Mubadalah.id – Berbicara mengenai catur, tak jarang banyak yang berpikiran bahwa hanya laki-laki yang bisa memainkannya. Apalagi bisa sampai menjadi atlet yang menjuarai perlombaan, masih menjadi suatu hal mustahil bagi seorang perempuan bagi sebagian orang.
Ternyata, stigma tersebut terpatahkan saat saya bertemu dengan teman baru di Jogja.
Mbak Silma, itulah panggilanku kepadanya. Beliau merupakan atlet catur disabilitas perempuan yang mengantongi beberapa prestasi. Ia sendiri merupakan seorang penyandang disabilitas daksa.
Hobinya bermain catur dimulai dari usia masih kecil. Tepatnya, bapaknya lah yang memperkenalkan dunia catur padanya. Dari hobi bapaknya ini, mbak Silma tertarik dan menggeluti olahraga catur juga.
Sedikit demi sedikit mbak Silma belajar menekuni olahraga catur ini. Beliau juga melakukan latihan secara rutin.
Olahraga catur tidak hanya permainan semata. Akan tetapi, catur juga mengandalkan strategi dan kecerdasan. Catur juga mempunyai aturan atau etikanya. Selain itu, catur juga membutuhkan disiplin waktu dan juga kompetitif.
Sehingga mbak Silma setiap harinya harus berlatih dengan sungguh-sungguh. Dengan semangat dan ketekunannya, mbak Silma telah meraih prestasi dari catur ini.
Beragam juara yang ia dapatkan tak terlepas dari usahanya yang konsisten. Sehingga, tidak ada yang bisa menghalanginya meraih cita.
Diantara prestasi catur yang pernah mbak Silma raih yaitu 2 Medali Emas Catur PI Peparda (Pekan Paralympic Daerah) Sumbar pada tahun 2016, peraih 2 Medali Emas Catur PI Peparda Sumbar pada tahun 2019, peraih medali perunggu catur putri Peparnas (Pekan Paralympic Nasional) Jawa Barat pada tahun 2016, peraih 2 Medali Emas dan 1 perak catur PI Peparda DIY 2022
Selain itu, Ia juga peraih 2 Medali Emas Kejurda ( Kejuaraan Daerah) DIY 2023, peringkat 4 catur PI Nasional Kotingen Atlet Sumbar Peparnas Papua pada tahun 2021, dan peringkat 4 catur PI Nasional Kontingen Atlet DIY Peparnas Solo pada tahun 2024.
Pengalaman yang Menginspirasi
Selain menjadi atlet catur, mbak Silma juga aktif menyuarakan isu-isu disabilitas terutama terkait perempuan penyandang disabilitas.
Sejak tahun 2013 mbak Silma sudah berkecimpung di gerakan disabilitas. Pada tahun 2014 beliau menjadi pengurus organisasi disabilitas.
Atas semangatnya itu beliau diamanahi menjadi ketua HWDI Sumbar sejak tahun 2016. Selain itu beliau juga sebagai juru bahasa Isyarat di Sumbar sejak tahun 2017.
Sejak mahasiswa mbak Silma aktif menyuarakan isu-isu pengurangan resiko bencana inklusif. Beliau mendapat penghargaan sebagai surveyor tangguh dari ASB Indonesia dan Philipine saat menjangkau teman-teman disabilitas di pelosok Mentawai.
Adapun di tingkat internasional, Mbak Silma pernah diundang sebagai pembicara (speaker) dalam AMCDRR di Mongolia dan GPDRR di Switzerland. Beliau juga beberapa kali diundang oleh ASB Indonesia untuk memfasilitasi PRB Inklusi di Timor Leste. Adapun prestasi lainnya yaitu beliau pernah menjadi Runner Up Preventing the Spread of The Corona Virus Support by USAID, BNPB and mercy Corp.
Mbak Silma juga pernah bergabung dengan ASB Indonesia and the Phillipines dalam program LeaN On dan PIONEER. Beliau juga pernah bergabung di Lembaga SIGAB Indonesia dalam program penguatan kapasitas Organisasi Disabilitas di Indonesia.
Karena pada akhirnya, dari pengalaman mbak Silma ini menunjukkan bahwa kemenangan terbesar bukan hanya tentang skakmat, melainkan tentang keberanian melawan stigma dan terus melangkah dengan percaya diri.
Memberikan Ruang untuk Berkembang
Kisah dari mbak Silma ini menjadi contoh nyata bahwa perempuan yang disabilitas tidak menjadi hambatan untuk mencapai kesuksesan serta menginspirasi banyak orang.
Akan tetapi pada realitanya, masih banyak yang meremehkan disabilitas terutama perempuan yang berkaitan dengan olehraga ataupun menjadi seorang atlet.
Sehingga dengan kenyataan yang ada, perempuan disabilitas menghadapi tantangan yang lebih besar. Tantangan tersebut seperti kurangnya aksesibilitas, stereotip, serta tak luput dari deskriminasi.
Dari pihak pemerintah juga perlu lebih memperhatikan lagi para atlet disabilitas. Selain itu, memberikan dukungan dan fasilitas yang memadai kepada mereka. Mulai dari pelatihannya, peralatannya, aksesibilitasnya, apresiasinya, dan sebagainya. Tidak hanya yang sudah mendapatkan juara saja yang difasilitasi, tetapi yang mulai berproses juga perlu perhatian lebih lagi.
Dengan demikian, dalam konsep mubadalah ketersalingan juga penting, karena melalui nilai kesalingan kita dapat menciptakan lingkungan yang lebih adil dan mendukung bagi para atlet disabilitas.
Ketika akses, kesempatan, dan dukungan benar-benar terbuka, perempuan disabilitas mampu menunjukkan potensi, prestasi, serta keberanian yang menginspirasi banyak orang.
Sehingga, para atlet termasuk perempuan disabilitas dapat mencapai kesuksesan dan juga mencapai potensi penuh mereka. Semakin hebat prestasinya, semakin kuat inspirasinya. []










































