Mubadalah.id – Pembangunan sering diukur melalui angka pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, dan kemajuan sektor pariwisata. Namun di balik semua itu, masih ada kelompok-kelompok yang hidup di pinggiran perhatian sosial. Penyandang disabilitas, perempuan korban kekerasan, dan keluarga miskin sering kali menjadi bagian masyarakat yang paling sedikit mendapatkan ruang, baik dalam kebijakan maupun dalam kehidupan sehari-hari.
Di tengah situasi tersebut, hadir sosok Margaretha Subekti atau yang akrab dipanggil Oma Bekti. Selama lebih dari empat dekade, ia mengabdikan hidupnya untuk mendampingi kelompok rentan di Nusa Tenggara Timur. Melalui kerja sosial yang sunyi, ia membantu banyak perempuan dan difabel menemukan kembali rasa percaya diri, martabat, dan harapan hidup.
Tulisan ini membahas bagaimana pengabdian Margaretha Subekti bukan hanya bentuk kepedulian sosial, tetapi juga perjuangan kemanusiaan. Dari kerja-kerja kecil yang sering luput dari perhatian, ia menunjukkan bahwa perubahan besar dapat lahir dari kesediaan untuk terus merawat manusia dengan penuh penghormatan.
Realitas Difabel dan Kelompok Rentan di Pinggiran
Di berbagai daerah pinggiran Indonesia, kehidupan penyandang disabilitas masih terpenuhi banyak keterbatasan. Akses pendidikan yang minim, layanan kesehatan yang sulit terjangkau, serta stigma sosial membuat banyak difabel tumbuh dalam kondisi yang tidak mudah.
Tidak sedikit keluarga yang masih menganggap anak difabel sebagai beban atau aib. Ada anak yang mereka sembunyikan di rumah karena rasa malu. Ada perempuan difabel yang rentan mengalami kekerasan karena dianggap tidak mampu melawan. Dalam situasi seperti ini, difabel bukan hanya kehilangan kesempatan berkembang, tetapi juga kehilangan ruang untuk dipandang sebagai manusia utuh.
Kondisi tersebut semakin berat ketika kemiskinan ikut hadir di dalamnya. Banyak keluarga terlalu sibuk bertahan hidup hingga kebutuhan emosional dan pendidikan anggota keluarga difabel menjadi terabaikan. Perempuan dalam keluarga juga sering memikul beban paling besar, terutama ibu yang harus merawat anak berkebutuhan khusus tanpa dukungan memadai.
Realitas seperti ini menunjukkan bahwa persoalan disabilitas bukan hanya persoalan fisik atau kesehatan. Ia berkaitan erat dengan kemiskinan, ketimpangan sosial, dan cara masyarakat memperlakukan manusia yang dianggap berbeda.
Pengabdian Margaretha Subekti dan Rumah Pekerti
Di tengah kondisi yang penuh keterbatasan itu, Margaretha Subekti memilih hadir dan mendampingi mereka yang sering terlupakan. Pengabdian ia mulai sejak awal 1980-an ketika ia belajar pemberdayaan masyarakat bersama Romo Y.B. Mangunwijaya di Kali Code, Yogyakarta. Dari pengalaman tersebut, ia memahami bahwa kemiskinan bukan hanya tentang kekurangan materi, tetapi juga tentang hilangnya rasa berharga sebagai manusia.
Kesadaran itu kemudian ia bawa ke Flores, Nusa Tenggara Timur. Di sana, ia mendirikan Rumah Pekerti di Labuan Bajo sebagai ruang aman bagi perempuan dan penyandang disabilitas. Rumah Pekerti bukan sekadar tempat perlindungan, tetapi juga ruang pemulihan dan pemberdayaan.
Melalui pendampingan yang ia lakukan, perempuan dan difabel diajak belajar keterampilan, membangun kemandirian ekonomi, dan memulihkan rasa percaya diri. Mereka tidak terposisikan sebagai objek belas kasihan, namun sebagai manusia yang memiliki hak untuk menentukan hidupnya sendiri.
Pendekatan seperti ini sangat penting karena selama ini difabel sering hanya dipandang sebagai penerima bantuan. Padahal mereka juga memiliki kemampuan, harapan, dan hak untuk hidup bermartabat. Margaretha Subekti menunjukkan bahwa pendampingan sejati bukan hanya memberi bantuan materi, tetapi juga mengembalikan rasa percaya bahwa setiap manusia tetap layak kita hargai.
Merawat Martabat sebagai Bentuk Kemanusiaan
Apa yang Margaretha Subekti lakukan mengingatkan bahwa kerja merawat kehidupan adalah bagian penting dari kemanusiaan. Di tengah dunia yang semakin sibuk mengejar efisiensi dan keuntungan, kerja-kerja perawatan sering dianggap kecil dan tidak penting. Padahal kehidupan sosial bertahan justru karena ada orang-orang yang terus merawat sesama.
Merawat bukan hanya soal membantu secara fisik. Merawat berarti menghadirkan rasa aman, mendengarkan luka orang lain, dan memastikan bahwa mereka yang rapuh tetap memiliki tempat dalam masyarakat. Pekerjaan seperti ini membutuhkan kesabaran panjang dan ketulusan yang tidak sederhana.
Pengabdian Oma Bekti juga menunjukkan bahwa perjuangan hak difabel tidak dapat terpisahkan dari perjuangan keadilan gender. Banyak perempuan menjadi pihak yang paling berat menanggung dampak kemiskinan dan disabilitas dalam keluarga. Karena itu, memperjuangkan martabat difabel sekaligus berarti memperjuangkan hak perempuan untuk hidup lebih adil.
Pada akhirnya, ukuran kemajuan masyarakat tidak hanya terlihat dari pembangunan fisik atau pertumbuhan ekonomi. Kemajuan juga terlihat dari cara sebuah masyarakat memperlakukan kelompok yang paling rentan. Apakah mereka kita beri ruang hidup yang layak, kita hormati, dan kita perlakukan sebagai manusia seutuhnya.
Melalui pengabdiannya selama lebih dari empat puluh tahun, Margaretha Subekti menunjukkan bahwa perubahan besar dapat lahir dari tindakan sederhana yang ia lakukan terus-menerus. Hal ini membuktikan bahwa merawat manusia adalah bentuk paling nyata dari kepedulian dan cinta kepada sesama. []












































