Mubadalah.id – Allahu Akbar, Allahu Akbar Allahu Akbar wa Lillaahil hamdu. Belajar dari Ibrahim adalah belajar tentang melepaskan sesuatu yang paling dicintai, demi zat yang paling mencintai. Dan Ismail cerminan manusia yang agung penuh kebijaksanaan.
Khusus ketika hari raya Iduladha atau Idul Kurban, perayaan takbir itu tidak hanya meriah dengan suara manusia, namun juga dengan suara merdu embikan kambing dan lenguhan sapi. Momentum ini seakan-akan memberi sinyal bahwa Hari Raya Idul Kurban bukan hal berbeda seperti hari raya lainnya yang meriah dengan gema takbiran, tetapi juga sarana penguatan nilai kasih sayang terhadap hewan kurban (perikehewanan), serta peneguhan kepribadian yang saleh.
Sementara itu, hal jamak yang kita pahami ketika Idul kurban yaitu kisah mulia Nabi Ibrahim dan Ismail, sosok agung yang abadi dalam Al-Qur’an. Namun, kisah tersebut sering kali hanya tersampaikan dalam bentuk ceramah keagamaan yang kontekstualisasi esensinya terasa masih stagnan pada perkembangan era modern. Barangkali berkurban hari ini berbicara lebih luas, kurban jabatan, kurban APBN, kurban pajak, dan kurban lainnya, mungkin lebih terasa atmosfer esensi Idul Kurban hari ini.
Oleh karena itu, mari meninjau upaya bentuk-bentuk “Ismail” di era modern ini, yang tidak hanya teraktualisasikan melalui lisan, namun juga tindakan.
Aneka Ragam Tafsir As-Saffat: 102
Surat yang menjadi rujukan utama dalam kisah berkurban antara Ibrahim dan Ismail, adalah surat As-Saffat ayat 102. Surat ini menyatakan kepasrahan Ibrahim dan keikhlasan Ismail ketika berhadapan dengan perintah Allah SWT.
Apabila kita tinjau secara kebahasaan, dalam tafsir al-Misbah, saat proses penerimaan wahyu (lewat mimpi) diksi yang tertulis berbentuk Fi’Il Mudhari, yaitu dalam diksi اَرٰى yang artinya sedang bermimpi. Dapat kita pahami bahwa perintah penyembelihan itu masih ada fase negosiasi antara Ibrahim dan Ismail. Maka, sebagai ayah yang bijaksana, etika birrul awlad berlaku berbentuk dedikasi moral, yaitu jalin komunikasi dengan anak.
Kemudian, Buya Hamka, dalam Tafsir Al-Azhar menjelaskan bahwa Ismail sebagai anak yang menyadari kekuasaan Allah, ia berpasrah sepenuhnya untuk disembelih, karena ia yakin bahwa mimpi ayahnya bukanlah rasian atau khayalan kacau ketika seseorang sedang tidur. Sehingga secara psikologi, jawaban Ismail tidak menunjukkan pemberontakan, ketakutan berlebihan, ataupun penolakan emosional. Ia justru menghadirkan ketenangan, kesabaran, dan keyakinan spiritual.
Selain itu, dalam tafsir al Munir, Syekh Wahbah Zuhaili mencatat bahwasannya saat itu, Ismail memasuki usia produktif berpikir dan bekerja. Ia membantu ayahnya, Ibrahim seseorang yang kaya. Menurutnya pada lafadh فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ terjadi musyawarah antara Ibrahim dan Ismail tentang mimpi perintah menyembelih. Dan Ismail berfikir, merenung, serta memutuskan kembali ke kehendak Allah, agar jauh dari maksiat dan menjemput keberkahan untuk ummat serta menjadi golongan orang sabar.
Dengan begitu, kisah Ibrahim dan Ismail tersebut bukan sekedar perintah untuk penyembelihan kurban. Lebih dari itu, ia menunjukkan relasi antara birrul walidain dan birrul awlad agar tidak muncul sifat otoriter dalam keluarga. Selain itu juga melatih kematangan emosional serta kepatuhan spiritual. Sehingga tidak boleh ada manusia yang dikorbankan demi manusia lain (termasuk demi ambisi raja atau penguasa)
Di manakah Ismail modern?
Apabila menilik dari pendapat mufassir sebelumnya, agaknya terdapat beberapa sifat kenabian Ismail yang harus teraktualisasikan ke dalam jiwa-jiwa manusia modern ini.
Pertama, Urgensi musyawarah untuk kebaikan. Ismail mengajarkan musyawarah itu bukan formalitas, ia merupakan aktifitas berpikir bersama yang jujur, terbuka, dan berorientasi pada kemanusiaan. Apabila kita tarik benang merah fenomena Indonesia hari ini, agaknya sangat banyak kejanggalan rakyat bawah atas kebijakan negara.
Alih-alih pengorbanan para elite, para legislator mengetuk palu produk-produk legislasi dengan senyap dan sidang kilat, mengabaikan aspirasi serta ajakan musyawarah rakyat yang seharusnya menjadi rahim negara, dan ketika suara rakyat, masyarakat bawah, mahasiswa, intelektual yang kritis kerap terbungkam dengan ancaman.
Ini bukan musyawarah, tetapi lebih ke demorkasi prosedural tanpa substansi, kulit tanpa isi, dan rapat tanpa makna. Sementara Ibrahim tidak pernah memaksa Ismail tunduk tanpa berdialog. Setidaknya pertanyaan “maka pikirkanlah apa pendapatmu?” muncul ketika suara rakyat menggema di lorong-lorong pembungkaman.
Kedua, tidak ada otoritarianisme dalam kemanusiaan. Ketika Ibrahim dan Ismail bertakwa kepada Allah SWT (kekuasaan absolut), mereka saling menguatkan dan pasrah dengan penuh keyakinan ketika menghadapi cobaan. Sementara itu, ada satu negara yang menunjukkan cara kekuasaannya hari ini mengenakan topeng demokrasi untuk menutupi wajah orotiarianismenya.
Misi Rejuvenasi Sifat-sifat Ismail Era Modern
Narasi pembangunan terus digembor-gemborkan sebagai pembenar atas segala kebijakan yang tidak boleh ada gugatan. Siapa yang menyangkal kritis, berarti ia tidak nasionalis. Menggunakan uang rakyat demi kepentingan sekelumit orang, bahkan melegitimasi kepemilikan barang menggunakan nama pribadi yang berkedok perwakilan rakyat.
Padahal, menurut John Locke (1632-1704), rakyat adalah pemegang hak-hak alamiah yang paten, seperti hak hidup, kebebasan, dan kepemilikan. Apa yang menjadi milik rakyat tidak bisa dikorbankan untuk kepentingan negara sekalipun.
Dalam konteks ini, rejuvenasi bukan sekedar pembaruan, ia merupakan kebangkitan nilai yang nyaris terkubur oleh rutinitas dan kepentingan. Setiap elemen bangsa, bukan hanya penceramah mimbar, harus memikul tanggung jawab untuk menghidupkan kembali sifat-sifat Ismail dalam realitas.
Karena Ismail tidak tumbuh sebagai sosok yang tiba-tiba bijaksana, meskipun Allah Swt telah menjaminnya menjadi seorang nabi. Dialog yang terbuka, ayah yang figuratif dan tidak otoriter, serta keyakinan yang terlatih sejak dini sehingga membentuk karakter ilahiyah.
Maka, setiap kita harus memulai rejuvenasi itu dari unit mikro, keluarga, kerabat, kantor, hingga parlemen para elite. Sementara lingkup makro, Negara merupakan wasilah kesejahteraan manusia, sudah seharusnya sifat-sifat “ketuhanan” para pejabat terrejuvenasi dengan sikap kebijaksanaan Ismail.
Taqabbalallahu minna wa minkum taqabbal ya karim. []












































