Kamis, 9 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    There's a Man

    “There’s a Man”: Saat Media Sosial Mengajak Kita Mengkritisi Cara Pandang Patriarkal

    Mitos Disabilitas

    Meruntuhkan Mitos, yang Perlu Disembuhkan Bukan Disabilitas

    Nyeleneh

    Mereka Bilang Saya Nyeleneh: Memahami Kelelahan Mental Penyandang Sindrom Asperger

    Tradisi Pesantren

    Al-Ma’arifiyah: Menuju Persenyawaan Pengetahuan dalam Tradisi Pesantren

    Merantau

    Di Balik Tradisi Merantau Minangkabau, Ada Beban Ganda yang Dipikul Para Istri

    Pendidikan Perempuan

    Benarkah Perempuan Tidak Perlu Sekolah Tinggi? Menepis Stigma tentang Pendidikan Perempuan

    Kurikulum Responsif Gender

    Pendidikan Berkeadilan Dimulai dari Kurikulum yang Responsif Gender

    Mengelola Stres

    Cara Gen Z Mengelola Stres

    Kepemimpinan Perempuan

    Membongkar Mitos Kepemimpinan Perempuan dalam Islam

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasca Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi yang Mengancam Nyawa, Ini 5 Langkah Penanganan Lanjutannya

    Pasca Aborsi

    7 Langkah Darurat Menangani Pendarahan Pasca Aborsi sebelum Dirujuk ke Rumah Sakit

    Pendarahan pasca aborsi

    Cara Menghentikan Pendarahan yang Berlebihan Pasca Aborsi

    Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Langkah Pertolongan Pertama

    KB Setelah Aborsi

    Keluarga Berencana (KB) Setelah Aborsi

    Bahaya Aborsi

    Tanda-tanda Bahaya Setelah Aborsi

    Setelah Aborsi

    Perawatan Setelah Aborsi: Kenali Tanda Normal dan Gejala yang Harus Diwaspadai

    Aborsi

    Begini Ciri-ciri Layanan Aborsi yang Aman Menurut Standar Kesehatan

    Layanan Aborsi

    Bagaimana Mengetahui Layanan Aborsi Aman atau Tidak? Ini 9 Tandanya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    There's a Man

    “There’s a Man”: Saat Media Sosial Mengajak Kita Mengkritisi Cara Pandang Patriarkal

    Mitos Disabilitas

    Meruntuhkan Mitos, yang Perlu Disembuhkan Bukan Disabilitas

    Nyeleneh

    Mereka Bilang Saya Nyeleneh: Memahami Kelelahan Mental Penyandang Sindrom Asperger

    Tradisi Pesantren

    Al-Ma’arifiyah: Menuju Persenyawaan Pengetahuan dalam Tradisi Pesantren

    Merantau

    Di Balik Tradisi Merantau Minangkabau, Ada Beban Ganda yang Dipikul Para Istri

    Pendidikan Perempuan

    Benarkah Perempuan Tidak Perlu Sekolah Tinggi? Menepis Stigma tentang Pendidikan Perempuan

    Kurikulum Responsif Gender

    Pendidikan Berkeadilan Dimulai dari Kurikulum yang Responsif Gender

    Mengelola Stres

    Cara Gen Z Mengelola Stres

    Kepemimpinan Perempuan

    Membongkar Mitos Kepemimpinan Perempuan dalam Islam

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasca Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi yang Mengancam Nyawa, Ini 5 Langkah Penanganan Lanjutannya

    Pasca Aborsi

    7 Langkah Darurat Menangani Pendarahan Pasca Aborsi sebelum Dirujuk ke Rumah Sakit

    Pendarahan pasca aborsi

    Cara Menghentikan Pendarahan yang Berlebihan Pasca Aborsi

    Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Langkah Pertolongan Pertama

    KB Setelah Aborsi

    Keluarga Berencana (KB) Setelah Aborsi

    Bahaya Aborsi

    Tanda-tanda Bahaya Setelah Aborsi

    Setelah Aborsi

    Perawatan Setelah Aborsi: Kenali Tanda Normal dan Gejala yang Harus Diwaspadai

    Aborsi

    Begini Ciri-ciri Layanan Aborsi yang Aman Menurut Standar Kesehatan

    Layanan Aborsi

    Bagaimana Mengetahui Layanan Aborsi Aman atau Tidak? Ini 9 Tandanya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Figur

Mengenal Nyai Walidah dan Momentum Lahirnya Kesadaran Baru Perempuan Muslim Indonesia

Nyai Walidah bukan hanya tokoh masa lalu. Ia adalah cetak biru (blue print) kepemimpinan perempuan Indonesia.

Lutfiana Mayasari by Lutfiana Mayasari
23 Mei 2026
in Figur
A A
0
Nyai Walidah

Nyai Walidah

23
SHARES
1.1k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Dalam sesi penutup Serial Biografi Ulama Indonesia #20, sosok Nyai Walidah hadir sebagai figur historis sekaligus inspirasi gerakan perempuan Islam Indonesia. Debby Avianti, peneliti LPPA Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah membacakan biografi  Nyai Walidah sebagai ulama perempuan visioner yang jauh melampaui zamannya.

Ketua PSGA UMJ mengawali diskusi dengan sebuah fenomena. Ketika membicarakan sejarah perjuangan perempuan di Indonesia, nama R.A. Kartini kerap menjadi rujukan utama. Padahal dalam tradisi Islam Indonesia, ada sosok lain yang kiprahnya tak kalah monumental. Salah satunya adalah sosok Nyai Walidah, atau Siti Walidah. Istri sekaligus mitra intelektual KH Ahmad Dahlan.

Sayangnya, beliau terkenal sebagai “istri pendiri Muhammadiyah” saja. Padahal beliau adalah seorang pendidik, organisator, sekaligus penggerak transformasi sosial yang meletakkan dasar perjuangan kesetaraan gender berbasis nilai-nilai Islam dan menjadikan pendidikan perempuan sebagai fondasi perubahan masyarakat.

Lahir di Kauman, Yogyakarta, pada 1872, Nyai Siti Walidah tumbuh dalam lingkungan religius keluarga penghulu Keraton Yogyakarta. Pada masa itu, perempuan umumnya berada pada ruang domestic. Pendidikan formal  bukan kebutuhan bagi mereka. Namun, justru dari keterbatasan itulah lahir kesadaran kritis Nyai Walidah, bahwa keterbelakangan perempuan bukanlah persoalan kodrat, melainkan persoalan akses. Kesadaran inilah yang kemudian membentuk arah perjuangannya.

Membuka Pintu Pendidikan bagi Perempuan

Langkah revolusioner Nyai Walidah bermula dari pendidikan. Pada awal abad ke-20, ketika perempuan  hanya berurusan dengan ranah domestik, ia justru membuka ruang belajar bagi perempuan di berbagai kampung Yogyakarta seperti Kauman, Lempuyangan, Karangkajen, dan Pakualaman

Melalui pengajian perempuan yang dikenal sebagai Wal ‘Ashri, Nyai Walidah mengajarkan agama dan membangun kesadaran intelektual perempuan. Ia mengajarkan membaca Al-Qur’an, bahasa Arab, literasi dasar, hingga wawasan sosial. Dalam konteks saat itu, ini merupakan tindakan radikal. Sebab, memberi perempuan kemampuan membaca berarti memberi mereka kemampuan menafsirkan dunia.

Pendidikan bagi Nyai Walidah tidak berhenti pada perempuan kelas menengah religius. Ia juga menjangkau buruh perempuan industri batik di Kauman. Setelah bekerja seharian, para buruh ini mengikuti pengajian malam yang dikenal sebagai Magrib School. Di sana, mereka belajar agama, membaca, menulis, sekaligus membangun rasa percaya diri.

Pendekatan ini menunjukkan bahwa Nyai Walidah memahami pendidikan sebagai instrumen pembebasan sosial. Ia melihat perempuan miskin bukan objek belas kasihan, melainkan subjek yang memiliki kapasitas untuk tumbuh. Dalam bahasa kontemporer, pendekatannya sangat dekat dengan gagasan women empowerment, membangun daya dari dalam bukan sekadar memberi bantuan dari luar.

Mengubah Perempuan dari Objek Domestik menjadi Subjek Sosial

Perjuangan Nyai Walidah tidak berhenti pada akses pendidikan. Ia juga secara aktif mengubah cara pandang masyarakat terhadap perempuan. Pada zamannya, perempuan ideal digambarkan sebagai sosok penurut, pasif, dan sepenuhnya bergantung pada laki-laki. Nyai Walidah menantang konstruksi ini. Ia mendorong perempuan untuk memiliki jiwa kuat, mandiri, dan berdaya. Pesannya sederhana tetapi tajam: perempuan tidak boleh memiliki “jiwa kerdil.”

Ia menyampaikan gagasan ini dalam ceramah, dan menerapkannya dalam pembinaan langsung. Para perempuan muda belajar mengenai kesalehan individual dan juga keberanian untuk hadir di ruang sosial. Mereka harus berpikir, berbicara, dan berkontribusi bagi masyarakat.

Dalam perspektif gerakan gender modern, ini adalah pergeseran penting dari perempuan sebagai object of social order menjadi agent of social transformation. Nyai Walidah memahami bahwa ketidakadilan gender lahir dari kebijakan formal dan budaya yang terus-menerus mengerdilkan perempuan.

Beliau menghindari  konfrontasi terhadap agama karena beliau meyakini bahwa Islam bukan alat pembatas. Oleh sebab itu, pendekatan reinterpretasi nilai-nilai Islam menjadi strategi untuk menunjukkan bahwa Islam adalah sumber legitimasi moral bagi pembebasan perempuan. Pendekatan ini berhasil membuat perjuangannya memiliki daya tahan sosial yang kuat. Perubahan yang dibangun tidak terasa sebagai ancaman terhadap identitas masyarakat namun sebagai pembaruan dari dalam tradisi itu sendiri.

Aisyiyah: Institusionalisasi Gerakan Kesetaraan Gender

Perubahan tidak cukup dengan pendekatan individual saja, maka Nyai Walidah membangun gerakan yang lebih terstruktur. Bersama Muhammadiyah, ia terlibat dalam pembentukan Sopo Tresno, yang kemudian berkembang menjadi Aisyiyah pada 19 Mei 1917.

Aisyiyah adalah organisasi perempuan keagamaan dan juga institusi modern yang memberi perempuan ruang belajar, memimpin, berorganisasi, dan berkontribusi dalam isu-isu publik. Di tengah masyarakat kolonial yang masih sangat patriarkal, kehadiran organisasi perempuan berbasis Islam dengan struktur kepemimpinan formal merupakan langkah visioner.

Menariknya, Nyai Walidah tidak langsung menempatkan dirinya sebagai pemimpin pertama. Kepemimpinan awal justru  kepada ibu Siti Bariyah. Ini menunjukkan kematangan organisasional yang luar biasa. Gerakan tidak tumbuh atas kultus individu, tetapi atas prinsip profesionalisme dan kaderisasi.

Di bawah perkembangan Aisyiyah, perempuan aktif dalam pengajian, pendidikan anak usia dini, pelayanan sosial, kesehatan masyarakat, serta penguatan ekonomi keluarga. Dengan kata lain, Nyai Walidah berhasil mentransformasikan kesadaran perempuan menjadi gerakan sosial yang terorganisasi. Jika hari ini kita berbicara tentang women’s leadership, grassroots organizing, atau community-based gender empowerment, maka embrio praktik tersebut sudah berawal daari gerakan Nyai Walidah lebih dari seabad lalu.

Warisan Nyai Walidah bagi Kesetaraan Gender Masa Kini

Lantas apa yang membuat Nyai Walidah tetap relevan hari ini?

Cara pandangnya yang visioner untuk masa tersebut. Ia memahami bahwa ketidakadilan terhadap perempuan bukan isu tunggal, melainkan persoalan struktural yang berkaitan dengan pendidikan, ekonomi, budaya, dan representasi sosial. Dalam konteks saat ini, masuk dalam isu intersecsionalitas.

Indonesia hari ini menghadapi bentuk-bentuk ketimpangan gender yang berbeda dengan periode Nyai Walidah. Kekerasan berbasis gender, perdagangan manusia, eksploitasi digital, ketimpangan ekonomi, hingga rendahnya representasi perempuan dalam pengambilan keputusan. Namun akar persoalannya masih serupa, yaitu keterbatasan akses, ketimpangan kuasa, dan budaya yang belum sepenuhnya setara.

Dalam konteks ini, warisan Nyai Walidah sangat relevan, karena ia mengajarkan bahwa pendidikan adalah fondasi keadilan gender. Ia menunjukkan pentingnya solidaritas perempuan melalui organisasi dan menegaskan bahwa perempuan harus hadir dalam ruang kepemimpinan. Ia juga mampu membuktikan bahwa agama dapat menjadi kekuatan emansipatoris.

Di tengah narasi yang sering mempertentangkan Islam dan kesetaraan gender, Nyai Walidah menunjukkan sintesis yang produktif. Ia memperjuangkan martabat perempuan tanpa meninggalkan identitas keislaman. Perjuangannya relevan secara historis, dan strategis bagi diskursus gender di masyarakat Muslim kontemporer.

Nyai Walidah bukan hanya tokoh masa lalu. Ia adalah cetak biru (blue print) kepemimpinan perempuan Indonesia. Menggabungkan intelektual, spiritual, organisatoris, dan transformatif. Mengenang Nyai Walidah, seyogyanya tidak berhenti dengan mengingat nama seorang pahlawan nasional. Yang jauh lebih penting adalah refeleksi bagi kita semua: sudahkah perempuan hari ini benar-benar memperoleh ruang untuk menjadi subjek penuh dalam kehidupan sosial? []

Tags: AisyiyahBiografi Ulama PerempuanBulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesiagerakan perempuanKesetaraanMuhammadiyyahNyai Walidah
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Tetap Nyaman Berhubungan Seks Setelah Menopause

Next Post

KUPI Gelar Acara Puncak Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan di Masjid Cut Nyak Dien

Lutfiana Mayasari

Lutfiana Mayasari

Peneliti dan mahasiswa doktoral pada bidang kajian gender dan Islam. Tertarik pada isu keadilan, perdamaian, anak, dan isu sosial lainnya.

Related Posts

Gender and Our Brains
Buku

Ulasan Buku Gender and Our Brains: Apakah Perbedaan Laki-laki dan Perempuan itu Bawaan Lahir?

8 Juli 2026
Piala Dunia 2026
Publik

Piala Dunia 2026 Memasuki Era Baru: Perempuan tak Lagi Sekadar Penonton

27 Juni 2026
Fikih Disabilitas
Disabilitas

Buku Fikih Disabilitas Resmi Diluncurkan di Munas Konbes NU 2026

23 Juni 2026
Gender Equality
Publik

Gender Equality dan Gender Equity: Mencari Titik Temu antara Hak dan Keadilan

19 Juni 2026
Feminisme Pesantren
Publik

Feminisme Pesantren dan Manifesto Gerakan Nyai

4 Juni 2026
Bulan KUPI
Personal

Bulan KUPI, Momen Bersejarah Gerakan Keulamaan Perempuan

26 Mei 2026
Next Post
Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan

KUPI Gelar Acara Puncak Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan di Masjid Cut Nyak Dien

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • “There’s a Man”: Saat Media Sosial Mengajak Kita Mengkritisi Cara Pandang Patriarkal
  • Meruntuhkan Mitos, yang Perlu Disembuhkan Bukan Disabilitas
  • Mereka Bilang Saya Nyeleneh: Memahami Kelelahan Mental Penyandang Sindrom Asperger
  • Al-Ma’arifiyah: Menuju Persenyawaan Pengetahuan dalam Tradisi Pesantren
  • Di Balik Tradisi Merantau Minangkabau, Ada Beban Ganda yang Dipikul Para Istri

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0