Mubadalah.id – Pada Kamis, 7 Mei 2026 lalu saya kembali terlibat dalam rangkaian kerja Jaringan Kongres Ulama Perempuan (KUPI) untuk memperingati Bulan KUPI (Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan Indonesia).
Meski hanya terlibat sebagai penulis lepas, ini sesungguhnya adalah keberuntungan besar bagi saya karena menjadi moment untuk kembali ber-tawassul, ber-tabarruk kepada Nama-nama agung Ulama Perempuan. Mereka, tidak sedikit jasa-jasanya bagi perjuangan, pemikiran, sekaligus keteladan-keteladan beliau semua di tengah-tengah umat, masyarakat luas.
Melalui pembacaan serial manaqib Ulama Perempuan Indonesia, Bulan KUPI ini telah semarak sejak tanggal 1 Mei 2026. Momentum ini segera berakhir pada puncaknya tanggal 24 Mei 2026, dalam acara Khataman Akbar di Masjid Cut Nyak Dien, Menteng, Jakarta Pusat. Di sana akan menjadi puncak pembacaan serial biografi Ulama Perempuan sekaligus Khataman Al-Qur’an bersama pesantren-pesantren, majlis taklim, komunitas dan seluruh jaringan KUPI dari berbagai penjuru daerah di Nusantara.
Tentang Ummi Nur Ishmah
Saya pribadi kali ini berkesempatan menuliskan kembali secara reflektif biografi Ulama Perempuan Nyai Hj. Nur Ishmah Abdullah Abdussalam, atau yang kerap kita sapa dengan Ummi Nur Ishmah. Tulisan ini sebagian saya olah dari penuturan Nyai Hj. Dr. (Cand) Kamilia Hamidah Lc, MA., yang masih merupakan keponakan beliau, pada 7 Mei lalu via zoom meeting.
Selain Nyai Kamilia, tulisan ini juga saya rujuk dari berbagai sumber para Murid utama Thariqah Mu’tabarah Naqsyabandiyah Kholidiyah yang sangat lekat dengan amaliyah Ummi Nur Ishmah sendiri semasa masih hidup.
Seperti yang telah banyak kalangan pesantren ketahui, utamanya di Jawa Tengah, Ummi Nur Ishmah sesungguhnya adalah putri ke 5 dari pasangan ulama ‘alim ‘allamah di sana. Yaitu Nyai Aisyah atau Mbah Sah bersama KH. Abdullah Zein Salam atau yang terkenal dengan sebutan Mbah Dullah Salam. Dalam silsilah beliau bahkan juga masih tercatat sebagai keturunanan ke 8 dari ulama besar sekaligus Waliyullah Mbah Ahmad Mutamakkin Kajen, Pati Jawa Tengah.
Namun bukan sekedar karena nasab, Nyai Nur Ishmah yang tekun mempelajari Al Qur’an sejak kecil kepada ayahandanya sendiri Mbah Dullah Salam. Beliau telah mampu pula menguasasi ilmu Qira’at Sab’ah. Yaitu ilmu tentang tujuh riwayat bacaan Al-Qur’an yang berbeda-beda yang mensyaratkan penguasaan mendalam hafalan Al Qur’an 30 Juz sebelum mempelajari ilmu ini. Sehingga tidak semua para penghafal Al Qur’an mampu menguasainya. Dari ketekunan dan kecerdasannya pula kemudian beliau menikah dengan KH. Mc. Ulin Nuha Arwani, Penerus utama dari Pondok Pesantren Yanbu’ul Qur’an, Kudus Jawa Tengah.
Kiprah Ummi Nur Ishmah
Nyai Nur Ismah adalah Ulama Perempuan Penjaga Sanad keilmuan Qira’at Sab’ah. Sanad ini beliau peroleh langsung dari ayahanda mertua, yaitu Al-Muqriul Kabir (Guru Besar Ilmu Qira’at) KH. Muhammad Arwani Amin Said atau Mbah Arwani. Selain itu, Nyai Nur Ishmah sesungguhnya juga menjadi salah satu “Badal Mursyidah” Thariqah Mu’tabaroh Naqsyabandiyah Kholidiyah.
Kita tahu selain suami beliau Abuya Ulin, ayahanda beliau Mbah Dullah Salam, juga ayahanda mertua, Mbah Arwani, semuanya adalah Para Mursyid atau Guru utama ilmu tasawuf sekaligus Thariqah Naqsyabandiyah Kholidiyah. Thariqah ini memiliki silsilah sanad yang kokoh hingga kepada Rasulillah SAW. Hal itu membuat beliau serta merta juga menekuni sekaligus menguasai keilmuan Thariqah tersebut.
Sehingga selain mengajar dengan penuh istiqamah para santri penghafal Al Quran, kiprah Ummi Nur Ishmah dalam dunia thariqah hampir tidak bisa kita pungkiri. Dalam waktu-waktu yang panjang dan khusus antara bulan Muharram, Rajab dan Ramadaan hampir bisa dipastikan beliau bersama Abuya Ulin akan menghabiskan waktu untuk membimbing para jama’ah murid thariqah, yang jumlahnya ribuan. Mereka datang dari berbagai penjuru daerah untuk mengikuti sulukan di Pondok Pesantren Thariqah Kwanaran (pondok terdahulu sebelum terpugar), Kudus.
Mondok Suluk
Di sana beliau tidak hanya bertindak sebagai murid bai’at thariqah namun sekaligus juga wakil Guru. Membimbing para murid terutama jama’ah putri dalam menjalankan wirid thariqahnya. Beliau juga men-tawajjuhi para murid-murid jama’ah putri agar tersambung, tersampaikan cahaya. Nur ilmu dari para Guru-guru terdahulu ke dalam jiwa-jiwa ruhani setiap murid suluk.
Mondok Suluk sendiri adalah sebuah tradisi khalwat atau mengasingkan diri (i’tikaf) untuk sejumlah waktu antara 10 hingga 40 hari penuh di sebuah pondok. Seluruh jama’ah fokus melakukan ibadah, berdzikir dan menyucikan hati demi mendekatkan diri kepada Allah SWT. sekaligus memperoleh anugerah ridha-Nya.
Di sana bersama seluruh jama’ah Ummi Nur Ishmah juga akan melaksanakan puasa yang tidak biasa. Mereka meninggalkan seluruh makanan yang bersumber dari hewani dan hanya berbumbu garam dan gula.
Selain itu beliau bersama Abuya Ulin juga akan menghabiskan waktu-waktu seusai jama’ah salat fardhu untuk bertadarus Al Qur’an. Kegiatan itu hingga bersambung waktu salat maktubah berikutnya lagi. Berbagai amaliyah tirakatan termasuk salat tasbih, doa-doa istighasah hingga Khataman Khawajikan yang berisikan dzikir selawat, dan istighfar. Selain itu bacaan surat-surat dalam Al Qur’an juga akan terselenggarakan oleh beliau semua dengan penuh khidmat di sana.
Selain hal-hal tersebut Ummi Nur Ishmah juga akan menyempatkan diri menyimak mengaji Al Qur’an para murid thariqah yang kebanyakan dari mereka semua telah berusia sepuh. Meski tidak sedikit pula yang masih berusia muda. Tentu mengaji Al Qur’an (dan bahkan tak jarang bersama tafsirnya) bagi murid sepuh akan memiliki tingkat kesulitannya sendiri. Namun Ummi akan dengan tekun dan penuh kesabaran membimbing mereka satu persatu hingga semuanya usai.
Para Ulama Perempuan Bertarekat
Sesungguhnya laku thariqah yang Ummi Nur Ishmah jalankan bukan tanpa tersambung sejarah kepada para Guru-guru, Syaikhah Ulama Perempuan terdahulu. Sebut saja Syaikhah Rahmah El-Yunusiah (1900 – 1969) dari Padang Panjang, Sumatra Barat. Beliau tidak hanya terlahir dari keluarga yang berpindidikan agama kuat, namun kakeknya Syeikh Imanuddin adalah seorang ahli ilmu Falak sekaligus juga pemimpin Thariqah Naqsyabandiyah di sana.
Lazimnya sebuah keluarga Mursyid Thariqah hampir bisa dipastikan seluruh keluarga baik laki-laki maupun perempuan juga akan berbai’at dan berkomitmen untuk menjalankan laku thariqah tersebut. Karena sesungguhnya amaliyah thariqah itu teryakini tidak hanya akan menghasilkan kekuatan batin yang kokoh. Namun sekaligus juga melahirkan kekuatan fisik yang tangguh penuh keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa.
Ini terbukti sebagaimana Ummi Nur Ishmah, Syaikhah Rahmah El Yunusiah pada masanya gigih membangun pendidikan bagi perempuan. Bersama-sama dengan kakak tertuanya Syeikh Zaenuddin Labai El-Yunusi (1890-1924). Mereka membangun sekolah bernama Diniyah School (1915) dengan memakai sistem dan pelajaran modern.
Bahkan tak hanya menjadi tokoh pendidikan, Syaikhah Rahmah El Yunusiah benar-benar juga telah menjadi salah satu tokoh perempuan dalam perjuangan fisik bersenjata pada masa-masa melawan penjajahan kolonialisme, masa revolusi fisik berkecamuk.
Bahkan jika mundur lagi ke belakang sebutlah Raden Ajeng Kartini (1879-1904). Andai beliau berumur panjang bisa jadi juga akan menjadi salah satu tokoh Ulama Perempuan pengamal tarekat. Sebagaimana Guru utama beliau KH. Muhammad Sholeh bin Umar Assamarani atau Mbah Sholeh Darat (1820-1903).
Kisah Mbak Sholeh Darat dan RA Kartini
Mbah Sholeh Darat sendiri dalam sejumlah sumber tersebutkan bahwa beliau adalah pengamal Thariqah Alawiyyah sekaligus juga Mursyid Thoriqoh Syadziliyah. Ayahanda beliau Mbah Umar yang seorang perwira kepercayaan dalam serdadu perang Pangeran Diponegoro (1785-1855). Beliau semuanya adalah juga pengamal thariqah, utamanya Syathariyah dengan Guru Mursyid Mbah KH. Taftazani, Kartasura putra Mbah KH. Nur Iman (1708-1744) Mlangi, Nogotirto, Sleman, Yogyakarta.
Perlawanan R.A. Kartini dalam senyap telah meninggalkan jejak-jejak tidak hanya tentang perjuangan kesetaraan gender. Tetapi sekaligus juga kesadaran spiritual yang teramat tinggi layaknya para ulama perempuan terkemuka. Hal ini tertandai dengan kesadaran menggugat ilmu agama yang terasa tersebunyi bagi umat muslim, perempuan sekaligus laki-laki pada masa-masa itu.
Bagaimana tidak tersembunyi, kelompok-kelompok ulama juga thariqah masa-masa Kartini telah sedang mengalami represi berat bahkan persekusi dari pemerintahan penjajah kolonial Belanda. Setiap gerak mereka melahirkan kecurigaan bagi penjajah sehingga Mbah Sholeh Darat sendiri pernah menerima surat panggilan dari Bupati Semarang yang biasa dipanggil sebagai “Ndara Kanjeng.”
Ia berkepentingan untuk mengetahui dan mengawasi seluruh keterlibatan para Ulama saat itu dalam gerakan jama’ah tarekat yang ada di Nusantara. Pemanggilan ini tidak lain adalah untuk mengkooptasi para ulama agar tidak semakin membangun kesadaran masyarakat melalui agama untuk melawan penjajahan yang dari dulu hingga sekarang (imperialisme modern) memang selalu durjana.
Peristiwa pemanggilan Mbah Sholeh Darat tersebut terdapat pada manuskrip berkode Or. 18.097 S 1-2 pada Perpustakaan Universitas Leiden, Belanda. Selain itu ada pula beberapa surat para tokoh agama di Nusantara yang jadi bagian dari peninggalan Snouck Hurgronje (1857-1936), yang termuat oleh Mas Nur Ahmad pada media Alif.Id (2022). Para ulama saat itu telah menjadi target operasi para penjajah agar tunduk, menyusul peristiwa pemberontakan para kaum thariqah beberapa tahun sebelumnya yang terkenal dengan peristiwa Geger Cilegon (1888).
Menilik Peristiwa Geger Cilegon
Peristiwa Geger Cilegon tersebut tidak lain juga telah terprakarsai oleh Guru Thariqah Qadiriyah wa Naqsyabandiyah, Syeikh Abdul Karim al-Bantani (1830). Beliau adalah murid dari Syeikh Achmad Khatib al-Syambasi (1803-1875) di Makkah, yang merupakan penyusun Thariqah Qadiriyah wa Naqsabandiyah tersebut yang berasal dari Sambas, Kalimantan Barat.
Syeikh Abdul Karim sebagai Mursyid telah mengilhami sekaligus menjadi perata jalan bagi para murid dan pengikutnya untuk melakukan pemberontakan petani melawan penjajahan kolonialisme. Hingga membuat pemerintahan kolonial Belanda saat itu akhirnya ketat mengawasi pergerakan thariqah-thariqah yang ada di hampir seluruh wilayah Nusantara.
Raden Ajeng Kartini yang saat-saat semua peristiwa itu terjadi, termasuk pemanggilan Mbah Sholeh Darat, ada dalam masa pingitan dan kemudian beberapa tahun berikutnya bertemu Gurunya saat jelang pernikahan sekaligus akhir hayatnya (1903-1904). Sudah barang tentu menjadi sangat geram menyaksikan fenomena masyarakatnya saat itu.
Diri, masyarakat dan umatnya saat itu seolah tidak bisa lagi mempelajari ilmu agama dengan leluasa sehingga dengan segenap kecerdasan dan ilham Uluhiyah yang murni, beliau mampu menggerakkan sekaligus menginspirasi Gurunya untuk menulis Kitab Tafsir utama Faidhur Rahman fi Tarjamah Kalam Malik Al Dayyan dengan aksara pegon (Arab – Jawa). Tujuannya agar tidak mudah dipahami para penjajah.
Meski Mbah Sholeh Darat tidak selesai menuliskan Tafsir ini dan hanya sampai pada QS. Ibrahim, tetapi ilham dari muridnya adalah sebuah puncak kesadaran spiritual tertinggi dari seorang Ulama Perempuan muda belia, usia 24 tahun R.A Kartini (w. 1904) yang tertangkap oleh hati yang murni pula seorang Guru thariqah Mbah Sholeh Darat (w. 1903). Beliau dengan bijaksana merespon kegelisahan mendalam murid kinasihnya. Tentu ini semua juga menjadi peninggalan sekaligus amunisi-amunisi utama bagi seluruh gerakan Ulama Perempuan Indonesia hingga hari-hari ini yang terus kian mendunia.
Tak Ada Pseudo dalam Tasawuf – Laku Tarekat
Hal ini pulalah yang sesungguhnya terjadi bahwa gerakan KUPI ini telah dihidupi oleh kerja-kerja tulus ikhlas dari hati sekaligus laku thariqah yang murni yang dengan penuh istiqamah terus terjalankan oleh para generasi umat sekaligus Ulamanya. Termasuk oleh tokoh kita Ulama Perempuan yang utama Ummi Nur Ishmah Ulin Nuha Arwani.
Jika hari-hari ini masih saja terdapat lontaran sebagian umat bahwa seolah-olah telah terjadi pula kepalsuan, kepura-puraan dalam ranah kehidupan tasawuf atau thariqah yang terpraktikkan, itu semua sesungguhnya adalah lontaran yang tak berdasar sekaligus terlampau permukaan sekali.
Karenanya dalam kenyataan laku tasawuf sekaligus thariqah ini telah turut menaungi kerja-kerja kemanusiaan serta seluruh hajat-hajat gerakan jaringan Ulama Perempuan dari generasi ke generasi. Penjajahan atau imperialisme gaya baru hari-hari ini tidak cukup tertangani hanya dengan ikhtiar lahir, tapi sekaligus juga butuh kekuatan batin yang mumpuni.
Karena selain sebagai kekuatan perjuangan laku tasawuf atau thariqah sesungguhnya juga adalah tangga setiap diri menuju sampainya kita semua kepada Yang Maha Esa, Allah ‘Azza wa Jalla. Tak ada kepura-puraan di dalamnya. Barangkali yang terjadi adalah belum sampainya perjalanan diri umat ini kepada tujuan yang sesungguhnya. Tak ada pseudo dalam tasawuf atau thariqah. Wallahu yuwaffiquna fi ma yuhibbuh wa yardhoh, wa fatahallahu ‘alaina futuh al-‘ulama wa al-‘arifin. Wallahu a’lam bisshawab. []












































