Jumat, 5 Juni 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Iduladha

    Semesta Raya Iduladha: Semarang, Pasuruan, Aceh, hingga Bangladesh

    Lukman

    Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

    Cut Nyak Dien

    Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

    Nyai Luluk Farida

    Di BuKUPI, Nyai Luluk Farida Ajak Masyarakat Dukung Perjuangan Ulama Perempuan

    Trilogi Perlawanan terhadap Kekerasan

    BuKUPI 2026, Nyai Badriyah Tegaskan “Trilogi Perlawanan terhadap Kekerasan”

    BuKUPI

    Pera Sopariyati: BuKUPI 2026 Perkuat Independensi Gerakan Ulama Perempuan

    Raden Ayu Lasminingrat

    Di BuKUPI, Neng Hannah Kenang Kiprah Raden Ayu Lasminingrat dalam Memperjuangkan Pendidikan Perempuan Sunda

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Transportasi Umum Surabaya

    Transportasi Umum Surabaya yang Belum Ramah, dan Disabilitas yang Sering Kita Lupakan

    Ableisme Jokes

    Ableisme Jokes, Nirempati Konten Kreator pada Penyandang Disabilitas

    Marwah Pesantren

    Di Tengah Krisis Kepercayaan, Ke Mana Marwah Pesantren akan Dibawa?

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Aktivasi Benteng Nilai Khas Pesantren untuk Pencegahan Kekerasan Seksual

    Virginia Woolf

    Virginia Woolf, Inses, dan Cara Melewati Masa Paling Traumatis dalam Keluarga

    Nyai Aci dan Perjuangan Mewujudkan Islam Inklusif bagi Penyandang Disabilitas

    Nyai Aci dan Perjuangan Mewujudkan Islam Inklusif bagi Penyandang Disabilitas

    Konten Disabilitas

    Lelucon Konten Disabilitas demi Viewers

    Siswi

    Tidak Ingin Diabaikan: Kisah Siswi Tunagrahita yang Meminta Kesempatan yang Sama

    Feminisme Pesantren

    Feminisme Pesantren dan Manifesto Gerakan Nyai

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Makanan Perempuan

    Perempuan Berhak Mendapatkan Makanan yang Cukup dan Bergizi

    Kesehatan Perempuan

    Tiga Mitos yang Merugikan Kesehatan Perempuan dan Perlu Diluruskan

    Gizi

    Tips Memenuhi Gizi Keluarga

    Vitamin

    Pentingnya Yodium dan Vitamin A bagi Ibu Hamil dan Menyusui

    Vitamin

    Vitamin dan Mineral yang Penting bagi Tubuh Perempuan

    Ekonomi Disabilitas

    Membangun Kemandirian Ekonomi Perempuan Penyandang Disabilitas

    Kekerasan

    Cara Perempuan Penyandang Disabilitas Melindungi Diri dari Kekerasan Seksual

    Kehamilan Disabilitas

    Perempuan Penyandang Disabilitas Berhak atas Kehamilan yang Sehat dan Hidup yang Aman

    KB

    Panduan Keluarga Berencana (KB) bagi Perempuan Penyandang Disabilitas

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Iduladha

    Semesta Raya Iduladha: Semarang, Pasuruan, Aceh, hingga Bangladesh

    Lukman

    Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

    Cut Nyak Dien

    Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

    Nyai Luluk Farida

    Di BuKUPI, Nyai Luluk Farida Ajak Masyarakat Dukung Perjuangan Ulama Perempuan

    Trilogi Perlawanan terhadap Kekerasan

    BuKUPI 2026, Nyai Badriyah Tegaskan “Trilogi Perlawanan terhadap Kekerasan”

    BuKUPI

    Pera Sopariyati: BuKUPI 2026 Perkuat Independensi Gerakan Ulama Perempuan

    Raden Ayu Lasminingrat

    Di BuKUPI, Neng Hannah Kenang Kiprah Raden Ayu Lasminingrat dalam Memperjuangkan Pendidikan Perempuan Sunda

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Transportasi Umum Surabaya

    Transportasi Umum Surabaya yang Belum Ramah, dan Disabilitas yang Sering Kita Lupakan

    Ableisme Jokes

    Ableisme Jokes, Nirempati Konten Kreator pada Penyandang Disabilitas

    Marwah Pesantren

    Di Tengah Krisis Kepercayaan, Ke Mana Marwah Pesantren akan Dibawa?

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Aktivasi Benteng Nilai Khas Pesantren untuk Pencegahan Kekerasan Seksual

    Virginia Woolf

    Virginia Woolf, Inses, dan Cara Melewati Masa Paling Traumatis dalam Keluarga

    Nyai Aci dan Perjuangan Mewujudkan Islam Inklusif bagi Penyandang Disabilitas

    Nyai Aci dan Perjuangan Mewujudkan Islam Inklusif bagi Penyandang Disabilitas

    Konten Disabilitas

    Lelucon Konten Disabilitas demi Viewers

    Siswi

    Tidak Ingin Diabaikan: Kisah Siswi Tunagrahita yang Meminta Kesempatan yang Sama

    Feminisme Pesantren

    Feminisme Pesantren dan Manifesto Gerakan Nyai

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Makanan Perempuan

    Perempuan Berhak Mendapatkan Makanan yang Cukup dan Bergizi

    Kesehatan Perempuan

    Tiga Mitos yang Merugikan Kesehatan Perempuan dan Perlu Diluruskan

    Gizi

    Tips Memenuhi Gizi Keluarga

    Vitamin

    Pentingnya Yodium dan Vitamin A bagi Ibu Hamil dan Menyusui

    Vitamin

    Vitamin dan Mineral yang Penting bagi Tubuh Perempuan

    Ekonomi Disabilitas

    Membangun Kemandirian Ekonomi Perempuan Penyandang Disabilitas

    Kekerasan

    Cara Perempuan Penyandang Disabilitas Melindungi Diri dari Kekerasan Seksual

    Kehamilan Disabilitas

    Perempuan Penyandang Disabilitas Berhak atas Kehamilan yang Sehat dan Hidup yang Aman

    KB

    Panduan Keluarga Berencana (KB) bagi Perempuan Penyandang Disabilitas

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

Katanya, Jadi Perempuan Tidak Perlu Repot?

Kenapa jadi perempuan harus repot-repot mikir begini? Meskipun jodoh adalah takdir, namun kita sebagai perempuan bisa berikhtiar.

Indah Fatmawati by Indah Fatmawati
14 Juni 2025
in Personal
A A
0
Jadi Perempuan

Jadi Perempuan

34
SHARES
1.7k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Meskipun jodoh  adalah takdir, namun kita sebagai perempuan bisa berikhtiar untuk membentuk dan mengubah pribadi kita. Misalnya dengan menyelesaikan diri kita dari masalah emosional agar sudah tidak tantrum dan lebih tenang.

Mubadalah.id – Malam penuh keheningan, rintik hujan juga mulai bernyanyi di atas atap. Suasana yang menurut saya sangat cocok untuk menghilangkan penat dengan rebahan. Apalagi setelah seharian bertempur dengan tugas-tugas yang harus terselesaikan sebelum kelewat deadline.

Rasanya tidak lengkap jika malam ini hanya sekedar bengong dan melamun. Saya akhirnya mengambil gadget dan mulai scroll beberapa media sosial.

Sekilas muncul sebuah unggahan yang membuat saya berhenti menggeser jemari saya. Salah satu akun TikTok bernama Hidup Santai Tanpa Hutang cukup menyita perhatian saya. Meskipun nama akun tersebut demikian, namun dalam unggahanya, ia malah menjelaskan bagaimana setelah menikah ia tidak memiliki tabungan sama sekali dan malah punya hutang sebesar 131 juta.

Tentu jumlah yang menurut saya tidak sedikit. Ia bercerita jika sebelum menikah hanya fokus menabung untuk biaya resepsi. Apalagi pada saat menikah, pasangan tersebut hanya terfokus dengan biaya nikah dan tidak memikirkan biaya hidup yang akan timbul setelah menikah.

Secuil Nasehat yang Bisa Diambil

Setelah menikah, barulah ia dan istrinya terbuka masalah keuangan. Meskipun sebelumnya suami sudah tahu jika si istri masih memiliki cicilan mobil sebesar 81 juta. Namun, ia baru berani mendiskusikanya setelah menikah.

Akun tersebut kemudian membagikan nasehat kepada pasangan yang menjalani hubungan serius dan berniat untuk melangsungkan penikahan. Ia menjelaskan bahwa sebaiknya, sebelum menikah, antara satu sama lain juga saling terbuka dan jujur, termasuk masalah hutang.

Jadi tidak cukup hanya membincangkan “kamu sayang aku apa enggak?” Tapi juga harus membincangkan masalah keuangan juga. Hal ini bertujuan agar tidak ada konflik yang tajam hanya karena masalah finansial.

Katanya, Jadi Perempuan Tidak Perlu Repot

Unggahan tersebut rasanya relate dengan pengalaman hidup yang pernah saya alami. Saya pernah ada pengalaman begini. Jadi, semua anggota devisi kantor yang mayoritas laki-laki membuat saya harus pandai-pandai beradaptasi.

Saya harus pandai menjaga diri. Apalagi saya perempuan sendiri. Tidak hanya harus pandai menjaga diri dan bersikap agar tidak menimbulkan fitnah, tapi juga harus pandai mengimbangi pola pikir ala bapak-bapak ini.

Pada suatu kesempatan, kami sedang ngobrol-ngobrol bersama. Waktu itu, kami sedang mengobrolkan masalah keuangan (ceritanya saya pengen beli sesuatu tapi belum terwujud karena masih menabung).

Salah satu teman saya, seorang bapak-bapak bilang kepada saya begini “lah ngapain mbak, kamu kan perempuan, kok repot-repot? Kamu ngredit saja, terus nikah, nanti biar utangnya yang nanggung suami, kan perempuan gak wajib menafkahi”. Begitu bapak itu berkata dengan nada tanpa beban.

Jawaban yang Menimbulkan Perang Batin pada Diri Sendiri

Kala itu saya hanya menjawab begini “ngawur aja”. Sambil membatin dalam hati “yaa kali, masa saya mau nambah masalah hidup pasangan saya nantinya, kalau pun nanti saya menikah, itu artinya saya harus sudah selesai dengan diri saya sendiri (baik secara emosional maupun finansial), bukan berarti saya harus kaya dulu, tapi setidaknya gak punya hutang, begitu juga dengan pasangan saya.”

Saya pasti akan memilih orang yang juga sudah selesai dengan dirinya. Masalah hutang piutang sebelum nikah, menurut saya akan lebih baik sudah diselesaikan sebelum itu, biar setelah menikah bisa fokus kebutuhan lain.

Apalagi dengan bertambahnya jumlah keluarga, setidaknya kita tidak terus-terusan menjadi beban orang tua. Tidak berekspektasi juga, misalnya nanti sudah ketemu jodoh, terus nikahnya harus mewah. Saya malah mikir mending sederhana saja, kalau boleh di KUA saja juga udah cukup, uangnya sisanya bisa dipergunakan untuk keperluan setelah menikah.

Perempuan Berpikir Kedepan, Katanya Repot-repot?

Coba mikirnya kalau sudah nikah dan punya anak, terus kita-nya bisa langsung menyembelih kambing untuk aqiqahnya itu akan lebih baik. Terlebih seringkali saya melihat banyak orang tidak bisa melaksanakan aqiqah untuk anaknya, sampai anaknya harus aqiqah sendiri pas sudah dewasa, bahkan sudah berkeluarga.

Jika ada uang sisa setelah pernikahan, alangkah baiknya digunakan untuk mendirikan usaha, supaya nanti pendidikan anak lebih terjamin. Jadi tidak harus pinjam uang ke sana kemari karena sudah punya tabungan masa depan.

Seketika itu juga, saya kemudian tersadar. Ternyata saat ngobrol tadi, pikiran saya sudah bertengkar sejauh ini. Jadi, sebelum memutuskan untuk menikah, lebih baik kita selesaikan diri kita sendiri terlebih dulu.

Kenapa jadi perempuan harus repot-repot mikir begini? Meskipun jodoh adalah takdir, namun kita sebagai perempuan bisa berikhtiar untuk membentuk dan mengubah pribadi kita. Misalnya dengan menyelesaikan diri kita dari masalah emosional agar sudah tidak tantrum, lebih tenang dan visioner.

Begitu juga dalam memilih pasangan, pilihlah dia yang juga sudah selesai dengan dirinya sendiri. Agar nanti ketika menjalani pernikahan, kamu tidak lagi ribut dengan masalah emosional. Di mana hutangnya yang belum selesai akan membebani kemudian hari. []

Tags: HutangJadi PerempuanJodohKesehatan Mentalperkawinanstigmatakdir
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Dinamika Pasangan Suami Istri yang Baru Menikah

Next Post

Ketika Rumah Tak Lagi Aman, Rumah KitaB Gelar Webinar Serukan Stop Kekerasan Seksual Anak di Lingkup Keluarga

Indah Fatmawati

Indah Fatmawati

Sebagai pembelajar, tertarik dengan isu-isu gender dan Hukum Keluarga Islam

Related Posts

Ableisme Jokes
Disabilitas

Ableisme Jokes, Nirempati Konten Kreator pada Penyandang Disabilitas

5 Juni 2026
Marwah Pesantren
Publik

Di Tengah Krisis Kepercayaan, Ke Mana Marwah Pesantren akan Dibawa?

5 Juni 2026
Film Glo
Film

Film Glo, Kau Cahaya: Keberanian, Penerimaan dan Perjuangan Perempuan Disabilitas

12 Mei 2026
Niatus Sholihah
Disabilitas

Luka, Memaafkan, dan Pulih: Kisah Niatus Sholihah Sebagai Perempuan Disabilitas

8 Mei 2026
Memperlakukan Disabilitas
Disabilitas

Normalitas yang Menyingkirkan: Kritik atas Cara Kita Memperlakukan Disabilitas

7 Mei 2026
Perempuan Pekerja
Publik

Perempuan Pekerja; Kapan Eksistensi Perempuan Tidak Menjadi Perdebatan?

6 Mei 2026
Next Post
Kekerasan Seksual Anak di Lingkup Keluarga

Ketika Rumah Tak Lagi Aman, Rumah KitaB Gelar Webinar Serukan Stop Kekerasan Seksual Anak di Lingkup Keluarga

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Sitti Rohmi Djalilah: Ulama Perempuan dalam Gerak Muslimat dan Pendidikan
  • Perempuan Berhak Mendapatkan Makanan yang Cukup dan Bergizi
  • Transportasi Umum Surabaya yang Belum Ramah, dan Disabilitas yang Sering Kita Lupakan
  • Tiga Mitos yang Merugikan Kesehatan Perempuan dan Perlu Diluruskan
  • Ableisme Jokes, Nirempati Konten Kreator pada Penyandang Disabilitas

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0