Minggu, 28 Juni 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

    Aliansi Perempuan Indonesia

    Aliansi Perempuan Indonesia Turun ke Jalan Tolak Kenaikan Harga

    In This Economy

    In This Economy, Perempuan dengan Satu Penghasilan Adalah Kemewahan

    Warga NU

    Di Mubes NU Cirebon Raya, Maria Ulfah Anshor: Abad Kedua NU Harus Berpihak pada Kelompok Rentan

    Mubes Warga NU

    Mubes Warga NU Cirebon Raya: Dorong NU Kembali Menjadi Kekuatan Masyarakat Sipil

    Muharram

    Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Penganiayaan Yuvita

    Kasus Penganiayaan Yuvita: Alarm Bahaya Jebakan Relasi Kuasa

    Anak Autis

    Menjadi Guru bagi Anak Autis, Belajar Menjadi Manusia yang Lebih Peka

    Trotoar Disabilitas

    Ketika Trotoar Disabilitas Beralih Fungsi Menjadi Lahan Parkir dan Area Perdagangan

    Film Taare Zameen Par

    Film Taare Zameen Par: Apakah Ishaan Masih Ada di Sekolah Kita?

    Sakinah

    Mengupayakan Sakinah, Mawaddah dan Warahmah dalam Hubungan Pernikahan

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 Memasuki Era Baru: Perempuan tak Lagi Sekadar Penonton

    limbah kayu

    Mengubah Limbah Kayu Menjadi Peluang Usaha Berkelanjutan di Desa Warukawung

    Pesantren di Pesisir

    Pesantren di Pesisir dan Aktivitas Ekoteologinya

    Dana Zakat

    Membela Korban Melalui Dana Zakat

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Ketidaksuburan Perempuan

    4 Penyebab Ketidaksuburan pada Perempuan

    Ketidaksuburan

    Mengapa Kehamilan Tak Kunjung Datang? Memahami Penyebab Ketidaksuburan pada Laki-laki

    Ketidaksuburan

    Belum Dikaruniai Anak Setelah Menikah? Kenali Berbagai Penyebab Ketidaksuburan

    Memiliki Anak

    Mengapa Perempuan Selalu Disalahkan saat Pasangan Sulit Memiliki Anak?

    Ummu as-Sa‘d binti ‘Isham

    Mencintai yang Tak Pernah Kita Jumpai: Belajar dari Ummu as-Sa‘d binti ‘Isham

    program KB

    Mengapa sebagian Perempuan Masih Sulit Mengakses Program KB?

    KB

    Pil KB Mingguan dan Cincin Vagina, Seberapa Efektif Metode Kontrasepsi Ini?

    KB

    Pil KB Mini, Mifepristone, dan IUD: Alternatif Kontrasepsi Darurat bagi Perempuan

    Pil KB Darurat

    Cara Menggunakan Pil KB Darurat

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

    Aliansi Perempuan Indonesia

    Aliansi Perempuan Indonesia Turun ke Jalan Tolak Kenaikan Harga

    In This Economy

    In This Economy, Perempuan dengan Satu Penghasilan Adalah Kemewahan

    Warga NU

    Di Mubes NU Cirebon Raya, Maria Ulfah Anshor: Abad Kedua NU Harus Berpihak pada Kelompok Rentan

    Mubes Warga NU

    Mubes Warga NU Cirebon Raya: Dorong NU Kembali Menjadi Kekuatan Masyarakat Sipil

    Muharram

    Muharram dan Keberanian Membela Kebenaran: Belajar dari Tragedi Karbala

    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Penganiayaan Yuvita

    Kasus Penganiayaan Yuvita: Alarm Bahaya Jebakan Relasi Kuasa

    Anak Autis

    Menjadi Guru bagi Anak Autis, Belajar Menjadi Manusia yang Lebih Peka

    Trotoar Disabilitas

    Ketika Trotoar Disabilitas Beralih Fungsi Menjadi Lahan Parkir dan Area Perdagangan

    Film Taare Zameen Par

    Film Taare Zameen Par: Apakah Ishaan Masih Ada di Sekolah Kita?

    Sakinah

    Mengupayakan Sakinah, Mawaddah dan Warahmah dalam Hubungan Pernikahan

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 Memasuki Era Baru: Perempuan tak Lagi Sekadar Penonton

    limbah kayu

    Mengubah Limbah Kayu Menjadi Peluang Usaha Berkelanjutan di Desa Warukawung

    Pesantren di Pesisir

    Pesantren di Pesisir dan Aktivitas Ekoteologinya

    Dana Zakat

    Membela Korban Melalui Dana Zakat

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Ketidaksuburan Perempuan

    4 Penyebab Ketidaksuburan pada Perempuan

    Ketidaksuburan

    Mengapa Kehamilan Tak Kunjung Datang? Memahami Penyebab Ketidaksuburan pada Laki-laki

    Ketidaksuburan

    Belum Dikaruniai Anak Setelah Menikah? Kenali Berbagai Penyebab Ketidaksuburan

    Memiliki Anak

    Mengapa Perempuan Selalu Disalahkan saat Pasangan Sulit Memiliki Anak?

    Ummu as-Sa‘d binti ‘Isham

    Mencintai yang Tak Pernah Kita Jumpai: Belajar dari Ummu as-Sa‘d binti ‘Isham

    program KB

    Mengapa sebagian Perempuan Masih Sulit Mengakses Program KB?

    KB

    Pil KB Mingguan dan Cincin Vagina, Seberapa Efektif Metode Kontrasepsi Ini?

    KB

    Pil KB Mini, Mifepristone, dan IUD: Alternatif Kontrasepsi Darurat bagi Perempuan

    Pil KB Darurat

    Cara Menggunakan Pil KB Darurat

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Figur

Mewariskan Ilmu Al-Qur’an: Kiprah Nyai Hj. Izzah Syathori dalam Pendidikan Tahfiz Perempuan di Cirebon

Nyai Hj. Izzah Syathori: “Ngopenana Qur’anmu, sing sapa wonge ngopeni Al-Qur’an bakale uripe diopeni Gusti Allah.”

Nadhira Yahya by Nadhira Yahya
12 Mei 2026
in Figur, Rekomendasi
A A
0
Nyai Izzah Syathori

Nyai Izzah Syathori

48
SHARES
2.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Dalam rangka memperingati Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan, Diskusi Serial Biografi Ulama Perempuan sesi ke-8 pada 9 Mei 2026, menghadirkan sosok Nyai Hj. Izzah Syathori Fuad Amin dalam serial tersebut. Kegiatan ini bertujuan mengenalkan kembali jejak perjuangan ulama perempuan yang berkontribusi besar dalam pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.

Kisah hidup dan perjuangan beliau disampaikan langsung oleh Nyai Maryam Abdullah selaku menantu, bersama Nyai Hj. Lilik Nihayah Fuad selaku putri beliau, yang membagikan pengalaman, keteladanan, serta nilai-nilai perjuangan yang diwariskan Nyai Izzah kepada generasi berikutnya.

Di banyak ruang sejarah pesantren, kita lebih mengenal nama laki-laki ketika membicarakan pembangunan tradisi keilmuan Islam. Padahal, di balik kokohnya pesantren dan bertahannya tradisi mengaji, ada banyak perempuan yang bekerja: mengajar, mendidik, membimbing, bahkan membangun ruang aman bagi perempuan untuk belajar agama. Mereka tidak selalu tampil di depan mimbar besar, tetapi pengaruhnya hidup dalam ingatan para santri.

Salah satu sosok itu adalah Nyai Hj. Izzah Syathori Fuad Amin, ulama perempuan asal Cirebon. Ia dikenal sebagai ulama perempuan penghafal Al-Qur’an, pengasuh pesantren, sekaligus penggerak pendidikan perempuan di lingkungan pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon.

Bagi masyarakat Babakan Ciwaringin, Nyai Izzah Syathori bukan hanya seorang pengasuh pesantren. Ia dikenal sebagai ulama perempuan yang kharismatik, tegas, berani, dan memiliki kedalaman ilmu agama yang mumpuni. Di mata para santri dan orang-orang terdekatnya, ia akrab dipanggil “Mizah” atau “Umi Izah”. Sosoknya dikenal hangat, tetapi juga disiplin dalam mendidik.

Dari Keluarga Pesantren ke Jalan Pengabdian

Nyai Hj. Izzah Syatori lahir di Arjawinangun, Cirebon, pada 17 Oktober 1945. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga pesantren. Ayahnya adalah KH. Abdullah Syathori dan ibunya Nyai Hj. Masturoh, pengasuh Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun, Cirebon. Sejak kecil, ia hidup di tengah tradisi mengaji, disiplin pesantren, dan kehidupan yang dekat dengan Al-Qur’an.

Ia menjadikan Al-Qur’an bukan sekadar hafalan, tetapi jalan hidup yang membentuk akhlak dan pengabdian. Salah satu kisah yang paling dikenang dari perjalanan hidupnya adalah bagaimana ia mampu menghatamkan hafalan Al-Qur’an 30 juz hanya dalam waktu sembilan bulan. Bagi banyak orang, hal itu terasa hampir mustahil. Namun bagi Nyai Izzah, menghafal Al-Qur’an bukan hanya soal kecerdasan, melainkan tentang menjaga laku hidup.

Kemampuan itu tidak lahir begitu saja. Ada tiga pesan dari ayahnya yang selalu ia pegang teguh: menjaga makanan agar benar-benar halal, istiqamah membaca Al-Qur’an, dan rutin membaca Shalawat Kamaliyah setelah salat Magrib. Tiga pesan sederhana itu kemudian menjadi prinsip hidup yang terus ia wariskan kepada para santri.

Merawat Pesantren dan Pendidikan Perempuan

Bersama suaminya, KH. Fuad Amin, Nyai Izzah mendirikan Balai Pendidikan Pondok Putri (Bapenpori) Al-Istiqomah pada tahun 1967 di Babakan Ciwaringin, Cirebon. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu pusat tradisi pesantren tertua di Jawa Barat yang melahirkan banyak ulama dan lembaga pendidikan Islam. Di tengah kuatnya tradisi keilmuan tersebut, Nyai Izzah menghadirkan Bapenpori sebagai ruang pendidikan Al-Qur’an bagi perempuan.

Di tangan Nyai Izzah, pesantren bukan hanya tempat belajar kitab atau menghafal ayat. Pesantren menjadi ruang pembentukan karakter perempuan Muslim yang tekun, mandiri, dan dekat dengan Al-Qur’an. Ia membimbing santri dengan kedisiplinan, tetapi juga dengan ketelatenan khas seorang ibu.

Kecintaannya pada ilmu bahkan tampak dalam cara ia mendidik anak-anaknya sendiri. Nyai Izzah Syathori tidak membeda-bedakan pendidikan antara putra dan putrinya. Ia mendorong semua anaknya untuk belajar setinggi mungkin. Baginya, pendidikan adalah bekal utama kehidupan. Bahkan, anak-anaknya pernah tidak dianjurkan berpuasa sunnah apabila itu membuat mereka kesulitan belajar.

Sosok yang Gigih dan Cinta Ilmu

Ibu Nyai Hj. Lilik Nihayah Fuad, putri beliau, mengenang pesan ibunya dengan suara bergetar dan penuh haru: “Kalau kamu pintar, di manapun kamu akan mulia.” Kalimat itu bukan hanya nasihat biasa, melainkan keyakinan hidup Nyai Izzah Syathori bahwa ilmu akan menjaga martabat.

Perannya juga melampaui ruang pesantren. Ia aktif menginisiasi jam’iyah mingguan bagi ibu-ibu serta pengajian untuk memberdayakan masyarakat perempuan sekitar. Kegiatan itu menjadi ruang belajar agama bagi banyak perempuan yang sebelumnya belum memiliki akses mengaji secara intensif.

sosoknya lekat sebagai perempuan yang gigih mengabdi pada ilmu, agama, dan masyarakat. Hampir hidupnya ia habiskan untuk belajar dan mengajar. Banyak orang mengenangnya sebagai perempuan yang “gila belajar”, tetapi sekaligus tidak pernah lelah membagikan ilmunya kepada orang lain.

Pencetak Hafidzah Perempuan Pesantren

Tak hanya itu, Nyai Izzah Syathori juga menjadi sosok yang menginisiasi lahirnya organisasi IHF (Ikatan Hafidzah Fatayat) PP Fatayat, yang pada masa awal pembentukannya, bernama IHQ (Ikatan Hafidzah Qur’an). Kehadiran forum tersebut menjadi ruang penting bagi para perempuan penghafal Al-Qur’an untuk saling belajar, menjaga hafalan, dan memperkuat jaringan keilmuan perempuan pesantren.

Di titik ini, perjuangan Nyai Izzah Syathori memperlihatkan sesuatu yang penting: pendidikan perempuan di pesantren tidak selalu hadir melalui pidato besar tentang emansipasi. Kadang ia hadir lewat kesabaran mengajari ibu-ibu membaca Al-Qur’an dari huruf paling dasar, menemani santri murojaah hingga larut malam, atau memastikan perempuan punya ruang aman untuk belajar agama.

Kerja-kerja seperti itu sering tidak tercatat sebagai sejarah besar. Namun justru dari ruang sunyi itulah lahir banyak perempuan yang kemudian menjadi guru ngaji, penghafal Al-Qur’an, pendidik, dan penggerak masyarakat.

Jejak Pengabdian yang Terus Hidup

Di tengah situasi ketika pendidikan perempuan masih sering dipandang sebelah mata, kehadiran Nyai Izzah menunjukkan bahwa perempuan pesantren memiliki peran besar dalam menjaga tradisi keilmuan Islam. Ia bukan hanya mendidik perempuan agar bisa mengaji, tetapi juga membangun tradisi intelektual dan spiritual perempuan berbasis Al-Qur’an.

Ada satu nasihat yang paling teringat dari Nyai Izzah: “Ngopenana Qur’anmu, sing sapa wonge ngopeni Al-Qur’an bakale uripe diopeni Gusti Allah.” Rawatlah Al-Qur’anmu, sebab siapa yang menjaga Al-Qur’an, hidupnya akan Allah jaga.

Kalimat itu terasa sederhana, tetapi memuat cara pandang hidup yang dalam. Al-Qur’an bukan hanya sebagai bacaan ritual, melainkan teman hidup yang harus kita rawat dengan kesungguhan. Bagi banyak santri dan orang-orang terdekatnya, pesan itu menjadi sumber penyemangat bahwa hidup yang berkah, lapang, dan mudah dapat lahir dari kedekatan seseorang dengan Al-Qur’an.

Nyai Hj. Izzah Syatori wafat pada 3 September 2013 dan dimakamkan di Maqbarah Raudlatul Tholibin, Babakan Ciwaringin, Cirebon. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, santri, dan masyarakat pesantren.

Keteguhan di Tengah Ujian

Perjalanan hidupnya juga tidak selalu mudah. Dalam pembacaan biografinya, Ibu Nyai Hj. Lilik Nihayah Fuad menceritakan bahwa keluarganya pernah menghadapi berbagai gejolak dan persoalan pesantren, termasuk isu poligami yang menjadi ujian berat bagi keluarga. Namun di tengah segala kedukaan itu, mereka memilih tetap bertahan dan memperjuangkan hak-haknya.

Satu pesan lagi dari Nyai Izzah yang terus teringat oleh keluarganya: “dalam keadaan sesulit apa pun, perempuan harus tetap kuat dan terus berjuang.” Dari kisah hidupnya, kita belajar: tidak ada kesuksesan tanpa badai. Dan badai itu pula yang pernah dilalui oleh Nyai Hj. Izzah Syathori dengan keteguhan yang tidak banyak orang ketahui.

Nyai Izzah menunjukkan bahwa pengabdian tidak selalu hadir lewat suara yang paling keras, melainkan lewat ketekunan dan konsistensi menjaga kehidupan, ilmu, dan sesama dengan penuh keberanian dan kasih sayang.

Cerita tentang Nyai Hj. Izzah Syathori juga mengingatkan kita bahwa yang membangun sejarah Islam Indonesia bukanlah kaum laki-laki saja. Ada banyak perempuan yang menjaga tradisi ilmu, membangun pendidikan, dan merawat masyarakat melalui jalan yang sunyi. Mereka mungkin tidak selalu tercatat dalam buku sejarah besar, tetapi pengaruhnya hidup dalam generasi-generasi yang mereka didik.

Barangkali, justru di situlah letak kekuatan mereka: bekerja tanpa banyak sorot, tetapi meninggalkan jejak panjang yang terus mengalir hingga hari ini. Dan semoga kisah mereka, khususnya Nyai Hj. Izzah Syathori terus menghidupkan semangat perempuan untuk belajar, mengajar, dan menjaga ilmu dengan penuh ketekunan.

 

*Tulisan ini hasil dari mengikuti kegiatan pembacaan profil ulama perempuan, serial ke-8, pada 09 Mei 2026.

Tags: Babakan Ciwaringin CirebonBiografi Ulama PerempuanNyai Hj. Izzah Syathoripencetak hafidzahPerempuan Pesantren
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Mengapa ASI Menjadi Makanan Terbaik bagi Bayi?

Next Post

Teungku Fakinah: Ulama Perempuan, Pendidik, dan Panglima Perang dari Aceh

Nadhira Yahya

Nadhira Yahya

Gender Equality Enthusiast. Menyimak, menulis, menyuarakan perempuan.

Related Posts

Siti Baroroh Baried
Figur

Nyai Siti Baroroh Baried: Profesor Perempuan Pertama di Indonesia

24 Mei 2026
Nyai Walidah
Figur

Mengenal Nyai Walidah dan Momentum Lahirnya Kesadaran Baru Perempuan Muslim Indonesia

23 Mei 2026
Nyai Nur Ishmah
Figur

Nyai Hj. Nur Ishmah Abdullah Abdussalam: Ulama Perempuan itu Bertarekat

23 Mei 2026
Huzaemah Tahido Yanggo
Figur

Prof. Dr. Hj. Huzaemah Tahido Yanggo: Ulama Perempuan Pemegang Otoritas Keagamaan Indonesia

22 Mei 2026
Perspektif KUPI
Aktual

Konsep Ulama Perempuan dalam Perspektif KUPI

22 Mei 2026
Nabilah Lubis
Figur

Ummul Azhariyat: Menyelami Kiprah Prof. Nabilah Lubis dalam Menyelamatkan Manuskrip Islam Nusantara

22 Mei 2026
Next Post
Teungku Fakinah

Teungku Fakinah: Ulama Perempuan, Pendidik, dan Panglima Perang dari Aceh

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles
  • Kasus Penganiayaan Yuvita: Alarm Bahaya Jebakan Relasi Kuasa
  • Menjadi Guru bagi Anak Autis, Belajar Menjadi Manusia yang Lebih Peka
  • Ketika Trotoar Disabilitas Beralih Fungsi Menjadi Lahan Parkir dan Area Perdagangan
  • 4 Penyebab Ketidaksuburan pada Perempuan

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0