Mubadalah.id – Dalam rangka memperingati Bulan Kebangkitan Ulama Perempuan, Diskusi Serial Biografi Ulama Perempuan sesi ke-8 pada 9 Mei 2026, menghadirkan sosok Nyai Hj. Izzah Syathori Fuad Amin dalam serial tersebut. Kegiatan ini bertujuan mengenalkan kembali jejak perjuangan ulama perempuan yang berkontribusi besar dalam pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan masyarakat.
Kisah hidup dan perjuangan beliau disampaikan langsung oleh Nyai Maryam Abdullah selaku menantu, bersama Nyai Hj. Lilik Nihayah Fuad selaku putri beliau, yang membagikan pengalaman, keteladanan, serta nilai-nilai perjuangan yang diwariskan Nyai Izzah kepada generasi berikutnya.
Di banyak ruang sejarah pesantren, kita lebih mengenal nama laki-laki ketika membicarakan pembangunan tradisi keilmuan Islam. Padahal, di balik kokohnya pesantren dan bertahannya tradisi mengaji, ada banyak perempuan yang bekerja: mengajar, mendidik, membimbing, bahkan membangun ruang aman bagi perempuan untuk belajar agama. Mereka tidak selalu tampil di depan mimbar besar, tetapi pengaruhnya hidup dalam ingatan para santri.
Salah satu sosok itu adalah Nyai Hj. Izzah Syathori Fuad Amin, ulama perempuan asal Cirebon. Ia dikenal sebagai ulama perempuan penghafal Al-Qur’an, pengasuh pesantren, sekaligus penggerak pendidikan perempuan di lingkungan pesantren Babakan Ciwaringin, Cirebon.
Bagi masyarakat Babakan Ciwaringin, Nyai Izzah Syathori bukan hanya seorang pengasuh pesantren. Ia dikenal sebagai ulama perempuan yang kharismatik, tegas, berani, dan memiliki kedalaman ilmu agama yang mumpuni. Di mata para santri dan orang-orang terdekatnya, ia akrab dipanggil “Mizah” atau “Umi Izah”. Sosoknya dikenal hangat, tetapi juga disiplin dalam mendidik.
Dari Keluarga Pesantren ke Jalan Pengabdian
Nyai Hj. Izzah Syatori lahir di Arjawinangun, Cirebon, pada 17 Oktober 1945. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga pesantren. Ayahnya adalah KH. Abdullah Syathori dan ibunya Nyai Hj. Masturoh, pengasuh Pondok Pesantren Dar al-Tauhid Arjawinangun, Cirebon. Sejak kecil, ia hidup di tengah tradisi mengaji, disiplin pesantren, dan kehidupan yang dekat dengan Al-Qur’an.
Ia menjadikan Al-Qur’an bukan sekadar hafalan, tetapi jalan hidup yang membentuk akhlak dan pengabdian. Salah satu kisah yang paling dikenang dari perjalanan hidupnya adalah bagaimana ia mampu menghatamkan hafalan Al-Qur’an 30 juz hanya dalam waktu sembilan bulan. Bagi banyak orang, hal itu terasa hampir mustahil. Namun bagi Nyai Izzah, menghafal Al-Qur’an bukan hanya soal kecerdasan, melainkan tentang menjaga laku hidup.
Kemampuan itu tidak lahir begitu saja. Ada tiga pesan dari ayahnya yang selalu ia pegang teguh: menjaga makanan agar benar-benar halal, istiqamah membaca Al-Qur’an, dan rutin membaca Shalawat Kamaliyah setelah salat Magrib. Tiga pesan sederhana itu kemudian menjadi prinsip hidup yang terus ia wariskan kepada para santri.
Merawat Pesantren dan Pendidikan Perempuan
Bersama suaminya, KH. Fuad Amin, Nyai Izzah mendirikan Balai Pendidikan Pondok Putri (Bapenpori) Al-Istiqomah pada tahun 1967 di Babakan Ciwaringin, Cirebon. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu pusat tradisi pesantren tertua di Jawa Barat yang melahirkan banyak ulama dan lembaga pendidikan Islam. Di tengah kuatnya tradisi keilmuan tersebut, Nyai Izzah menghadirkan Bapenpori sebagai ruang pendidikan Al-Qur’an bagi perempuan.
Di tangan Nyai Izzah, pesantren bukan hanya tempat belajar kitab atau menghafal ayat. Pesantren menjadi ruang pembentukan karakter perempuan Muslim yang tekun, mandiri, dan dekat dengan Al-Qur’an. Ia membimbing santri dengan kedisiplinan, tetapi juga dengan ketelatenan khas seorang ibu.
Kecintaannya pada ilmu bahkan tampak dalam cara ia mendidik anak-anaknya sendiri. Nyai Izzah Syathori tidak membeda-bedakan pendidikan antara putra dan putrinya. Ia mendorong semua anaknya untuk belajar setinggi mungkin. Baginya, pendidikan adalah bekal utama kehidupan. Bahkan, anak-anaknya pernah tidak dianjurkan berpuasa sunnah apabila itu membuat mereka kesulitan belajar.
Sosok yang Gigih dan Cinta Ilmu
Ibu Nyai Hj. Lilik Nihayah Fuad, putri beliau, mengenang pesan ibunya dengan suara bergetar dan penuh haru: “Kalau kamu pintar, di manapun kamu akan mulia.” Kalimat itu bukan hanya nasihat biasa, melainkan keyakinan hidup Nyai Izzah Syathori bahwa ilmu akan menjaga martabat.
Perannya juga melampaui ruang pesantren. Ia aktif menginisiasi jam’iyah mingguan bagi ibu-ibu serta pengajian untuk memberdayakan masyarakat perempuan sekitar. Kegiatan itu menjadi ruang belajar agama bagi banyak perempuan yang sebelumnya belum memiliki akses mengaji secara intensif.
sosoknya lekat sebagai perempuan yang gigih mengabdi pada ilmu, agama, dan masyarakat. Hampir hidupnya ia habiskan untuk belajar dan mengajar. Banyak orang mengenangnya sebagai perempuan yang “gila belajar”, tetapi sekaligus tidak pernah lelah membagikan ilmunya kepada orang lain.
Pencetak Hafidzah Perempuan Pesantren
Tak hanya itu, Nyai Izzah Syathori juga menjadi sosok yang menginisiasi lahirnya organisasi IHF (Ikatan Hafidzah Fatayat) PP Fatayat, yang pada masa awal pembentukannya, bernama IHQ (Ikatan Hafidzah Qur’an). Kehadiran forum tersebut menjadi ruang penting bagi para perempuan penghafal Al-Qur’an untuk saling belajar, menjaga hafalan, dan memperkuat jaringan keilmuan perempuan pesantren.
Di titik ini, perjuangan Nyai Izzah Syathori memperlihatkan sesuatu yang penting: pendidikan perempuan di pesantren tidak selalu hadir melalui pidato besar tentang emansipasi. Kadang ia hadir lewat kesabaran mengajari ibu-ibu membaca Al-Qur’an dari huruf paling dasar, menemani santri murojaah hingga larut malam, atau memastikan perempuan punya ruang aman untuk belajar agama.
Kerja-kerja seperti itu sering tidak tercatat sebagai sejarah besar. Namun justru dari ruang sunyi itulah lahir banyak perempuan yang kemudian menjadi guru ngaji, penghafal Al-Qur’an, pendidik, dan penggerak masyarakat.
Jejak Pengabdian yang Terus Hidup
Di tengah situasi ketika pendidikan perempuan masih sering dipandang sebelah mata, kehadiran Nyai Izzah menunjukkan bahwa perempuan pesantren memiliki peran besar dalam menjaga tradisi keilmuan Islam. Ia bukan hanya mendidik perempuan agar bisa mengaji, tetapi juga membangun tradisi intelektual dan spiritual perempuan berbasis Al-Qur’an.
Ada satu nasihat yang paling teringat dari Nyai Izzah: “Ngopenana Qur’anmu, sing sapa wonge ngopeni Al-Qur’an bakale uripe diopeni Gusti Allah.” Rawatlah Al-Qur’anmu, sebab siapa yang menjaga Al-Qur’an, hidupnya akan Allah jaga.
Kalimat itu terasa sederhana, tetapi memuat cara pandang hidup yang dalam. Al-Qur’an bukan hanya sebagai bacaan ritual, melainkan teman hidup yang harus kita rawat dengan kesungguhan. Bagi banyak santri dan orang-orang terdekatnya, pesan itu menjadi sumber penyemangat bahwa hidup yang berkah, lapang, dan mudah dapat lahir dari kedekatan seseorang dengan Al-Qur’an.
Nyai Hj. Izzah Syatori wafat pada 3 September 2013 dan dimakamkan di Maqbarah Raudlatul Tholibin, Babakan Ciwaringin, Cirebon. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, santri, dan masyarakat pesantren.
Keteguhan di Tengah Ujian
Perjalanan hidupnya juga tidak selalu mudah. Dalam pembacaan biografinya, Ibu Nyai Hj. Lilik Nihayah Fuad menceritakan bahwa keluarganya pernah menghadapi berbagai gejolak dan persoalan pesantren, termasuk isu poligami yang menjadi ujian berat bagi keluarga. Namun di tengah segala kedukaan itu, mereka memilih tetap bertahan dan memperjuangkan hak-haknya.
Satu pesan lagi dari Nyai Izzah yang terus teringat oleh keluarganya: “dalam keadaan sesulit apa pun, perempuan harus tetap kuat dan terus berjuang.” Dari kisah hidupnya, kita belajar: tidak ada kesuksesan tanpa badai. Dan badai itu pula yang pernah dilalui oleh Nyai Hj. Izzah Syathori dengan keteguhan yang tidak banyak orang ketahui.
Nyai Izzah menunjukkan bahwa pengabdian tidak selalu hadir lewat suara yang paling keras, melainkan lewat ketekunan dan konsistensi menjaga kehidupan, ilmu, dan sesama dengan penuh keberanian dan kasih sayang.
Cerita tentang Nyai Hj. Izzah Syathori juga mengingatkan kita bahwa yang membangun sejarah Islam Indonesia bukanlah kaum laki-laki saja. Ada banyak perempuan yang menjaga tradisi ilmu, membangun pendidikan, dan merawat masyarakat melalui jalan yang sunyi. Mereka mungkin tidak selalu tercatat dalam buku sejarah besar, tetapi pengaruhnya hidup dalam generasi-generasi yang mereka didik.
Barangkali, justru di situlah letak kekuatan mereka: bekerja tanpa banyak sorot, tetapi meninggalkan jejak panjang yang terus mengalir hingga hari ini. Dan semoga kisah mereka, khususnya Nyai Hj. Izzah Syathori terus menghidupkan semangat perempuan untuk belajar, mengajar, dan menjaga ilmu dengan penuh ketekunan.
*Tulisan ini hasil dari mengikuti kegiatan pembacaan profil ulama perempuan, serial ke-8, pada 09 Mei 2026.












































