. Justru keduanya dapat berjalan beriringan untuk membangun masyarakat yang lebih maju.
Karena itulah sosok Prof. Baroroh menjadi sangat relevan dengan semangat keulamaan perempuan hari ini. Dalam tradisi KUPI, ulama perempuan tidak hanya hadir di ruang pengajian atau mimbar keagamaan formal. Tetapi juga hidup di kampus, ruang penelitian, dan dunia produksi pengetahuan.
“Prof. Baroroh menunjukkan bahwa keulamaan perempuan juga bisa tumbuh dari dunia akademik,” kata Fitria.
Meski jumlah perempuan di perguruan tinggi kini semakin meningkat, Fitria mengingatkan bahwa kesenjangan kepemimpinan akademik masih nyata hingga hari ini. Data pendidikan tinggi menunjukkan jumlah profesor perempuan di Indonesia masih jauh lebih sedikit daripada laki-laki.
Perempuan Harus Menjadi Otoritas Ilmu Pengetahuan
Karena itu, kehadiran Prof. Baroroh pada era 1960-an menjadi simbol penting bahwa perempuan Muslim Indonesia mampu hadir sebagai otoritas ilmu pengetahuan.
Namun kiprah Prof. Baroroh tidak berhenti di dunia kampus. Selama kurang lebih dua dekade, dari 1965 hingga 1985, ia memimpin Aisyiyah dan membawa organisasi perempuan Muhammadiyah itu memasuki ruang internasional.
Di bawah kepemimpinannya, Aisyiyah aktif membangun jaringan global, menghadiri forum internasional, dan memperkenalkan pengalaman perempuan Muslim Indonesia ke dunia.
“Jauh sebelum istilah global networking populer seperti sekarang, Prof. Baroroh sudah melakukannya,” tutur Fitria.
Menurutnya, kepemimpinan Prof. Baroroh bukan hanya tentang membangun organisasi dari dalam. Tetapi juga membuka ruang yang lebih luas bagi perempuan Indonesia untuk hadir di percakapan global.
Yang juga kita anggap penting adalah kemampuannya menjaga kesinambungan gerakan dan kaderisasi. Sebab tantangan organisasi perempuan bukan sekadar melahirkan pemimpin yang kuat. Tetapi memastikan nilai perjuangan, tradisi ilmu, dan semangat pengabdian terus hidup lintas generasi.
Karena itulah Aisyiyah hingga hari ini kita kenal memiliki tradisi kaderisasi dan pendidikan perempuan yang kuat.
Bagi Fitria, relevansi Prof. Baroroh pada masa kini terletak pada pesan bahwa perempuan Muslim Indonesia sejak lama telah menjadi pendidik, pemimpin gerakan, sekaligus pembawa perubahan sosial.
Ulama Perempuan Tidak Boleh Hilang dari Sejarah
Sayangnya, banyak jejak ulama perempuan yang belum cukup tercatat dalam sejarah bangsa.
“Perempuan ulama tidak boleh hilang dari narasi bangsa,” tegasnya.
Diskusi malam itu akhirnya bukan hanya menjadi ruang mengenang satu tokoh. Tetapi juga ajakan untuk membaca kembali sejarah Indonesia dari sudut pandang perempuan-perempuan alim yang selama ini sering terpinggirkan.
Oleh karena itu, melalui sosok Prof. Siti Baroroh Baried, publik kembali diingatkan bahwa perjuangan perempuan Muslim Indonesia banyak melalui ilmu pengetahuan, pendidikan, pengabdian sosial, dan keberanian membuka jalan bagi generasi berikutnya. []








































