Kamis, 11 Juni 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Iduladha

    Semesta Raya Iduladha: Semarang, Pasuruan, Aceh, hingga Bangladesh

    Lukman

    Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

    Cut Nyak Dien

    Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Keadilan Hakiki

    Menggugat Komodifikasi Pendidikan: Menagih Keadilan Hakiki di Hari Lahir Pancasila

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Empat Langkah Kongkrit Membangun Pesantren yang Aman dari Kekerasan Seksual

    Nafkah Anak

    Membicarakan Kelalaian Nafkah Anak Setelah Perceraian

    Pelayanan Perkawinan yang Inklusif

    Pelayanan Perkawinan yang Inklusif di Kantor Urusan Agama

    Manusia Merasa Cukup

    Membayangkan Ketika Manusia Merasa Cukup

    Keadilan kepada Anak

    Pelajaran dari Rasulullah tentang Keadilan kepada Anak

    Margaretha Subekti

    Empat Dekade Pengabdian Margaretha Subekti untuk Difabel di NTT

    Ruang Berekspresi Difabel

    Ruang Berekspresi Difabel Semakin Terang Hari Ini

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Penyakit Menular

    Berhubungan Seks dengan Pasangan Bukan Jaminan Bebas Penyakit Menular Seksual

    Hubungan Seksual

    Kapan Sebaiknya Mempraktikkan Hubungan Seksual yang Lebih Aman?

    Hubungan Seksual

    Safer Sex: Cara Melindungi Diri dari Penyakit Menular dari Hubungan Seksual

    Hasrat Seksual

    Mengakui Hasrat Seksual Perempuan sebagai Bagian dari Kesehatan Reproduksi

    Seksual Perempuan

    Ketika Hasrat Seksual Perempuan Dianggap Tabu

    Tubuh Perempuan

    Benarkah Tubuh Perempuan adalah Milik Laki-laki?

    Anak Perempuan

    Mengapa Anak Perempuan Tidak Bebas Bertanya tentang Tubuhnya?

    Tubuhnya Sendiri

    Mengapa Banyak Perempuan Sulit Mengenali Tubuhnya Sendiri?

    Laki-laki dan Perempuan sama

    Ketika Laki-laki dan Perempuan Sama-sama Terbebani oleh Peran Gender

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Iduladha

    Semesta Raya Iduladha: Semarang, Pasuruan, Aceh, hingga Bangladesh

    Lukman

    Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

    Cut Nyak Dien

    Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Keadilan Hakiki

    Menggugat Komodifikasi Pendidikan: Menagih Keadilan Hakiki di Hari Lahir Pancasila

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Empat Langkah Kongkrit Membangun Pesantren yang Aman dari Kekerasan Seksual

    Nafkah Anak

    Membicarakan Kelalaian Nafkah Anak Setelah Perceraian

    Pelayanan Perkawinan yang Inklusif

    Pelayanan Perkawinan yang Inklusif di Kantor Urusan Agama

    Manusia Merasa Cukup

    Membayangkan Ketika Manusia Merasa Cukup

    Keadilan kepada Anak

    Pelajaran dari Rasulullah tentang Keadilan kepada Anak

    Margaretha Subekti

    Empat Dekade Pengabdian Margaretha Subekti untuk Difabel di NTT

    Ruang Berekspresi Difabel

    Ruang Berekspresi Difabel Semakin Terang Hari Ini

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Penyakit Menular

    Berhubungan Seks dengan Pasangan Bukan Jaminan Bebas Penyakit Menular Seksual

    Hubungan Seksual

    Kapan Sebaiknya Mempraktikkan Hubungan Seksual yang Lebih Aman?

    Hubungan Seksual

    Safer Sex: Cara Melindungi Diri dari Penyakit Menular dari Hubungan Seksual

    Hasrat Seksual

    Mengakui Hasrat Seksual Perempuan sebagai Bagian dari Kesehatan Reproduksi

    Seksual Perempuan

    Ketika Hasrat Seksual Perempuan Dianggap Tabu

    Tubuh Perempuan

    Benarkah Tubuh Perempuan adalah Milik Laki-laki?

    Anak Perempuan

    Mengapa Anak Perempuan Tidak Bebas Bertanya tentang Tubuhnya?

    Tubuhnya Sendiri

    Mengapa Banyak Perempuan Sulit Mengenali Tubuhnya Sendiri?

    Laki-laki dan Perempuan sama

    Ketika Laki-laki dan Perempuan Sama-sama Terbebani oleh Peran Gender

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Film

Teach You a Lesson dan Krisis Empati di Dunia Pendidikan

Pendidikan yang baik tidak lahir dari rasa takut, tetapi dari hubungan yang berlandaskan empati dan penghormatan.

Diana Lum'ah by Diana Lum'ah
11 Juni 2026
in Film
A A
0
Teach You a Lesson

Teach You a Lesson

16
SHARES
790
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Belakangan ini, masyarakat Indonesia kembali dihadapkan pada berbagai kasus yang mencederai dunia pendidikan. Sejumlah pemberitaan mengenai santri yang mengalami pelecehan dan perlakuan tidak senonoh oleh oknum guru maupun tokoh agama menimbulkan kemarahan publik.

Kasus-kasus tersebut menunjukkan bahwa lembaga pendidikan yang seharusnya menjadi ruang aman bagi peserta didik terkadang justru menjadi tempat terjadinya penyalahgunaan kuasa.

Di tengah sorotan terhadap berbagai kasus tersebut, muncul pula fenomena lain yang tidak kalah memprihatinkan. Di media sosial, tidak sedikit video yang memperlihatkan guru dihina oleh murid, direkam tanpa izin untu menjadi bahan candaan, bahkan menjadi sasaran kekerasan verbal.

Dua persoalan ini memang berbeda, tetapi keduanya memperlihatkan satu hal yang sama. Relasi pendidikan sedang mengalami krisis empati. Dalam serial drama Korea “Teach You a Lesson”, mengangkat persoalan ini melalui kisah tentang merosotnya otoritas guru dan meningkatnya kekerasan di lingkungan sekolah.

Pendidikan yang Kehilangan Rasa Aman

Salah satu tujuan utama pendidikan adalah menciptakan ruang yang aman bagi setiap orang yang terlibat di dalamnya. Murid berhak mendapatkan perlindungan dari segala bentuk kekerasan, pelecehan, maupun diskriminasi. Tanpa rasa aman, proses belajar akan kehilangan makna yang sesungguhnya.

Kasus pelecehan yang melibatkan oknum pendidik menunjukkan bahwa status sebagai guru atau pemuka agama tidak otomatis menjamin seseorang menggunakan kewenangannya secara benar. Ketika posisi yang seharusnya digunakan untuk membimbing justru terpakai untuk menyakiti, kepercayaan peserta didik akan ikut runtuh.

Dalam perspektif Islam, seorang pendidik tidak hanya bertugas menyampaikan ilmu, tetapi juga menjaga amanah. Ilmu yang diajarkan tidak akan memiliki keberkahan apabila disertai tindakan yang merendahkan martabat peserta didik.

Karena itu, segala bentuk kekerasan dan pelecehan harus kita tolak tanpa kompromi. Pendidikan yang sehat hanya dapat tumbuh ketika setiap peserta didik merasa terlindungi. Hak murid untuk memperoleh lingkungan belajar yang aman merupakan fondasi yang tidak dapat kita tawar dalam proses pendidikan.

Guru Juga Memiliki Martabat

Di sisi lain, perbincangan tentang hak-hak peserta didik tidak boleh membuat masyarakat melupakan hak guru.  Fenomena ini bukan sesuatu yang hanya terjadi dalam drama. Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat Indonesia beberapa kali menyaksikan video yang memperlihatkan guru dipermalukan di ruang kelas, menjadi sasaran olok-olok murid, hingga mengalami kekerasan setelah menjalankan tugas kedisiplinan.

Meski kasus-kasus tersebut tidak dapat kita generalisasi sebagai potret seluruh peserta didik, kemunculannya menunjukkan bahwa penghormatan terhadap guru sebagai pendidik sedang menghadapi tantangan yang tidak ringan. Padahal, hubungan guru dan murid bukan sekadar hubungan administratif. Ada dimensi penghormatan, keteladanan, dan tanggung jawab yang menjadi bagian penting dalam proses belajar.

Menghormati guru bukan berarti menempatkan mereka sebagai sosok yang tidak boleh kita kritik. Guru tetap bisa melakukan kesalahan dan harus menerima koreksi. Namun kritik yang tersampaikan dengan cara merendahkan atau mempermalukan seseorang tidak akan menghasilkan pendidikan yang lebih baik. Martabat guru dan hak murid sesungguhnya tidak saling bertentangan. Keduanya justru harus berjalan beriringan. Murid berhak kita hormati sebagai manusia, dan guru pun memiliki hak yang sama untuk kita perlakukan dengan hormat.

Krisis Empati dalam Relasi Pendidikan

Drama “Teach You a Lesson” menunjukkan bahwa akar persoalan pendidikan tidak selalu terletak pada aturan yang lemah. Terkadang masalah yang lebih mendasar adalah hilangnya kemampuan untuk memahami dan merasakan keadaan orang lain. Ketika empati memudar, kekerasan menjadi lebih mudah terjadi.

Seorang guru yang kehilangan empati dapat memandang murid hanya sebagai objek yang harus patuh. Sebaliknya, murid yang kehilangan empati dapat melihat guru sebagai lawan yang boleh kita hina dan kita rendahkan. Dalam kedua situasi tersebut, hubungan kemanusiaan perlahan menghilang.

Krisis empati juga dapat terpengaruhi oleh budaya digital yang serba cepat. Banyak orang terbiasa memberikan komentar, penilaian, bahkan penghukuman tanpa berusaha memahami persoalan secara utuh. Kebiasaan ini kemudian terbawa ke ruang-ruang pendidikan.

Pendidikan tidak hanya bertujuan menghasilkan individu yang cerdas secara akademik. Pendidikan juga bertugas membentuk manusia yang mampu menghargai perasaan, hak, dan martabat orang lain. Tanpa empati, ilmu pengetahuan mudah kehilangan arah kemanusiaannya.

Membangun Kembali Pendidikan yang Berkeadaban

Mengatasi krisis pendidikan tidak cukup kita lakukan dengan menambah hukuman atau memperketat aturan. Yang lebih penting adalah membangun kembali budaya saling menghormati di lingkungan pendidikan. Guru, murid, orang tua, dan lembaga pendidikan harus mengambil peran dalam upaya tersebut. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk menanamkan penghormatan kepada guru sejak dini.

Mengajarkan anak untuk menghargai guru bukan berarti membenarkan semua tindakan guru, tetapi menumbuhkan kesadaran bahwa setiap orang memiliki martabat yang harus terjaga. Namun penghormatan kepada anak juga tidak boleh kita wujudkan dalam bentuk pembelaan yang membabi buta.

Ketika anak melakukan kesalahan, orang tua perlu hadir sebagai pembimbing yang membantu mereka bertanggung jawab atas perbuatannya, bukan sebagai pihak yang selalu mencari pembenaran. Sikap mengakui kesalahan dan belajar memperbaikinya merupakan bagian penting dari pendidikan karakter yang sering kali dimulai dari lingkungan keluarga.

Di sisi lain, lembaga pendidikan juga perlu memastikan adanya mekanisme perlindungan bagi peserta didik. Tidak boleh ada ruang bagi pelecehan, kekerasan, ataupun penyalahgunaan kuasa atas nama pendidikan. Keamanan peserta didik harus menjadi prioritas utama.

Pendidikan yang baik tidak lahir dari rasa takut, tetapi dari hubungan yang berlandaskan empati dan penghormatan. Murid membutuhkan guru yang peduli terhadap mereka, sementara guru juga membutuhkan penghargaan atas peran yang mereka jalankan. Ketika keduanya saling memanusiakan, pendidikan dapat kembali menjadi ruang yang menumbuhkan ilmu sekaligus akhlak. []

Tags: Drama KoreaempatiguruLembaga PendidikanpendidikansiswaTeach You a Lesson
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Berhubungan Seks dengan Pasangan Bukan Jaminan Bebas Penyakit Menular Seksual

Next Post

Empat Langkah Kongkrit Membangun Pesantren yang Aman dari Kekerasan Seksual

Diana Lum'ah

Diana Lum'ah

Penulis dan peneliti Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir yang menaruh perhatian pada isu keadilan, kesalingan, dan inklusivitas dalam Islam.

Related Posts

Raden Ayu Lasminingrat
Aktual

Di BuKUPI, Neng Hannah Kenang Kiprah Raden Ayu Lasminingrat dalam Memperjuangkan Pendidikan Perempuan Sunda

25 Mei 2026
Prof. Siti Baroroh Baried
Profil

Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

21 Mei 2026
Nyai Siti Walidah
Profil

Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

21 Mei 2026
Fatimah al-Banjari
Profil

Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

17 Mei 2026
Demokrasi Penyandang Disabilitas
Disabilitas

Simulasi Pemilihan OSIS di SLB Perkuat Pendidikan Demokrasi bagi Penyandang Disabilitas

17 Mei 2026
Lomba Cerdas Cermat MPR RI
Aktual

Lomba Cerdas Cermat MPR RI dan Matinya Ruang Dialog dalam Pendidikan

15 Mei 2026
Next Post
Kekerasan Seksual di Pesantren

Empat Langkah Kongkrit Membangun Pesantren yang Aman dari Kekerasan Seksual

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual
  • Menggugat Komodifikasi Pendidikan: Menagih Keadilan Hakiki di Hari Lahir Pancasila
  • Empat Langkah Kongkrit Membangun Pesantren yang Aman dari Kekerasan Seksual
  • Teach You a Lesson dan Krisis Empati di Dunia Pendidikan
  • Berhubungan Seks dengan Pasangan Bukan Jaminan Bebas Penyakit Menular Seksual

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0